Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 23


__ADS_3

"Sudah punya anak!"


Lea dan Edo terkejut, keduanya secara serentak langsung berdiri dari kursi.


Merasa tidak asing, Lea menatap wanita cantik yang baru saja menyela pembicaraan nya dengan Edo.


"Siapa kamu?"


Cih.


Diva tersenyum miring, tangan kanannya menggenggam sebuah benda yang akan dia gunakan sebagai bukti.


"Aku Diva, ibu dari anak Edo yang ada di dalam kandungan ku"


Duarrr....


Bagaikan di sengat listrik, Lea merasa dunianya hancur begitu saja.


"A-apa maksud mu?" bibir Lea bergetar, hatinya melebur mendengar fakta ini.


Tidak tahan dengan wanita itu, Edo pun menarik tangannya agar berbalik menghadapnya.


"Apa kau sudah gila? aku tidak mungkin memiliki anak dengan mu!"


"Ini buktinya!"


Diva memberikan testpack ke tangan Edo. Benda itu menunjukkan garis dua. Hal ini pertanda bahwa wanita itu sedang hamil.


Hamil? anak siapa? ini sangat tidak jelas. Edo juga bukan orang bodoh. Dia tidak bisa menerima semua ini, wanita ini pasti sedang menipunya.


"Kamu jangan asal bicara, aku tidak mungkin memiliki anak dengan mu!"


"Tapi itu kenyataan nya. Aku hamil!" balas Diva.


"Tapi, itu belum tentu anak dari suami ku!"


Terdengar suara Lea lantang dan tegas, air mata yang tadinya mengalir pelan di pipinya segara ia tepis.


"Apa maksudmu!"


"Apa kamu kira kami bodoh?. Mungkin saja kau hamil, tapi itu belum tentu anak dari suamiku. "


Edo tersenyum, dia tidak menyangka istri nya akan percaya padanya.


"Lea, kamu benar. aku tidak mungkin memiliki anak dari nya!" ujar Edo. Dia mendekati Lea dan memegang tangan nya.


Namun, Lea melepaskan genggaman itu. Membela Edo bukan berarti dia percaya. Mengingat sebelum mereka berlibur, Edo menghabiskan malam dengan seorang wanita. Entah siapa wanita itu Lea tidak tahu. Mungkin saja dia wanita nya.


"Ok. Baik, kita akan melakukan test kehamilan ke dokter kandungan!" seru Diva menantang.


Wanita itu tidak takut sama sekali, karena dia memang sedang hamil. Entah itu anak Edo atau anak siapa mereka tidak tahu..


Lea mengangguk setuju, merek harus memastikan wanita ini berbohong atau tidak.


Mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya, membuat dada Lea terasa sesak.


Beruntung mereka berada di dalam ruangan tertutup, pengunjung restoran lain tidak dapat melihat mereka dan tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalamnya.


Mereka bertiga pergi ke rumah sakit pilihan Lea. Dia berpikir wanita itu akan merencanakan sesuatu jika mereka pergi ke rumah sakit pilihan wanita itu.


Mereka masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, diva di baringkan dan di periksa oleh sang dokter.

__ADS_1


"Bagaimana dok, apa dia hamil?" tanya Edo setelah diva selesai di periksa.


"Benar, nona ini hamil dengan usia kandungan 4 Minggu"


Duarrr....Duarr...


Seketika langit terasa mendung, petir seakan menyambar tubuh Lea.


Fakta yang tidak di inginkan, untuk kesekian kalinya Lea merasa kecewa.


"Pak, aku tidak akan berbohong. bulan kah sebelum bapak liburan kita melakukan nya?"


"Tidak, ini tidak mungkin. bisa saja itu bayi orang lain!" sangkal Edo.


"Lea, kamu percaya aku kan? aku tidak mungkin memiliki anak dengan nya Lea!"


"Tapi dia hamil!"


"tapi bukan anak ku Lea!!"


Edo terus membujuk istri, berusaha membuat Lea untuk mempercayai nya.


Lea tidak merespon, dia hanya bis berdiri tanpa mengeluarkan suara. Hanya air mata yang terus mengaliri pipi tembam nya sebagai tanda wanita itu sedang tidak baik baik saja.


"Kamu melakukan nya kak, lalu sekarang kamu menyangkalnya?"


"Lea... percaya aku"


Plak!!


Diva menarik Edo dan langsung menamparnya.


"Bapak pikir saya wanita apaan? saya melakukan semuanya hanya dengan bapak. Bahkan bapak yang mengambil kesucian saya untuk pertama kalinya!" teriak Diva tidak terima.


"Tapi malam itu bapak mabuk, saya sudah mengingatkan bapak untuk menggunakan pengaman, tapi bapak malah bilang ingin memiliki keturunan dari saya! hiks... hiks..."


Diva menangis sejadi jadinya, mengeluarkan air mata buayanya untuk menekan Lea yang saat ini masih diam.


Dokter yang terlihat bingung dengan pertengkaran mereka hanya bisa diam. Mengingat siapa Edo, membuatnya tidak berani mengusir mereka keluar.


"Maaf, saya harus pergi" ucap Lea berlalu pergi.


"Tidak, Lea kamu harus dengar penjelasan ku dulu"


"Lea Lea!!"


Wanita itu tidak mendengarkan panggilan Edo, dia terus melangkah pergi cepat dan semakin cepat. Bahkan dia hampir berlari agar segera pergi dari hadapan Edo.


"Tega sekali, dia melakukan semua itu" gumam Lea di sela sela tangisnya.


"Le, tunggu aku.... Lea!!"


Edo terus berlari mengejar Lea yang sudah masuk ke dalam taxi dan melaju pergi.


"Huh, Lea tunggu!!!" teriak Edo nyaring, menatap Lea yang sudah pergi.


Dari belakang, diva mengikuti Edo. Tersenyum senang melihat pertengkaran suami istri itu.


raut wajah Diva seketika berubah saat Edo menoleh padanya.


"Pak, maafkan saya. Karena saya, kalian jadi bertengkar"

__ADS_1


"Diam kamu. Urusan kita belum selesai, setelah saya berbicara dengan istri saya. Saya akan mengurus mu dan kebohongan mu!" kecam Edo sinis.


Lalu, pria itu pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju menyusul Lea.


"Cih, mengurus ku? yah kau memang harus mengurus ku dan calon bayi kita. Aku tidak akan membiarkan kamu dan wanita itu bersatu. Kamu adalah milik ku, hanya milik ku!" gumam Diva menatap kepergian Edo.


Setiba nya di rumah, Lea langsung masuk ke dalam kamar. mengambil barang barangnya dan memasukkan ke dalam koper.


Dia tidak bisa tinggal di sini, menjadi seorang teman bukan lah hal yang menyenangkan baginya.


Edo tiba di apartemen, dia langsung mencari Lea.


"Lea, apa yang kamu lakukan. Kamu harus percaya sama aku Lea!!"


"Lea!!"


Edo berusaha menghalangi Lea menyusun barang barangnya. Dia membuang semua baju baju wanita itu ke luar koper.


"Aku mohon Lea, beri aku kesempatan untuk menjelaskan!" mohon Edo.


Dia menggenggam kedua tangan Lea, menatap penuh harap.


"Penjelasan apalagi? semuanya sudah cukup jelas. "


"Tidak Lea, aku ingin menceritakan semuanya. Aku ingin kamu tahu"


"Kak, aku tidak mau tahu. Aku hanya ingin pulang" balas Lea kembali memasukkan barang barang nya.


"Tidak Lea, aku mohon dengarkan aku"


Lea terdiam, tangannya berhenti mengemasi barang barang. Dia akan memberikan kesempatan pada Edo untuk berbicara.


"Hanya 5 menit"


Edo mengangguk cepat, dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini.


"Lea, semenjak menikah dengan mu. Aku tidak pernah ingin menggunakan wanita lain. Aku suka masakan mu, aku suka kamu membereskan rumah, cerewet mu. Hingga aku merasa tidak inginkan wanita lain.


Hari itu, aku sudah merencanakan berlibur dengan mu. Namun karena gengsi aku mengurungkan niat ku. Tapi mami mewujudkannya.


Makan malam gagal, seharusnya malam itu aku mengatakan pada mu bahwa aku ingin kamu menjadi satu satunya istri ku.


Entah apa yang salah, malam itu aku menyelesaikan semua pekerjaan ku agar di waktu libur ku tidak ada yang mengganggu"


"Lea aku berani sumpah, malam itu aku merasa pusing dan ketika terbangun aku sudah berada di kamar bersama wanita itu"


Lea mendengarkan dengan sangat baik penjelasan Edo.


"Bukan kah kamu bilang kamu mabuk?" sela nya.


"Benar, tapi itu hanya bohong. Aku sudah menyelidiki nya, dia menaruh obat ke minuman ku. karena itu lah kami melakukan nya."


"Itu artinya, dia memang mengandung anak mu!"


Edo kalah telak, perkataan Lea barusan menghantam Edo dari kenyataan.


Dengan air mata yang mengalir ke pipi nya. Lea berusaha untuk berlapang dada.


"Selamat, kakak akan segera memiliki seorang anak. Aku sebagai teman akan mendukung mu"


Deg..

__ADS_1


Ucapan yang sangat menyakitkan. Edo tidak sanggup berkata kata lagi.


Untuk pertama kalinya Edo merasa nyeri di hatinya, saat mendengar ucapan kebesaran hati Lea. Meskipun mata nya mengatakan hal yang berbeda, Lea tetap berusaha untuk tersenyum.


__ADS_2