
Brak!
"Laporan seperti apa ini, kenapa kalian tidak bisa becus mengerjakannya huh!"
"Ma-maaf boss, permintaan klien seperti itu"
Brak.
"Sudah salah, masih saja membantah! keluar!"
pegawai wanita itu buru buru memunguti kertas laporannya yang berserakan di lantai. Kemudian dia berlari secepat mungkin keluar dari ruangan Edo.
Ruangan yang sudah menjadi neraka bagi karyawan yang harus secara langsung memberikan laporan pada Edo.
Sejak beberapa bulan ini, pria itu menjadi sangat galak.Salah sedikit semua akan di lempar dan di caci.
Jika tidak terlalu terpaksa, mereka tidak akan mau masuk ke dalam ruangan laknat itu.
"Huh, aku sangat lelah. Mereka tidak ada yang becus" dengus Edo.
"Gak ada yang becus, Tau kamu yang memimpin gak becus?"
Edo menoleh, dia terkejut mendengar suara maminya.
"Mami kok ke kantor?"
"Kenapa, apa mami gak boleh kekantor?"
"Bukan begitu mi, hanya terkejut aja"
Eva mencibiri ucapan Edo, kemudian dia menarik kursi dan langsung duduk di hadapan putranya.
Sudah 7 bulan Edo seperti ini, tidak merawat tubuh, tidak memperhatikan penampilan, pemarah, sungguh sangat menyedihkan.
Kehilangan Lea, seakan membuat Edo kehilangan jiwa.
__ADS_1
"Nak, apa kamu tidak risih dengan brewokan kamu yang terlalu panjang itu hm?"
"Tidak mi, aku malah suka. Ini sudah menjadi munajat ku, jika aku tidak menemukan Lea, maka aku tidak akan memotongnya atau mencukurnya!" jelas Edo santai.
Pria itu terlihat sibuk memeriksa dokumen yang tergeletak di atas meja nya.
Bukan terlalu sibuk, tapi Edo hanya ingin mencari kesibukan di depan maminya.
"Edo, kamu ini harus berubah. Jaga penampilan kamu nak!"
Nah kan, seperti yang Edo tebak. Pasti maminya akan membahas soal istri nya lagi.
"Lea mungkin sudah bahagia bersama orang lain. Kenapa kamu malah menderita sendiri huh."
"mami, Edo capek. Gak mau bahas ini dulu!"
"Tapi, mau sampai kapan Edo. Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini huh?" desak Eva.
"Sampai aku menemukan Lea!"
Cukup!
Edo menggebrak meja nya. Untuk kesekian kalinya dia bersikap kasar kepada mami nya.
"Cukup mami, Edo gak mau bahas semua ini lagi. Lebih baik mami pulang saja!"
"Kamu ini yah, mami hanya kasihan sama kamu. Tapi kamu tidak mau mendengarkan mami!"
"Bukan tidak mau mi, tapi ini sudah kesekian kali kita membahasnya. Dan aku tetap menjawab dengan pertanyaan yang sama!"
Edo beranjak dari meja kerjanya, kemudian pergi begitu saja meninggalkan sang mami.
"Huh, benar benar yah. Susah sekali mengatur anak satu itu."
Edo pergi keluar dari kantor. Dia butuh hiburan untuk menghibur suasana hatinya yang sedang kacau.
__ADS_1
"Huh, Lea kamu tidak akan pernah tergantikan. Aku yakin kamu pasti akan kembali pada ku!" gumam Edo di dalam hati, menyemangati dirinya sendiri agar tetap kuat menantu istri ny pulang.
Edo pergi ke bar, sekedar menenangkan pikiran. sudah lama sejak kepergian Lea, Edo tidak pernah lagi menyentuh minuman, apalagi masuk ke bar.
Kini, Edo sudah sampai di depan bar. Kaki nya terasa kaku untuk melangkah masuk ke dalam
"Hey bro, sudah lama tidak terlihat"
Edo menatap salah satu teman lamanya, dia membalas sapaan itu dan memberi jarak dari pintu.
"Ayo masuk, kita minum sedikit gak papa lah"
"Hm gak deh, aku baru ingat ada meeting"
Edo segera pergi dari sana, dia tidak mau di katain lemah karena tidak mau minum.
Huh
"Lea, aku tidak akan melakukan apa yang tidak kamu sukai" batin Edo.
Di sisi lain, tepatnya berada di pulau yang sedikit terpencil dari kota. Lea sedang duduk di depan halaman rumah yang langsung menghadiahkan mereka pemandangan indah.
Rumah bibi Lea terletak di tepi pantai, tepatnya berada di atas bukit yang tidak jauh dari pantai. Sehingga mereka selalu nyaman duduk berlama lama di depan rumah.
Cukup lama Lea duduk di sana, dia pun merasa ingin buang air kecil.
"Aduh, gak tahan" pekik Lea kebiasaan kalau mau buang air kecil, selalu menunggu kebelet banget.
"Eh kok malah sakit yah perut aku"
Lea berdiri di depan pintu, rasanya kakinya ingin terlepas dari tempatnya
"Bibi, kaki ku sakit. Bantu aku!!!"
"Bibi!!!"
__ADS_1