
Lea tiba di rumah, dia langsung masuk ke dalam kamar nya. Entah mengapa Lea merasa sangat sakit ketika Edo mengatakan bahwa dirinya hanya seorang art.
Apa hanya sebatas itu saja? Meskipun mereka menikah karena terpaksa. Tapi, tetap saja dirinya adalah istri sah Edo.
Tapi, pria itu malah seenaknya berkata seperti itu.
Brukk.
Lea melemparkan tubuhnya begitu saja di atas ranjang. Berusaha untuk tetap sabar menghadapi pria yang perlahan membuat hidupnya mulai berubah.
Sibuk memikirkan sikap suaminya, Lea akhirnya tertidur pulas.
Sore hari nya, Edo pulang ke rumah. Ini pertama kalinya dia pulang lebih awal.
Diva sudah berusaha menggoda Edo, namun pria itu seakan tidak bisa di goda. Dia menolak Diva yang sengaja memakai gaun sexy.
Ceklek.
Edo masuk ke dalam rumah, suasana rumah tampak berubah sejak dia pergi tadi.
Biasanya, apartemen ini akan terlihat sama seperti yg dia tinggalkan di pagi harinya.
Sekarang, apartemen nya sudah rapi dan wangi.
"Apa dia yang mengerjakannya?" Gumam Edo. Mata nya mengedar ke mana mana, mencari sosok yang tadi ia pikirkan.
" Kemana dia?" Gumam Edo tidak melihat Lea di mana pun.
Mata nya melirik ke arah pintu kamar Lea yang tertutup rapat. Apa dia ada di kamar?
"Ah bodo amat"
Edo memutuskan untuk masuk ke kamarnya, tidak ambil pusing di mana pun Lea berada.
Sekarang pukul 7 malam.
Lea terkejut, dia bangun dari tidur panjangnya. Saat melihat langit yang sudah gelap dari jendela kacanya. Lea langsung melompat dari tempat tidur.
"Astaga sudah malam!!" Pekik Lea.
__ADS_1
Dia langsung berlari masuk ke kamar mandi, membersihkan diri lalu keluar kamar.
Lea melangkah masuk ke dapur. Bergerak cepat membuatkan makan malam.
Wanita itu tidak tahu jika Edo sudah pulang. Kekalutan dirinya membuat dia tidak memperhatikan apapun.
Dia tidak sadar, bahwa Edo sedang duduk di sofa sambil memperhatikannya.
"Entah apa yang dia lakukan" pikir Edo acuh.
Lea terus menyelesaikan masakannya, mengingat apa apa saja yang suaminya suka.
Udang goreng saos tiram, lea ingat bahwa suaminya sangat menyukai udang goreng. Jadi, menu malam ini dia akan membuat udang goreng.
Seperti yang mertuanya petuahkan, Lea memasak sesuai yang di ajarkan.
Aroma yang sangat menyengat menyeruak ke seluruh penjuru apartemen.
Edo sampai menarik nafas dalam dalam menikmati enaknya aroma lezat ini.
Bahkan pria itu sempat menghentikan kegiatan tangan nya yang menari di atas leptop.
"Wangi sekali, persis seperti yang Mami masak" batin nya.
"Mas, ka-pan pulang?" Tanya Lea gugup.
Edo tidak menjawab, dia hanya diam sambil menunggu Lea menyediakan makan untuk nya.
Tanpa banyak bicara, Edo langsung melahap habis masakan yang Lea sajikan.
"Lapar sekali mas" cibir Lea sambil ikut melahap makanannya.
Awal nya emang dia membiarkan Edo makan terlebih dulu. Namun, setelah melihat sikap Edo tadi siang. Lea mulai bersikap acuh kepadanya.
Setelah makan, Edo segera bangkit. Meninggalkan meja makan begitu saja.
"Dasar tidak tahu terimakasih, mentang mentang aku di anggap pembantu" dengus Lea yang langsung menutup mulutnya saat melihat Edo kembali ke meja makan.
Lea pikir Edo balik karena mendengar ucapan nya barusan.
__ADS_1
"Untuk selanjutnya, jangan pernah mendatangi kantor ku lagi. Jika ada sesuatu yang di perlukan, cukup kirim pesan saja, atau titip pada satpam saja!" Peringat Edo.
Lea terdiam, kemudian mengangguk mengerti setelah mencerna satu persatu ucapan Edo.
"Baik" jawab Lea.
"Bagus!" Edo kembali berbalik pergi, dengan tampang tidak tahu terimakasih nya pria itu langsung kembali ke ruangan tamu.
Tinggallah Lea yang merungut setelah mendengar ucapan Edo.
Menikah, bukan nya hidup bahagia saling berbagi kasih sayang. Lea malah hidup bagaikan seorang pembantu.
Namun, dia menjadi pembantu yang bebas tanpa hambatan. Hanya harus menyediakan makanan dan membersihkan apartemen saja. Selebihnya Lea bebas ingin melukai apapun. Uang bulanan juga sudah di berikan oleh Edo.
Entah dari mana pria itu mengetahui nomor rekening Lea, dia sudah mengirimkan uang belanja ke rekening Lea setiap awal bulan.
Lea cukup terkejut, tapi dia juga terlihat senang. Meskipun dia tidak akan memakai nya untuk memenuhi kebutuhannya. Lea juga tidak menolak. Dia akan mempergunakan uang itu untuk kebutuhan darurat saja.
Selesai berberes dapur dan meja makan. Lea pun langsung masuk ke kamar. Mengabaikan Edo yang masih berada di ruang tengah apartemen nya.
Entah apa yang pria itu kerjakan, Lea tidak peduli. Dia langsung masuk ke kamar untuk melanjutkan kegiatannya menulis novel.
Keseharian nya Lea hanya menulis novel.enghasilkan uang melalui hoby nya.
Pukul 11 malam, Lea merasa tenggorokan nya kering. Dia sangat haus dan ingin minum air dingin.
Lea pun memutuskan untuk pergi ke dapur untuk mengambil air dingin di kulkas.
Saat keluar kamar dan melewati ruang tengah. Lea terkejut melihat Edo yang tidur sambil duduk.
"Dia tidur duduk?"
Lea mengambil laptop. Meletakkan benda itu ke atas meja. Merapikan bantal sofa untuk membaringkan Edo di sana.
Setelah Edo berbaring, Lea pun langsung bergegas masuk ke kamar nya dan mengambil selimut miliknya untuk di selimutkan pada Edo.
"Lelah mu akan menjadi lillah,semoga berhasil dan berjaya terus"
Setelah bergumam seperti itu, Lea pun melanjutkan niatnya ke dapur untuk mengambil air dingin. Lalu, dia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Huh, meskipun malam ini sangat dingin. Tapi, demi mencari sesuap nasi. Suami ku rela tidur duduk seperti itu. Huh kasian sekali" lirih Lea.
Untuk beberapa saat wanita itu lupa akan kejahatan pria itu kepadanya.