
Lea pergi dari apartemen, dia membawa semua barang barangnya. Dia tidak ke rumah Eva, dia juga pergi ke rumah orang tuanya.
Lea tidak mau membuat para orang tua khawatir kepadanya. Dia hanya ingin menyendiri dan menenangkan diri.
Permasalahan antara dirinya dan Edo tidak lah mudah. Ini sangat rumit dan mampu membuat hidup Lea berantakan.
Sejak kecil dia sudah mencintai Edo, memiliki janji untuk selalu bersama. Namun, mereka harus terpisah oleh jarak.
Edo terpaksa ikut kedua orang tuanya pergi, karena papa nya pindah tugas.
Kini, mereka kembali bersama setelah beberapa tahun terpisah.
Sayang nya, Edo bukan lah kak Edo yang Lea kenal. Dia sudah berubah banyak. Jangankan janji di masa muda, diri Lea saja dia tidak ingat.
Memang dulu Edo pernah kecelakaan, dan mengakibatkan pria itu lupa kenangan masa lalunya.
Lea tidak mempermasalahkan semua itu, dia bisa menerima Edo meskipun terus menyakitinya. Lea berpikir, suatu saat Edo akan mengingat dirinya jika mereka terus bersama.
Sekarang, lihat lah. Jangankan mengingat, Edo bahkan sangat menyakiti hatinya hingga hancur berkeping keping.
"Tidak ada guna lagi" Lea menangis sejadi jadinya, duduk sambil memeluk kedua lututnya di balkon hotel.
Kepergian Lea terdengar oleh Eva,di mencoba untuk menghubungi Lea. Tapi, tidak di angkat oleh wanita itu.
"Lea, kamu di mana nak?"
Dengan perasaan khawatir, Eva mengutus orang untuk mencari keberadaan menantunya.
Dia benar-benar marah pada Edo, bagaimana mungkin dia bisa membuat Lea marah dan pergi dari rumah.
"Maafin aku mi, aku tidak tahu Lea akan semarah ini sama aku"
"Diam kamu, harusnya kamu jaga sikap kamu. Kan mami sudah bilang, jangan sakiti dia, dia itu sangat baik dan sangat mencintai kamu. Tapi apa yang kamu lakuin, dia malah pergi dari rumah!" omel Eva marah.
Edo hanya bisa diam, dia tidak memberitahu pada mami nya, bahwa dia dan Lea bertengkar karena Diva. Wanita yang sedang mengandung anaknya.
Seandainya Eva tahu, Edo tidak tahu bagaimana nasibnya nanti.
"Maaf mi, Edo gak akan ulangi lagi"
"Gak ulangi gimana, orang Lea sudah pergi"
"Yah gak papa mi, Edo akan berusaha menemukan dia"
__ADS_1
"Gak usah banyak bicara kamu, cepat cari dia sekarang!"
"Iya mi"
Edo bergegas pergi dari rumah maminya. Tadinya Edo berpikir Lea kabur ke rumah mami Eva. Ternyata dia salah besar.
Ternyata Lea tidak kembali ke rumah mami nya dan juga tidak kembali ke rumah orang tuanya.
Kaya Eva, kedua orang tua Lea sedang dalam perjalanan menuju ke kota. Mereka ingin memberikan Lea kejutan.
Tapi lihatlah, mereka pasti akan kecewa jika mendengar kabar ini.
"Oh astaga.... aku harus menemukan Lea sebelum kedua orang tua nya datang" gumam Edo bertekad.
Pria bodoh itu masuk ke dalam mobilnya, melaju ke semua arah untuk mencari istri nya.
Sedangkan di sebuah ruangan, Diva berteriak meminta pertolongan. Dia di kurung di dalam ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.
"Hey tolong aku, mengapa kalian menangkap ku?"
"Hey!!"
Sekuat apapun dia berteriak, tetap tidak ada orang yang mendengarnya. Dia seolah olah sendirian di dalam ruangan gelap itu.
Diva benar benar ketakutan, duduk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya. Dia tidak tahu apa yang terjadi,siapa yang telah melakukan semua ini kepadanya.
"Arrgg...."
Diva kehilangan kesadaran, panik dan stres membuat dirinya mengalami pendarahan hebat.
Mendengar suara rintihan kesakitan dari Diva, salah satu anak buah yang Edo perintahkan untuk menghukum Diva langsung menghidupkan lampu.
"Astaga, dia mengalami pendarahan.Ceoat bawa dia ke rumah sakit!" serunya sambil berlari mendekati Diva.
Mereka yang ada di sana pun langsung mengangkat tubuh Diva, kemudian melarikannya ke rumah sakit.
Salah satu anak buah Edo memberi kabar pada Edo. Mereka di perintahkan untuk menjaga diva dan memastikan bayinya baik baik saja.
Meskipun Edo tida mencintai Diva, namun tetap saja bayi itu adalah darah dagingnya. Edo tidak akan menyia nyiakan bayi itu.
...----------------...
Lea masih duduk sendirian, menatap langit malam dengan mata yang terasa bengkak.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi, Lea masih belum merasakan ngantuk.
"Apa begini rasanya galau berat? huh... Dia jahat banget sama aku, selama ini aku udah nunggu dia, jaga dia dan melayani semua keperluan dia. Tapi, kenapa ....."
Air mata kembali mengalir dari sudut mata cantik yang terlihat sembab.
"Kenapa kamu tidak pernah mengingat aku kak. Sedikitpun kamu tidak mau melihat ketulusan aku...
Kenapa setelah semua yang aku lakukan, kamu tetap tidak peduli.
Berkata bahwa kamu tidak suka dengan wanita itu, berkata seolah kamu tidak akan mendekati wanita itu lagi. tapi...."
Lea tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dia hanya menutup mulutnya menahan tangis.
Lagi dan lagi, dia harus kehilangan air mata dalam jumlah banyak hanya karena pria seperti Edo.
Drrtt.... Drrtt...
Di selah sela tangisnya, Lea merasakan getaran dari ponselnya.
Tertera nama ibu nya di sana. Cepat cepat Lea menghapus air matanya, kemudian menetralkan suaranya agar tidak terdengar serak seperti seseorang habis nangis. Lea tidak akan membiarkan ayah dan ibunya tahu, jika anak mereka sangat menderita.
Ekhem..
"Halo bu.."
"Maaf, apa ini dengan keluarga pemilik ponsel ini?"
Deg.
Seakan bumi berhenti berputar, Lea merasa jantungnya akan copot ketika mendengar suara tegas khas seorang polisi.
Perasaan Lea mulai tidak enak, dia mencoba untuk tetap kuat dan bertanya pada polisi itu.
"Ada apa yah, kenapa ponsel ibu saya ada sama bapak?"
"Kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan, bahwa sebuah bus telah mengalami kecelakaan. Dan pemilik ponsel ini dan suaminya merupakan korban kecelakaan ini. Kami harap pihak keluarga melihat korban di rumah sakit xx.."
Bruk.
Seketika ponsel di tangan Lea jatuh ke lantai. Tubuhnya mendadak lemas dan tidak sanggup memegang benda pipih itu.
"Bapak... Ibu..."
__ADS_1
"Gak, ini gak mungkin... Bapak!!! Ibu!!!"