
"Wah gak nyangka yah, ketemu kalian berdua"
Deg.
Lea yang sedang memakan sosis bakar seketika terhenti, pandangan matanya menangkap sosok yang beberapa hari ini tidak ia lihat.
"Edo, kok kamu gak bilang ada mantan istri kamu ada di sini"
Lea langsung mengalihkan pandangan matanya, tidak menyangka ternyata mereka sudah bersama.
Sengaja atau tidak, Lea tidak peduli. Dia berpura pura acuh dengan kehadiran mereka.
Melihat perbuatan Edo pada Lea, Raihan pun tidak sungkan untuk mengambil tindakan.
"Wahh... Di sini udaranya mulai gak seger yah, ada bau bau sampah gitu" ucap Raihan sambil mengibas ngibaskan tangannya seolah olah sedang menghalau bau busuk itu.
"Heh, cowo miskin. Apa maksud kamu hah."
"Ups, tersindir. Bagus lah, semoga aja lekas sadar" sahutnya santai.
"Edo, lihat lah. Mereka mengejek ku, apa kamu diam aja, bayi mu juga akan merasa sedih tahu" rengek Diva manja sambil bergelayut di lengan Edo.
Semua itu terpampang jelas di mata Lea. Pria yang beberapa hari lalu adalah suaminya, membiarkan wanita itu bergelayut manja.
Sedangkan Edo, dia hanya diam saja. Mata nya lurus menatap pada Lea.
"Udah gak segar, aku mau pulang aja" ucap Lea pergi begitu saja, selera makan nya seketika menghilang begitu saja.
"Eh, tunggu aku"
"Kalian lihat kan, wanita ku jadi gak selera karena kalian!" dengus Raihan sebelum dia kembali melanjutkan langkahnya mengejar Lea.
"Iii, mereka apaan sih, sok romantis banget!"
"Eh.."
Diva terkejut, Edo malah menepis tangannya yang masih memeluk lengan Edo.
"Udah cukup drama ini!" ketus Edo sebelum pergi.
"Eh, Edo.... Tunggu, Edo!!.
Aiss... Kenapa malah ninggalin aku sih. Harusnya kamu marah sama dia!"
Diva mencak mencak di tinggal Edo di sana. Rencananya memang berhasil, tapi buah nya malah hambar.Dia pikir Edo akan menangis dan mencari kehangatan pada dirinya. Tapi, Edo malah marah dan pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendiri.
Jika sudah begini, apa lagi yang bisa di buat. Diva menghubungi adik sepupunya. Pria yang menjadi ayah kandung dari anak yang dia kandung.
",Jemput aku di taman kota!"
"Oke"
Lea terus melangkah cepat, hatinya terasa sangat panas. Bayangan tingkah manja Diva di lengan Edo masih melekat di ingatannya.
"Lea, tunggu"
Raihan mensejajarkan langkahnya dengan Lea, menahan tangan wanita itu agar segera berhenti berjalan.
__ADS_1
"Lea, kamu marah yah sama aku?. Maaf yah, aku hanya gak tahan lihat kamu di ejek seperti itu!"
"Aku gak marah kok"
"Terus, kenapa kamu tinggalin aku?"
"Aku..." Lea tidak sanggup untuk melanjutkan ucapan nya, terlalu sakit untuk ia ungkapkan.
Dengan sigap, Raihan merengkuh tubuh Lea dan memeluknya erat.
"Jika kamu mau menangis, menangis lah. Aku bisa menjadi bahu untuk mu bersandar dan menjadikan kaos ku sebagai tisu alami mu"
"Dasar bego" dengus Lea terkekeh dalam tangisnya. Kemudian, dia kembali menangis di bahu Raihan.
Tanpa di ketahui oleh siapapun, Edo melihat semua adegan itu. Melihat bagaimana eratnya pelukan Lea pada pria asing yang sudah Lea anggap sebagai teman.
"Apa hati mu sudah lelah menunggu ku, sehingga kamu mencari pria itu?"
Kekecewaan melanda Edo, dia pergi dari sana dengan amarah. Rasa cemburu kecewa, kesal semua bersatu menjadi satu.
Di dalam pikirannya, Lea telah berselingkuh dengan Raihan. Bahkan mereka belum benar benar bercerai.
"Dasa cewe murahan, melihat yang bening sedikit sudah berpaling"
Huh.
Sesampainya di rumah, Edo melempar switer dan kunci mobilnya ke sembarangan arah.
kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas sofa.
"Ada apa sih,kunci di lempar, baju di lempar. Kamu itu kenapa sih!"
"Hei, jawab mami. Kamu kenapa, keluar mendadak dan pulang malah kaya gini"
Edo tak kunjung menjawab pertanyaan Eva, membuat wanita baru baya itu gemas.
Eva menarik tangan yang menutupi wajah Edo, menarik hingga wajah pria itu terlihat seluruhnya.
"Aduh, mami.Kenapa sih, jangan ganggu deh"
"Mami gak akan ganggu, kalau kamu itu jawab semua pertanyaan mami!"
"Jawab apa, aku lagi malas ngomong" Edo kembali menutup wajahnya.
Eva menarik nafas dalam, dia benar benar heran dengan sifat putranya ini. Keras kepala , tapi hatinya lembut. Hanya saja situasinya yang salah.
"Kamu ini yah, kemarin gak mau nikah sama Lea. Sekarang, sudah nikah dan kamu sakiti dia agar kalian pisah kan?
Sekarang, Lea minta pisah. Kenapa kamu belum tanda tangan? kenapa malah kamu yang galau "
"Aku gak galau"
"Benarkah? marah marah dan ngamuk seperti ini apa itu gak marah?"
"Tidak!"
Cih..
__ADS_1
Eva tersenyum miring melihat sifat putranya ini. Dia tahu, Edo sudah mulai menyukai Lea.Apalagi sejak dia tahu semua tentang Lea. Pasti hatinya menyesal telah meninggal Lea.
"Lea sudah tidak mengganggu kamu lagi, kamu sudah bebas bersama wanita yang mengandung anak mu itu!"
"Kamu nikahi saja dia"
"Tidak!" jawab Edo cepat.
Dia duduk dan menatap mami nya lekat, Eva sendiri sampai gelagapan dengan sikap Edo barusan.
"Aku tidak seperti Lea, baru bercerai sudah mendapatkan yang baru. Aku yakin sebelum dia memutuskan untuk bercerai, pasti dia sudah memiliki hubungan dengan pria itu"
"Tidak mungkin!" bantah Eva.
"Kamu benar benar yah, kamu pikir Lea itu sama seperti kamu? menebar benih di mana mana huh?"
"Mami gak tahu aja, dia itu sudah ada pria lain. Dengan mata Edo sendiri, mereka berpelukan dan bermesraan!"
"Benarkah?"
"Tentu saja, aku nyesal menikah dengan dia!"
"Bagus lah, mami juga menyesal sudah melahirkan kamu!" sahut Eva ketus.
Dahi Edo mengerut, dia heran dengan sikap maminya yang selalu saja membela wanita itu.
"Mami, kenapa sih selalu belain dia. Bapak dan ibu dia itu baru meninggal, dan dia sudah sibuk bersama pria lain.Benar benar wanita rendahan!"
Plak.
"Cukup yah Edo, mami gak mau dengar kamu mencaci Lea lagi. Lagi pula, jika dia sudah bersama pria lain, memangnya apa urusan dengan mu. Kamu tanda tangani aja surat cerai itu. Mak kamu tidak akan ada hubungan lagi sama Lea!"
Setelah mengatakan sumpah serapahnya, Eva pun pergi dari sana. Putranya memang sangat keterlaluan. Dia sudah terpengaruh dengan ucapan wanita ular itu. Pasti dia yang telah mengatakan hal hal yang bukan bukan pada Edo.
"Awas saja, akan ku beri pelajaran kamu!"
...----------------...
"Makasih yah Raihan, kamu sudah mengantar aku pulang. Kamu juga sudah mau mendengarkan curhatan aku" Lea merasa tidak enak pada Raihan.
Seharusnya pulang kerja pria itu bisa istirahat, tapi karena dirinya Raihan jadi tidak bisa istirahat.
"Sudah lah Lea, jangan sungkan. Kamu adalah teman ku, aku akan selalu membantu mu." balas Raihan lembut.
Raihan tahu, dia dan Lea selamanya akan menjadi teman.Di hati Lea, hanya ada Edo. Sampai kapan pun,hanya Edo.
Tapi, Raihan ikhlas. Dia tidak akan meminta lebih. Bisa bersama Lea saja sudah membuatnya bahagia. Melihat Lea bahagia, itu juga sudah sangat cukup.
"Yaudah, aku masuk dulu. Kamu pulang hati hati yah"
"Oke, tidur yang nyenyak yah"
"Kamu juga"
Raihan mengangguk, membiarkan Lea masuk ke dalam lift terlebih dahulu, baru setelah itu dia pergi.
Hari hari tidak mudah bagi Lea, dia pasti sangat stres. Apalagi pria seperti Edo tidak mudah untuk menghadapinya. Pria egois yang hanya tahu kesalahan Lea saja.
__ADS_1