
Acara penyerahan murid pada kedua orang tua nya pun berjalan dengan sangat lancar. Ken merasa sangat bangga, dia mendapatkan juara satu umum dengan nilai paling sempur. Ken juga mendapat piagam siswa teladan dari sekolah.
Seperti yang sudah Mina janjikan, dia bersiul keras dan bertepuk tangan dengan menyoraki nama Ken.
"Cucu ku!!!!" Sorak Mina.
"Heh, dia juga cucu ku!!" Sahut Eva tak mau kalah, dia ikut berdiri dan bersorak girang pada Ken.
"Aiss..." Andey menutup muka, merasa malu dengan sikap istri nya.
Sedangkan Lea, dia hanya diam dan sesekali bertepuk tangan saat putranya menerima piagam.
Di samping kea, ada Edo yang sejak tadi hanya menatap kearah Lea.
"Berhenti lah menatap ku, dan bersiap lah untuk berperang setelah acara ini!" bisik Lea dengan suara penuh penekanan.
Bukannya takut, Edo malah merasa senang. Lea akhirnya mau berbicara dengannya. Setelah selama di kantor dia selalu saja menghindarinya.
"Apa kita akan berperang di atas ranjang? Atau di dalam kolam renang?"
Mendengar perkataan tidak senonoh Edo, Lea langsung menoleh dan hendak memukulnya.
Namun..
Cup.
Mata Lea membulat besar, seakan ingin keluar dari sarangnya.
"Dasar mesum!"
Plak!
Lea memukul bahu Edo, kemudian menjauhkan diri dari mantan suaminya itu.
Setelah acara selesai, Lea membawa semua keluarganya pulang.
Saat di parkiran, Edo menghampiri mereka. Eva pun ikut bersama putranya. Dia merasa menyesal telah bersikap kasar kepada Lea selama ini.
"Lea, tunggu!" cegah Edo memegang tangan Lea.
Lea menghempaskan tangan Edo, kemudian menyuruh putra dan paman bibinya untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Setelah memastikan semuanya masuk ke dalam mobil. Barulah Lea menatap Edo dan membawa pria itu sedikit lebih jauh dari mobilnya.
"Kamu ini mau nya apa sih. Aku sudah bilang, berhenti mendekati keluarga ku!"
"Tidak bisa Lea, Ken adalah putra ku. Aku tidak akan menjauhi nya!" balas Edo.
Lea tersenyum miring, Edo mengakui Ken adalah putranya setelah apa yang selama ini dia lakukan.
__ADS_1
"Kamu menganggap nya anak? setelah kamu meragukan diriku dulu huh?"
"Lea itu masa lalu, kenapa kamu masih mengungkitnya!" sela Eva.
Lea pun beralih menatap mantan mertuanya. Mereka terlihat sama, tanpa mencari kebenaran mereka mampu membenci seseorang atas informasinya yang belum tentu benar.
"Masa lalu? bagi kalian mungkin ini mudah. Tapi, bagi ku ini sangat sulit dan aku tidak akan melupakan itu!"
"Aku mohon, jangan ganggu aku dan anak ku lagi. Aku akan segera berhenti dari perusahaan mu!"
setelah mengatakan hal itu, Lea pun berlalu dari hadapan Edo. Namun, saat dia berbalik. Lea di kejutkan oleh keberadaan putranya.
"Jadi, om Edo beneran papi Ken?"
Deg.
Lea cepat cepat mendekati putranya. Memeluk Ken dengan sangat erat, kemudian menjelaskan bahwa mereka baru saja menyelesaikan drama.
"Tidak sayang, tadi masih dalam drama kita tadi" bohong Lea.
"Tidak Ken, dia beneran papi kamu, dan aku Oma kamu. Mami kamu berbohong." Ucap Eva.
"Sayang, dengarkan mami. Ayo kita masuk ke dalam mobil!" bujuk Lea.
Ken tidak bergerak, matanya menatap lurus kearah Edo yang hanya diam menatap kearahnya.
"Mami, tidak perlu khawatir. Aku akan selalu bersama mami. Tapi, ijinkan aku untuk meluruskan semua ini"
Lea menggeleng, dia tidak akan mengijinkan putranya berbicara dengan Edo. Namun, Ken terus berusaha meyakinkan maminya, hingga Lea pun memberi ijin.
Edo tersenyum, dia berpikir putranya mengerti akan situasinya dan berniat menerima dirinya.
Tapi, itu semua hanya khayalan Edo saja. Ken berdiri tepat di depan Edo, menatap pria itu dengan tatapan datar.
"Seperti yang aku katakan sama om kemarin. Aku akan mengenalkan om sama mami ku."
Edo mengerut bingung, dia tidak mengerti jalan pikiran putranya.
Ken menarik tangan maminya agar berdiri di sampingnya.
"Mami, kenalkan dia om Edo. Pria hebat yang sudah menghibur ku beberapa waktu belakangan ini" jelas Ken mengenalkan Edo pada maminya.
Sikap Ken saat ini seolah olah Edo dan maminya tidak saling mengenal. Meskipun kenyataan nya Ken sudah tahu.
"Om, ini mami ku. Cantik kan, dia juga tangguh dalam melindungi ku"
Setelah membuat mami dan papinya saling mengenal. Setelah itu Ken mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih sudah membantu ku mengalahkan teman teman ku." Ken membungkuk di hadapan Edo, memberi hormat selayaknya pada orang asing.
__ADS_1
Dengan wajah datarnya, Ken menarik tangan maminya kembali ke mobil.
"Ken!"
Edo menyusul mereka, namun Ken tidak peduli. Dia masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk maminya.
Lea tersenyum senang, dia berpikir putranya akan histeris dan menanyakan segalanya. Ternyata tidak, Ken malah santai dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"Terimakasih tuhan!" batin Lea.
Ken masih saja diam, sesampainya di rumah pun dia tetap diam.
Lea mengikuti putranya masuk ke dalam kamar, berusaha untuk mengajak putranya berbicara.
"Ken, apa yang terjadi. Kenapa kamu diam seperti ini?", tanya Lea.
Ken tidak menjawab, dia duduk di tepi ranjang. Ekspresi nya sangat datar, matanya menatap lurus ke luar balkon.
"Ken, ayo ngomong sama mami. Jangan diam saja!" desak Lea mulai kehabisan akal. Dia semakin frustasi dengan sikap anaknya.
"Apa ini alasan mami marah ketika om Edo menemui Ku?"
Deg.
Lea terdiam, tubuhnya melemas mendengar pertanyaan dari putranya. Waktu yang Lea takutkan akhirnya tiba juga.
"Jawab mi, dan tolong jujur!"
"Iya Ken, mami merasa takut jika kalian bertemu Edo akan membawa kamu pergi. Mami takut dia tidak akan membiarkan mami bertemu lagi dengan mu. Mami takut kehilanganmu, mami takut Ken mami takut.. hiks.. hiks... Mami tidak bisa membayangkan hidup mami seperti apa nantinya tanpa kamu!"
"Tapi mi, kenapa dia akan membawa Ken. Bukan kah dia sudah mencampakkan kita?"
Lea menarik nafas, berusaha untuk menenangkan diri dan meredakan tangisnya. Mungkin ini adalah saat nya untuk menceritakan pada Ken.
Dengan guliran air mata, Lea menceritakan semua kejadian di masa lalunya. Alasan mengapa dia membuat seolah olah bayinya telah gugur. Menceritakan alasan mengapa dia pergi dari mereka.
Tanpa ada kebohongan, Lea menceritakan pada putranya.
Tak heran, mengapa Ken merasa sangat marah. Dia tidak tahu jika Edo sangat bejat.
"Edo tidak salah, hanya masa lalunya yang salah. Dia terjebak dari perbuatan masa lalunya!" terang Lea, agar Ken tidak membenci papinya.
"Tapi, dia tidak membela mami, dia malah meragukan mami!" sela Ken.
"Benar, itulah kesalahan nya Ken. Dan aku sudah menghukumnya!" Lea menyela air mata nya. meraih tangan Ken dan menggenggam erat.
"Berjanji lah Ken, kamu tidak akan pernah membenci Edo. Dia ayah kamu Ken. "
Ken tidak menjawab, dia memeluk maminya. Kemudian menyuruh maminya untuk segera istirahat.
__ADS_1