
Sangat indah, banyak orang mengabadikan moment mereka bersama sunset.
Lea tersenyum, dia pernah membuat angan angan seperti itu. Menghabiskan waktu bersama seseorang dan menikmati keindahan sunset.
Namun, Lea hanya menelan angan angan nya. Dia hanya bisa tersenyum dan melapangkan dada.
Di samping Lea, Edo melakukan hal yang sama. Memperhatikan matahari yang terlihat berubah warna jingga.
Lama kelamaan hari pun mulai gelap, matahari telah tenggelam. Para turis sudah banyak yang meninggalkan pantai.
Namun, Edo dan Lea terlihat masih nyaman dengan posisi duduk mereka.
Mata yang sejak tadi menatap ke laut, sampai saat ini juga masih menatap ke sana.
"Ehem.."
Edo berusaha mencairkan suasana, dia ingin berdamai dengan Lea. Dia tidak mau suasana canggung ini terus berlanjut.
"Lea"
"Hm.."
"Maaf jika kamu masih marah. Maaf, sekali lagi. Aku berjanji tidak akan melakukan hal yang sama di masa depan" tutur Edo serius.
Pria itu tidak menyangka, setelah dekat dengan Lea sebulan ini. Membuat dirinya tidak suka di abaikan oleh Lea.
Huff...
Terdengar helaan nafas berat dari wanita itu. Seperti nya sedikit berat untuk memberikan kata maaf pada pria di samping nya itu.
Namun, melihat Edo yang terus meminta maaf. Membuat Lea merasa kasian. Dia tidak boleh bersikap egois.
"Iya kak, aku sudah memaafkan kamu. Aku hanya tidak suka dengan sikap mu yang tidak mengabari ku. Gegara kakak seperti itu, banyak makanan yang terbuang"
"Iya Lea, aku tahu. Aku menyesal. Maafkan aku" balas Edo dengan suara memelas.
Lea mengangguk, memamerkan senyum manis nya. Tangan kanan nya tergerak untuk memperbaiki kacamata tebal miliknya.
"Makasih Lea"
secara spontan, Edo langsung memeluk tubuh mungil Lea.
Deg.
Lea yang tidak siap di peluk oleh Edo, merasakan hal yang aneh di bagian dadanya.
Deg deg deg...
"Eh kak, aku mau kembali ke resort" elak Lea melepaskan diri dari pelukan Edo.
Wanita itu tidak mau Edo Samapi mendengar detak jantung nya. Bisa bisa dia mendapat ejekan dari pria itu.
"Eh Lea, tunggu!!" teriak Edo mengejar Lea yang sudah berlari pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Huh, jangan sampai kak Edo mendengar suara detak jantung ku!. Dia pasti akan mengejek ku, jika dia mendengarnya" gumam Lea berbicara sendiri.
Tanpa keduanya sadari, Eva mengulum senyum melihat putra dan menantunya kembali akur.
"Cari tahu, siapa wanita yang merayu Edo!" seru Eva.
Pria berjas hitam yang berdiri di samping Ev langsung menunduk hormat.
"Baik boss"
Eva tersenyum, matanya masih mengawasi putra dan menantunya yang terlihat semakin jauh.
Setelah mereka tidak terlihat lagi, barulah Eva beranjak pergi dari sana.
"Huh, capek juga berjalan kaki " seru Lea dengan nafas ngos-ngosan.
"Ni buat kamu"
Lea mendongak, kemudian menerima uluran air minum dari Edo.
"Makasih"
"hmm"
Suasana kembali terasa normal, kedua suami istri itu tengah duduk di sofa ruangan tamu resort yang telah Eva booking.
"Eh kalian sudah kembali?"
"Mami. Dari mana aja? Lea capek cari mami tadi" seru Lea. Dia memang sejak tadi mencari keberadaan Eva.Namun, tidak dapat dia temukan.
Lea mengangguk mengerti, dia sebenarnya juga merasa sangat lelah. Tapi, karena Edo mengajaknya ke pantai, makanya dia tidak jadi istirahat.
Malam itu, menjadi malam yang sangat panjang. Eva menyusun rencana baru untuk mereka berdua.
"Pokoknya kalian akan bersatu"
Lea dan Edo masuk ke dalam kamar. Mereka akan membersihkan diri dan beristirahat sejenak menjelang makan malam.
"Ahh... Kenapa badan ku terasa sangat panas" pikir Edo.
"Gerah sekali" seru Lea yang buru buru mengambil handuk.
Edo tercengang, Lea merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.
Cepat cepat Edo mengambil botol air minum tadi. Kemudian dia mencoba meneliti apa isi dari air itu.
"Astaga, air ini tercampur obat!" pekik nya dalam hati.
Pantas saja Edo merasa ada yang berbeda di dalam tubuhnya.
"Lea?"
Edo melirik ke kamar mandi, melihat Lea yang kembali keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk.
__ADS_1
Terpampang jelas di mata Edo, tubuh putih mulus milik Lea.
"Ah, kenapa dengan tubuh ku. Panas sekali. Edo, tolong aku. Tubuh ku sangat gerah, tapi tidak bisa di bawah mandi" ucap Lea dengan tubuh gelisah.
Glek.
Edo masih memperhatikan tubuh Lea yang meliuk liuk seperti orang menari di mata Edo.
Pria itu mulai di kelabui nafsu, obat itu sudah bereaksi sepenuhnya.
"Tidak. Ini tidak benar.Aku tidak bisa melakukan nya dengan Lea!" tegas Edo berusaha menyadarkan dirinya. Melawan gejolak yang ingin meluap di bawah sana.
"Edo!"
Lea duduk di tepi ranjang, handuk pendeknya seakan terangkat keatas.
"Astaga, ujian apa ini. Gadis cupu itu terlihat sangat menggoda!!" batin Edo.
"Lea ada apa, apa yang terjadi sama kamu?"
"Aku tidak tahu kak, tubuh ku terasa panas dan gatal. Tolong aku" mohon Lea tidak tahan. Dia terus bergerak gerak seperti cacing kepanasan.
"Edo!" Lea menarik Edo. Hingga pria itu terhuyung dan jatuh tepat di atas tubuhnya.
Mereka terguling di atas ranjang.
"Ahh.."
******* pelan Lea, membuat Edo semakin tidak terkendali. Tangannya yang berusaha dia tahan. Kini malah mengusap dan mengelus pelan tubuh Lea.
"Ah.. Edo, yah"
Astaga... Pri itu tidak tahan lagi, gejolak di dalam tubuhnya semakin besar mendengar setiap ******* Lea.
"Aku tidak peduli lag!"
Cup.
Edo mendaratkan bibirnya pada bibir Lea. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Edo akan memikirkan nya nanti.
Hasrat besar nya ini sangat tidak terkendali.
Mengejutkan, entah itu karena pengaruh obat. Lea menyambut ciuman Edo dengan sangat panas.
Mereka saling memadu kasih, melakukan malam pertama sebagai seorang suami dan istri.
Terdengar mengalun suara ******* dan pergulatan keduanya di dalam ruangan yang memang kedap suara.
Eva sudah merencanakan ini semua, dia tersenyum menang membayangkan putra dan menantunya tengah membuatkan cucu untuk nya.
"Ah, kenapa aku jadi pengen yah. Ups.. Suami mana suami??" Kekeh Eva bercanda dengan dirinya sendiri.
Malam yang panjang telah di mulai, kini dia akan menunggu esok. Bagaimana reaksi kedua nya setelah melakukan penyatuan.
__ADS_1
"Aku tidak sabar..." lenguh Eva bahagia.