Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 22


__ADS_3

Setelah semuanya selesai, Edo pun bergegas pulang. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istri nya.


Ups... Sekarang dia mulai menyebut Lea adalah istri nya.


"Begini kah mabus asmara itu?" Pikir nya.


Benar benar gila, sebelum nya dia tidak pernah senyum senyum sendiri. Tidak pernah merindukan seorang wanita kecuali hanya untuk melampiaskan hawa nafsu.


Sekarang lihat lah,dia merasa deg deg an sebelum bertemu dengan Lea.


BRM.....


Mobil sport hitam tiba di depan rumah besar. Tadi mami Eva memberi Edo pesan, agar menjemput istrinya ke rumah mami nya saja.


Dari dalam rumah, Eva mendekati Lea yang tengah duduk di sofa.


"Sayang ayo keluar, suami mu sudah datang"


"Benarkah mi?"


Dengan senyum lebar, Lea bergegas keluar rumah.


Deg.


Edo terpaku, mulut nya menganga melihat penampilan Lea yang berbeda dari biasanya.


Rambut lurus di biarkan terurai begitu saja. Dress krem lengan pendek selutut menambah kesan mewah di tubuh Lea.


Make up natural namun terlihat sangat cantik alami tanpa kacamata.


Perfect.


Benar benar sempurna penampilan Lea di mata Edo.


Melihat putranya terpaku seperti itu, Eva langsung menyikutnya.


"Hei, kenapa bengong saja hm?"


"Eh hm... " Edo salah tingkah. Begitu juga dengan Lea yang sejak tadi tidak berani menatap mata Edo.


"Jika begini terus, kapan mau jalan nya?"


"Ah iya, kita akan berangkat."


Edo buru buru membukakan pintu untuk istri nya. Menuntun Lea masuk dan menjaga kepala Lea agar tidak terbentur pada mobil.


Eva tersenyum melihat sikap putranya. Akhirnya Edo sadar dan mulai membuka hati untuk Lea. Mereka akan menjadi sepasang suami istri yang romantis dan saling mencintai.


Eva juga tahu, bahwa putranya juga menunggu wanita yang pernah dia lupakan. Edo hanya tidak sadar jika wanita yang dia lupa nama dan wajahnya itu adalah Lea.


Dulu Edo pernah mengalami kecelakaan, dia melupakan masa lalunya. Tidak, tidak semuanya yang ia lupakan. Edo hanya melupakan beberapa memori saja.


"Mi, Edo berangkat dulu"


"Baiklah, hati hati yah sayang. Jaga menantu mami"


"Siap..."


Edo masuk ke dalam mobil, duduk berdampingan dengan Lea yang juga merasakan kegugupan berdekatan dengan Edo.


"Kita berangkat?"


"Tentu" jawab Lea mengangguk pelan.


Brmm....


Edo pun melajukan mobilnya meninggalkan perkara gan rumah.


Di dalam mobil, Edo maupun Lea tidak ada yang membuka suara. Mereka diam dengan pikiran masing masing. Sesekali Edo ataupun Lea saling melirik.


"Ehem.."


Tidak tahan dengan kesunyian yang merupakan bukan kebiasaan Edo. Akhirnya dia mulai mengeluarkan suara.


"Lea, kamu mau makan apa?"


"Terserah kakak saja"


Oh tuhan, Edo menggerutu di dalam hati. Apa ini sifat setiap wanita? Apabila di tanyakan dia selalu menjawab terserah??

__ADS_1


"Kalau begitu kita akan makan seafood"


"Baiklah"


Oh salah, ternyata Lea memang mengikuti apa yang Edo inginkan.


Tidak tahu ingin membicarakan apalagi, Edo pun kembali diam. Lea juga tidak berani mengeluarkan suara untuk sekedar menghilangkan kesunyian. Dia benar-benar gugup sekarang.


Restauran seafood.


Edo turun dari mobil terlebih dulu, kemudian berjalan mengitari mobil membukakan pintu untuk Lea.


Merek berjalan beriringan bergandengan tangan.


Pasangan yang sempurna!


Itulah kalimat pertama yang orang pikirkan saat melihat mereka. Tidak ingin memalingkan pandangan, mereka terus memandang Edo dan Lea.


Lea terlihat sangat cantik dengan body ideal para laki-laki, tidak terlalu montok, dan tidak terlalu kurus. Benar benar membuat para lelaki penasaran.


Sedangkan di sebelah gadis itu, berdiri kokoh pria tampan dengan tubuh paling di idamkan oleh wanita. Selain tampan, pria itu juga merupakan pria kaya dengan bisnis sukses di seluruh penjuru dunia.


"Selamat datang tuan, silahkan duduk di meja VVIP kami" sambut seorang pelayan saat melihat Edo dan Lea masuk.


Setelah itu, pelayan itu menuntun Edo dan Lea menuju ke ruangan dengan meja khusus tamu istimewa.


"Terimakasih"


Edo menarik kursi untuk Lea, menyuruh istrinya duduk dengan lembut.


"Silahkan menu nya nyonya"


"Terimakasih"


Lea melihat lihat menu nya, meskipun dia dari orang susah. Lea bukanlah wanita katrok. Dia mengerti bahasa Inggris, dia juga banyak tahu tentang makanan Restoran. Hanya saja dia tidak pernah memakannya.


"Aku mau ini dan ini aja"


"Baiklah nyonya"


Lalu, pelayan itu beralih pada Edo. "Mau pesan apa tuan?"


Pelayan itu mengangguk, dia mengerti dengan apa yang Edo pesan.


"Baiklah tuan dan nyonya. Kami akan menyiapkan pesanan anda. Tunggu beberapa menit"


Setelah pelayan itu pergi, Edo memegang tangan Lea.


"Ternyata kamu bisa bahasa Inggris?"


"Oh jadi kakak meremehkan aku?" Balas Lea menatap Edo kesal.


"Yah begitulah, kamu tahu kan Bagaimana pandangan aku terhadap mu pertama kali nya?"


"Tentu saja, aku wanita cupu, miskin, katrok. Benarkan?"


Edo terkikik pelan mendengar jawaban Lea. Tapi, semua itu memang benar.


"Sekarang aku membatalkan semuanya, aku tidak berpikir seperti itu lagi. Pola pikirku tentang kmu mulai berbeda"


"Sebentar, biar aku jawab" sela Lea penuh semangat.


"Lea itu cantik, berbakat, elegan, tidak norak, body aduhai, yeah perfect lah" jawab Lea narsis, membuat Edo tertawa mendengarnya.


"Eh kenapa kakak ketawa. Memang benarkan?"


"Yayaya... Memang benar, tapi satu yang tidak kamu sebutkan"


"Apa?"


"Cerewet, kamu itu cerewet" jawab Edo.


"Aiss... Tidak, aku tidak cerewet, itu hanya pikiran kakak saja" ketus Lea pura pura merajuk.


Melihat istrinya merajuk, Edo pun tersenyum. Memegangi tangan istrinya dengan sangat lembut.


"Lea, aku ingin mengatakan sesuatu pada mu"


Deg.

__ADS_1


Suasana kembali terasa menegangkan. Lea merasa tubuhnya kaku, sentuhan tangan Edo seakan mengalirkan arus listrik ke tubuhnya.


"Mengatakan apa kak?" Tanya Lea gugup.


"Aku ingin ki-"


Ucapan Edo terhenti, kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka.


"Mohon maaf tuan dan nyonya, kami membuat anda menunggu lama. " Ucap pelayan itu sopan.


Lea menarik tangan nya, dia tersenyum pada pelayan yang telah menyelamatkan jantung nya dari debaran yang begitu kuat.


"Tidak apa apa, baru 20 menit saja" jawab Lea santai.


Sedangkan Edo, dia hanya menahan geram pada pelayan itu. Ingin rasanya dia memukul dan menjewer telinga pelayan yang mengganggunya.


"Terimakasih"


Pelayan itu menunduk hormat, lalu pergi dari sana setelah menyajikan semua pesanan Lea dan Edo.


Lea memesan crab balls dan udang saos tiram.


Sedangkan Edo memesan coffee dan gurame bakar.


Lea melongo, bukan kah ini restauran seafood, Edo malah memesan ikan gurame.


"Gila emang" dengus Lea.


"Kenapa gila? Makanan seafood aku lebih suka masakan kamu. Jadi, lebih baik makan yang lain saja."


"Yayay... Terserah saja"


Lea mulai menikmati makanannya, jarang jarang dia bisa makan seperti ini. Biasanya dia hanya akan memakan masakan nya saja. Rasanya sangat lezat ketika memakan masakan orang lain.


Terlalu asik dengan makanan nya, Lea sampai tidak sadar jika Edo terus memandanginya.


Pria itu tersenyum, tingkah apa adanya Lea membuatnya merasa tergelitik.


"Cantik, tapi sederhana. Mami memang terbaik memilih wanita seperti Lea. " Batin Edo.


Setelah makan malam ini, Edo akan menemui maminya dan mengakui kebenaran soal ucapan maminya dulu.


"Eh, kenapa gak makan? Apa gak enak?"


"Jangan alesan mau minta yah" sungut Edo seperti anak kecil.


"Ih sembarangan tu mulut. Di pikir aku rakus "


Suasana yang romantis, berubah menjadi kocak. Tingkah pecicilan Lea telah kembali.


Meskipun begitu, Edo merasa lebih nyaman dan bahagia.


Setelah selesai makan, meja sudah di bersihkan. Edo kembali melakukan hal yang sama. Memegangi tangan Lea dan menatap dalam ke manik mata Lea.


Detak jantung wanita itu kembali berdegup kencang, tubuhnya terasa kaku karena grogi di tatap seperti itu oleh Edo.


"Kak.."


"Stt... Diam lah, aku sedang mode serius" desis Edo.


Lea langsung mengatup bibirnya, menatap Edo penasaran. Entah apa yang ingin pria ini katakan.


Edo menatap lama, butuh beberapa waktu untuk dirinya menyusun kata kata. Mempersiapkan diri untuk mengatakan...


"Setelah beberapa waktu yang telah kita lalui, aku mulai sadar dan ingin mengatakan..."


Lea mendengar dengan sabar, menunggu kelanjutan ucapan Edo yang terjeda.


"Aku sebenarnya...."


"Iya apa??"


"Aku..."


"Sudah punya anak"


Deg.


Sontak Lea dan juga Edo terkejut mendengar ucapan seseorang yang tiba-tiba melanjutkan ucapan Edo tanpa di perintah.

__ADS_1


__ADS_2