
2 jam berlalu.
Lea berusaha tetap profesional dalam menjelaskan rancangan yang telah dia buat bersama tim nya. Mengabaikan Edo yang terus menatapnya tanpa berkedip.
Lea tahu, Edo sejak tadi tidak memperhatikan presentasi yang dia jelaskan. Melainkan, Edo menatap dirinya.
"Sekian yang dapat saya sampaikan, saya harap boss setuju. Jika ada kritikan, silakan katakan langsung kepada saya, agar saya bisa memperbaikinya" ucap Lea mengakhiri presentasi nya dengan sangat sopan.
Atasan Lea tersenyum, untuk kesekian kalinya dia bangga pada Lea.
"Bagaimana boss, bagus kan rancangan yang Lea buat?"
"Bagus, saya suka. Setelah 12 tahun. Ternyata berubah banyak!" ucap Edo melenceng dari topik pembicaraan.
Lea paham apa yang sedang bicarakan. Tapi atasannya? dia tidak akan mengerti. Lihat saja, wajahnya di penuhi oleh kebingungan.
"Pak Reno, saya akan menyetujui proyek ini dengan rancangan yang Lea buat. Tapi,"
"Tapi apa boss?" sahut Reno mengulang perkataan Edo.
Jantung Lea berdegup kencang, melihat cara Edo berbicara dan tatapan matanya. Dia tahu apa ending hidupnya hari ini.
"Tinggalkan saya dan Lea berbicara berdua!"
"Huh?"
Tuh kan, apa yang Lea pikirkan benar. Edo pasti akan mengatakan hal itu.
Tidak bisa, Lea tidak mau berbicara berdua dengan pria ini. Dia itu pemaksa dan berbuat sesuka hatinya. Bisa bisa, dia akan di paksa ikut bersama dengan nya.
Lea mencari akal, dia tidak mau tinggal bersama Edo berdua.
"Sebelumnya, maaf pak. Saya harus pulang. Keluarga saya sudah menunggu!"
Lea buru buru membereskan tas dan juga laptopnya.
Tapi, tangan Edo berhasil menahan dan menghentikan pergerakan nya.
"Silahkan pak Reno!"
Tidak tahu harus berbuat apa, pak Reno akhirnya menuruti apa yang Edo minta.
"Baiklah boss. Lea maaf yah, kamu bicara dulu dengan boss besar. Jika butuh sesuatu, hubungi saja aku"
"Tapi.."
Belum sempat Lea menjawab dan menolak permintaan Edo. Reno sudah pergi lebih dulu meninggalkan mereka berdua.
"Huh, dasar tidak bertanggung jawab" dengus Lea kesal.
Kini di meja itu hanya ada mereka berdua. Lea merasa sedikit canggung dan tidak nyaman. Apalagi mereka berada di dalam ruangan VIP. Tentunya tidak ada satu orang pun yang dapat melihat apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu.
Mesin sedikit gugup dan canggung. Lea tetap berusaha bersikap biasa saja.
"Cepat, katakan apa yang boss ingin katakan!" ucap Lea ketus. Hal itu malah membuat Edo berdecih dan tertawa pelan.
"Cih, setelah 12 tahun tidak bertemu. Kamu berubah banyak juga"
"jika tidak ada hal yang penting, aku pergi dulu!"
__ADS_1
"Eit.. Mau kemana? aku belum selesai berbicara, kamu sudah mau pergi aja"
Edo menahan tubuh Lea agar tetap duduk di kursinya, kemudian menggenggam tangan wanita yang selama ini dia cari.
"Meskipun sudah 12 tahun, kamu masih terlihat sangat cantik yah. Tapi, aku lebih suka kamu yang cupu"
"Sudah cukup Edo. Aku tidak mau berbicara dengan kamu lagi."
Lea menghempaskan tangan Edo, menatap sinis pada pria itu.
"Lea, aku belum selesai bicara!"
Lea tidak mendengarkan, dia mengambil tas dan laptopnya. Bersiap untuk pergi.
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu. Lea berhenti di depan pintu, menoleh sedikit tanpa berbalik melihat Edo.
"Aku peringatkan kamu, jangan mengungkit masa lalu itu lagi. Aku sudah melupakan nya dan tidak akan pernah mengingatnya lagi. Berhenti dan jangan ganggu aku lagi!" ucap Lea, setelah itu dia benar-benar pergi dari ruangan itu.
Sedangkan Edo, dia hanya terdiam kaku. Perkataan Lea sangat menyakiti perasaan nya.
"Aku mencari mu kemana mana, melakukan apapun agar bisa menemukan dirimu. Tapi setelah bertemu, kamu melupakan aku?
Tidak! aku tidak akan membiarkan mu melupakan aku semudah itu!"
Kedua tangan Edo mengepal, matanya masih menatap pintu yang di lewati Lea tadi. Di matanya masih ada bayangan Lea melewati pintu itu.
Sesampainya di rumah, Lea langsung masuk kamar.
Lea merasa hidupnya terlalu sial, setelah menghilang selama 12 tahun ini. Dia masih saja bertemu dengan pria seperti Edo!
Harusnya, dia tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu. Karena, jika bertemu dengan pria itu lagi, luka di hatinya akan berdarah kembali.
"Kenapa! huh!!!"
Lea ambruk di lantai, air matanya terus mengaliri pipi tembam nya yang sudah basah oleh air mata.
Lemah, kondisinya kembali buruk seperti 12 tahun yang lalu.
"Kendra?"
Lea teringat dengan putranya. Buru buru dia bergegas keluar dari kamar dan berlari ke kamar Ken.
Ceklek.
Lea membuka pintu kamar Ken, betapa terkejutnya dia melihat isi kamar Ken.
"Astaga, apa yang telah terjadi?"
Lea melangkah masuk, menghapus kasar air matanya.
"Di mana dia?" gumam Lea panik, dia tidak melihat Ken di mana pun.
"Hiks.. Hiks..." suara Isak tangis Ken.
Lea segera mencari sumber suara itu, dan dia menemukan Ken tangah meringkuk di lantai balkon.
"Ken!" teriak Lea panik.
"Apa yang terjadi sayang, kenapa kamu seperti ini? are you oke?" tanya Lea khawatir, sambil memeriksa apakah ada yang luka di bagian tubuh Ken.
__ADS_1
Melihat kehadiran mami nya, Ken pun langsung memeluk Lea.
"Mami... hiks.. Hiks.."
"Hei, ada apa? kenapa kamu menangis hm?"
Ken tidak menjawab, Lea menjadi bingung melihat kondisi putranya saat ini. Entah apa yang telah terjadi pada bocah ini, sampai dia menangis dan menghancurkan semua barang barang yang ada di kamar nya.
Cukup lama Ken menangis di pelukan maminya, barulah dia mulai bisa mengontrol diri. Menghapus sisa air mata yang masi tergenang di bawah pelupuk matanya.
"Mami kapan pulang?"
"Setengah jam yang lalu" jawab Lea lembut.
Ken kembali memeluk tubuh mami nya, menyalurkan rasa sayang dan cinta yang ia yakin dapat di rasakan oleh maminya.
"Maaf mi, Ken belum bisa di andalkan. Ken masih menyusahkan mami"
Dahi Lea mengerut, tumben sekali putranya berkata seperti itu.
Lea mengurai pelukan Ken, menangkup pipi tembam Ken dengan kedua telapak tangannya.
"Hey, kenapa putra kesayangan mami berkata seperti itu?"
"Ken dengar mami yah. Kamu itu segalanya bagi mami, apapun pasti akan mami lakukan demi kamu. Bahkan nyawa mami sekalipun, akan mami serahkan demi kebahagiaan kamu!"
"Mami...Huaaa...." Ken malah semakin sedih mendengar ucapan maminya. Dia merasa menjadi anak yang tidak berguna.
"Hei, kenapa kamu semakin menangis, apa ada yang salah dari perkataan mami?"
"Tidak mami, Ken hanya merasa tidak berguna. Mami sudah bekerja keras untuk membahagiakan Ken. Tapi, Ken malah tidak bisa membuat mami bahagia... Huaaaa" Ken semakin histeris.
"Hei... Sudah cukup, hentikan tangis mu itu!" Ucap Lea. Dia menghapus air mata putranya. Menatap penuh kehangatan seorang ibu.
"Siapa yang bilang Ken tidak membuat mami bahagia?"
"Ken nyaman dan senang berada di sisi mami saja, sudah membuat mami bahagia. Apalagi nilai Ken yang bagus itu, membuat mami merasa menjadi mami terhebat di dunia!"
"Benarkah?"
Lea mengangguk cepat. Tentu saja dia bangga memiliki anak seperti Ken.
"Kenapa tidak? Ken super Hero mami. Malahan mami yang merasa takut. Jika suatu saat nanti, Ken pergi meninggalkan mami"
"Sssttt..." Ken secara cepat membungkam mulut Lea dengan telapak tangannya. Dia tidak suka mendengar perkataan itu lagi.
"Sudah cukup, Ken gak mau mami ngomong seperti itu lagi. Sampai mati pun, Ken tidak akan pernah meninggalkan mami. Kecuali maut" ucap Ken tegas.
Mendengar perkataan manis dari putranya membuat Lea merasa ingin menangis. Bukan karena sedih, tapi dia menangis karena haru.
"Terimakasih sayang"
"I love you mami"
"I love you too!"
Mereka kembali berpelukan, pelukan yang sangat erat. Seakan akan ada seseorang yang berusaha untuk memisahkan mereka.
"Aku tidak akan membiarkan Edo merampas kebahagiaan Ken bersama ku!" tekad Lea di dalam hatinya.
__ADS_1