Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 32


__ADS_3

Hari demi hari Lea jalani bagai di neraka. Diva semakin hari semakin sering mendatangi apartemen mereka dengan alasan bayi.


Melihat mereka bersama, terasa seperti menggenggam bara api, sangat panas dan meledak di ubun ubun.


Tidak tahan, Lea benar benar tidak bisa menahan sakit di hatinya. Namun, apalah daya. Dia tidak bisa menghindar dari semua ini.


Selain takut kedua orang tua dan mertuanya kecewa. Lea juga tidak mau membiarkan Diva memperalat suaminya.


"Arrggg..... Apa yang harus aku lakukan???"


Lea mulai frustasi, otaknya seakan tidak berfungsi. Sekuat apapun dia berusaha memikirkan cara agar Edo mengetahui kebusukan Diva, dia tetap tidak mendapatkan ide.


"Lea, kamu sedang apa di sini?"


"Eh Raihan, kamu kok bisa di sini?" balas Lea balik bertanya.


"Bukan nya jawab, dia malah balik nanya" gumam Raihan bicara sendiri, namun terdengar oleh Lea.


"Kamu gak kerja?"


"Aku hari ini libur"


Lea mengangguk pelan, kemudian menepuk bangku di sebelah nya agar Raihan ikut duduk.


Saat ini mereka berada di taman kota. Udara pagi terasa segar karena banyak pepohonan rindang di sekitar taman.


Terlihat banyak orang orang sedang berolahraga ringan seperti, joging, bersepeda, atau senam senam ringan.


Namun, Lea datang ke sini bukan untuk berolahraga. Dia hanya ingin menghirup udara segar. Kabur dari apartemen yang di huni oleh dua manusia tidak tahu diri.


Di awal Edo memang menyuruh Diva pergi, mengusirnya beberapa kali. Namun, lama kelamaan dia malah mengundang wanita itu datang ke rumah.


Entah apa maksudnya, Lea berusaha untuk tidak peduli. Melihat Edo sangat perhatian pada kehamilan wanita itu, membuat Lea yakin bahwa bayi yang di kandung oleh wanita itu adalah benih Edo.


Prak.


Raihan menepuk dua kali tangannya di depan wajah Lea. Membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Eh, ada apa?"


"Kamu melamun terus, mikirin apa?"


Lea menghela nafas, tekanan di dalam hatinya harus segera ia lupakan.


Tapi, apa harus pada Raihan? apa tidak masalah jika dirinya curhat pada Raihan?


"Hei melamun lagi..."


"Eh iya, maaf. Aku hanya sedang memikirkan suami ku"


"Suami?" alis tebal Raihan terangkat sebelah.


"Kamu mikirin suami kamu? memangnya dia kenapa?"tanya Raihan penasaran.


Lea tampak bingung, antara ingin menceritakan pada Raihan dan takut ini akan menjadi masalah.


"Sebenarnya, wanita yang dulu pernah kita temui di mall itu adalah selingkuhan suami ku"

__ADS_1


"What??"


Lea menutup wajahnya, melihat reaksi Raihan seperti itu, membuat dirinya merasa malu.


"Jadi, wanita itu selingkuhan suami kamu?"


Lea mengangguk pelan, dia masih menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Siapa sih suami kamu, kenapa dia begitu bodoh selingkuh dengan wanita rendah seperti itu"


"Hmm... Suami ku memang bodoh. Tapi lebih bodoh aku yang mencintainya" Tangis Lea pun mulai terdengar, membicarakan Edo membuat dirinya kembali merasakan rasa sakit di hatinya.


"Eh eh... Kenapa nangis, sttt... Tenang lah,jangan menangis..." Raihan memeluk Lea.


Bug.


Brak.


Lea terkejut, tubuh Raihan tiba tiba terdorong ke depan dan jatuh ke tanah.


"Berani sekali kamu memeluk istriku!"


"Kak Edo?"


Lea terkejut melihat kedatangan Edo secara tiba-tiba. Bukankah pria itu sedang berduaan dengan selingkuhannya. Kenapa dia bisa ada di sini?


belum sempat selesai kebingungan Lea, dia sudah kembali terkejut melihat Edo mendekati Raihan.


Dengan gerakan cepat,Lea pun langsung menahan Edo. Dia tidak ingin Raihan terluka.


"Kak Edo,cukup. Kakak apa apaan sih!"


"Ternyata ini yah,yang kamu lakuin di belakang aku. Kamu bersama pria ini!"


"Apa? kakak bilang apa?"


"Aku dan Raihan tidak ada hubungan, kami hanya teman. Kenapa kakak marah, bahkan hubungan ku dengan nya sama seperti hubungan ku dengan mu!. Kenapa kakak marah? kakak bersama dengan wanita itu saja aku tidak marah!"


"Oh jadi ini, pria bodoh yang menjadi suami kamu Lea?"


"Raihan udah, kamu jangan bicara dulu" cegah Lea pelan,dia tidak mau Edo semakin marah mendengar ucapan Raihan. Cukup dia saja yang berkata kasar pada suaminya ini.


"Jaga ucapan kamu yah!" tegas Edo menunjuk Raihan.


"Apa, aku gak takut sama kamu. Kamu itu memang pria bodoh, mau di tipu sama wanita seperti Diva. Asal kamu tahu yah, kemarin itu Lea memergoki wanita itu sedang berduaan dengan pria lain"


"Diem kamu, tidak usah ikut campur dengan urusan keluarga ku!"


"Lea teman ku, aku harus ikut campur jika kamu terus menyakitinya"


"Sialan!!"


Edo kembali ingin menghajar Raihan, dan Raihan lun terlihat menantang. Dia tidak akan takut melawan Edo.


Namun,Lea yang khawatir mereka terluka, seketika berteriak histeris.


"Aaaakkk....."

__ADS_1


"Lea!"


"Lea!"


Edo dan Raihan secara kompak langsung menoleh dan mendekati Lea.


"Kamu kenapa?"


"jangan sentuh aku, aku benci sama kalian berdua!!"


Lea berlari pergi, menepis tangan Edo dan Raihan yang sedang memegangi tangannya.


Edo panik, dia ingin mengejar Lea. Namun, Raihan menahannya.


"Kamu gak usah sok peduli deh, mendingan kamu urus saja selingkuhan kamu itu."


"Itu bukan urusan kamu. Lea itu istri ku, kamu tidak ada hak untuk ikut campur. ingat itu" peringat Edo, lalu berlari pergi mengejar Lea.


"Lea tunggu!!!"


Lea terus berlari,dia tidak memperdulikan penggilan Edo dari belakang nya.


"Lea!! tunggu. Lea!!!" Edo mempercepat langkah kakinya, dia tidak ingin membiarkan Lea pergi, apalagi melihat sebuah taxi berhenti di depan Lea.


"Lea, tunggu!!!"


Huuhh...Huhh...


Edo terhenti, nafasnya terengah-engah mengejar lea yang sudah masuk ke dalam taxi dan melaju pergi.


"Lea!! tunggu! kenapa kamu tidak berhenti" Lirih Edo di selah sela deru nafasnya.


Lea terlihat sangat hancur,Edo menyesal telah memperlakukan Lea seperti ini. Memanfaatkan Diva yang sedang hamil untuk menyakiti Lea.


Bukan karena benci, Edo hanya ingin membalas perlakuan Lea yang dia anggap menyukai Raihan.


"Bro!"


Raihan menepuk bahu Edo, menunjukkan foto Diva bersama pria lain di dalam mall waktu itu.


Sebenarnya Raihan tidak ingin menunjukkan pada Edo. Dia ingin mengambil keuntungan pada pertengkaran mereka.


Namun, Raihan kembali berpikir. Lea tidak akan bisa bahagia bila Edo tidak mencintai nya lagi. Wanita itu sudah terlalu mencintai suami brengseknya itu.


Raihan merasa ini semua tidak benar. Dia tidak mau membuat hidup Lea semakin hancur.


Bagi Raihan, cinta tak harus memiliki. cukup melihat nya bahagia. meskipun, bukan bersama dengannya.


Menurut Raihan tidak ada gunanya memiliki apabila dia masih memiliki sesuatu di hatinya dan itu bukan untuk nya. Maka lebih baik dia mengikhlaskan saja.


Kedua tangan Edo mengepal kuat, Amarahnya semakin meningkat melihat foto itu.


Emosi dan penyesalan datang secara bersamaan di hatinya.


"Maafkan aku Lea, aku salah!"


Edo cepat cepat menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Tangkap Diva, perlakuan dia seburuk mungkin. Kurung di dalam tahanan bawah tanah. kasih makan dan minum. Biarkan bayinya berkembang pesat!"


"Baik boss!"


__ADS_2