Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 39


__ADS_3

Setelah kepergian anak buahnya, Edo pun langsung menghubungkan Flashdisk itu pada laptopnya.


Di dalam flashdisk itu ada beberapa dokumen yang berisi dengan video video rekaman cctv.


Dengan rasa keyakinan yang tinggi, Edo melihat satu persatu video rekaman itu.


Emosi, amarah, seketika muncul di dalam hati Edo. Melihat betapa busuknya perbuatan Diva.


Ternyata selama ini dia telah di tipu oleh gadis yang dia pikir lugu.


Edo berpikir Diva sangat lugu karena dia orang yang pertama membuka kegadisannya.


Ternyata tidak, dia hanya memanfaatkan semua itu untuk keuntungan yang lebih besar.


"Sial!" kedua tangan Edo mengepal.


Kini Edo sudah tahu, bahwa Lea tidak berbohong. Dia tahu, foto yang pernah dia lihat itu adalah ketika Lea memergoki Diva bersama sepupunya.


"Berani sekali dia bermain main dengan ku!"


Ceklek.


Bertepatan saat itu, Diva datang dan menghampiri Edo dengan tingkah manja.


"Hallo Edo, kamu sibuk yah.Aku pengen makan Seafood"


Melihat Edo tidak bereaksi Diva mulai merasa kejanggalan, dia mulai gugup. Edo hanya menatap tajam padanya.


"A-ada apa? kenapa memandangku seperti itu?" tanya Diva gugu.


Semakin gugup, saat dia melihat Edo berdiri dan melangkah mendekatinya. Diva gelagapan, dia melangkah mundur seiring mendekatnya Edo.


"Apa yang ingin kamu lakukan?"


Brak.


Punggung Diva menghempas pada dinding ruangan kantor Edo, dia tidak bisa kabur lagi. Jarak antara dirinya dan Edo juga sangat dekat.


Diva tidak berani menatap mata Edo, jantung nya berdetak kencang. Namun, seakan tidak terjadi apa apa. Diva berusaha untuk tetap biasa saja. Menghalau rasa takut dan bersikap seperti biasa.


"Sayang, apa kau ingin memasuki,apa sudah begitu terburu buru. Aku... Kesusahan, ayo ke-"


Plak!


Diva terkejut, tamparan keras tiba-tiba menghantam pipinya.


"Apa yang terjadi Edo?" teriaknya histeris.

__ADS_1


"Jangan melotot pada ku Diva, jangan sesekali kau ingin menantang ku. Kau itu hanya budak, tidak lebih dan tidak kurang. "


"Aku sudah tahu semua permainan mu. Kau mengkhianati aku. Aku masih mentolerir bahwa kau mengandung anak. Tapi, melihat sikap mu yang semena mena di belakang ku bersama orang lain. Itu tidak bisa ku ampuni!"


Plak!


Diva terhuyung dan jatuh di lantai, dia merasa sedikit kesakitan di bagian kakinya. Namun, Edo tidak peduli.


"Apa yang kamu lakukan Edo, nanti bayi ku kenapa kenapa bagaimana!"


"Itu urusan mu!" balas Edo acuh.


"Apa? kau gila? ini bayi mu. Kenapa kau malah berlaku kasar?"


"Cukup Diva! jangan katakan itu lagi, aku sudah muak dengan drama ini. Aku tahu bagaimana sifat mu sekarang. Bermain di belakang ku dan menjebak ku dengan kehamilan yang bukan milik ku!"


"Tidak Edo. Ini milik mu"


"Milik ku atau milik adik sepupu mu itu!"


Diva merasa marah,dia hendak bangkit dan menampar Edo. Namun,gerakannya kalah cepat dengan gerakan tangan Edo.


Sekali tepis, Diva kembali terjatuh ke lantai. Kemenangan nya sudah cukup sampai di sini. Edo tidak akan memberi wanita ini kesempatan lagi.


"Karena kau hamil, aku akan menunda penyiksaan mu. Kau akan di hukum setelah bayi itu lahir!"


Diva menggeleng kuat, dia tidak mau di hukum. Terkurung di tempat seperti kemarin aja sudah bagaikan mimpi buruk baginya.


"Sudah terlambat. " ucap Edo sambil berjongkok di hadapan Diva. wanita itu menengadah ke atas, menahan sakit di rahangnya yang kini di cengkram erat oleh Edo.


"Bagaimana mungkin aku bisa mengampuni mu. Karena dirimu, Aku dan istri ku bercerai!"


Brak.


"Pengawal!!!!"


Diva langsung panik, Edo memanggil pengawalnya. Itu artinya dia akan di kurung kembali.


"Tidak Edo, aku mohon. Ampuni aku."


Edo tidak peduli,dia menyuruh anak buahnya membawa Diva pergi dan mengurungnya ke dalam sel bawah tanah.


"Kurung dan jangan beri dia ampun. Kalian bebas melakukan apapun padanya, tapi ingat. Kondisinya sedang hamil. Jangan sampai menyakiti bayinya"


"Baik boss"


Anak buah Edo tersenyum girang, akhirnya mereka mendapatkan santapan enak.

__ADS_1


"Pesta oik" ujarnya setelah membawa Diva keluar dari ruangan Edo. Mereka membawa diva ke tempat yang beberapa waktu lalu pernah ia tempati.


Sementara di ruangannya, Edo terduduk di kursi. Dia baru sadar, betapa besar dosa yang telah ia perbuat pada istri nya, wanita yang selama ini sudah ia sakiti.


"Maafin aku Lea, maafin aku.... "


Sesal terbesar telah tiba, nasi sudah menjadi bubur. Lea sudah pergi dari hidupnya. Baru lah kini Edo sadar, bahwa dia sebenarnya mencintai Lea juga. Hanya karena emosi dan rasa cemburu melihat Lea bersama dengan Raihan, Edo jadi menyakiti Lea.


Di kamar hotel, Lea melakukan hal yang sama. Dia termenung memikirkan bagaimana nasibnya dan juga bayinya.


Apa yang harus di lakukan, apa harus mengatakan pada Edo? oh tidak. Pria itu pasti akan menuduhnya yang tidak tidak lagi. Lea tidak sanggup mendengarnya lagi.Sudah cukup selama ini Edo menghina dan mempertanyakan kelakuannya.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Sambil memegangi perutnya, Lea menangis tersedu sedu.


"Maafin ibu yah nak, ibu tidak bisa memberi mu keluarga yang lengkap. Maafin ibu nak"


...----------------...


Kelelahan meratapi nasib dan perbuatan nya kepada Lea. Edo pun memutuskan untuk pulang ke rumah mami nya.


Setibanya di rumah, Edo mendapat sambutan dingin dari Eva.


"Aku pulang"


"Hmm"


Edo mendongak, tidak bisanya mami nya hanya membalas ucapannya dengan deheman saja.


"Mami kenapa? mami marah sama Edo?"


"Tidak!" jawab Eva ketus.


Ingin rasanya dia memakai dan mengatakan bahwa istri nya sedang hamil. Tapi, Eva mengingat janjinya dengan Lea untuk tidak mengatakan apapun pada Edo.


"Mi... Edo sebenarnya ingin mengatakan sesuatu mi" ucap Edo lirih.


Eva terkejut, dia menatap putranya yang menunduk di pangkuannya. Dapat Eva rasakan, rok yang ia pakai terasa basa. Apa Edo menangis?


"Ada apa ini, Edo kamu?"


"Mami, maafin Edo mi. Edo sadar, bahwa sekarang Edo sangat bersalah. Edo terhasut oleh wanita yang tidak baik itu. Maafin Edo mi, Edo udah nyakitin mami sama Lea. Edo sadar telah berbuat salah"


Eva tidak bisa membendung kesedihannya, menatap haru putranya yang mulai sadar.


"Sudah nak, jangan menangis lagi"

__ADS_1


"Tidak mi, Edo pantas mendapatkan semua ini. Edo pantas di hukum."


"Memang pantas, tapi bukan sama mami nak. Sama Lea"


__ADS_2