Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 56


__ADS_3

Makan malam.


Mina bergerak gelisah, mata nya sibuk melirik Lea dan Ken secara bergantian. Tidak seperti biasanya, Ken dan Lea makan dalam diam.


"Sudah cukup!" Mina menghempaskan sendok di atas meja. Lalu, mata nya menatap Lea sebelum dia beralih menatap Ken.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kalian seperti ini. Suasana makan jadi tidak enak karena kalian saling diam seperti ini!" omel nya.


Lea tetap diam, dia melirik kearah putranya dengan ekor matanya. Terlihat Ken juga melakukan hal yang sama. Tapi, mereka tidak bereaksi apapun. Ekspresi dingin masih tercetak di wajah mereka.


"Aku sudah selesai!" Ken meninggalkan meja makan, di susul oleh Lea ya g juga sudah selesai makan. Padahal mereka hanya memakan 2 sendok nasi.


"Astaga, ada apa sih sama mereka berdua. Kenapa mendadak musuhan seperti itu?" gumam Mina mulai frustasi.


"Sudah lah, biarkan saja mereka yang menyelesaikan masalah di antara kedua nya!"


"Tapi mas, aku gak suka melihat mereka ada jarak seperti itu!"


"Yaudah, nanti aku akan mencoba berbicara dengan Ken"


"Aku akan berbicara dengan Lea" sahut Mina. Mereka menyelesaikan makan malam, kemudian pergi menyusul Lea dan juga Ken, sesuai rencana awal


Tuk! Tuk!


"Siapa?" seru Ken dari dalam.


"Apa kakek boleh masuk?" tanya Andey.


Ken tidak menjawab, hanya suara kunci di putar yang terdengar.


Melihat pintu terbuka, Andey pun langsung masuk dan mendekati cucu kesayangan nya.


"Kamu sedang apa?" Andey mulai basa basi, tapi dia lupa jika Ken adalah cucu nya yang paling pintar.


"Udah, gak usah basa basi. Langsung aja ke intinya"


Andey menghembuskan nafas gusar, menatap Ken dengan tatapan frustasi.


"Ken, bisakah kamu bersikap seolah kamu itu adalah anak kecil?" rengek Andey. Dia mendekati cucu kesayangan nya, lalu memeluknya erat.


Melihat sikap kakeknya, Ken merasa sedikit risih dan jengah.


"Udah lah kek, Ken mau main game!"


"Tidak bisa, kamu harus mengatakan sama kakek, ada masalah apa antara kamu dan mami kamu!"

__ADS_1


"Tidak ada, kenapa kakek sangat kepo?"


"Astaga, sejak kapan kamu bisa bersikap seperti itu?" Andey mulai gemas, dia mengunci tubuh Ken dengan kedua tangannya. Lalu mulai menggelitik perut Ken.


Ini adalah senjata paling ampuh untuk melumpuhkan Ken.


Lihat kan, dia mulai tidak bisa menahan nya.


"Kakek... Apaan sih, tolong hentikan!" Ken berusaha menahan rasa geli di perutnya, tapi rasa geli itu semakin menjadi.


Oh astaga, Ken tidak tahan lagi.


"Ayo katakan menyerah dan jelaskan apa yang terjadi antara kamu dan mami kamu!" desak Andey. Tangannya semakin lihai menggelitik pinggang Ken.


"Aaa... iya iya, aku akan jujur, tapi hentikan dulu!" teriak Ken pasrah.


Andey pun tersenyum menang, dia mengehentikan gelitikan tangannya di perut Ken.


Mereka duduk di tepi ranjang, Ken tampak sedang menetralkan nafas.


Setelah merasa tenang, barulah Ken mulai menceritakan pada kakeknya.


"Sebenarnya Ken hanya sedikit marah sama mami!",


"Marah? apa yang membuat kamu memarahi mami kamu? bukan kah mami kamu selalu memberikan apa yang kamu mau?"


"Kek, pria itu baik. Dia tidak pernah berniat jahat sama aku. Tapi, mami terlihat sangat marah ketika aku dan om itu bersama",


"Om?" ulang Andey. Pria baru baya itu bingung untuk sejenak. Siapa om yang Ken maksud, dan kenapa Lea memarahi Ken saat bersama pria itu.


Andey merasa ini hal yang serius. Dia harus menanyakan pada Lea.


Sebelum itu, Andey menenangkan Ken dulu. Dia menjelaskan bahwa Lea melakukan hal itu karena dia sayang sama Ken. Dia takut Ken berbicara dengan orang asing.


"Kamu tidak perlu khawatir Ken, mami mu hanya khawatir kamu kenapa kenapa, apalagi bicara sama orang asing"


"Tidak kek, om itu baik. Dia berada di halte bersama Ku, hanya untuk menemani ku sampai bus datang!"


"Aku ingin menjelaskan pada mami, tapi mami tidak mau mendengar. Karena itulah aku marah sama mami" sambung Ken. Wajahnya tampak kesal.


Sementara itu, di kamar Lea. Mina tampak syok saat mendengar ucapan Lea.


"Jadi, pria itu adalah ayah kandung Ken?"


"Iya bibi, aku takut jika dia dekat dengan Ken. Dia tahu siapa Ken dan merampasnya dari ku. Aku tidak mau hal itu terjadi" ucap Lea menangis.

__ADS_1


Mina langsung memeluk Lea,menangkap keponakan nya dari rasa khawatir.


"Tidak sayang, kamu tidak akan kehilangan Ken. Dia tidak tahu jika Ken adalah putra nya kan? kalian juga sudah berpisah selama 12 tahu."


"Tapi bibi, dia pasti tahu. Ken itu sangat mirip dengan pria itu! Siapapun yang melihatnya, pasti akan tahu kalau mereka memiliki hubungan darah!"


Tangis Lea semakin pecah, ketakutan semakin melanda hatinya.


"Mami"


Deg.


Lea merasa tubuhnya mendadak kaku. Begitu juga dengan Mina. Mereka terkejut melihat Ken sudah ada di depan pintu kamar Lea.


"Ke-n" Lea tergagap, dia takut Ken mendengar segalanya yang dia ucapkan tadi.


Ken melangkah cepat, mendekati maminya, lalu memeluknya erat.


"Mami, maafkan Ken yah mi. Ken nakal, Ken buat mami sedih. Maaf" lirih Ken terisak.


"Ken tahu, mami melakukan semua itu demi keselamatan Ken, demi membuat Ken tetap aman. Tapi, Ken malah salah sangka sama mami dan marah sama mami" rancau Ken dalam tangisnya.


Merasa tidak puas dengan mengakui segalanya, Ken pun menjauh dari maminya. Lalu, dia mengangkat satu kaki nya dengan kedua tangan memegangi kedua kuping. Persis seperti hukuman di sekolahnya.


"Maaf mami!"


Lea tersenyum dalam tangis, mendekati Ken dan menariknya ke dalam pelukan.


"Sayang, tidak seperti itu. Jangan menghukum dirimu sendiri. Mami tidak akan sanggup"


Mina dan Andey saling memeluk. Mereka senang melihat ibu dan anak itu kembali berbaikan.


"Seperti ini, kita bisa makan dengan lahap" gumam Mina, Andey mengangguk setuju.


Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Ken mengurai pelukan mereka.


Ken menangkup wajah Lea, menatap wajah wanita hebat yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini.


Ken tahu dia terlalu muda untuk mengerti semua ini, tapi dia benar-benar menyadari betapa pentingnya maminya.


Hidup tanpa sosok ayah, membuat Ken lebih awal untuk dewasa.


"Mami, aku mohon. Jangan menangis lagi, Ken tidak bisa memaafkan diri Ken, jika mami menangis karena Ken!"


Lea menggeleng cepat, mengecup tangan Ken berkali-kali. Dia memang menangis karena Ken, tapi bukan karena kenakalannya.

__ADS_1


Lea menangis karena takut Edo merampas putranya dari pelukannya.


"Aku sangat takut Ken, aku sangat takut hidup tanpa diri mu" batin Lea.


__ADS_2