Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 64


__ADS_3

Edo tersenyum getir, mendengar putra kandung nya memanggil dirinya dengan panggilan om.


Ingin sekali Edo mengatakan langsung pada Ken, bahwa dia adalah ayah kandung nya. Tapi, Edo kembali berpikir lagi. Dia tidak mau mengambil resiko tinggi.


Sebelum Ken mengetahui segalanya, Edo harus bisa meyakinkan Lea untuk bisa memaafkan dirinya.


"Om, pinjam ponselnya" sentak Ken membuat Edo terkejut. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, setelah dia kembali fokus.


"Kamu mau menghubungi siapa?" tanya Edo sambil mengulurkan ponselnya ke tangan Ken.


"Aku harus menghubungi kakek dan nenek. Memberitahu mereka agar tidak menjemput ku!" jelas Ken.


Edo hanya mengangguk paham, kemudian dia fokus menatap ke jalan raya.


Setelah mengirim pesan dan langsung di balas oleh Andey, Ken langsung mengembalikan ponsel pada Edo.


"Terimakasih om"


"Sama sama" balas Edo.


Mobil terus melaju membelah jalan yang semakin ke sini, semakin terlihat seperti perdesaan.


Ken melihat ke sekeliling, bertanya tanya di dalam hatinya kemana Edo akan membawa dirinya pergi.


"Ayo turun!" ajak nya. Edo turun terlebih dulu, setelah itu mengitari mobil untuk membukakan pintu yang sebenarnya sudah Ken buka sendiri.


"Kita ngapain ke sini om?"


Edo tidak menjawab, dia hanya menarik tangan Ken agar mengikuti kemana dia pergi.


Langkah demi langkah, Ken mengikuti Edo. Akhirnya mereka tiba di sebuah puncak bukit yang paling tinggi di kota itu.


Terlihat dari atas puncak bukit itu, Ken bisa melihat pemandangan kota. Bangunan tinggi yang terlihat seperti bangunan kecil.


"Wahh..." hanya itu kata yang keluar dari mulut Ken.


"Indah sekali, aku tidak pernah melihat pemandangan seindah dan senyata ini"


"Apa kamu suka?"


Ken mengangguk cepat, dia menoleh pada Edo sebentar, lalu dia kembali menatap pemandangan yang mampu membuat rasa sempit di hatinya meluas.


Perasaan kecewa, Gundam, sesak, seketika hilang dari peradaban hati Ken.


Edo dari samping melihat pancaran kebahagiaan di wajah Ken. Dia turut senang, bisa membuat putranya sebahagia ini.


Saat keasikan melihat kebahagiaan Ken, tiba-tiba dahi Edo mengerut, mengikuti perubahan raut wajah Ken.


Entah apa lagi yang anak itu pikirkan. Sehingga membuat pancaran kebahagiaan sirna dari wajahnya, berganti dengan pancaran kesedihan.


"Ada apa"

__ADS_1


Ken menunduk, dia kembali teringat dengan hidupnya yang tidak memiliki seorang ayah. Hatinya sakit mengingat perkataan Marcel yang mencemoohnya sebagai anak haram.


Edo tidak puas melihat Ken yang hanya diam saja, dia mencoba membujuk Ken agar menceritakan kesedihan yang dia rasakan kepada dirinya.


"Ken.." panggil Edo pelan, sambil menarik bahu Ken agar berhadapan dengan dirinya.


Mereka sudah berhadapan, tapi Ken masih menunduk di depan Edo.


Terlihat bahu Ken kembali bergetar, seperti nya dia kembali menangis.


"Apa salah ku om, sampai Dady tidak mau menerima ku. Aku tidak bakal, aku pintar. Bahkan aku sangat menjaga mami. Tapi..." Ken tidak sanggup melanjutkan kata katanya, tangis nya lebih dulu menguasai dirinya.


Edo terdiam seribu bahasa, menatap wajah putra kandung nya yang sedang menangis. Hal yang paling membuat Edo terdiam adalah, alasan Ken menangis.


"Dia menangis karena aku, ini salah ku!!" teriak Edo dalam hati.


"Om... Apa aku pembawa sial? apa aku tidak pantas memiliki seorang ayah? "


"Tidak tidak Ken... Bukan begitu konsep nyam Semua anak berhak memiliki dan memanggil ayah nya!" balas Edo berusaha meyakinkan Ken dan berusaha agar Ken tidak kelewat sedih.


"Tapi kenapa!!! kenapa dia pergi, dan meninggalkan mami sendirian menjaga ku! Di caci! Di hina! Mami menanggung segalanya. Hikss... Mami merasakan segalanya! Aku..." Ken kembali menangis terisak, dia sudah tidak tahan lagi. Air matanya mengalir begitu deras.


"Ken.." Edo hanya bisa ikut menangis. Dia tidak tahu harus berkata apa. Edo dapat merasakan betapa bencinya Ken terhadap dirinya.


"Maaf..." lirih Edo terdengar samar oleh Ken.


"Aku tidak cengeng, aku anak kuat. Aku akan menjaga mami sampai nafas ku berhenti berhembus. Aku tidak akan membiarkan pria tidak bertanggung jawab itu mengganggu mami lagi!" tegas Ken berhenti menangis. Tangannya berusaha menghapus sisa air mata di pelupuk mata yang memancarkan Kilauan kebencian.


Edo mencoba untuk bertanya pada Ken.


"Apa kamu sangat membenci ayah mu Ken?"


Untuk beberapa saat Ken hanya terdiam, kemudian mengukir senyum tipis di bibirnya.


Ken menghela nafas, mengalihkan pandangan matanya ke arah bawah tebing. Berusaha untuk tetap tegar dan kuat.


"Jika di bilang marah aku sangat marah, di bilang kecewa aku sangat kecewa. Tapi, jika Untuk membencinya. Aku belum bisa memastikan hal itu"


"Kenapa?"Sela Edo cepat, membuat Ken mengerut kaget. Edo terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dia lebih terlihat sangat penasaran pada perasaan Ken.


"Sebelum membencinya, aku membutuhkan beberapa jawaban yang ingin aku dengar darinya. Dan itu hanya aku dan dia yang akan berbicara" jawab Ken.


Hufff... Haa..


Ken mencoba menenangkan dirinya. Sangat luar biasa melihat anak seusianya bisa bersikap bijak seperti ini. Sangat berat untuk di jalani, apalagi menanggung beban perasaan yang Ken pikuk selama hidupnya.


Edo tak lagi bersuara, dia tidak berani menanyakan apa yang akan Ken bicarakan dengan dirinya nanti ketika sudah membongkar semua ini.


Namun, Edo tidak bisa melakukan nya sekarang. Ken pasti akan sangat membencinya jika dia memberitahu nya sekarang.


"Besok hari perpisahan ku, apa om mau hadir?"

__ADS_1


"Kau mengundang ku?" tanya Edo dengan nada bergurau.


"Tentu saja, om adalah pria dewasa yang baik. Aku akan menyelesaikan ke salah pahaman diantara om dan mami. Aku ingin mami tahu, kalau om adalah orang baik"


"Pertemuan yang baik adalah di awali dengan perkenalan yang baik juga" sambung Ken mengulang kalimat yang sering di ajarkan oleh Andey.


"Wahh... Sungguh kata kata bijak,. kamu belajar dari siapa bisa berkata seperti itu?" decak Edo berusaha terlihat seperti biasanya di hadapan Edo.


"Dari kakek ku!" jawab Ken bangga.


Edo tersenyum mendengarnya, dia merasa bersemangat setelah mendapat undangan dari putranya sendiri.


Edo tidak sabar ingin melihat ekspresi wajah Lea saat bertemu di sekolah Ken nanti. Edo juga bisa mengambil kesempatan untuk menduduki bangku ayah untuk Ken di sekolah nya nanti.


Pukul 7 malam. Lea baru saja tiba di rumah. Dia langsung berjalan masuk menuju ke kemar Ken.


"Loh Lea, kamu sudah pulang?" sapa Mina. Dia terkejut melihat keponakan nya pulang lebih awal.


Biasanya, jika Lea lembur. Dia akan pulang pukul 9 malam, bahkan kadang sampai jam 10 malam.


Tapi, sekarang dia pulang lebih cepat.


Lea menatap bibinya, merasa heran dengan raut wajah cemas.


"Kenapa bibi panik?"


"Huh? gak kok, ken-" belum sempat Mina menyelesaikan ucapannya. Lea sudah berlalu pergi ke kamar Ken.


"Aduh, bisa mati aku. Jika sampai Lea tahu, Ken belum pulang."


"Lea..." Mina menyusul Lea ke kamar Ken.


Baru sampai tanggal, Mina sudah terkejut lagi melihat Lea kembali berlari kearahnya.


"Bi, di mana Ken? kok dia tidak ada di kamar nya?" tanya Lea mulai panik.


Bertepatan saat itu,Andey datang.Dia memberitahu Lea jika Ken bersama dengan Edo.


"Tenang saja Lea, Ken sedang bersama Edo."


Deg.


Seketika raut wajah Lea berubah.


"Kenapa paman membiarkan dia pergi bersama pria itu. Kenapa kalian membiarkannya!!" teriak Lea histeris.


"Lea tenang dulu. Kamu jangan panik dulu. Ken aman. Dia tidak kenapa kenapa, dia itu sedang bersama ayah nya! ayah kandung nya. Tidak mungkin dia akan mencelakai putranya sendiri!" ujar Andey berusaha menenangkan keponakan nya.


"Tidak! kalian tidak akan mengerti apa yang aku rasakan. Kalian tidak akan tahu!" teriak Lea seraya berlari keluar dari rumah. Dia akan pergi mencari putranya. Dia tidak akan membiarkan Edo mengambil putranya.


"Ken... Tunggu mami, mami tidak akan membiarkan pria itu membawa mu!" gumam Lea selama dia mengendarai mobil untuk mencari Ken. Matanya tidak fokus, dia terus melihat kiri kanan sepanjang jalan mencari Ken.

__ADS_1


"Kemana mereka membawa putra ku! Arrggg..." Lea hampir frustasi. Dia memukul mukul stir mobil untuk melampiaskan rasa amarah.


__ADS_2