
Pukul 7 pagi.
Edo terbangun, dia melihat ke sekeliling ruangan yang saat ini ia tempati. Seingatnya, semalam dia berada di kantor. Tapi, mengapa saat ini dia berada di sebuah kamar.
"Sayang... Kamu sudah bangun?"
Diva menggeliat manja, semakin memeluk erat lengan Edo.
Brak.
Dengan sekali dorong, Diva terjungkal ke lantai.
"Apa apaan ini Diva,kenapa kamu ada bersama kamu. Di mana ini?"
"B-bos, ada apa. Semalam boss sendiri yang memaksa ku. Kita menghabiskan malam bersama di kantor. Karena boss merasa kurang nyaman. Makanya boss membawa ku ke hotel" terang Diva berbohong.
Nyeri, Edo merasa sakit di bagian kepalanya saat dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Huh!"
Teringat dengan janji nya dengan Lea,Edo langsung turun dari ranjang dan mencari pakaian nya.
"Boss, mau kemana??"
"Boss!!"
Edo tidak perduli, dia pergi begitu saja setelah mengenakan pakaian nya.
Senyum manis tercetak di bibir sexy nya. Diva menarik selimut kemudian kembali melanjutkan mimpi indah yang telah dia rancang.
"Semuanya baru di mulai. Kamu tidak akan lepas dari genggaman ku Edo"
Bangun tidur, Lea melirik tempat tidur suaminya. Masih rapi dan dingin seperti kemarin. Hal ini pertanda Edo belum pulang sejak kemarin.
"Huh,apa yang aku harapkan."
Lea membereskan tempat tidur, dia menyatukan ranjang nya dengan ranjang milik Edo.
Hal ini ia lakukan, karena nanti Mami Eva akan datang berkunjung. Mereka akan berlibur bersama ke Pantai. Seperti yang telah mereka janjikan kemarin.
Setelah selesai mandi, Lea langsung keluar dari kamar. Dia tetap akan memasak seperti biasanya.
"Lea"
Deg.
Langkah kaki Lea terhenti, tubuh nya terasa kaku saat mendengar suara panggilan Edo.
Sebisa mungkin Lea berusaha tetap tersenyum dan bersikap seperti biasa.
"Oh Hay kak. Sudah pulang?" balas Lea tersenyum.
"Lea aku.. "
"Mandi gih, aku akan membuatkan sarapan" potong Lea. Dia tidak sanggup mendengar apa yang akan di jelaskan oleh Edo. Semuanya sudah cukup jelas semalam.
Lagi pula, apapun yang Edo lakukan tidak ada urusannya dengan dirinya.
"Lea aku ingin.."
Belum sempat Edo menyelesaikan ucapannya, Lea sudah berlalu dari hadapan pria itu. Dia langsung masuk ke dapur dan mulai memasak.
Huh.
"Apa dia marah?"
Edo di Landa kebingungan, dia berpikir jika lea marah. Namun, wanita itu masih tersenyum kepadanya.
Tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Edo memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Bau keringat semalam masih tercium di tubuhnya.
"Aku akan menjelaskan nanti"
...----------------...
Di meja makan, biasanya Lea akan mengeluarkan suara. Entah membahas tetangga, atau membahas sebuah serial tv.
__ADS_1
Tapi, kali ini dia hanya fokus dengan makanannya.
"Lea, apa kamu marah kepada ku?"
"Untuk apa aku marah kak, aku tidak ada hak untuk marah!" balas Lea datar.
Lea mengangkat piring nya menuju ke dapur, dia sudah merasa kenyang dan selesai makan.
"Lea tunggu"
Edo menyusul Lea ke dapur, menahan tangan Lea yang terus berjalan tanpa memperdulikan nya.
"Lea, aku tahu aku salah. Tapi, tolong dengarkan penjelasan ku"
"Lea!"
Edo menarik dan mendorong Lea hingga tersandar di depan kulkas. Mengurung tubuh mungil gadis berkacamata itu dengan kedua lengannya.
Suasana terasa tegang, Lea menunduk menghindari kontak mata dengan Edo.
"Lea dengarkan akun Aku semalam lembur, dan ntah mengapa aku malah pergi bersama teman ku"
"Teman?"
"Yah, aku tidak sadar ternyata aku minum. Seperti nya aku mabuk" jelas Edo sedikit berbohong.
Edo tidak tahu, mengapa dia melakukan ini.Ia seakan merasa takut jika Lea salah paham terhadapnya.
"Ehm.. Maaf kak, seharusnya kakak tidak perlu menjelaskan seperti ini kepada ku. Apapun yang kakak lakukan, itu hak kakak. Aku tidak akan ikut campur"
Deg.
Benar juga, seharusnya Edo tidak perlu terlalu khawatir seperti ini.
"Aku hanya merasa bersalah karena sudah berjanji pada mu" tambah Edo.
"Kakak hanya perlu mengabari ku. Kasian kan, makanannya jadi terbuang sia sia. "
"Maaf"
Edo melepaskan Kungkungan tangannya, lalu membiarkan Lea melanjutkan aktivitas.
Pria itu kembali ke meja makan, melanjutkan memakan sarapannya.
Setelah sarapan, dia langsung pergi ke ruang tengah untuk menonton tv.
Ting tong...
"Kak, tolong bukain pintunya. Itu mungkin mami" seru Lea dari arah dapur.
"Oke"
Edo segera berjalan ke depan, membukakan pintu.
Lea ternyata benar, Eva berdiri sambil memegang 1 koper.
"Mami" sapa Edo.
Eva tidak menggubrisnya, dia melenggang masuk melewati Edo.
Edo hanya melongo, sikap mami nya semakin hari semakin menyebalkan. Dia merasa menjadi anak tiri sekarang.
"Lea, kamu kenapa masih di dapur. Ayo segera bersiap. Kita kan mau pergi"
"Eh iya mi, tanggung" Sahut Lea.
"Memangnya kita akan kemana mi?" tanya Edo heran.
Mendengar pertanyaan konyol putranya, emosi Eva seketika memuncak ke ubun ubun. Sudah jelas mereka sudah berencana liburan kemarin.
Sekarang dia malah bertanya mau kemana?
Bug.
Plak.
__ADS_1
"Aw... Mami apa apaan sih. Sakit tahu" serga Edo menerima pukulan tas tangan Eva.
"Itu pantas untuk kamu. Sudah jelas kita sudah membuat rencana liburan. Lalu kamu bertanya kita akan kemana ha??"
"Rasakan ini"
Bug.
Brak!
Edo berlari menghindari serangan mami nya.
"Ampun mi, ampun. Maaf Edo kemarin lembur. Makanya lupa"
Deg.
Edo menutup mulutnya, dia baru saja menyadari telah salah bicara.
Lihat sekarang, mami Eva berdiri dengan kedua tangan mengepal. Sorot mata tajam tertuju pada nya.
"Jadi kamu tidak pulang semalam?" teriak Eva menggeram.
"Ma-mi...Dengar dulu penjelasan Edo"
"Tidak! mami tahu kamu seperti apa. Kamu pasti bersama wanita lain kan. Dasar pria tidak berguna!"
Brak!
Bug.
Lea tersenyum kecut, melihat pertengkaran ibu dan anak itu.
Di hatinya, Lea merasa senang mendapat mertua baik seperti Eva. Namun, dia juga merasa sedih melihat suaminya yang tidak bisa menerimanya sebagai istri.
"Tuhan, beri hamba ketabahan"
Selesai sholat Dhuha, Lea langsung bersiap. Memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper.
Rencana nya, mereka akan berlibur selama 3 hari. Entah itu bisa bersama Edo, atau tidak. Lea tidak terlalu berharap. Dia hanya ingin menenangkan pikiran nya saja.
"Kamu sudah siap?"
"Sudah kak, tinggal pakai lipstik saja" jawab Lea.
"Baiklah. Aku akan menunggu di luar"
"Oke"
Edo keluar dari kamar, menghampiri mami nya.
"Mami"
"Kamu sudah siap?"
"Sudah" jawab Edo duduk di samping Eva.
Huh..
Eva memperbaiki posisi duduk nya menghadap Edo.
"Nak, apa benar kamu tidak pulang semalam?"
"Maaf mi"
"Edo, kamu sudah gila. Lea istri kamu, kenapa kamu masih mencari wanita lain?"
"Mi, ini tidak seperti yang mami pikirkan!"
"Lalu apa?"
"Sulit untuk di jelaskan. Tapi mami harus percaya, aku tidak akan mengulangi apa yang dulu aku lakukan!"
"Lalu semalam!"
"Aku tidak tahu mi, seperti nya aku mabuk bersama teman ku. Karena itu aku tidak sadar dan tertidur di hotel"
__ADS_1
"Bersama wanita lain?" sela Eva. Membuat Edo terdiam seribu bahasa.
Sementara di balik tembok, Lea mendengar segalanya. Hatinya terasa sakit.