
Masih menjadi buah pemikiran, Edo penasaran dengan anak mulai masuk ke jenjang remaja kemarin malam ia temui.
"Boss"
Edo menoleh, dia tersadar dari lamunannya karena mendengar panggilan dari anak buahnya.
"Ada apa, apa kalian sudah mendapatkan informasi nya?"
Edo menghela nafas kecewa, melihat anak buahnya menggelengkan kepalanya, pertanda tidak ada yang mereka temui.
"Maaf boss, kami kesulitan mencari informasi anak kecil itu dengan ciri yang boss sebutkan."
"Tidak begitu boss, apa anda memiliki sesuatu yang lebih seperti nama ayah, ibu, atau foto anak itu agar kami bisa melacaknya boss"
Brak!
Edo malah emosi, anak buahnya benar benar tidak becus. Mencari informasi seorang anak kecil saja tidak bisa.
"Maaf boss, di kota sebesar ini, kami kesulitan mencari anak yang berusia 12 tahun" keluh anak buahnya lagi.
Plak!
Satu tamparan melayang di pipi pria yang sudah bertahun tahun ikut dengan Edo.
"Apa kamu baru bekerja bersama ku? apa teknologi dan teknik mu kurang terlatih huh?"
"Maaf boss"
"Aku tidak butuh maaf mu. Kau adalah kepercayaan ku Rendi. Tapi, mengapa kau sebodoh ini!"
"Aku tidak mau tahu, kau harus mendapatkan informasi tentang Kendra Anfar itu! jika tidak nyawa mu akan menjadi tebusannya!"
Glek.
Rendy menekan Saliva nya, dia tidak mau mati sekarang. Dia belum menikah, bahkan kedua orang tuanya sudah susah, siapa nanti yang akan menafkahi mereka.
"Boss!"
Edo memutar bola matanya malas, pria bodoh ini mulai lagi.
Kalian tahu apa yang di lakukan oleh Rendi?
Dia berlutut sambil memegangi kaki Edo. Hal ini selalu terjadi ketika dia membuat kesalahan.
Tapi kalian jangan salah paham, Edo bukan pria yang mudah di tipu atau di bujuk dengan kesedihan seperti ini.
Rendi adalah asisten sekaligus kaki tangan kepercayaan Edo. Mereka sudah bersama puluhan tahun. Mungkin sejak Edo memimpin perusahaan mami nya.
Edo tahu, jika sudah seperti ini. Maka artinya Rendi melakukan sebuah kesalahan yang tidak ingin dia lakukan. Namun terpaksa dia lakukan.
"Katakan pada ku, kesalahan apa yang kamu lakukan!"
"Boss, jangan tanyakan aku. Aku mohon, ini tidak akan membuat boss rugi!"
"Aku tidak peduli! katakan atau aku akan memecat mu!"
What, semakin gila. Rendi merasa semakin tertekan.
Ceklek.
"Boss, meeting akan segera di mulai. Para klien sudah menunggu di ruangan meeting."
Fyuu...
Rendi segera bangkit, dia bernafas lega. Tuhan telah menyelamatkan dirinya.
"Boss meeting" ujar Rendy tercengir.
"Huh, awas saja kamu yah. Setelah ini,aku akan mencari mu lagi!" ancam Edo dan berlalu pergi.
Meeting ini sangat penting, Edo tidak bisa menunda atau membatalkan nya.
Fyuu...
__ADS_1
"Untung sekretaris itu membantu, ah bagus sekali. oh iya"
Rendi teringat sesuatu, dia harus melakukan sesuatu sebelum Edo selesai meeting.
Sementara itu, di sisi lain. Lea menatap putranya bimbang.
Hari ini seharusnya dia pergi bekerja. Tapi, karena pertemuan nya dengan seseorang membuat dirinya merasa takut dan ingin menemui putranya saja.
Lea bolos kerja, dia pergi ke sekolah putranya.
Flashback!
Lea sedang berjalan jalan bersama Kendra, mereka masuk ke toko eskrim, dan makan eskrim bersama.
Hari itu adalah hari Minggu, dimana waktu Lea hanya milik Ken.
"Mami, Ken mau ke toilet sebentar ya"
"Baiklah, jangan lama lama yah"
"ok mami"
Setelah kepergian Ken ke toilet, tiba-tiba seseorang menghampiri Lea.
"Nona!"
Deg.
Lea terkejut bukan main, jantung nya berdetak sangat cepat. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya.
"Ren-dy?" balas Lea gugup.
"Oh astaga, ternyata ini benar nona. Ahh... Tidak menyangka ketemu di sini"
"Apa yang kamu bicarakan! aku harus pergi"
"Eh nona!" Ken menahan tangan Lea, dia tidak bisa menahan Lea begitu saja. Dia juga tidak bermaksud untuk memaksa Lea. Tapi, dia hanya ingin mengobrol sebentar.
Bug.
"Ken!"
"Mami gak papa, apa ada yang terluka. Aku pasti akan membunuh pria itu!" ucap Ken berapi api. Dia paling tidak suka bila ada yang menyakiti maminya.
Melihat amarah putra nya, Lea langsung memeluknya sebelum Ken menghabisi Rendy.
"Ken. jangan.Sudah, jangan di lanjutkan lagi!"
Rendy yang tersungkur di lantai terkejut melihat pemandangan ini. Lea memeluk seorang anak laki-laki berusia 12, tahun.
Tunggu dulu..
Rendy mencoba mengingat ciri ciri anak yang Edo katakan. Semua ciri-ciri nya ada pada diri Ken.
Rendy segera berdiri, dia menatap Lea penuh tanya.
Siapa anak laki-laki ini? Apakah dia anak Lea? jika yah, apa dia sudah menikah dengan orang lain lagi. atau itu anaknya bersama Edo.
"Lea, siapa anak ini?"
"Hei, kenapa kau tahu nama mami ku"
Deg.
Rendy semakin terkejut, mendengar Ken memanggil mami pada Lea. Itu artinya, Ken ini anak si Lea.
"Ken, kamu tunggu di mobil dulu yah. Mami mau bicara sama om ini" pinta Lea pada Ken. Namun, Ken tidak mau.
"Tidak mau, aku tidak akan membiarkan pria dewasa ini menyentuh mami lagi. Aku akan pastikan dia terkubur tampa kepala" Gumam Ken serius.
Alamak, Rendy melebarkan matanya mendengar ancaman Ken. Persis seperti papi nya.
Eh, bagaimana dia tahu jika Ken anak Edo atau bukan?
__ADS_1
yah pasti tahu lah, dari segi wajah saja sudah terlihat jelas. Bahwa Ken adalah putra Edo dan Lea.
"Ken, percaya sama mami. Sekarang, pergi lah ke mobil. Mami akan segera menyusul" bujuk Lea.
Cukup lama kem berpikir, akhirnya dia mau pergi ke mobil dan menunggu maminya di sana.
"Awas saja, kalau anda macam macam sama mami saya!"
"Ampun boss" balas Rendy mengangkat tangan ke atas.
Setelah kepergian Ken, Lea menatap Rendy tajam.
"Kamu apa apaan sih, kenapa kamu bicara seperti itu kepada anak saya!"
Rendy tersenyum, akhirnya tugasnya selesai juga. Dia sudah tahu siapa Ken sebenarnya, Edo pasti senang dengan apa yang dia bawa.
"Maaf nona"
"Berhenti memanggil ku dengan panggilan itu!" serga Lea.
"Nyonya deh" ulang Rendy.
Lea memutar mata bosan, dia tahu banget sifat Rendy ini.
"Ada apa kau datang kemarin?"
"Tidak sengaja!" jawab Rendy tanpa berpikir panjang. Dan jawaban nya memang benar, dia tidak sengaja melihat Lea dan menghampiri nya.
"Apa itu benar?" alisnya naik satu.
"Benar nona, aku memang tidak sengaja melihat mu ada di sini, tapi aku sengaja di perintahkan oleh boss untuk mencari tahu soal Ken!"
Deg.
Lea terkejut mendengar perkataan Rendy. Dia disuruh oleh Edo untuk mencari tahu tentang putranya.
Tidak. Ini tidak bisa di biarkan. tapi,Bagaimana dia bisa tahu soal Ken?.
Melihat ekspresi terkejut dan ketakutan bercampur aduk di wajah Lea. Rendy segera menjelaskan padanya.
"Tenang nona, boss tidak tahu soal Rendy adalah anak nona. Dia hanya bertemu dengan Rendi di mall kemarin malam. Karena banyak yang mengatakan mereka mirip, akhirnya Edo penasaran dengan Ken!" jelas Rendi panjang lebar.
Lea terdiam, dia tidak menyangka Ken sudah bertemu dengan papi nya.
"Nona, kenapa anda menyimpan semuanya sendiri. Kenapa anda menghilang?"
"Sudah diam Rendy, kamu tidak akan bisa mencerna semua ini. Sebaiknya kamu kembali dan katakan pada boss mu itu, bahwa kamu tidak menemukan Rendi!"
"Tidak bisa nona!"
Lea tidak punya cara lain, dia tidak bisa membiarkan Rendy memberitahu Edo.
Tanpa pikir panjang, Lea langsung berlutut di hadapan Rendy. Dia tidak memikirkan hal lain, bahkan harga dirinya. Terpenting bagi Lea, Ke dan Edo tidak bertemu dan merek bisa selamanya bersama.
Lea yakin, jika Edo tahu Ken adalah putranya. Maka, dia pasti akan merampas kem dari dalam pelukan nya.
"Eh nona, apa yang anda lakukan?" ucap Rendy terkejut. dia segera membawa Lea kembali berdiri. Namun, Lea tidak mau.
"Aku akan berlutut terus, hingga kamu berjanji tidak akan mengatakan semua ini pada Edo!"
"nona.."
"Tidak Rendy, aku tidak akan berdiri sebelum kamu berjanji!"
Rendi tidak punya cara lain, dia akhirnya mengangguk dan berjanji.
"Baiklah, aku berjanji untuk tetap diam. tapi, aku tidak tahu sampai kapan akan diam"
Mendengar janji itu, barulah Lea kembali berdiri.
"Terimakasih, kamu memang masih Rendy yang ku kenal!"
"Nona, kenapa anda seperti ini. Sebaiknya anda kembali pada tuan dan hidup bahagia bersama!" ujar Rendi yang langsung mendapat pelototan dari Lea.
__ADS_1
Flashback off