
Sudah terlambat,Lea buru buru menancap gas mobil nya menuju ke sekolah Kendra.
Hari ini Lea berjanji akan menjemput putranya. Tapi, karena terlalu banyak pekerjaan, Lea malah jadi lupa menjemput Ken.
"Semoga tidak terlalu terlambat" gumam nya berdoa dalam hati.
Sekolah Ken tepat berada di belakang kantor pusat tempat Lea bekerja sekarang. Tapi, karena dia mengendarai mobil. Lea harus berputar arah untuk mencapai gerbang utama sekolah Ken.
Saat mobil sudah berputar arah, Lea tanpa sengaja melihat sosok putranya duduk di halte bus.
Dia sangat terkejut, tapi ada yang lebih membuat dirinya jauh lebih terkejut lagi.
Ken terlihat sedang bersenda gurau dengan seorang pria.Lea tidak tahu siapa orang itu, karena pria itu membelakangi dari arah datangnya dirinya.
"Kendra!" Lea keluar dari mobil, jantung nya berdetak sangat cepat saat melihat dengan jelas siapa yang bersama dengan Ken.
"Kendra!"
"Mami!"
Ken tampak senang, dia berniat ingin memperkenalkan teman baru nya pada mami nya.
Namun, Ken tidak sempat melakukan hal itu. Lea menarik tangan Ken, memeluk nya erat, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.
"Ken, mami kan sudah bilang. Jangan berbicara dengan orang asing!" peringat Lea sambil memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Ken.
"Tunggu di sini, jangan keluar. Mami akan berbicara dengan orang itu."
Blam!
Lea langsung menutup pintu mobil, kemudian berbalik menatap Edo yang tampak bingung dengan sikap Lea.
"Kamu!" tunjuk Lea ke wajah Edo.
"Apa? kenapa kamu bersikap seolah aku akan mengambil anak mu?" tanya Edo heran.
"Aku harap, kamu tidak mendekati putra ku lagi!" peringat Lea.
"Hey, ada apa dengan mu. Aku hanya menemani putra mu menunggu bis!"
Lea tidak mendengarkan, dia hanya ingin tahu kalau Edo tidak akan mendekati putranya lagi.
"Kamu ini gila huh, niat aku baik. Menemani putra mu, tapi kamu malah bersikap seolah aku ingin mengambil putra mu. Hei Lea sadar lah, aku tidak sejahat itu!"
"Tetap saja, kamu tidak boleh mendekati putra ku. Ingat itu!" tegas Lea di akhir kalimatnya sebelum dia berbalik dan masuk ke dalam mobil.
"Mi, ada apa. Kenapa mami berdebat dengan om Edo?"Tanya Ken.
Lea tidak menjawab, otak nya sudah di isi oleh rasa kekhawatiran, dia takut Edo akan mengatur bahwa Ken adalah putra mereka dan mengambilnya dari sisinya.
"Mami..."
"Sudah Ken, kamu tidur saja. Mami sedang tidak ingin membahas apapun!" potong Lea tanpa menoleh.
__ADS_1
Ken diam, dia tahu mood mami nya sedang tidak bagus. Jadi, Ken memilih untuk menuruti apa yang maminya katakan.
Sedangkan di halte bu, Edo masih menatap kepergian Lea dan juga Ken.
*Apa yang di takutkan oleh wanita itu? kenapa dia marah ketika aku mendekati putranya.
Huh Lea. semakin kamu bersikap seperti itu, aku semakin penasaran*!
"Boss!!"
Edo tersentak dari lamunannya, dia menoleh dan mendapati Rendy sudah ada di hadapan nya membawa mobil.
"Boss, ayo masuk. Kita pulang sekarang" seru Rendy lagi.
"Oh iya!"
Edo pun masuk ke dalam mobil, dia duduk di belakang dengan Rendy yang mengemudi.
Di dalam perjalanan pulang, Edo masih memikirkan tentang sikap Lea tadi. Dia sangat penasaran dan ingin mencari tahu.
Rendy memperhatikan boss nya dari kaca spion dalam mobil.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Rendy memberanikan diri.
"Tadi aku bertemu dengan Ken, putra Lea. Lalu, Lea datang dan memarahi aku!"
"Kenapa dia marah?" tanya Rendy penasaran.
Edo menggeleng, dia juga tidak tahu apa alasan dari kemarahan Lea ketika dia mendekati Ken.
"Itu hak bagus" sahut Rendy.
"Tapi, ini sedikit aneh ren. Kenapa Lea marah ketika aku mendekati Ken. Dia terlihat seperti orang ketakutan" gumam Edo.
Rendy ikut berpikir, dia memikirkan beberapa kemungkinan yang sedang Lea rasakan.
Mungkin saja dia takut putranya tahu, bahwa Edo adalah mantan suaminya. Lalu Ken menceritakan pada ayah nya.
Kemungkinan kedua adalah, Lea takut Edo merebut Ken darinya.
UPS, opsi kedua ini kemungkinan tidak terjadi karena Ken buk-..
Srrttt.....
Bug.
"Kamu bisa nyetir gak sih!" amuk Edo marah pada Rendy yang tiba tiba melakukan pengereman mendadak. Sehingga membuat tubuhnya yang tidak siap terhuyung ke depan.
"Maaf boss, aku hanya kaget dengan pemikiran ku sendiri!"
"Pemikiran apa?"
Rendy pun menjelaskan kedua opsi yang dia pikirkan tadi. Tapi, Edo menyangkal segalanya.
__ADS_1
"Tidak mungkin Rendy, mami sudah memperlihatkan bukti bahwa Lea sudah melakukan aborsi. Mana mungkin Ken putra ku!" sangkal Edo.
"Tapi, jika di lihat dari sisi kemiripan wajah dan sifat. Kalian memiliki banyak kesamaan, hampir 90% mirip."
Deg.
Edo mulai ragu, di juga masih mengingat kejadian di mall waktu itu. Di mana Mereka bertemu dan di kira ayah dan anak oleh orang orang yang melihat mereka bersama.
"Kamu benar Rendy, mungkin saja Ken adalah putra ku. Apalagi melihat Lea begitu takut jika aku mendekati Ken."
Edo mulai merasa yakin, dia meminta Rendy untuk melakukan sesuatu. Membuktikan siapa Ken sebenarnya.
"Ini, bawa rambut ku dan lakukan test DNA dengan rambut Ken. Kamu bisa kan mendapatkan rambut Ken?"
"Bisa boss"
Rendy kembali menjalankan mobil, mengantar Edo pulang ke apartemen. Kemudian dia akan memikirkan bagaimana cara menjalankan misi yang baru Edo perintahkan.
Di rumah, Ken langsung masuk ke dalam kamar. Dia merasa kesal dengan maminya yang terlalu over.
Baru kali Ken merasa kesal dengan sikap maminya. Bahkan maminya tidak mendengar penjelasannya.
Di tengah rumah, Ken berpapasan dengan Mina.
"Ken?"
Mina heran, tumben sekali Ken tidak membalas sapaan nya. Di a juga tidak mengucap salam dengan semangat ketika masuk ke dalam rumah.
Mina melihat Lea masuk ke dalam rumah, dia langsung menyongsong Lea ke depan.
"Lea, apa yang terjadi. Kenapa Ken begitu dingin? dia tidak membalas sapaan ku"
"Biarkan saja bi, mungkin dia lelah. Aku ke kamar dulu!"
Mina semakin curiga, tidak biasanya ibu dan anak ini bersikap seperti ini. Dia yakin, ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.
"Ada apa sayang, kenapa kamu melamun?"
Mina menoleh, lalu mendekati suaminya.
"Ada yang aneh, seperti nya Lea dan Ken bertengkar. Mereka terlihat diam dan tidak seceria biasa nya."
"Benarkah?"
"Iya mas, aku lihat sendiri kok. Aduhh... Kira kira mereka ada masalah apa yah, aku jadi takut lo mas" gumam Mina khawatir bercampur panik.
Mina menatap kesal pada suaminya, tidak ada reaksi sama sekali.
"Kamu kok diem aja sih. Aku minta solusi nih!" serga Mina kesal.
Tapi Andey tetap diam, dia tidak tahu harus menjawab dengan kalimat apa. Bagi nya, mereka berantem adalah hal yang biasa.
"Mungkin mereka lelah. Ken kan lagi es kul. Pasti banyak kegiatan yang membuat dia lelah!
__ADS_1
Dan Lea, dia pindah kantor kan? pasti dia juga lelah!" jelas Andey.
Namun, Mina tidak puas dengan penjelasan suaminya. Dia tetap yakin permasalahan keponakan dan cucunya bukan soal lelah.