Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 36


__ADS_3

"Hallo, Raihan. Kamu di mana?"


"Hallo Lea, aku di tempat kerja. Ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol"


"Baiklah, sepulang kerja aku akan mengunjungi mu"


"Oke"


Klik.


Lea menatap layar ponselnya, Foto pernikahan nya dengan Edo masih terpasang menjadi wallpaper utama ponselnya.


Lagi dan lagi, di dalam hatinya Lea bertanya. Apakah ini jalan yang benar? apa dirinya benar benar sanggup bercerai?.


Entah lah, Lea tidak tahu harus melakukan apa. Dia hanya ingin sendiri, hidup tanpa Edo atau apapun yang berkaitan dengan pria itu.


Lalu, bagaimana dengan Eva?


Lea tidak membenci wanita yang sudah dia anggap sama seperti ibu nya. Namun, untuk saat ini Lea masih belum bisa bertemu dengan Eva. Mantan mertuanya itu pasti akan membujuknya agar membatalkan perceraian ini.


Tidak,Lea tidak bisa hal itu terjadi. Dia sudah lelah hidup di bawah bayangan Edo. Memberitahunya bahwa Diva hanya mempermainkan nya saja.


Tapi apa, Edo malah menuduhnya yang bukan bukan.


Kini, Lea memilih jalan untuk bahagia. Dia juga sudah merubah penampilan nya. Untuk pertama kalinya dia melepas kacamata tebal untuk keseharian.


Malam pun tiba, seperti yang sudah dia janjikan. Raihan mendatangi kamar hotel yang Lea sewa.


Mereka hanya bertemu di depan kamar hotel. Lalu, Raihan mengajak lea untuk berjalan jalan ke taman atau ke mall.


Raihan tahu, Lea memang belum bercerai dan akan bercerai. Tapi, dia sangat paham akan batasannya. Jika dia masuk ke dalam kamar hotel Lea, itu hanya akan memperbanyak masalah bagi Lea. Dia yakin ada banyak orang yang sedang memperhatikan mereka. Entah dari pihak Edo, atau dari pihak Diva.


"Wahh.... Kamu cantik sekali Lea."


Untuk pertama kalinya Raihan melihat Lea tanpa kacamata. Penampilan nya juga beda. Biasanya Lea hanya mengenakan kaos oblong dengan celana jins atau dress panjang khas gadis cupu.


Kini, calon janda itu mengenakan celana jins pendek dengan baju kemeja lengan pendek ala ala anak muda sekarang. Pokoknya gaya Lea berbeda dari biasanya. Dia terlihat cantik, elegan dan modis.


Setiap cowo yang melihat Lea, mereka pasti akan menoleh untuk beberapa kali memastikan bahwa mereka tidak salah lihat.


Begitu juga dengan Raihan yang saat ini melongo menatap Lea.


Ditatap seperti itu oleh Raihan, membuat Lea menunduk malu.


"Apa tidak cocok?"


"Huh? gak. Eh cocok kok. Kamu cocok banget,cantik dan elegan."


"Benarkah? kenapa kamu gugup mengatakannya?" masih menunduk.


"Aku hanya grogi Lea, kamu sangat cantik.Kenaoa gak sejak dulu berpenampilan seperti ini hm?"


"Ah kamu berlebihan. Aku hanya membuka kacamata ku dan menggerai rambut" ujar Lea cemberut.


"Eh eh, kok malah merajuk. Aku hanya berkata jujur Lea. Kamu lebih baik penampilan nya seperti ini"

__ADS_1


"Eh tunggu"


Raihan berlari kecil mengejar Lea yang sudah melaju cepat masuk ke dalam lift.


Malam itu mereka memutuskan untuk jalan jalan di taman kota. Tak jauh dari taman kota, ada acara bazar makanan.Lea paling suka dengan acara ini.


Oleh karena itu, dia menarik lengan Raihan untuk pergi masuk ke pasar bazar.


"Wahh..... " Mata Lea tak berkedip, air liurnya hampir meleleh melihat banyak nya makanan kesukaan nya di bazar ini.


Raihan tidak percaya, melihat Lea yang sekarang seperti melihat gadis remaja yang sangat polos. Seakan dia tidak pernah mengalami masalah yang sangat besar.


"Unik" gumam Raihan.


"Aku mau itu.... aku mau ini, aku mau..... Aku mau!!"


Lea membeli berbagai macam makanan. Sampai tangannya tidak cukup untuk memegang nya.


"Wah, kamu benar benar akan menghabiskan semua makanan ini?" decak Raihan tidak percaya.


Lea mengangguk antusias, beberapa hari ini banyak tenaganya terbuang sia sia. Jadi, dia akan mengembalikan tenaganya yang hilang itu.


Mereka duduk di salah satu bangku taman. Meletakkan semua makanan di atas meja.


"Ya ampun, aku sudah lama tidak memakan semua makanan ini"


Setelah berdoa, Lea langsung menyantap makanannya. Dia melupakan semua masalahnya dan akan makan enak saja.


Melihat Raihan hanya menatapnya saja tanpa menyentuh makanannya. Membuat Lea berhenti makan.


"Apa kamu tidak suka makanannya? kenapa tidak ikut makan?"


Dahi Lea mengerut, apa yang Raihan sukai melebihi makanan ini?.


"Hei, apa yang kau sukai selain makanan?"


Bukannya menjawab, Raihan malah ikut melahap makanannya


"Wah, ini enak sekali. Sosis daging sapi. Aku suka" ujarnya mengalihkan pembicaraan.


"Iss... Benar benar yah, anak satu ini" Lea berdecak kesal, kemudian melanjutkan makannya bersama Raihan.


Di sisi lain, dalam waktu yang sama. Edo tengah termenung di balkon kamarnya.


Surat pengajuan cerai ada di genggaman tangannya. Lea sudah menandatangani surat itu, kini hanya tersisa dirinya.


Jika dia menandatangani surat ini dan mereka menjalani sidang. Maka mereka akan resmi bercerai.


Selain surat perceraian itu, Edo juga menggenggam Kalung liontin yang dulu pernah dia berikan pada seorang gadis di masa kecil.


Di sana terlihat jelas, foto dirinya dan juga Lea kecil.


"Kenapa aku tidak bisa mengingat mu, kenapa aku juga tidak bisa mengenali mu?"


Drrtt.....


Edo menyimpan liontin itu ke dalam saku baju nya, kemudian melihat panggilan dari Diva.

__ADS_1


"Aiss... Ada apa sih, kenapa wanita ini semakin hari semakin menyebalkan!"


Mau tidak mau, Edo menerima panggilan dari wanita itu.


"Ada apa?"


"Hallo Edo, aku ingin makan sate. Apa kamu mau menemani ku membelinya?" suara Diva terdengar manja di sebrang sana.


"Tidak bisa,pesan gojek aja!"


"Tapi bayi kita hanya mau sama kamu, aoa kamu mau anak mu ileran seumur hidup?"


"Aku lagi malas keluar Dari. Kamu jangan ngelunjak yah"


"Hiks... hiks... Maafin bunda yah nak, mama yang salah. Papa kamu tidak mau menemani kamu"


Klik.


Arrggg...


Edo semakin geram, pikirannya yang kalut me.buat dirinya terlihat seperti pria bodoh. Hanya karena bayi itu, dia harus melakukan semua ini.


Eva melihat putranya menuruni anak tangga sambil mengenakan switer.


"Sayang, mau kemana? "


"Keluar Mi"


"Jumpa Lea?"


Edo tidak menjawab, dia pergi begitu saja meninggalkan mami yang menghela nafas berat.


"Kamu kenapa sih nak, kok gak semanis dulu. Kenapa kamu jadi bodoh kaya gini"


Eva merasa sedih melihat kondisi putranya seperti ini. Dia seperti tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri.


Apa karena kehilangan Lea? tapi tidak mungkin, dia hanya kehilangan seminggu ini. Apa selama ini mereka tidak akur?


"Aku harus menemui Lea, bagaimana pun caranya aku harus menemuinya!" tekad Eva.


Edo tiba di apartemen Diva, dia menghubungi wanita itu agar segera keluar.


Tak lama kemudian, diva pun keluar. Mereka pergi ke taman kota untuk mencari penjual sate.


"Cepat turun dan cari apa yang kamu mau!" ucap Edo ketus.


"Kok kamu ketus sih, kan kamu sudah janji sama aku jadi papa yang baik"


"Udah deh gak usah banyak omong" sela Edo.


Diva gak mau turun, dia terus membujuk Edo agar menemaninya masuk ke bazar makanan.


Mau tidak mau, Edo pun menuruti wanita itu. Mereka berjalan beriringan, dengan sengaja Diva menggandeng tangan Edo.


"Apaan sih!" Edo menepis tangan Diva, tapi wanita itu kembali menggandeng tangan Edo.


"Wah gak nyangka yah, ketemu kalian berdua "

__ADS_1


Deg.


__ADS_2