
"Mi, apa Lea akan menerima maaf ku?"
"Apa dia akan kembali pada ku?"
"Tentu saja nak, dia pasti akan menerima kamu kembali. Mami juga akan membantu kamu menjelaskan pada Lea"
Edo tersenyum getir, jantungnya berdegup kencang.
Setelah mengetahui semuanya, Eva mengetahui apa yang telah terjadi. Dia sudah bisa mengerti mengapa sikap Edo seperti ini.
Kini mereka akan menemui Lea, memperbaiki segalanya. Berharap Lea akan menerima semuanya dan kembali memulai cinta yang baru bersama Edo.
Rahasia, Eva tetap tidak memberitahu Edo soal kehamilan Lea. Seperti yang Lea katakan, dia yang akan mengatakan sendiri pada Edo nantinya.
Sesampainya di kamar hotel yang di sewa Lea, Eva terus menekan bel dan mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tidak ada yang membukanya.
Kebetulan salah satu pegawai hotel lewat.
"Permisi nyonya tuan, mencari siapa yah?"
"Ehm kami ingin bertemu dengan penyewa kamar ini mbak"
"Oh maaf nyonya, nona Lea sudah check out kemarin"
"Apa?"
Bukan kepalang, Eva sangat terkejut mendengar penjelasan pegawai hotel itu.
Bagaimana mungkin Lea pergi dari sini. Kemarin dia masih menemani Lea di kamar ini.
"Mba, apa tidak salah? Kemarin saya ke sini Lea masih ada"
"Benar nyonya, nona Lea keluar setelah beberapa jam nyonya pergi"
"Kalau begitu, saya permisi"
"Terimakasih mba"
Eva menatap Edo, pria itu tampak sangat putus asa. Harapannya bisa bertemu dengan Lea seperti nya akan sirna.
"Pergi kemana dia, kenapa tidak memberitahu mami" gumam Eva sambil berusaha menghubungi Lea.
Namun, ponsel Lea tidak dapat di hubungi.
"Nomor yang anda tuju, berada di luar jangkauan."
"Ah sial, ponselnya tidak aktif" dengus Eva kesal. Dia terus berusaha menghubungi Lea.
"Sudah mi, jangan di hubungi lagi. Mungkin Lea sedang ingin sendiri"
"Tidak nak, kita harus menemui Lea. Dia sedang sakit, dia tidak memiliki siapapun di sini. siapa yang akan menjaganya" ucap Eva khawatir.
"Tidak mi, dia masih ada-" ucapan Edo terhenti, dia teringat dengan pria yang selalu bersama dengan Lea.
__ADS_1
"Seperti nya Edo tahu, kemana Lea pergi. Ayo mi"
Mereka pun bergegas mencari pria yang selalu membantu Lea. Pria itu adalah Raihan.
Entah dapat dari mana, Edo mencari Raihan ke sebuah apartemen.
"Nak, ini apartemen siapa?" tanya Eva bingung. Sejak tadi dia bertanya tai Edo tidak menjawabnya.
"Mi, ini rumah teman Lea. Pegawai mall yang selalu membantu Lea. Bahkan tinggal di hote itu, pria itu juga yang membantunya"
"Benarkah?"
"iya mi"
Eva sangat terkejut, selama ini dia tidak tahu jika Lea memiliki seorang teman. Apalagi teman laki-laki.
Beberapa kali Edo menekan bel, barulah terdengar suara pintu terbuka.
"Si-, Eh Edo"
Belum sempat Edo membalas sapaan Raihan. Eva lebih dulu bergumam.
"Raihan, CEO muda yang di hukum oleh kakeknya"
Edo menatap maminya, bagaimana mungkin maminya mengenali pria ini. Bahkan dirinya yang bergelut di dunia bisnis tidak mengenalinya.
"Mami kenal?" tanya Edo heran.
"Aduh, jadi gak enak ni. Di perbincangkan oleh nenek nenek!" gumam Raihan pelan, tapi terdengar oleh Eva.
"Kamu bilang apa?"
"Ah tidak Tante, aku hanya bertanya. Ada apa kalian mencari ku?" alih Raihan tersenyum kecil.
"Dimana Lea, aku yakin kamu pasti tahu di mana dia!" ucap Edo to the poin.
"Maaf pak Edo, aku tidak tahu di mana dia. Terakhir dia ada di hotel"
"Jangan bohong Raihan, aku tahu kamu tahu kemana Lea pergi!" sanggah Edo sedikit meninggikan suaranya.
Melihat anak nya mulai emosi, Eva pun menegurnya. Agar tidak membuat masalah dengan Raihan. Karena pria ini satu satunya jalan bagi mereka menemui Lea.
"Nak, kamu ini apa apaan sih. Sabar dikit kenapa sih"
"Mi, dia itu bohong. Lea pasti dia yang sembunyikan!"
"Santai dulu pak Edo, jangan asal menuduh. Saya memang teman nya Lea, membantu Lea kapan pun dia membutuhkan saya. Tapi, saya tidak berbohong. Lea pergi tanpa mengabari saya!" jawab Raihan tegas.
Dia memang tidak tahu kemana lea pergi, tapi dia tahu kapan Lea pergi. Raihan juga memiliki kontak Lea yang baru.
Namun, karena sudah berjanji dengan wanita itu. Raihan tidak akan memberitahu siapapun kemana dan bagaimana Lea saat ini.
"Kamu pasti berbohong!" tuding Edo putus asa. Raihan satu satunya harapan, tapi malah dia juga tidak tahu.
__ADS_1
Bagaimana ini, kemana dia harus mencari Lea. Gadis cupu yang sudah berubah menjadi licik. Sangat sulit untuk mencari keberadaan wanita itu.
Edo sudah menyuruh semua anak buahnya, bahkan dia menyewa detektif handal untuk melacak posisi Lea saat ini.
Seakan sudah tertelan bumi, Lea tidak ada di mana pun. Edo benar benar putus asa. Dia sangat kacau, bahkan penampilan nya sudah sangat berantakan.
Hati dan jiwanya telah pergi, Edo terlihat seperti manusia tanpa jiwa.
Eva meneteskan air matanya, melihat bagaimana hancurnya kondisi putranya.
Makan tidak teratur, kumis sudah panjang, brewok tidak terurus. Perusahaan diabaikan.
Sedangkan di tempat lain, Lea tengah duduk selonjoran di tepi pantai. Menatap indahnya pemandangan senja seorang diri.
Jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk nya kehidupan yang seakan mencekiknya.
Sambil mengusap perutnya, Lea pun bergumam.
"Nak, jangan bandel yah. Mami sedang berjuang. Kita akan memulai semuanya dari awal. Mami akan membesarkan mu, merawat mu dengan sangat baik. Maaf tidak bisa memberi mu keluarga yang sempurna."
Beberapa kata di akhir kalimatnya tidak dapat Lea sambung. Tangisnya sudah lebih dulu mengakhiri ratapannya itu.
Perut Lea memang belum besar. Tapi, dia sudah dapat merasakan keberadaan janin nya. Hal ini lah yang membuat Lea merasa kuat.
Tepat setelah Eva pergi, Lea menerima panggilan telfon dari bibi nya. Lea merasa sangat senang, dia bisa menemukan keluarganya.
Setelah bapak dan ibu nya meninggal, Lea merasa hidup sebatang kara. Apalagi dia sudah bercerai dengan suaminya dan kini dia juga sedang hamil.
Betapa miris kehidupannya, bahkan Lea merasa tidak sanggup untuk hidup.
Setelah mendengar kisahnya, bibi nya dan juga pamannya itu meminta agar Lea hidup bersama mereka di sebuah pulau. Mereka berjanji akan menjaga Lea dengan sangat baik.
Karena itulah, Lea memutuskan untuk pergi dan menenangkan diri ikut bersama bibi dan pamannya.
Awal nya di ragu, karena dia sudah sangat lama tidak bertemu dengan bibinya. Dia takut, mereka tidak sebaik yang mereka katakan. bapak dan ibunya juga tidak pernah cerita tentang kebaikan orang ini. Mereka hanya di kenalkan ketika dia masih SD dulu.
Namun, setelah merek bertemu dan hidup beberapa hari. Barulah Lea merasakan, betapa baiknya keluarga ini.
Bibi nya yang sangat mirip dengan ibunya, membuat Lea bisa melepaskan rindu.
Paman nya juga, di sangat bijak dan berwibawa seperti bapak nya. Ini semua membuat Lea meras sangat nyaman dan seperti bersama kedua orang tuanya.
Lea juga tidak menyembunyikan apapun dari paman dan bibinya. Dia menceritakan semua yang telah ia lalui.
Bersyukur nya, kedua orang itu mengerti dan tetap mendukung Lea. Mereka tidak memaksa Lea untuk kembali dengan suaminya karena dia hamil, dia juga tidak melarang Lea untuk kembali meskipun mereka kecewa dengan sikap suami Lea itu.
Mereka hanya ingin Lea hidup bahagia, dimana pun dia berada. Entah bersama mereka, atau bersama suaminya kelak.
Bagi bibi nya, ke merupakan harta kakak nya yang sangat berharga. Dulu semasa dia kecil, kakaknya lah yang merawat dan menjaganya seperti harta tak ternilai. Hingga dia menikah dan memiliki usaha kecil kecilan, itu semua berkat kakak dan kakak iparnya.
Lea merasa bangga, ternyata bapak dan ibu nya sangat baik kepada semua orang, dia juga sudah banyak membantu semua orang.
Pantas saja mereka tidak kaya tapi merasa cukup. Merasa aman dan nyaman dengan kondisi cukup, tanpa kekurangan.
__ADS_1