
Ken dan keluarganya tiba di sekolah. Dia langsung menuntun mami, kakek dan neneknya menuju ke aula tempat acara di selenggarakan.
"Ayo mami, kita lewat sini"
Mereka memasuki aula, terlihat kursi kursi sudah hampir terisi penuh.
"Ayo duduk di sana" Mina menunjuk bangku depan dekat dengan panggung. Dia ingin melihat cucunya lebih dekat.
"Baiklah" sahut Lea.
Ken yang juga ingin mengikuti mami dan kakek neneknya tiba tiba di tahan oleh Marcel.
Ken terkejut, dia menatap Marcel dengan tatapan tajam.
"Kenapa? Mau marah? Kamu lupa dengan janji kamu kemarin hm?"
"Eh itu Ken," ujar salah satu siswi pada temannya.
"Eh iya!" Mereka semua langsung menghampiri Ken.
"Mana papi kamu Ken? Kami tidak sabar ingin melihat wajah tampan papi kamu!"
Marcel tersenyum miring, dia yakin Ken tidak akan membawa papi nya. Apalagi melihat Ken yang hanya diam saja,membuat Marcel semakin yakin .
"Kenapa diam saja? Apa kamu tidak membawa papi kamu yang hanya hayalan itu?" Ledek Marcel.
Kedua tangan Ken mengepal, dia sudah cukup bersabar menahan diri atas sikap Marcel selama ini.
Marcel menyeringai melirik tangan Ken, dia merasa semakin senang jika Ken emosi.
"Jika kamu tidak membawa papi kamu. Itu artinya kamu harus berlutut di hadapan semua orang!" Ujar siswi yang terlihat kecewa.
"Heh, kalian gila apa. Ini tu acara sekolah, acara besar kita. kenapa kalian menindas Ken seperti ini!" ucap sahabat Edo marah.
"Wah, sayang sekali. Ken akan melanggar tantangan yang dia buat sendiri " seru Marcel tersenyum kecut.
"Tidak mungkin!" Balas Ken berusaha membela diri. Dia tidak suka di pandang rendah seperti itu.
"Ya sudah, tunjukan pada kami. Siapa papi kamu, jika tidak silahkan berdiri di atas panggung. Lalu berlutut sambil mengakui kalau kamu anak haram!" Marcel tersenyum menang.
"Jangan keterlaluan!!" Teriak sahabat Ken. Dia ingin menghajar Marcel, namun di tahan oleh Ken.
"Jangan ikut campur!" Tegasnya.
Dari kursi nya, Lea melihat Ken seperti sedang berdebat dengan teman temannya.
Takut Ken membuat masalah, akhirnya le memutuskan untuk menghampiri putranya.
Saat dia hampir dekat, Lea mendengar pembicaraan teman temannya yang menghina putranya.
"Ayo cepat, lakukan hukuman kamu. Akui pada semua orang kalau kamu anak haram."
"Hei, lihat. Ini papi ku" ujar seorang wanita menarik kedua orang tuanya ke hadapan teman-temannya. Dia juga menyebutkan apa pekerjaan orang tua nya.
Berikut semua anak kelas nya mengenalkan kedua orang tua nya.
Begitu juga dengan Marcel, dengan bangga dia memperkenalkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Oh ini bukan kah anak dari bawahan ku? Lea bukan?" ujar Aya Marcel.
"Iya Dady, dia anak tanpa ayah" jawab Marcel.
Ken semakin mengepalkan kedua tangannya, dia merasa sangat malu dengan perhatian para orang tua mulai memperhatikannya.
"Ayo Ken, berdirilah di depan dan akui pada semua orang. Bahwa kamu adalah anak haram!"
"Dia bukan anak haram!"
"Dia bukan anak haram!"
Semua orang terkejut, Ken jugavterkejut mendengar suara maminya yang sangat lantang. Bukan hanya itu, yang lebih mengejutkan lagi adalah, Edo juga mengatakan hal yang sama seperti maminya.
"Mami..."
Lea terkejut, bukan karena putranya. tapi, Edo yang juga ada di sekolah Ken.
Edo juga terkejut, tapi dia tidak terlalu menghiraukan Lea. Dia menatap anak anak yang sedang menindas putranya.
"Siapa bilang Kendra Anfar adalah anak haram huh!" Hardik Edo marah, dia menatap para orang tua yang hanya diam saja ketika anak mereka sedang melakukan kesalahan.
Kini perhatian semua orang tertuju pada mereka semua. Mina dan Andey terkejut, mereka segera menghampiri Lea yang sudah berdiri di samping Edo.
"Om, jangan ikut campur. Ini adalah tantangan kami. Jika dia memang pria sejati, di pasti akan memegang ucapannya!" Marcel bersuara, di menelitik penampilan Edo, dia berpikir Edo berada di bawah dadynya.
Edo menatap anak remaja seumuran de gan putranya, lalu kemudian menatap ayah Marcel.
"Atas dasar apa kamu menyuruh anak ku berlutut di atas panggung itu! Dan mengakui sebagai anak haram?"
"Lalu aku ini siapa huh!"
Mata Lea membola, dia tidak menyangka Edo akan melakukan hal itu. Begitu juga dengan Ken, dia sangat terkejut. Namun, Ken cepat memainkan perannya. Mengundang Edo ke acara perpisahan nya ternyata bukanlah ide ya g buruk.
Bisik demi bisikan terdengar, ayah Marcel mulai panik. Dia sangat takut akan kehilangan pekerjaan nya.
Namun, putranya seakan tidak sadar. Dia terus menggali lubang kematian untuk sang ayah.
"Tidak mungkin, apa buktinya jika om adalah ayah Ken. Semua orang tahu kok, Ken sejak kecil tidak memiliki ayah!"
"Apa aku harus memamerkan suami ku kepada kalian. Apa kau tidak takut papi mu akan kehilangan istrinya hm?" Kini Lea yang buka suara, dia juga mulai memainkan perannya.
Drama tanpa skenario ini berjalan begitu sempurna, membuat semua orang terkesima.
"Tidak kah kalian lihat, wajah tampan putra ku sangat mirip dengan papi nya?" Sambung Lea.
Semua orang semakin berbisik, mereka mulai yakin dan membenarkan jika Ken dan Edo memang sangat mirip.
"Benar, mereka mirip"
"Sangat tampan"
Ken tersenyum menang, matanya menatap tajam pada Marcel.
"Aku tidak akan bohong, aku diam bukan berarti aku kalah. Kini, siapa yang harus berlutut?" Ujar Ken.
"Cucu ku..." Eva memeluk Ken, mengecup puncak rambut Ken. Melihat sikap Eva terhadap Ken seperti itu, membua semua orang yakin.
__ADS_1
Siapa yang tidak tahu Eva, wanita karier yang semasa muda nya menjadi ratu bisnis.
"Tidak mungkin,"
Pletak.
Ayah Marcel memukul kepala putranya sendiri, memakai atas sikap putranya yang sudah membuat dirinya malu.
"Tahan, jangan pukul anak mu. Sikapnya seperti ini sama persis seperti mu. Bahkan tadi kau tidak memarahinya saat dia menghina putra ku! Apa kalian pantas menjadi orang tua!"
Lea mulai mengamuk, di sangat marah melihat sikap para orang tua.
"Kami tidak tahu jika, putra mu adalah anak Presdir" sahut salah satu wanita.
"Jadi, kalau anak ku bukan anak Presdir, kalian akan tetap membiarkan anak anak kalian menindas putra ku?" Lea semakin emosi, dia hendak menyerang wanita itu, mengajarkan wanita itu bagaimana caranya mendidik seorang anak. Namun, Eva menahannya.
"Sabar Lea, biarkan mereka bernafas lega sekarang. Kita akan membalasnya nanti. Tidak dengan kekerasan, tidak dengan omongan besar!" Cegah Eva.
"Oma, aku tidak suka pada mereka semua!"ujar Ken.
Eva tersenyum, mengusap pipi Ken penuh kasih sayang.
"Jika Pangeran ku tidak suka, apa boleh buat!"
"Singkirkan semuanya dari perusahaan!" Sambungnya, membuat semua orang yang terlibat membulatkan mata. Dalam sekejap, mereka kehilangan pekerjaan.
Ken melangkah maju, berdiri tepat di depan Marcel. Matanya menatap tepat ke manik mata Marcel. Senyum miring terukir di bibirnya.
"Wuss.... Sekali aku berbicara, kehidupan mu hancur! " Ken berbicara sambil mengayunkan tangannya tepat di depan wajah Marcel, mengikuti gerakan pesawat.
Setelah mengatakan hal itu, Ken membawa keluarganya duduk di kursi paling depan. Meskipun terdapat banyak pertanyaan di dalam benaknya saat ini, setidaknya Ken merasa puas melihat wajah pucat Marcel dan teman teman Julitnya.
Lea dan Edo duduk bersebelahan, sedangkan Ken duduk di depan mereka, di barisan para siswa.
Edo tersenyum pada Ken, lalu dia melirik Lea yang menatap lurus ke depan karena acara akan segera di mulai.
Edo memiringkan tubuhnya, semakin mendekat pada Lea.
"Aku tidak menyangka, ternyata kamu jago juga akting, seperti yang pernah kita lakukan dulu" bisik Edo.
Lea tidak menggubris, dia pura pura tidak mendengar apa yang Edo katakan.
"kamu boleh pura pura tuli, tapi aku tahu hati kamu mendengarkan ku!"
Lea mulai merasa risih, dia ingin berteriak pada Edo. namun Andey lebih dulu menyelamatkan dirinya.
Andey menarik tubuh Edo, agar pria itu menjauh dari keponakan nya.
"Aku tahu, kamu ayah kandung Ken. Tapi, kamu tidak bisa bersikap seperti itu pada keponakan saya!" ancam Andey penuh penekanan.
"maaf om, tapi ijinkan aku untuk mendekati keponakan om" bisik Edo Tampa tahu takut.
"Hadirin semuanya, maaf sudah lama menunggu. Kita akan segera memulai acara special kita ini.
Sebelumnya, kamu berikan hormat pada Presdir Edo Farezi yang telah bersedia hadir di acara istimewa kita. Semuanya silahkan beri tepuk tangan!"
Ken tersenyum bangga, papi nya merupakan orang yang paling di segani oleh semua orang.
__ADS_1
"Nikmati saja, meskipun ini hanya drama" batin Ken.