
Edo menatap mami nya, menunggu wanita mulia yang sangat dia hormati dan sayangi. Kali ini, entah apa yang membawa maminya datang ke kantor.
"Mami mau bicara apa, sampai mami tidak sabar menunggu aku di apartemen" ucap Edo lembut, dia berusaha untuk sabar.
"Mam datang ke sini mau nanya sama kamu! "
"Mami mau menanyakan apa?"
Eva menarik nafas, kemudian menghembuskan secara perlahan. Mengingat tingkah putranya selama ini, membuat emosinya naik ke ubun ubun.
Namun, Eva berusaha untuk tidak berdebat dengan Edo. Dia tahu putranya tidak suka di paksa dan di debat seperti itu.
"Ada berapa banyak wanita yang kamu ajak tidur di masa lalu?" tanya Eva.
"Maksud mami apa? aku tidak ada meniduri wanita manapun mi!" sangkal Edo, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran maminya.
"mungkin sekarang tidak, karena di otak mu hanya di isi oleh wanita itu!"
Huh.
"Udah lah mi, tidak perlu membicarakan hal ini lagi. Lea tidak seperti yang mami bicarakan. Mami juga kan yang mengatakan hal itu pada ku"
"Yah, itu dulu. " jawab Eva salah tingkah. Tapi, wanita setengah baya itu langsung merubah ekspresi nya ketika mengingat anak remaja yang dia temui tadi.
"Tapi Edo, bukan itu yang menjadi pokok masalahnya nya"
Edo menghela nafas malas, entah apa lagi yang menjadi pokok masalah bagi mami nya ini.
Edo hanya berharap dalam hati mami nya bisa segera sadar dan berhenti membenci Lea.
"Apa lagi yang salah di mata mami?"
"Tadi mami bertemu seorang anak kecil, kira kira umurnya 12 tahun, dan wajah nya persis seperti kamu waktu kecil!"
Deg.
Mami sudah melihat Ken.
Edo menatap maminya lekat, " Mami bertemu di mana?"
"Di mall sebelah, dia tidak sengaja menabrak mami"
"Lalu?" tanya Edo pura pura acuh. Padahal dia sangat khawatir.
"Lalu apa nya! kamu harus mencari tahu, dia itu anak dari wanita mana yang kamu tiduri. Kamu harus bertanggung jawab, setidaknya kamu beri nafkah untuk anak kamu!" omel Eva meledak ledak.
iya mi, ini lagi proses penyelidikan. Jika dia anak ku, akan aku pastikan membawanya bersama ku.
__ADS_1
Jawab Edo di dalam hati, tapi di depan mami nya Edo tetap bersikap acuh.
"Tidak mi, mami hanya salah liat. Mana mungkin ada anak kecil mirip dengan wajah ku." Sangkal Edo.
Agar pembicaraan itu terhenti, Edo pun beranjak dari sisi maminya, dia berpura pura sibuk dengan dokumen yang ada di atas meja.
"Edo, kamu kenapa acuh sih. Harusnya kamu itu excited dengan semua ini Edo."
Tidak puas berbicara jarak jauh, Eva pun beranjak dari sofa mendekat ke arah putranya.
"Kamu harus mencari tahu nak, jika itu anak kamu. Mami mau membawanya bersama kita!"
Dari luar, Lea yang ingin bertemu dengan Edo untuk meminta hasil revisi laporannya tadi.
Saat ingin membuka pintu, tanpa sengaja Lea mendengar semua percakapan Eva dengan Edo. Hal itu membuat Lea mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Mami di dalam" gumamnya dalam hati.
Lea terus menguping, jantungnya berdegup kencang ketika mendengar ucapan Eva untuk mencari tahu soal Ken.
"Mami sudah bertemu dengan Ken?" gumam Lea lagi.
"Tidak" Lea berjalan mundur, kepalanya menggeleng kuat. Dia tidak akan membiarkan Eva mengambil putranya.
"Tidak, dia putra ku. Aku tidak akan membiarkan kalian mengambilnya" Lea mulai panik.
Wanita itu heran melihat kea hanya berdiri di luar saja.
"Tidak apa apa, seperti nya ada tamu lain" jawab Lea beralasan.
"Benarkah?"
Takut Edo dan Eva mendengar pembicaraan nya dengan wanita itu. Lea pun menarik wanita itu agar menjauh dari sana.
"Eh kenapa kamu membawa ku pergi?" tanya wanita itu heran.
"Maaf, aku hanya merasa boss ada tamu penting, dan kita tidak boleh mengganggu nya" jelas nya.
wanita itu mengangguk mengerti, kemudian berlalu pergi setelah mengucapkan sesuatu.
"Yasudah lah, aku mau kembali ke ruangan ku dulu"
"Baiklah." balas Lea yang berusaha untuk bersikap tenang. Padahal di hatinya dia merasa sangat takut.
"Aku tidak akan bisa hidup tanpa Ken"
Lea kembali ke ruangannya, otak nya sudah tidak fokus. Dia berjalan sambil melamun. Neti yang sejak tadi mengajak nya bicara tidak di respon.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada wanita ini?" tanya Neti. Tia dan Endang hanya menggeleng merespon pertanyaan nya.
Kembali ke rumahan Edo, eve terus memaksa Edo untuk mencari tahu tentang Ken. Dia tidak tahu Ken sudah bertemu dengan putranya itu.
"Jika kamu tidak mau menyelidiki nya, maka mami yang akan mencari tahu"
"Jangan!" cegah Edo secara spon.
Sadar dengan sikap aneh nya, Edo pun mulai gelagapan di hadapan Eva.
"Maksud Edo, mami tidak perlu repot report. Mami sudah tua, biar Edo saja yang melakukan nya!"
Eva sudah mulai curiga, dia merasa Edo menyembunyikan sesuatu darinya.
"Baiklah, mami akan menunggu informasi selanjutnya dari kamu"
Edo bernafas lega, akhirnya dia bisa membuat maminya berhenti menyelidiki tentang Ken.
Jika mami tahu Ken itu adalah anak Lea, dia pasti akan merebut paksa.
Eva mengambil tas nya di sofa, dia bersiap ingin pergi.
"Mami mau-" ucap Eva terpotong, oleh ucapan Edo secara tiba-tiba.
"Selain mami meminta Edo menyelidikinya, Edo punya syarat jika anak itu benar benar anak dari Edo!" Suara Edo terdengar tegas dan penuh keseriusan.
Alis Eva terangkat, tumben sekali Edo mengajukan syarat seperti ini.
"Apa syaratnya?"
"Berhenti menjodohkan aku dengan Nia, aku tidak suka"
Eva terkesiap, bagaimana mungkin Edo meminta hal seperti itu. Nia dan keluarganya sudah sangat berharap akan menikahkan mereka berdua.
"Itu tidak mungkin Edo!"
"Kenapa mami? bukan kah dulu aku sudah menerima permintaan mami? kenapa sekarang mami masih ingin memaksa Edo?"
"Dulu Edo sudah menerima keinginan mami, sekarang. Bolehkah aku menolaknya? jika seandainya anak itu adalah putraku. Aku mohon berhenti lah untuk menjodohkan aku!"
"Tapi.." Eva tampak mencari alasan, tapi Edo sedikit pun tidak memberi kesempatan bagi mami nya berpikir.
"Yes or no!"
Eva kalang kabut, dia tidak tahu ingin menjawab apa.
"Yes or no!" tekan edo mendesak mami nya.
__ADS_1
"Yes"