
Dentuman suara kaki berlari terdengar nyaring di lorong rumah sakit. Dengan wajah putus asa nya, Lea berlari memasuki sebuah kamar yang tadi di arahkan oleh salah seorang suster.
"Ibu!!! Bapak!"
Tangis tak terbendung lagi, Lea ambruk di lantai rumah sakit saat melihat kedua tubuh bapak dan ibu nya terbujur kaku di kamar mayat.
Sungguh dunia ini tidak adil, di saat dia merasakan kehancuran yang teramat dalam, kini dia malah di timpa musibah yang lebih berat lagi.
Baru saja kehilangan cinta nya dan juga suaminya, kini Lea harus menanggung rasa kehilangan kedua orang tua.
"Ibu.... Bapak... Apa yang terjadi, kenapa kalian diam saja. Aku di sini, kalian ke kota untuk mencari aku kn. Ini, aku ada di sini Bu... Bapak.... "
"Lea"
Eva memasuki ruangan mayat, setelah mendapat kabar ada kecelakaan dengan bus yang di tumpangi besan nya, Eva langsung mencari tahu dan inilah kenyataannya.
Kedua orang tua Lea sudah meninggal, mereka terjepit di antara tempat duduk bus sehingga menyebabkan nyawa melayang.
"Mami" Lea segera bangun, dia mendekati Eva.
"Mami, tolong bangunkan Lea dari mimpi buruk ini. Mami cubit Lea, dorong Lea mi. Lea gak mau terus terusan di dalam mimpi ini..."
Tangis Eva semakin pecah, dia tidak tahan melihat kehancuran Lea.
"Nak, ini gak mimpi nak. Ini nyata, kamu yang tabah yah"
"Gak, ini gak mungkin. Ibu sama bapak gak mungkin ninggalin aku. Gak ini. GAK MUNGKIN!!!!"
Edo memalingkan wajahnya kearah lain, tidak sanggup melihat semua ini. Rasa sesal di hatinya telah menyakiti Lea semakin dalam.
"Nak, kamu yang tabah yah."
"Gak mi, ini gak bisa terjadi. Lea cuma punya bapak sama ibu, mereka gak mungkin ninggalin Lea sendiri.
Bapak.... Bangun pak, ini Lea di sini. Bu.... Bangun...hiks.. Jangan buat Lea takut, bangun Bu!!!"
Eva menutup mulutnya, menahan tangis melihat keadaan Lea.
"Eh eh... Mau di bawa kemana bapak sama ibu aku. Hei..."
Eva menahan lea yang hendak memarahi para suster membawa ibu dan bapak nya.
"Sayang tenang, mereka hanya ingin membersihkan ibu sama bapak kamu. Kita akan membawanya pulang dan menyiapkan pemakaman besok pagi"
Lea ngamuk, dia menghempaskan tangan Eva. Menatap Eva dengan tatapan tajamnya.
"Mami ngomong apa sih, pemakaman siapa? jangan sembarangan bicara yah. Lea gak suka"
"Hikss.... Hiks... Nak, kamu harus tabah, jangan seperti ini"
Lea pergi dari ruangan mayat itu, mengejar para suster tadi agar tidak membawa kedua orang tuanya.
Namun, ketika dia keluar dari pintu ruangan itu. Edo dengan sigap memeluk Lea, menahan tubuh istrinya agar tidak pergi menghalangi pekerjaan suster.
Lea memberontak, dia memukul mukul dada Edo dengan sekuat tenaga yang dia punya.
"Apa apaan sih kamu, kenapa kamu nahan aku. Lepas, aku mau sama ibu!!!... Bapak!!
Lepas!"
Edo tidak mau mendengarkan, dia membiarkan Lea memukul dan juga menggigit lengannya agar dia melepaskan pelukannya.
Tapi Edo, dia tidak lemah itu. Rasa sakit yang dia rasakan dari gigitan Lea tidak sebanding dengan rasa sakit yang kea rasakan.
__ADS_1
"Lepas... hiks... Lepas.."
Eva keluar, dia memeluk Lea yang masih di peluk oleh Edo.
"Sayang, kamu harus ikhlas, jangan seperti ini nak... Kamu harus kuat"
Mendengar perkataan itu, mata Lea langsung mendelik marah.
"Jaga ucapan mami yah, ikhlas apa. Ibu sama bapak aku masih hidup!"
Eva hanya menangis membalas ucapan Lea, dia tidak marah jika Lea membentaknya. Dia tidak akan marah.
"Lea kamu harus sadar, ibu sama bapak kamu sudah gak ada.."
"Kamu harus tabah Lea, jangan berusahalah menipu diri sendiri!" sambung Edo. Dia berusaha membuat Lea sadar dan tidak bertingkah aneh seperti ini lagi.
"Gak... Gak mung-.."
"Lea!!!!" teriak Eva sambil nangis.
Lea pingsan, Edo segera menggendongnya dan membawa Lea ke salah satu kamar di rumah sakit ini. Edo juga meminta salah satu dokter untuk memeriksa kondisi kesehatan Lea.
...----------------...
Acara pemakaman kedua orang tua Lea pun di laksanakan. Terlihat, Lea persis seperti mayat hidup.
Wanita itu hanya duduk dan menangis di samping batu nisan bapak dan ibu nya.
Dia merasa hidupnya tidak ada guna lagi. Lea hanya memiliki mereka berdua dan kini mereka telah pergi.
Bagaimana dia akan melanjutkan kehidupan nya??
Siapa saja yang berada di posisi Lea, mereka pasti akan merasakan hal yang sama.
"Nak.. Ayo kita pulang, hari sudah semakin sore" bujuk Eva.
"Gak mi, aku masih mau di sini. Aku juga tidak ada tempat untuk di tuju"
"Nak, apa yang kamu maksud. Kamu adalah menantu mami, rumah mami adalah rumah kamu juga" balas Eva terkejut dengan jawaban menantunya.
Tapi sayangnya, Lea sudah tidak peduli lagi. Persetan dengan pernikahan. Toh, suaminya juga tidak menyukainya. Bahkan dia lebih peduli dengan wanita rendahan seperti Diva itu.
Lalu, Edo juga menuduh nya selingkuh dengan Raihan. Pria yang sudah jelas baik selalu membantunya dalam segala hal. Pria yang selalu ada setiap dia membutuhkannya.
Beda dengan Edo, sejak dia memiliki anak dengan diva. Dia lebih mementingkan wanita itu.
Pulang larut malam, sampai di rumah acuh tak acuh. Kapan di panggil dia langsung datang menemui wanita itu.
Kenapa? pria yang kejam sudah tunduk pada wanita rendah seperti Diva.
Edo menatap Lea yang berusaha berdiri di hadapannya.Terlihat jelas kekosongan dari tatapan istri nya ini
"Beberapa hari ke depan, aku akan mengajukan perceraian."
Raut wajah Edo berubah, dia terkejut mendengar ucapan Lea barusan.
"Sayang, apa yang kamu bicarakan. Jangan seperti ini nak, ayo kita bicara baik baik di rumah" sela Eva membopong Lea pergi.
Namun,Lea menahannya. Tidak lagi, dia tidak bisa menahan semuanya lagi.
"Mi maaf, tapi aku tidak bisa lagi mi. Sudah cukup untuk semuanya sampai di sini. Aku gak bisa bertahan lagi mi. Aku gak bisa menunggu sampai dia mengingat aku lagi. Lebih baik kita pisah dan biarkan dia bersama wanita yang sedang mengandung anak nya"
",Apa?"
__ADS_1
"Mi, aku duluan yah. "
Lea memeluk Eva sebentar, kemudian berlalu pergi begitu saja.
Sedangkan Edo, dia hanya terdiam menatap nanar kepergian Lea.
"Bayi?"
Eva menatap putranya tajam.
"Ikut mami!!"
Brak!
Eva mendorong putranya hingga terjungkal ke lantai. Meskipun sudah batu baya, Eva masih memiliki kekuatan seorang ibu ketika marah.
Lihat lah, tubuh kekar Edo tidak berpengaruh baginya.
"Jelasin sama mami, apa yang Lea maksud!"
Edo terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Hey, ayo bicara. Jangan menjadi pengecut seperti ini!"
Karena desakan Eva, akhirnya Edo menjawab dengan lantang.
"Diva mantan sekretaris Ki hamil anak ku"
"Apa?"
"Apa kata mu? Diva hamil anak kamu? Edo. Apa kamu kehabisan akal huh? "
"Mi Edo bisa jelasin. Ini semua ha-"
Belum sempat Edo menjelaskan semuanya,sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak.
"Bisa bisanya kamu melakukan semua ini. Beraninya kamu mengkhianati Lea. Istri yang selalu sabar menunggu kamu. Menunggu hati kamu terbuka!"
"Apa kamu tidak ingat huh! dia wanita masa kecil yang ada di mimpi mu. Dia Edo!!! wanita yang kamu lupakan!!"
Deg.
Edo terkesiap, rasa sakit di pipinya terasa hilang ketika mendengar fakta ini.
"Mami, apa maksud mami?"
"Iya Edo, dia Lea yang selama ini kamu tunggu.Wanita masa lalu kamu yang kamu lupakan. Ini, lihat ini"
Eva mengeluarkan sebuah kalung dari dalam sakunya.Sebekum tahu musibah yang menghampiri Lea. Eva berniat ingin menunjukan kalung milik Lea pada Edo. Berharap mereka bisa bersama kembali.
Tapi, setelah semua ini terjadi dan dia mengetahui segalanya. Eva mengurungkan niatnya untuk menyatukan putranya kembali dengan Lea.
Eva juga seorang wanita, dia tahu pasti bagaimana hancurnya hati Lea dengan semua penderitaan ini.
"Lihat ini, kemarin mama mendapatkan kalian ini terjatuh ketika Lea main ke rumah ini. Dia masih menyimpan barang pemberian kamu,kalung usang yang sangat berarti baginya!"
Edo menerima benda yang terlihat seperti rantai bisa. Di tengah tengah rantai itu terdapat liontin yang bisa di buka.
Betapa terkejutnya Edo saat membuka liontin itu dan melihat foto masa kecilnya ada di sana.
"Lea??"
__ADS_1
Edo terhenyak di lantai, dia baru sadar. Ternyata perasaan di hatinya itu bukan baru tumbuh, melainkan baru sadar dan baru ingat akan siapa gadis yang di nikahinya.
Pantas dia selama ini tidak pernah merasa canggung dengan Lea. Edo baru sadar tapi sudah sia sia. Dia dan Lea sudah benar benar selesai.