Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 35


__ADS_3

Seperti yang telah Lea katakan, dia mengurus surat surat perceraian, kemudian mengajukan ke pengadilan.


Meskipun penampilannya cupu dan udik, Lea tidak sebodoh penampilan nya. Berkat bantuan Raihan juga, pengajuan perceraian sangat cepat di proses.


Selain perceraian, Lea juga melakukan proses pembelian rumah. Dia membeli satu unit rumah yang terletak jauh dari tempat tinggal Edo.


Bagi Lea, melihat Edo hanya akan membuat hatinya sakit. Lebih baik dia berada jauh dari mereka.


"Ayo makan, kamu harus memberi cacing di perut mu itu makan"


Lea menggeleng, menghindari suapan yang Raihan.


"Tidak Raihan, aku tidak lapar"


"Tapi Lea, kamu harus makan. Aku tidak mau kamu sakit, pasti ibu dan bapak kamu akan sedih melihat kamu seperti ini dari atas sana"


Deg.


Lea langsung menatap Raihan, apa yang pria itu katakan memang benar. Ibu paling benci kalau di melakukan program diet. Apalagi bapak nya, dia paling suka anak nya gemoy dan menggemaskan.


Kini, Lea malah tidak mau makan. Sejak kemarin perutnya hanya terisi dengan air mineral saja.


Tidak, Lea menggeleng cepat. Dia mengambil makanan dari tangan Raihan, lalu melahapnya dengan cepat.


"Pelan pelan" peringat Raihan.


Lea tidak peduli, dia terus makan meskipun air mata terus mengalir dari pelupuk matanya.


Melihat kondisi Lea seperti ini, membuat Raihan merasa kasihan.


Di lain tempat, Edo tengah menunggu dokter selesai memeriksa Diva.


Wanita itu mengalami pendarahan yang sangat hebat. Beruntung bayi yang ada di dalam kandungannya tidak apa apa.


"Bagaimana kondisinya dok?"


"Nyonya diva baik baik saja, tolong jaga kesehatannya yah. Jangan biarkan dia panik berlebihan. Itu akan membahayakan janinnya." Jelas sang dokter.


"Baik dok"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi"


Edo mempersilahkan sang dokter keluar. Kemudian, setelah itu barulah dia mendekati Diva.


"Kamu kenapa tidak jaga kesehatan bayinya?" tanya Edo ketus tanpa ekspresi.

__ADS_1


Diva yang sudah tahu siapa yang membuat semua ini hanya menatap Edo marah.


"Kalau di tanya itu jawab!"


"Aku mau jawab apa? kamu sendiri kan yang nyuruh orang untuk culik aku, kurung aku di tempat gelap seperti itu! lalu kamu bertanya pada ku?"


"Wah, semenjak kamu mengandung anak yang belum tentu milik ku ini, kamu semakin lancang sama aku. Apa kamu lupa, kamu itu dulu hanya seorang budak nafsu ku?"


Deg.


Diva terkejut mendengar perkataan pedas Edo. Pria ini benar benar sudah berubah menjadi kejam.


Takut takut Di menatap Edo yang juga menatap sinis kearahnya.


"Apa maksudmu Edo. Berapa kali aku sudah menjelaskan kepada mu. Aku hanya di sentuh oleh kamu. Lalu, kamu mempertanyakan semua ini kepadaku?"


"Lalu, kepada siapa aku bertanya lagi hm. Selain SMA aku, kamu juga ada main sama cowo lain!"


Edo menunjukkan foto yang Raihan tunjukkan padanya kemarin. Di sana terlihat Diva sedang berciuman dengan pri lain.


Diva terkejut melihat foto itu, dia menggigit bibir bawahnya berusaha berpikir keras untuk mencari alasan pada Edo.


"Kamu dapat foto itu dari mana? apa kamu mau memfitnah aku?. Sudah jelas itu dik sepupu aku. Dia habis berantem dan aku melihat luka di dekat bibir nya!"


"Oh, jadi lihat luka dengan cara berciuman?"


"Kamu tidak lihat kan bibir kaki tidak menyatu, lalu apa ini pantas menjadi buntu. Foto itu di ambil dari belakang adik sepupuku, sehingga kami terlihat seperti berciuman"


Ceklek.


"Kakak...."


Edo berbalik, menatap pria asing menyelonong masuk ke dalam. Memeriksa kondisi Diva apa ada yang terluka atau tidak"


"Adik sepupu" sapa Diva.


Edo masih menatap mereka, seperti nya pria itu adalah pria yang ada di dalam foto.


"Edo, dia adalah adik sepupu ku. Pria yang ada di foto itu. Kamu bisa menyelidikinya kok."


Melihat Edo hanya diam saja, Diva mulai mempengaruhi pria itu lagi.


"Aku tahu, pasti Lea kan yang ngasih tahu kamu soal foto ini. Cih,aku tahu dia takut kalau dia ketahuan selingkuh dengan pekerja di mall itu"


"Diam kamu!" bentak Edo.

__ADS_1


"Hei, siapa kamu. Kenapa berani beraninya membentak kakak ku!"


Diva menahan tangan pria itu, dia tidak mau pria itu mencari masalah dengan Edo .


"Edo, kamu sudah buta kah. Sudah jelas Lea dan Raihan itu berselingkuh. Tapi, kamu masih saja mendengarkan perkataan mereka. Wah, kamu sungguh CEO yang bodoh"


Edo tidak mendengarkan, dia malah pergi begitu saja dari ruangan rawat Diva.


Entah siapa yang akan dia dengar, sungguh semuanya terasa semakin rumit. Edo merasa otak dan tubuhnya mulai tidak berfungsi. Bahkan kehebatannya hilang begitu saja ketika merasakan kehilangan Lea.


Setelah memastikan Edo sudah pergi, pria yang di sebut adik sepupu oleh Diva langsung menciumi bibir wanita itu.


Cup.


"Aku sudah sangat merindukannya"


"Aku juga"


Diva membalas kecupan pria itu tak kalah panasnya. Mereka berciuman seolah seperti sepasang suami istri.


"Aduh sayang, kenapa kamu harus masuk rumah sakit sih, aku kan kangen pengen nindih kamu, jepitan rahim kamu."


"Maaf sayang, tapi ini semua karena bayi kamu ini. Aku mengalami pendarahan, makanya di larikan ke rumah sakit" jawab Diva manja.


"Ya ampun, sayang. Kamu jangan bandel, jangan susahin mama kamu yah" ucap pria itu sambil mengusap perut Diva, membuat wanita itu tertawa geli.


Edo tiba di rumah, dia di sambut oleh Eva yang duduk seperti batu es di sofa. Tatapan dingin mami nya membuat Edo merasa ada sesuatu yang telah terjadi.


"Mami, kenapa menatap Edo seperti itu?" tanya Edo gugup.


Eva tidak menjawab, dia mengambil Mao coklat dari atas meja, kemudian melemparnya pada Edo.


"Baca dan tandatangani!" seru Eva ketus.


Edo terkejut, dia segera membuka dan melihat isi dari map itu.


Duarr duar...


Bak di sambar petir, Edo terkejut melihat isi dari map itu.


Surat pengajuan perceraian, bertanda tangan Lea.


"Gak mi, ini gak bisa terjadi. Edo gak akan menceraikan Lea!"


Eva menatap putranya, apa yang putranya inginkan. Dia selingkuh, dia menyakiti Lea. Tapi tidak mau menceraikannya??

__ADS_1


"Kamu gila!!"


__ADS_2