
Keesokan harinya, Lea pergi ke kantor. Dia membuat surat pengunduran diri. Dia tidak bisa tetap bekerja di sana lagi. Sudah cukup sampai di sini, dia tidak akan membuat hidupnya semakin menderita lagi.
Saat memasuki ruangannya, Tia, Endang dan Neti langsung memberikan selamat pada Lea, atas keberhasilan putranya menjadi siswa teladan dan mendapat nilai sempurna.
"Selamat yah Lea, putra kamu jago banget"
"Ini, berikan pada Ken yah. Hadiah kecil dari aunty nya" ujar Neti
"Makasih aunty" balas Lea membuat suara seperti anak kecil.
"Eh dengar dengar, hari ini banyak karyawan yang di berhentikan Lo" ujar Tia.
"Benarkah?" tanya yang lain. Tia mengangguk cepat. Informasi ini dia dapat dari bagian informasi yang entah sejak kapan menjadi temannya.
Semua teman satu tim nya langsung mendekat, membentuk lingkaran untuk mendengar gosip dari Tia.
Lea hanya diam saja, dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Teman temannya belum tahu jika semua itu terjadi karena dirinya dan putranya.
Anton masuk ke dalam ruangan, muka nya di tekuk seperti orang sedang marah.
Neti menghampiri Anton, menarik pria itu untuk bergabung dengan mereka. Biasanya Anton paling suka seperti ini.
"Ada apa?" tanya Anton. Matanya lurus menatap pada Lea, ada raut kecewa di wajahnya.
"Apa soal pegawai yang di pecat itu?" tanya Anton. Teman temannya terkejut, bagaimana Anton bisa tahu, padahal Anton kemarin sama seperti Lea, dia tidak masuk kerja kemarin.
"Kok kamu tahu?" tanya Endang.
"Bahkan Lea juga tahu penyebabnya, kenapa tidak di tanyain"
Lea terkejut mendengar ucapan Anton. ia merasa sikap Anton sedikit berubah.
"Kenapa harus Lea, dia kan tidak masuk kemarin" sahut pegawai lain.
"Tapi, dia tahu alasannya!" tegas Anton. Matanya masih menatap Lea kecewa, sedih, semua terlihat bercampur aduk di sorot mata Anton.
"Lea, apa alasannya? terus kenapa kamu tahu semua ini?" tanya Neti.
Lea sedikit gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa. Anton menjebaknya dan membuat posisinya menjadi tersudutkan.
"Lea jawab, kami penasaran!"
"Aku... Hmm..." Lea gelisah, dia menunduk dan mengatakan semuanya.
"Dia mantan suami ku!"
"Huh??"
Semua orang tercengang, mereka tidak menyangka Lea adalah mantan ibu boss mereka.
"Karena permasalahan kemarin, Edo memecat semuanya. Dan aku juga akan mengundurkan diri!"
"Lea!" Tia mendekati Lea, memegang bahu wanita itu agar mereka berdiri saling berhadapan.
__ADS_1
"Kenapa harus berhenti Lea? bukan kah semua itu masa lalu. Kenapa harus di ingat lagi. Kamu mau meninggalkan kami? please jangan gegabah Lea"
"Tidak bisa Tia, aku tidak bisa tetap di sini. Aku tidak bisa terus terusan bertemu dengan pria itu. Aku tidak akan nyaman"
"Tapi Lea.."
Lea menggeleng pelan, dia mendekati Anton, memegang pundak sahabat nya.
"Maaf, aku membuat kalian kecewa, aku bukan bermaksud menyembunyikan dari kalian semua. Tapi aku bersumpah, kalau aku baru tahu dia boss kita sejak meeting di cafe beberapa bulan lalu" ucap Lea berusaha untuk menjelaskan.
"Tapi, aku tidak bisa terus berada di sini. Aku harap kalian semua bisa mengerti apa yang aku rasakan!" lirih Lea sedih.
"Lea...." Tia tidak tahan lagi, dia merasa sangat sedih pada Lea. Di rengkuh nya tubuh Lea, kemudian di ikuti oleh yang lain nya.
Hanya Anton yang tidak memeluk Lea, dia masih kecewa bukan membenci.
"Sudah lah, jangan bersedih. Aku ingin mengantar surat pengunduran diri ku pada direktur"
"Bisakah kamu tetap tinggal"
"Tidak bisa, aku harus pergi!"tolak Lea tersenyum getir, satu tetes air mata mengalir deras saat dia mengedipkan kelopak matanya.
Semua orang merasa sedih, melihat Lea mengemasi semua barang barang nya.
"Aku akan ke ruangan di retur dulu"
Semua orang melepas kepergian Lea, mereka benar benar tidak rela melepas kepergian Lea. Pemimpin tim mereka yang paling bijak.
Lea tiba di lantai 26, dia baru saja keluar dari lift.
bug.
"Lea!!"pekik wanita resepsionis, dia langsung berlari mendekati Lea dan membantunya berdiri.
"Kamu apa apaan sih, mendorong Lea seperti itu!" hardik wanita resepsionis menatap Nia sinis.
"Kamu berani membentak ku huh, apa kamu lupa siapa aku?" balas Nia tak kalah kerasnya.
"Aku tahu, kamu hanya wanita bodoh yang mengejar pria yang tidak mencintai mu!"
"Kamu!!" Nia hendak memukul wanita resepsionis itu, tapi Lea lebih dulu menahannya. Lalu, Lea mendorong Nia Hingga dia terjatuh ke lantai.
"Aku diam bukan berarti kamu bisa menindas aku yah. Kamu bukan siapa siapa di sini!"
Nia tidak mau kalah, dia bangkit dan berdiri di hadapan Lea.
"Kamu berani sama aku? aku sebentar lagi akan menjadi nyonya dan ibu bos di perusahaan ini.!"
"Benarkah? apa kamu ingin melihat sesuatu?" tantang Lea tersenyum miring. Dia melihat Edo baru saja keluar dari lorong ruangannya.
Dengan gerakan cepat, Lea mendekat pada Edo , dan memeluknya.
Edo terdiam, dia terkejut mendapat pelukan tiba tiba dari Lea. Dia sempat tersenyum, merasa bahagia tiada kira.
__ADS_1
"Edo!!!!"
Lea melepas pelukannya dari Edo, menatap Nia dengan senyum mengejek.
"Meskipun bercerai selama 12 tahun, kamu tidak akan bisa menggantikan posisi aku!"
"Kamu!!..." Nia hendak menyerang Lea lagi. Namun security yang wanita resepsionis panggil datang tepat waktu. Mereka membawa Nia keluar dari ruangannya.
Seperti yang telah Edo perintahkan, dia tidak akan mengijinkan Nia masuk ke perusahaan ini.
Tapi, entah seperti apa Nia tetap bisa masuk ke dalam kantor nya.
Edo masih senyum senyum di depan Lea. Dia berpikir jika Lea sudah memaafkan nya.
Saat ini, mereka sudah berada di ruangan Edo.
"Ini, surat pengunduran diri ku!"
Edo terkejut, dia membuka amplop putih yang berisi surat pengunduran diri Lea.
"Ini kenapa, kamu bukannya sudah memaafkan aku? tapi kenapa kamu malah keluar dari kantor?" heran Edo.
"Tidak ada yang mengatakan aku memaafkan kamu. Sikap ku tadi, hanya ingin memberi wanita itu pelajaran!"
Edo terdiam, memikirkan bagaimana cara agar Lea memaafkan dan menerimanya lagi.
"Sudah selesai, aku akan pergi sekarang!"
Lea hendak beranjak pergi, sebelum Edo menarik dan memeluknya.
"Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan Edo!" Lea memukul mukul tangan Edo, berusaha agar Edo melepaskan dirinya.
"Maafkan aku Lea, tolong maafkan aku. Selama ini aku sudah sangat menderita hidup tanpa kamu. Aku mohon maafin aku!"
Edo melepaskan Lea, kemudian dia berlutut di hadapan Lea. Meminta maaf atas segala kesalahannya.
Lea terkejut, namun dia berusaha untuk tidak peduli.
"Sudah terlambat, aku tidak bisa menerima kamu lagi!"
"Tidak! aku tidak bisa Lea."
Edo memeluk Lea lagi, tapi kali ini dia tidak hanya memeluknya. Edo mengangkat tubuh Lea, lalu membaringkan di sofa yang ada di ruangan kerjanya.
Dengan sigap, Edo langsung menindih tubuh Lea sebelum wanita itu berhasil melarikan diri.
"Edo, apa yang kamu lakukan!"
"Lepas Edo! hmm... Lemmm..."
Lea berusaha untuk menghindari serangan Edo, dia berusaha untuk mencium Lea, mencumbu Lea secara paksa.
Hal yang tidak di inginkan pun terjadi, sebelumnya ini terjadi 13 tahun lalu. Mereka melakukan pertama kali karena pengaruh obat perangsang.
__ADS_1
Tapi kali ini, mereka kembali melakukan dengan pengaruh emosi.