
Pagi yang indah, Lea terbangun karena suara kicauan burung yang entah sejak kapan terdengar hingga ke dalam kamar nya.
"Engg...."
Lea menggeliat, merenggangkan tubuhnya yang terasa sedikit kesusahan.
"Ada apa ini, mengapa susah sekali" gumam Lea. Dia merasa ada sesuatu yang menimpa perutnya dan itu terasa seperti menahan perutnya dan juga pergerakannya.
Perlahan, Lea mencoba mengintip dengan membuka sedikit matanya.
1
2
3
"Aaahhhh..."
Bruk!
Sekali tendangan, Edo langsung tergolek ke lantai.
"Awwss..." Ringis pria itu kesakitan.
Tendangan Lea benar benar sangat kuat, apalagi tendangan itu terjadi dengan tiba-tiba.
"Kamu ini apa apaan sih Lea. Kenapa kamu menendang ku huh?"
"Ma-maaf kak, aku tidak sengaja. Aku hanya terkejut dan refleks menendang" cicit Lea.
Wanita itu segera turun dari ranjang, lalu mendekati Edo dengan ekspresi bersalah.
"Maaf kak, aku tidak sengaja dan aku benar-benar terkejut"
Edo tidak menggubris, dia masih memasang wajah masam nya pada Lea. Benar benar tidak akan memaafkan wanita itu.
Tanpa memperdulikan permohonan maaf Lea, Edo malah melenggang masuk ke kamar mandi.
Lea tidak menyerah, dia mengikuti Edo hingga ke kamar mandi dan terus memanggil Edo.
"Kak..."
"Kak.."
Brak.
Pintu kamar mandi tertutup tepat di depan wajah Lea. Angin kuatnya terasa kuat menerpa kulit wajah Lea.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. Baru semalam berbaikan. Sekarang malah seperti ini lagi. Oh tuhan, bantu aku!!" Erang Lea putus asa.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Edo malah mengulum senyum. Dia berhasil mengerjai Lea. Si gadis cupu yang menggemaskan.
Oh astaga, apa ini? Edo tersenyum? Karena gadis seperti Lea?
Apakah ini benar benar Edo? Pria dingin pecinta wanita sexy?
Tidak tidak, Edo menggelengkan wajahnya. Berusaha menyadarkan dirinya agar kembali ke titik utama tujuannya berdamai dengan Lea.
Sekarang, dengan baiknya hubungan nya dengan Lea. Edo bisa bebas melakukan apapun.
Setelah selesai mandi, Edo masih memasang wajah masam nya. Menghampiri Lea yang sudah duduk manis di meja makan.
"Pagi kak, udah siap mandi? Mau sarapan ?" Sapa Lea dengan senyum manis. Tak lupa kaca mata tebal membuat dirinya terlihat semakin cupu.
"Hmm"
Lea tetap tersenyum, meskipun Edo masih cuek. Dia berusaha membuat pria itu kembali tersenyum padanya dan memaafkan kejadian semalam.
Seperti biasa Lea mengambilkan Edo makanan, lalu menyodorkannya. Melakukan ini setiap hari, membuat Lea terbiasa dan paham apa yang di suka dan tidak oleh Edo.
"Makan lah kak" seru Lea.
"Hm.."
Lagi dan lagi Edo menjawab dengan deheman. Membuat Lea menghembuskan nafas gusar.
"Kak... Maafkan aku, aku tidak sengaja. Tadi itu reflek., Aku tidak terbiasa tidur dengan laki laki. Apalagi tadi kakak memeluk ku. Aku kan terkejut. "
__ADS_1
"Aku.. Benar benar tidak sengaja" cicitnya.
Edo masih diam, namun di dalam hatinya dia ingin sekali tertawa terbahak bahak. Tidak bisa menahan rasa lucu ketika melihat ekspresi sedih Lea.
"Buahahahaha......."
Akhirnya Edo tertawa juga, membuat Lea terdiam dan menatap bingung padanya.
"Ahaha... Aduh, perut ku" Edo memegangi perutnya.
"Kakak mengerjai ku?"
"Maafkan aku Lea, aku hanya memberi mu pelajaran. Tapi, wajah mu sangat lucu. Aku tidak bisa menahan tawa ku" ujar Edo berusaha mengendalikan dirinya. Namun, rasa geli di perutnya masih terus membuatnya tertaw terbahak bahak.
"Dasar!" Sungut Lea mengerucutkan bibirnya kesal.
Bagaimana tidak, wanita itu hampir setengah mati merasa khawatir dengan kemarahan suaminya itu. Ternyata semua ini hanya candaan suaminya saja.
Keterlaluan, Lea merasa sangat kesal. Sekarang giliran dirinya yang marah.
Setelah berhasil mengendalikan tawanya, Edo segera menghabiskan makanan kesukaannya. Lalu, pamit pergi ke kantor pada Istri sekaligus teman nya.
"Aku berangkat ke kantor dulu yah. Lakukan apa pun yang kamu mau, uang di rekening mu akan selalu aku pantau. Jadi jangan khaway jika kehabisan"
Cup.
"Bye"
Edo mengecup kening Lea sebelum berangkat, kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan Lea yang mematung akibat dari kecupan singkat itu.
"Di... Dia menciumku?" Gumamnya tidak percaya.
Lea mengusap keningnya, merasakan kecupan hangat yang masih terasa basah di keningnya.
Apa dia tidak sadar? Atau dia sengaja melakukan nya?
Lea hampir gila, tidak percaya dengan semua yang dia alami hari ini.
Pertama bangun tidur dia mendekati tubuhnya di peluk Edo. Sekarang dia mendapatkan kecupan pamit dari Edo.
Lea mencak mencak kegirangan!
"Apa ini nyata??"
Plak!
Dengan sekuat tenaga Lea menampar pipinya, dan terasa sangat sakit. Menandakan ini adalah nyata.
"Ini nyata!!!!" Erangnya kembali berteriak.
Melihat reaksi Lea saat ini, kalian pasti mengira Lea menyukai Edo bukan?
Namun, sayang sekali. Pernyataan kalian sangat benar. Lea memang menyukai Edo sejak lama. Cinta nya terpendam sejak mereka remaja.
Namun, karena merasa tidak pantas dan juga karena sesuatu hal. Lea memilih untuk memendam rasa di hatinya.
setiba nya di kantor. Edo sama seperti Lea. Senyum tidak karuan, mengingat seperti apa kejadian tadi pagi.
Edo akui, bokongnya masih terasa sakit karena hantaman yang tiba-tiba dan juga kuat oleh Lea.
Namun, apa yang dia peroleh hari ini membuat hatinya terasa lain.
"Boss, seperti nya hati anda sedang baik. apakah ada kabar baik?" tanya Diva dengan nada suara di buat buat sexy.
"Tidak ada" raut wajah Edo langsung berubah.
Edo pergi meninggalkan Diva sendiri, masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Aiss... Ini benar benar sudah kelewatan. Edo sudah tidak peduli dengan ku lagi. Dia berubah! aku harus mencari tahu, apa yang membuatnya berubah seperti ini!"
Diva berlalu pergi, menyusun rencana untuk mencari informasi tentang Edo.
Semakin dia berusaha mencari tahu, wanita itu semakin penasaran.
Tidak seperti biasanya, Edo akhir akhir ini lebih sering pulang lebih awal.
Bukan pergi ke mana mana, pria itu pulang ke apartemen nya.
__ADS_1
benar benar bukan Edo yang dulu. Pria yang tidak pernah betah di rumahnya sendiri. apalagi di apartemen nya.
"Sebenarnya ada apa dengan pria itu. Mengapa dia suka berada di rumah?" gumam Diva penasaran.
Diva bersembunyi di dalam mobil milik teman nya, agar Edo tidak tahu jika dia sedang mengikutinya.
Mobil Edo berjalan cepat, melaju menuju ke sebuah apartemen yang tidak pernah Diva ketahui.
selama menjadi teman ranjang Edo. Diva belum pernah di bawa ke rumah ataupun ke apartemen Edo.
Mereka hanya bermain di hotel atau di kantor saja.
Tidak tanggung-tanggung, Diva terus mengikuti Edo masuk ke dalam gedung itu. mengikuti nya dengan naik tangga dan berjalan cepat menaiki setiap anak tangga agar setara dengan lanjut lift.
Hingga di tanyain 23, Diva melihat Edo keluar dari dalam lift.
dengan nafas tersengal, Dia mengikuti Edo yang mulai membuka kode apartemen nya.
Hub.
Diva segera bersembunyi saat Edo tiba-tiba menoleh ke belakang.
"Huh, apa dia mulai merasakan kehadiran ku?" batin Diva deg deg kan.
Bisa mati dia jika Edo tahu ia buntuti.
Fyu..
Beruntung nya, Edo tidak melihatnya. Diva patut mensyukuri nya.
Dia kembali mengintip dari balik tembok pelindung nya dari pandangan Edo.
Dengan mata kepalanya sendiri, Diva melihat seorang gadis menyambut Edo. Tangan gadis itu terlihat jelas merangkul lengan Edo.
"Sialan, siapa gadis itu" geram Diva marah.
Meskipun dia tidak melihat dengan jelas siapa gadis itu. Tetap saja Diva merasa marah. posisi nya telah di gantikan oleh wanita lain.
Ini tidak bisa dibiarkan, Diva berpikir harus melakukan sesuatu.
"huh!"
Diva pergi dari sana, Edo juga sudah masuk ke dalam apartemen dan menutup pintu. Entah apa yang terjadi di dalam sana, dia tidak tahu.
"Awas saja, Aku tidak akan mengampuni nya. Dia tidak boleh menggantikan aku!!"
Di dalam apartemen, Lea terlihat manja pada Edo. Dia merangkul Edo dan menuntun pria itu duduk di sofa.
"Duduk kak" ujar Lea manja.
Awalnya Edo terkejut, lalu dia langsung mengerti melihat mami nya duduk santai sambil minum teh di ruang tamu.
"Mami ke sini lagi?" tanya Edo.
"memangnya kenapa? apa Mami tidak boleh datang ke sini? apa ada larangan!"
"Bukan begitu mami" Edo menggaruk lehernya tidak gatal. Menghadapi mami nya sangat susah.
"Ah Mami, tadi Lea sudah masak makanan kesukaan mami dan kak Edo. Ayo kita makan. Kak Edo biasanya pulang kerja juga langsung makan. pasti kak Edo sekarang lapar"
"iya kan kak?" seru Lea menyikut Edo, agar pria itu menjawab ucapannya.
"Eh iya mi, aku sangat lapar" ujar Edo tercengir. Demi keselamatan hidupnya, lebih baik dia mengikuti apa yang Lea perankan.
"Baiklah, mami juga belum makan. ayo kita makan" Balas Eva.
Lea tersenyum, dia langsung menggandeng tangan Edo, dan menuntun mereka semua ke ruang makan.
Seperti biasa, Lea menyajikan untuk Edo. kemudian untuk Mami mertuanya.
"Ayo di makan" serunya ceria.
entah mengapa, Edo melihat Lea terlalu bersemangat. Apa dia menyukai peran ini. Atau, dia sedang membuat maminya bahagia.
Entah lah, Edo hanya akan berterimakasih pada wanita ini telah membuatnya mudah menghadapi maminya.
"Makasih Lea" batin Edo menatap Lea dengan senyum tulus.
__ADS_1