
Meeting pun selesai, Edo bisa bernafas lega sekarang. Anak cabang perusahaan nya di kota ini berangsur membaik setelah beberapa bulan belakangan ini mengalami penurunan.
"Di mana Rendy?" tanya Edo dengan ekspresi dinginnya pada wanita cantik yang menjadi sekretaris nya ketika ia berada di perusahaan ini.
"Maaf boss, aku tidak melihat Rendy setelah pergi meeting bersama boss tadi"
Huh
Edo tidak menunggu wanita cantik itu sampai selesai menjelaskan pada nya, dia sudah pergi duluan.
"Cih, dasar boss dingin tak punya hati" dengus nya kesal.
Edo keluar dari kantor, dia merasa sedikit jenuh terus terusan bekerja.
Karena dirinya sudah berada di kota yang terkenal dengan keindahan alamnya. Maka, Edo akan memanfaatkan kesempatan untuk menikmati alam.
Edo pergi ke sebuah pantai yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Dia memarkirkan mobil, lalu berjalan kaki menyusuri bibir pantai.
Penampilan yang tampan dan berkarisma, membuat banyak para wanita memperhatikan nya.
Bahkan ada juga yang dengan berani menghampiri Edo dan meminta nomor ponselnya.
"Hai kakak tampan, boleh kenalan gak?" sapa cewe cantik dengan ekspresi malu malu kucing.
Dari sudut sana, teman temannya menggigit jari menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Mereka menebak, teman nya akan segera di boyong ke kamar hotel, atau di serang saat itu juga.
Namun, apa yang hendak di kata. Mereka melongo melihat kekecewaan di mata sahabat nya.
"Maaf yah,saya tidak suka berkenalan dengan wanita yang jauh lebih muda" tolak Edo secara halus.
"Tapi, aku bisa tampil dewasa. Bahkan aku bisa bergoyang jauh lebih hebat dari wanita yang lebih dewasa" balas Gadis itu sambil menggoyangkan tubuh sintal nya yang hanya di baluti oleh bikini sexy nya.
Edo tersenyum tipis, dia juga berdecih melihat tingkah lucu gadis itu.
__ADS_1
Dari segi body, gadis ini okelah. Montok dan berisi, tapi sayangnya Edo tidak tertarik.Tubuh sintal Lea ketika mereka bercumbu di hotel 13, tahun yang lalu jauh lebih indah.
"Sorry, saya tidak tertarik" Edo pergi begitu saja, melewati gadis sexy yang pria mana pun tidak akan menolaknya.
"Kau akan menyesal!" teriak gadis itu, menatap punggung Edo yang semakin menjauh.
"Huh, andai saja ada Rendy. Kamu pasti akan mendapatkan kepuasan dari Rendi" kekeh Edo mengingat asisten nakal nya itu.
"Awas saja kalau ketemu nanti, kau akan aku tampar" omel Edo menahan kesal pada Rendy.
Edo terus menyusuri tepi pantai, terlihat tapak sepatunya di baluti oleh pasir basa. Sesekali sepatunya juga terkena jilatan air laut.
Cukup lama Edo berjalan seorang diri, menikmati semilir angin di tepi pantai. Tanpa sengaja dia melihat seorang anak kecil yang tidak asing di matanya.
"Bukan kah itu Kendra?" gumam Edo ragu. Dia melangkah lebih cepat menghampiri anak kecil itu.
Benar saja, anak laki laki itu adalah Kendra. Anak laki-laki yang ketampanannya hampir menyerupai dirinya.
"Ternyata aku benar, ini kamu!"
"Om ngapain kesini?"
"Kenapa? apa aku tidak boleh kesini?"
Kendra menggeleng, bukan itu yang dia maksud.
"Maksud ku, om kok bisa ada di sini?" ulang Ken memperbaiki pertanyaan nya.
Edo tidak menjawab, di malah menatap jauh ke tengah laut. Penasaran dengan pulau yang hampir tak terlihat di sebrang sana.
Melihat Edo tidak menjawab, Ken pun memilih untuk diam. Dia kembali menatap ke tengah laut.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? apa kamu ada Maslaah?" tanya Edo.
Ken menggeleng,di tidak pernah ada masalah jika mami nya masih ada di dekat nya.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kamu termenung di sini?"
Ken tidak menjawab, hanya helaan nafas berat yang terdengar dari anak remaja itu.
Cukup lama Ken terdiam, dan dia akhirnya berbicara tanpa menoleh pada Edo.
"Aku hanya penasaran bagaimana rasanya di peluk oleh seorang ayah"
Deg.
Edo sangat terkejut, "A.. Pa kau tidak memiliki ayah?"
"Tidak, sejak kecil aku tidak tahu bagaimana rupanya dan siapa dia. "
"Kenapa kau tidak menanyakan pada mami mu?"
Ken menggeleng pelan, dia tersenyum getir dan menoleh pada Edo.
"Aku lebih baik menanggung perasaan seperti ini, di bandingkan membuat mami ku sedih. Aku tahu, jika aku membahas ini, maka itu akan membuat mami ku sedih"
Sumpah demi apapun, hati Edo terasa sangat tersayat. Mendengar kata kata memilukan dari seorang anak berumur 12 tahun.
Edo tidak berpikir panjang, dia langsung memeluk tubuh Ken.
"Jika kau ingin merasakan pelukan seorang ayah, maka peluk lah aku" ucap Edo begitu saja, ucapannya benar benar tidak terkonsep.
"Boleh kah?"
"Tentu!" sahut Edo.
Barulah Ken membalas pelukan Edo, dia merasa senang dan merasa hatinya menghangat.
Ken tidak mengerti, dia merasa seperti melepas rindu dengan ayah nya.
"Kenapa aku merasa sangat dekat dengan om ini. Padahal kami tidak saling kenal" batin Ken.
__ADS_1