Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 13


__ADS_3

"Sebentar lagi kak Edo akan pulang. Aku harus segera masak."


Gumam Lea penuh semangat, dia segera keluar dari kamar menuju ke dapur.


Sore ini Lea akan membuat semur ayam kampung ke sukaan Edo, dan kentang balado.


"Kak Edo pasti suka"


Dengan hati yang sangat bahagia, Lea menyelesaikan semua pekerjaan nya.


Setelah selesai, dia langsung membersihkan diri dan duduk di sofa menunggu Edo pulang sambil menonton tv.


Pukul 7 malam.


Lea mulai gelisah, Edo masih belum pulang juga.


Siang tadi, Edo menghubungi Lea. Pria itu mengatakan bahwa dia akan pulang lebih awal.


"Kenapa kak Leo lama sekali, bukan kah tadi dia bilang akan pulang lebih awal?"


Mondar mandir, Lea tidak bisa duduk tenang. Dia sangat khawatir, dia sangat sangat khawatir pada Edo.


Sementara itu, di kantor nya. Edo masih asik dengan laptop nya.


Setelah meminum jus yang di buatkan oleh Diva. Edo merasa tubuhnya semakin lama semakin gerah.


"Apa ini, kenapa AC nya semakin tidak terasa?" gumam Edo menaikan suhu AC.


Namun, tubuh nya seakan semakin panas dan gelisah. Detak jantung nya semakin berdetak kencang.


"Sial!!!"


Edo menutup laptopnya dengan hempasan keras. Dia benar benar tidak bisa menahan gerah ini.


"Aku harus segera pulang, seperti nya tubuh ku sedikit bermasalah" pikirnya.


Setelah membereskan barang barangnya, Edo segera keluar dari ruangannya.


"Eh bos,anda sudah mau pulang?"


"Diva, tubuh ku sedang tidak sehat. Aku ingin segera pulang" balas Edo hendak berlalu.


Namun, Diva menahan nya. Dia dengan sengaja memeluk dan membelai tubuh Edo.

__ADS_1


"Ada apa tuan, kenapa anda terlihat begitu pucat?"


"Ahh..."


"Ada apa ini,mengapa aku begitu bergairah dengan Diva?" pikir Edo menahan desakan di bawah sana saat merasakan sentuhan lembut tangan Diva.


"Hentikan Diva, aku ingin pulang" sentak Edo masih mencoba sadar. Dia mendorong Diva menjauh darinya. Namun Wanita itu malah semakin menempel dan seolah olah ingin membantunya.


"Boss, ada apa.Ayo duduk dulu boss"


"Diva jangan mendekati aku"


"Kenapa boss" balas Diva mengulum senyum, tangan nya semakin membelai adik kecil Edo.


"Hentikan Diva?" teriak Edo tertahan, dia berusaha menahan diri nya.


"Sayang... Ada apa? apa ini enak? apa kamu takut adik kecil mu merindukan aku?" goda Diva.


Edo tidak sadar, jika Diva sudah mencampurkan obat ke minuman nya. Dia tahu jika Diva memang selalu menginginkan adik kecilnya ini.


"Boss, aku merindukan mu. Tubuh mu meriang, atau dia sedang menginginkan aku"


"Tidak Diva. Aku harus segera pulang"


Secepat kilat, Diva langsung menyambar bibir tebal Milik Edo. Berusaha membangkitkan nafsu Edo yang sejak tadi pria itu tahan.


Obat itu sudah sepenuhnya bereaksi. Edo juga tidak bisa menahan hasratnya.


Brak.


Edo menghempaskan Diva ke atas meja kerjanya.


"Baik lah Diva, aku akan memberikan apa yang kamu inginkan!" geram Edo mengangkat Diva masuk ke dalam ruangannya dan langsung menguncinya.


Brak.


Lagi dan lagi Diva merasakan tubuhnya terhempas.


Bukan nya merasa sakit, wanita itu malah tersenyum dan semakin menggoda Edo yang sudah di kuasai oleh kabut nafsu.


"Ahh...Ahh"


"Lebih.... Yea begitu"

__ADS_1


Edo terus memacu tubuhnya di atas tubuh Diva. Melampiaskan hasrat yang tenggelam selama sebulan ini.


Tepat pukul 9 malam, baru Edo merasa lega dan lelah. Dia ambruk di atas sofa besar miliknya. Di samping tubuh kekar Edo, ada tubuh polos Diva yang dengan leluasa memeluk Edo.


Sementara itu, di apartemen Lea masih menunggu kepulangan Edo. Dia berusaha menghubungi pria itu. Namun, tidak ada jawaban.


Tepat pukul 11 malam, Lea kembali mencoba menghubungi Edo. Kali ini panggilan nya terhubung dan Lea sangat bahagia.


"Hallo, kak. Kenapa belum pulang-?"


Ucapan Lea terhenti, saat dia mendengar suara ******* seorang wanita di sebrang sana.


"Hhh.. Maafkan aku, dia sedang tidur. Ada apa? nanti aku sampaikan" ucap wanita itu di sebrang sana. Dengan sengaja, Diva menggoyangkan tubuhnya yang menempel pada tubuh Edo, agar pria itu mengeluarkan suara.


"Ahh...Diva!"


Klik.


Panggilan itu langsung terputus, Lea tidak sanggup lagi mendengarnya.


"Ternyata ini yang membuat mu tidak pulang. Ini yang membuat mu tidak menempati janji"


Lea pergi ke meja makan, menatap makanan yang tadi sudah dia masak dengan sepenuh hati.


Makanan yang tadinya hangat, kini terasa sangat dingin. Sebisa mungkin, Lea berusaha memakan masakannya sendiri.


Meskipun dia berusaha, namun air matanya tetap tidak bisa di cegah untuk mengaliri pipi nya.


"Hiks... Kenapa aku menangis? mengapa air ini ada"


Cih.


Lea marah pada dirinya sendiri, marah karena dia menangisi Edo yang tidak menepati janji.


Oh bukan, apa karena dia bersama wanita lain?.


Gadis itu tidak bisa, dia tidak sanggup memakan makanan nya. Hatinya sakit, luka yang tidak berdarah itu terasa sangat dalam.


mengapa dia menangis,mengapa dia merasa sedih dengan apa yang Edo lakukan. Hubungan mereka tidak seperti itu, sehingga dia harus merasa sakit ini.


"Huh, aku tidak boleh seperti ini. Apapun yang kak Edo lakukan itu urusannya. Itu hak nya. Aku hanya teman yang terikat dengan ikatan pernikahan."


Lea berusaha menghibur hatinya sendiri. Menyelesaikan makan nya, lalu membereskan semuanya.

__ADS_1


Setelah semuanya beres, Lea pun langsung pergi ke kamar untuk beristirahat.


__ADS_2