Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 41


__ADS_3

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Kini usia kandungan Lea sudah sudah full 9 bulan.


Menurut prediksi dokter, sebentar lagi Lea akan melahirkan. Oleh karena itu, Lea harus mempersiapkan diri. Entah itu resiko akan melahirkan, atau mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu.


Lea mengusap perut besarnya, dengan senyum dan air mata haru. Wanita itu mengatakan beberapa kata syukur. Kata kata yang selama ini dapat menghibur dirinya sendiri.


"Sebentar lagi kita bertemu, Mami akan menjaga kamu dan kamu kelak juga akan menjaga mami. Kita berdua akan hidup bahagia. Yah, kita akan hidup bahagia!"


Tok tok tok...


Lea cepat cepat menghapus air matanya, seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa?"


"Ini bibi"


"Oh sebentar bi" sahut nya.


Lea sangat berhati hati saat turun dari atas ranjang, kemudian berjalan pelan menuju pintu. Perut besarnya membuat Lea sedikit kesusahan saat berjalan.


"Ada apa bi, udah jam segini kok belum tidur?"


"Itu nak, ada teman kamu yang mau bertemu"


" Benarkah?"


Lea tersenyum lebar,dia buru buru pergi ke depan untuk menemui temannya itu.


Siapa lagi kalau bukan.


"Raihan, kamu datang? aku sudah menunggu kamu sejak kemarin!"


Lea berhamburan masuk ke dalam pelukan Raihan, pria yang selalu ada di setiap kesulitannya. Lea juga merasa sangat berterimakasih, karena Raihan sudah menempati janjinya.


"Kamu sudah tidur yah?"


"Belum kok, aku baru saja selesai bersih bersih tadi"


"Benarkah?"


"Tentu saja, apa aku pernah berbohong?"


Lea memasang wajah cemberut nya. Dia terlihat sangat manja pada pria ini.


Bagi Lea, Raihan sudah sama seperti kakaknya sendiri. Meskipun dia tahu Raihan memiliki rasa kepadanya.


"Kak Raihan, kenapa datangnya malem? aku kan gak bisa ajak kakak keluar" rengek Lea manja.


"Tidak tahu kenapa, aku sampe di kota ini sore tadi. Ingin menunggu sampai besok, tapi aku sudah kelewat kangen dan yah,aku ada di sini"


"uuuu manis banget sihh...."


Bibi Lea datang membawa minuman, dia tersenyum melihat senyum manis terbit di wajah keponakan nya.


Hampir setiap hari, mereka menyaksikan Lea murung. Apalagi di saat dia duduk sendiri, raut wajah Lea pasti sedih.

__ADS_1


Berbeda ketika dia berada di hadapan mereka. Senyum bahagia dan tawa yang mungkin palsu selalu terlihat.


Lea memang wanita hebat, mampu menyembunyikan kesedihannya sendiri.


"Ini nak Raihan, minum lah"


"Terimakasih bi"


"Sama sama. Bibi tinggal ke dalem yah, mau mijitin paman, tadi sedang terbengkalai"


"Oh iya silahkan bi"


Kini tinggallah Lea dan Raihan berdua. Merasa sedikit sesak berada di dalam rumah. Lea mengajak Raihan minum di halaman depan rumah.


"Di luar lebih seger kak!"


"Tapi kamu sedang hamil, gak baik terkena angin malam" ucap Raihan mengingatkan.


"Aduh kak Rani, udah lama tapi masih aja kaya gini. Aku kuat Lo, masa karena angin aja sakit." balas Lea sok kuat, padahal fisiknya memang lemah semenjak hamil ini.


Mereka duduk di meja depan rumah, memandang langit yang di hiasi oleh bintang kejora.


"Langitnya indah yah"


"Iya seindah kamu" sahut Raihan.


Lea langsung terdiam, tatapan matanya langsung tertuju pada Raihan.Suasana mendadak menjadi canggung.


Lea tahu perasaan Raihan seperti apa kepadanya. Tapi, dia juga tidak bisa menerimanya. Lea tidak mau Raihan menjadi pelarian bagi hidupnya. Raihan pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya.


"Jangan merasa canggung, aku sudah terbiasa dengan penolakan mu. Aku kali ini datang untuk mengatakan sesuatu"


Wajah Lea semakin tegang, dia berpikir Raihan ingin menyatakan cinta lagi.


pletak!


Lea spontan memegangi kepalanya yang di jentik oleh Raihan secara tiba-tiba.


"Kamu pasti mikir aku masih mengejar mu?"


"Eh sembarangan, mana pernah aku mikir kaya gitu" ucap Lea menyangkal.


"Udah lah, gak usah bohong. Aku tahu kok"


"Ih apaan sih, kepedean!"


Setelah Lea mendengus pelan, mereka pun mendadak diam membisu.


Setiap kali membahas soal perasaan, selalu saja suasana mereka menjadi canggung.


Lea merasa tidak enak terus menerus menolak Raihan. Apalagi pria ini sudah sangat banyak membantunya.


Tapi, apa boleh buat. Dia tidak mau menyakiti Raihan. Hatinya masih tertutup dan trauma. Sulit rasanya bagi Lea untuk menerima orang baru.


"Lea, aku kesini sebenarnya ingin memberi mu ini"

__ADS_1


"Apa itu?"


Raihan memberikan sebuah undangan ke tangan Lea. Sontak wanita hamil tua itu terkejut bercampur bahagia.


"Serius?? kakak mau nikah??"


Raihan mengangguk lesu, meskipun dia sedikit ragu tapi dia harus terlihat bahagia di depan Lea.


Sudah bertahun tahun dia melarikan diri. Hingga dia menyukai Lea, Raihan akhirnya menerima perjodohan dengan wanita pilihan kakeknya.


Seperti yang Lea katakan, terkadang pilihan orang tua itu yang terbaik.


Meskipun dirinya termasuk rumah tangga yang gagal. Tapi, Lea dapat merasakan kebahagiaan bersama Edo. Yah, meskipun hanya sebentar.


"Aku mengikuti saran mu. Aku menerima Mery menjadi istri ku. "


"Wah bagus dong, aku tidak sabar melihat kalian menikah!" sahut Lea antusias. Dia sangat setuju bola Raihan bersama Mery.


Meskipun tidak terlalu akrab karena hanya beberapa kali bertemu. Lea tahu, bahwa Mery sangat mencintai Raihan.


Melihat Mery yang ketar ketir mengejar Raihan, membuat Lea merasa melihat dirinya di dalam diri Mery. Hanya saja, Lea tidak terlalu mengejar Edo. dia hanya menunggu dan menunggu. Sehingga semuanya hancur seperti ini.


Lea tidak menyalahkan Edo,di malah menyalahkan dirinya yang terlalu diam dan tidak bergerak sedikitpun untuk mengejar suaminya dulu.


Andai saja dia lebih agresif, mungkin Edo tidak akan memiliki banyak waktu bersama wanita itu. Mereka pasti sudah hidup bahagia menantikan kelahiran anak pertama mereka.


"Apa kamu senang Lea?"


"Tentu saja, apa yang membuat aku sedih melihat kakak ku menikah hm?"


"Apa benar benar tidak ada rasa?" Raihan masih melemparkan pertanyaan yang sama, dan kali ini untuk yang terakhir kalinya.


Lea menggenggam tangan Raihan, menatap jauh ke manik mata Raihan, sehingga tatapan itu merasuk ke dalam hatinya.


"Kak, aku sayang kamu. Aku juga cinta kamu. Tapi bukan sebagaimana seorang wanita terhadap prianya. Melainkan dari adik perempuan nya terhadap kakak laki-laki nya. Mery wanita yang baik, aku yakin dia pasti bisa membuat kakak jatuh hati padanya."


"Tapi Lea.."


"Sttt... Kak, tolong. Beri dia kesempatan. Beri dia waktu untuk merebut hati kakak. Please, jangan sampai kakak menyesal seperti aku. "


"Lea, aku sangat menyayangi mu. Aku akan mencintai mu sampai mati"


"Aku juga, kakak ku"


Mereka saling berpelukan, melepas rasa bahagia dan kecewa di masing may hati.


Setelah mengobrol panjang lebar, Raihan akhir nya pamit pulang pada Lea. Dia harus menemui Mery yang ternyata juga ikut datang ke pulau ini.


"Semoga bahagia kak"


"Kamu juga" balas Raihan kembali memeluk Lea sebelum dirinya benar benar pulang.


Lea menatap kepergian Raihan, senyum manis tidak luntur dari bibirnya.


Belum sampai satu tahun dia mengenal Raihan. Tapi, mereka sudah seakrab ini.

__ADS_1


Raihan sangat banyak membantunya, Lea tidak akan pernah melupakannya. Tapi, dia juga tidak bisa menerima cinta Raihan.


"Suatu hari, kakak akan merasakan cinta sejati bersama Mery. Gadis sabar yang terus memperjuangkan kakak"


__ADS_2