Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 48


__ADS_3

Ken memasuki rumah, dia terlihat sangat bersemangat. Sampai Lea dan juga Andey heran melihatnya.


"Tumben banget kamu happy gitu. Abis ngapain?" tanya Andey.


Ken tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Lalu duduk di samping maminya dan memeluknya erat.


Lea masih diam saja, memperhatikan tingkah aneh putranya.


"Mami, Ken bahagia.... Banget" ungkap Ken happy.


"Bahagia? emang selama ini kamu gak bahagia?"


"Bukan begitu mami, tapi kali ini beda"


Dahi Lea mengerut, apa yang terjadi dengan putranya kali ini.


"Emangnya apa yang membuat kamu bahagia?" tanya Andey penasaran.


Mina kembali dari dapur, memberikan cucunya segelas susu dingin.


"Kamu happy kenapa sayang?" ulang Lea sambil menangkap kedua pipi Ken.


Ken malah kebingungan, dia tidak tahu harus menjawab apa.


Jika dia jujur dan mengatakan bahwa dia memiliki seorang teman bernama Edo, pasti mami nya akan marah. Apalagi jika Ken mengatakan kalau Edo memberinya rasa hangat seorang ayah.


"Mami, tentu saja Ken sangat bahagia hari ini. Karena Ken mendapat nilai yang bagus" jelas Ken berbohong.


Oh tidak, dia tidak berbohong soal itu. Dia memang bahagia mendapatkan nilai bagus hari ini.


Hanya saja, Ken sedikit kurang tepat menyebutkan alasan mengapa dia sangat sangat bahagia.


"Yaudah deh, kamu mandi dulu deh. Baru setelah itu turun lagi, kita akan makan malam"


"Ok mami"


Setelah menghabiskan susu dinginnya, Ken pun bergegas pergi ke kamarnya.


Lalu, setelah selesai mandi. Ken langsung turun ke bawah dan pergi ke meja makan.


"Loh, mami mana?" tanya Ken. Dia tidak melihat maminya duduk di meja makan.


Mungkin di kamar nya. Ken hendak pergi ke kamarnya, tapi kakek menghentikan nya.


"Mami kamu mendadak ada urusan. Perusahaan nya menghubungi nya tadi"


"Lah, bukannya sudah malem yah. Kenapa harus kerja lagi? tidak bisa menunggu besok" ketus Ken kesal. Dia selalu saja merasa marah pada mami nya yang bekerja begitu keras.


"Sudah lah Ken, kamu makan saja. Mami mu pesan begitu. Soal kerja keras mami mu, itu demi kamu juga" ujar Mina memberi pengertian pada Ken.


Anak laki-laki itu tidak menjawab lagi, dia memakan semua makanannya tanpa bersuara. Lalu kemudian, Ken bergegas kembali ke kamar nya.


Blam!


Pintu tertutup rapat, Ken langsung mengunci dari dalam.

__ADS_1


Ken merasa sangat marah, tapi bukan pada maminya. Dia marah pada dirinya sendiri. Lebih besar lagi, dia marah pada pria yang tidak bertanggung jawab. Pria yang selama ini dia rindukan.


"Seandainya ada papi, mami pasti tidak akan bekerja terlalu keras seperti ini!"


"Mami pasti akan memiliki waktu lebih banyak bersama ku!"


"Kemana dia! kenapa dia tidak bersama mami!"


"Kenapa !"


"Kenapa!!!"


Brak!!


Bug.


Ken melempar semua barang barang yang ada di dekatnya, sebagai pelampiasan kemarahan nya.


Dia juga menyesali perasaan nya yang telah merindukan pria brengsek itu.


"Aku bersumpah, sampai mati tidak akan merindukan dia lagi!!"


Brak!


Bug!


Prank!


Ken kembali mengobrak Abrik kamarnya. Kamar yang semula terlihat seperti ruangan mewah, kini terlihat seperti kapal pecah.


Di tempat lain, Lea berlari secepat mungkin memasuki sebuah cafe.


Karena ini adalah bagian dari tanggung jawab nya, Lea merasa sangat bersalah.


Di dalam cafe, Lea celingak celinguk mencari atasannya.


"Itu dia!" Gumam Lea segera menghampiri atasannya.


"Boss!"


"Eh Lea, akhirnya kamu datang juga"


"Maaf boss, aku tadi terjebak macet. Makanya terlambat" jawab Lea menjelaskan, deru nafasnya juga masih terdengar sesak.


"Sudah duduk saja, kita akan membicarakan soal pemasaran itu!"


"Oh baiklah"


Lea pun duduk di depan boss nya, tak lama kemudian seseorang pun datang. Membuat Lea terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya saking terkejutnya dia.


"Apa meeting nya sudah di mulai?"


Deg.


Seakan bumi berhenti berputar, seakan jantung nya berhenti berdetak, sehingga darahnya tidak mengalir dengan benar.

__ADS_1


"Oh tidak tuan, kami baru saja sampai. Iya kan Lea"


Tak kunjung mendapat sahutan dari Lea, atasnya pun menoleh pada wanita itu.


"Lea."


"Eh iya boss, ada apa?"


"Kamu melamun?"


"Tidak boss, aku hanya merasa tidak enak badan saja. Apa aku beb pulang?"


Atasan Lea di buat bingung oleh nya, baru saja dia melihat kea baik baik saja. Kenapa saat ini lea tiba-tiba tidak enak badan.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya atasannya heran.


"Tidak tahu boss, hidup emang seperti itu boss, kadang sakit kadang sehat, tergantung tuhan menghendaki!" jawab Lea mengalihkan pandangan matanya.


"Apa boleh boss?" tanya Lea lagi. Dia berharap boss nya memberinya ini. untuk pulang. Dia tidak bisa terus terusan berada di sini.


"Aku lihat kamu baik baik saja, jika flue sedikit itu tidak akan membahayakan kamu. Sebaiknya ikuti meeting dulu!" ucap seseorang yang paling Lea hindari.


Atasan Lea tidak dapat berkutik, dia tidak bisa memberikan Lea ijin.


"Maaf Lea, kamu perancang dari pemasaran ini. Jadi, kamu yang harus mempresentasikan pada boss Edo."


"Tapi boss!"


"Sebentar saja Lea, setelah itu kamu boleh pulang" potong atasnya. Membuat Lea tidak bisa berkata kata lagi.


"Silahkan duduk boss" ujar atasan Lea pada Edo sopan.


Yah, orang itu adalah Edo Farezi. Pria yang sudah di hindari oleh kea selama 12 tahun belakangan ini.


Dia tidak menyangka mereka akan bertemu disini. Apalagi, ternyata dia adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja.


Tidak heran juga sih, kemarin Lea juga bertemu dengan Rendy. Seharusnya Lea sudah bisa menebak bahwa pria ini juga pasti ada di kota ini.


"Silahkan di mulai!" seru Edo dengan raut wajah datarnya.


Lea pun langsung mempresentasikan apa yang telah dia kerjakan. Tim nya sangat sempurna, mereka bekerja dengan baik dan membuat rancangan ini semakin bagus.


"Sekian presentasi nya, semoga bapak tertarik dan menerima rancangan ini" ucap Lea mengakhiri presentasi nya. Dia merasa risih dengan sikap Edo yang terus menatap dirinya. Bukan nya memperhatikan apa yang dia buat, pria itu malah memperhatikan Lea.


"Bagaimana boss?" tanya atasan penuh harap.


"Bagus"


What? Lea memakai Edo di dalam hati. Dia sudah berjuang mati Matian membuat perancangan ini, dan respon boss gilanya ini hanya satu kata. Yaitu Bagus!


Apa apaan dia ini, ingin rasanya Lea melempar gelas minum ini ke wajah Edo.


Namun, niat buruknya itu segera ia simpan. Dia tidak bisa melakukan semua itu, karena saat ini Lea adalah karyawan Edo. Dia harus bersikap profesional.


"Karena boss suka, itu artinya proyek ini akan menjadi milik deviasi kamu!"

__ADS_1


"Benarkah? wah terimakasih boss" ucap Lea menjabat tangan atasannya.


Ketika dia hendak Salim dengan Edo, cepat cepat dia menepisnya. Hampir dia lupa, siapa pria itu sebenarnya.


__ADS_2