Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 30


__ADS_3

Di ruangan kantor nya, Edo berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaan nya. Namun, perdebatan antara dia dan Lea semalam terus saja menghantuinya.


Lea dengan mudahnya meminta agar Edo menikahi Diva.


Ini tentu mustahil, Edo tidak menyukai Diva. Dia hanya menggunakan wanita itu sebagai pelampiasan nafsu, dia juga tidak pernah lupa memakai pengaman.


Tapi, mengapa Diva bisa hamil? apa karena dia mabuk, dan lupa memakai pengaman?.


Oh astaga, Edo tidak tahu harus melakukan apa. Dia mengacak acak rambutnya sendiri.


"Malam itu aku tidak mabuk, tapi di pengaruhi obat perangsang" Edo mencoba mengingat semuanya, yah dia tidak memakai pengaman.


"Arrgg...."


Kenapa semua ini bisa terjadi setelah dia sudah mulai membuka hati untuk Lea?


Di saat dia sudah memutuskan untuk bersama Lea selamanya.


Apa ini yang dinamakan karma? apa ini hukuman atas kejahatan yang selama ini dia lakukan?.


Edo semakin mengacak acak rambutnya, hingga suara getar dari ponsel nya menghentikan jari jari itu meremas rambutnya.


Edo melihat ponselnya, sebuah pesan masuk dari no yang tidak di kenal, Edo langsung membuka pesan itu.


Deg.


"Apa ini?" Emosi seketika memuncak di ubun ubun. Edo merasa sangat marah melihat pesan itu.


Brak!


Ceklek.


Diva terkejut, dia berdiri dengan mata terpejam di depan pintu.


Saat dia baru membuka pintu, sebuah ponsel melayang ke arahnya. Beruntung dia tidak terkena oleh benda pipi itu.


Meskipun hanya benda kecil, kalau di lempar sekuat tenaga seperti itu, pasti akan terasa sakit juga.


"Edo, kamu kenapa??"


Edo tidak menjawab, Diva tahu pria itu sedang marah. Dia tebak Edo sudah melihat foto yang dia kirim menggunakan nomer ponsel baru.


"Masuk perangkap"


Diva mendekati Edo, berusaha membuat Edo tenang.


"Ini minum dulu, kamu kenapa marah marah sih"


"Diam lah, pergi dan jangan ganggu aku"


"Tidak, aku tidak akan pergi, kamu yang seperti ini aku tidak akan meninggalkan kamu"


"Terserah!"


Edo meninggalkan Diva di meja kerjanya, sementara dia pergi ke balkon ruangan kerjanya. Menatap langit biru tanpa awan.


Langit cerah seakan berkhianat dengan Edo yang sedang di Landa kegalauan.

__ADS_1


"Kenapa Lea, kenapa kamu melakukan ini semua pada diriku? apa kesalahan ku?"


"Apa karena pria itu, kamu menyuruh aku untuk menikahi Diva?"


"Apa benar??"


Edo terus berperang dengan hatinya.


"Edo"


Diva memberanikan diri memeluk Edo dari belakang.


Semakin erat dan berani, diva tersenyum lebar Edo tidak mendorong dan mengusirnya.


"Sayang, kamu kenapa? apa kamu sedang memikirkan sesuatu? aku siap kok melayani kamu meskipun aku sedang hamil"


"Diam lah diva, aku sedang tidak mood" serga Edo dingin.


Diva pun menurut, dia akan diam. Edo tidak mengusirnya saja dia sudah sangat bersyukur. Ini sungguh di luar prediksi.


"Aku tahu, kamu memiliki perasaan padaku" batin Diva.


Setelah beberapa saat, edo pun melepas pelukan Diva. Berbalik menatap wajah wanita yang selama ini ia gunakan sebagai pelampiasan nafsu.


Edo akui, Diva sangat ahli. Meskipun tidak senikmat Lea. Namun, karena pengalaman yang luar biasa, Diva mampu membuat Edo bertahan menggunakan dirinya selama 3 tahun ini.


Kini, wanita ini sedang mengandung benih tanpa cinta darinya. Di samping itu Edo sudah menikah dan sedang bertengkar.


"Edo, aku sangat menginginkan kamu" ucap Diva tulus.


"Karena kamu"


"Kamu tahu kan, aku tidak suka memiliki bayi sejak awal."


Deg.


Diva tercekat, pernyataan Edo barusan membuat dirinya kehilangan kata-kata.


"Maaf Edo, aku juga sudah berusaha. Tapi mau bagaimana lagi kalau Tuhan sudah berkehendak"


Huff..


"Kamu tahu pasti, aku tidak akan menikahi mu!"


"Tidak masalah Edo, aku bisa memakluminya. Aku juga sadar diri, siapa yang akan mau menikahi wanita rendah seperti ku" Diva merendah, nada suaranya juga terdengar sedih.


Edo yang mendengarnya terkesan simpati.


"Bukan begitu maksud ku. Aku sudah menikah dan aku tidak akan membuat istri ku kecewa."


"Aku akan bertanggung jawab kepada bayi itu. Tapi aku masih ragu itu anak ku atau bukan. Aku akan melakukan test DNA setelah usia kehamilan mu 6 bulan "


Deg.


Seketika kepanikan melanda Diva. Apa yang harus dia lakukan, dia tidak boleh membuat Edo melakukan test DNA. Jika itu terjadi, tamat lah riwayatnya.


"Baiklah Edo, aku tidak masalah. Karena aku yakin ini anak mu. Aku hanya di gunakan oleh dirimu saja"

__ADS_1


Diva berusaha untuk terlihat biasa saja, tidak takut, seolah olah dia benar-benar mengandung anak Edo.


"Tapi, aku ingin kamu mengabulkan permintaan Ku"


"Apa itu?"


"Jadilah ayah yang baik untuk anak kita. Sampai test DNA di lakukan dan di pastikan siapa ayah biologis anak ku ini, meskipun aku yakin kamu ayah nya. Sampai saat itu tiba, kamu berada di sisi ku. Biarkan anak ku merasakan kehadiran mu"


Edo terdiam mendengar permintaan Diva. Hatinya terasa bimbang, namun beberapa detik kemudian dia menyetujui permintaan Diva.


"Baiklah, aku akan menjaga mu"


"Benarkah???" Diva tidak menyangka akan semudah itu. Dia melompat kegirangan.


"Makasih Edo, aku tahu kamu ayah yang baik"


"Baiklah, kalau begitu aku ingin tinggal bersama mu"


"Tidak" tolak Edo tegas.


"Kenapa Edo? aku hanya ingin lebih dekat dengan mu, kalau aku tinggal bersama mu, aku bisa kapan pun bayiku mau dekat dengan mu!"


"Kamu jangan ngelunjak, aku tidak akan membiarkan kamu tinggal bersama istri ku. Ingat, kamu itu hanya mengandung bayi tanpa cinta itu. Jangan berharap lebih! jaga batasan mu!" peringat Edo di akhir kalimatnya.


Setelah pembicaraan itu, Edo pun berlalu pergi. Meninggalkan Diva tersenyum menang menatap kepergian nya.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang. Aku atau istri cupu mu itu.


Diva mengusap perut datarnya. "Nak, bantu bunda yah.Kita akan mencapai kemenangan demi masa depan yang cerah untuk kamu."


Pukul 5 sore,Edo sudah pulang dari kantor. Tapi, dia tidak langsung pulang. Edo pergi ke bar untuk menenangkan diri.


Kekacauan ini sangat menyiksa otak dan hatinya.Lea, wanita itu tega teganya mengkhianati nya dengan pria lain.


Meskipun Edo tidak mencintai Lea, tetap saja wanita itu tidak boleh melakukan hal ini.


"Arrrggg... Lea!!!"


"Eh Edo, kamu di sini?"


Edo mengangkat kepalanya, menatap wanita yang sudah duduk di depannya tanpa ijin.


"Siapa kamu?" tanya Edo. Akibat sudah banyak minum, membuat pandangan mata Edo mengabur.


"Ibu dari anak mu"


Cih.


"Omong kosong!"


Edo terus minum, dia sudah mabuk berat tpi pria itu tidak peduli. Dia terus minum dan entah sudah berapa botol yang ia habiskan.


"Edo, kamu sudah mabuk ayo.Kita harus pergi dari sini"


Diva memapah Edo yang sempoyongan. Membawa pria itu pulang ke rumahnya.


"Malam ini, kamu milik ku sayang"

__ADS_1


__ADS_2