
Ken merasa sangat senang hari ini, setelah makan malam maminya juga membawanya bermain di mall.
Meskipun hanya 1 jam bermain di Timezone, Ken tetap merasa sangat puas.
"Ayo Ken, kita pulang. Besok kamu harus sekolah" Lea melihat jam tangan nya.
"Sudah pukul 9.30," gumam nya.
"Iya mami, ayo kita pulang" sahut Ken manja.
Mereka pun berjalan keluar dari mall, tangan Lea dan Ken tidak pernah lepas.
Lea menggenggam tangan putranya sangat erat, seakan akan ada yang ingin merebut putranya dari dirinya.
Kadang Ken merasa heran, sikap mami nya terasa aneh. Tapi, dia tidak terlalu mempertanyakan kepada mami nya. Toh dia juga suka dengan sikap posesif maminya kepada dirinya.
Sesampainya mereka di rumah, Lea menyuruh Ken membersihkan diri, lalu setelah itu tidur.
"Mandi yah sayang, sebelum tidur. Biar seger pas bangun"
"Iya mami"
Lea tersenyum menatap kepergian putranya, hingga tubuh itu tak terlihat lagi.
"Kamu juga nduk, mandi sebelum tidur. Tubuh kamu juga berkeringat tadi" ucap Mina memperingati keponakan nya.
"Iya bi, Lea mandi kok"
"Yasudah, bibi sama paman masuk kamar dulu yah. Capek juga habis main sama Ken tadi"
Lea mengangguk pelan, kemudian dia pun ikut masuk ke kamarnya.
Hari yang menyenangkan, Lea merasa mood putranya telah kembali. Kesedihan yang di alami putranya kemarin, telah ia bayar dengan kebahagiaan hari ini.
"Semoga kamu selalu bahagia sayang"
Di tempat lain, dengan waktu yang sama. Edo berkacak pinggang di hadapan seorang pria yang menunduk takut di depan nya.
"Kemana saja kamu Rendy?" tanya Edo menatap Rendy penuh intimidasi.
"Maaf boss, aku mendadak ada urusan!"jawab Rendy beralasan.
"Apa yang lebih penting dari aku Rendy? kamu mengabaikan aku, tugas yang aku berikan pada mu seminggu yang lalu, tidak kamu selesaikan!"
Edo terlihat benar benar marah. Bagaimana mungkin dia tidak marah, Rendy menghilang bagaikan di telan bumi, tidak muncul muncul setelah beberapa kali dia mencoba menghubungi nya.
"Aku tidak mau tahu Rendy, sekarang berikan aku laporan soal anak itu!"
Edo menatap intens Rendy, tidak memberikan cela sedikit pun bagi Rendy untuk kabur.
"Maaf boss, tapi..."
"Tapi apa? ngomong yang jelas, jangan seperti orang dungu Rendy!"
"Anu... boss.. Itu"
Brak!
Edo mencengkram kerah baju Rendy, lalu menghantamkan pria itu ke dinding.
"Cepat katakan, atau aku akan mematahkan leher mu!"
__ADS_1
Rendy mulai ketakutan, ancaman Edo tidak main main. Tidak ada cara lain, dia terpaksa mengatakan segalanya pada Edo.
Di dalam hati, Rendy mengucapkan berpuluh puluh kata maaf untuk Lea. Dia tidak bisa menjaga rahasia nya.
Rendi sudah berusaha menghindar selama seminggu ini, tapi Edo akhirnya menangkap dirinya.
"Katakan!"
"I-iya boss"
Edo melepaskan cengkeramannya, membiarkan Rendy duduk di sofa, dan menceritakan segalanya yang dia ketahui.
"Sebenarnya, Kendra adalah putra tunggal Lea. Tidak tahu pasti sudah menikah atau belum, tapi itu adalah fakta nya!"
Deg.
Edo merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Masih jelas betul ucapan mami nya yang mengatakan bahwa Lea telah menggugurkan kandungan nya.
Tapi, bagaimana bisa dia memiliki seorang anak?
Apa le sudah menikah lagi?
Tidak, jika dia menikah lagi. Tidak mungkin anaknya mirip dengan dirinya.
"Apa hanya itu?"
Rendy menganggu pelan, pertanda tidak ada lagi yang dia ketahui.
"Boss, Lea sekarang bukanlah Lea yang dulu. Dia berani mengancam ku agar tidak memberitahu mu!"
"Aku tahu"
"Apa kalian sudah pernah bertemu?"
"Yah, tentu saja. Setelah ku menghilang aku dan Lea bertemu di cafe. Ternyata dia perancang sistem pemasaran buku yang terbit tahun ini" jelas Edo dengan suara datarnya.
Edo masih syok, hatinya dirundung berbagai pertanyaan yang tidak ada jawabannya kecuali dari Lea.
"Oh iya, aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu boss"
"Apa?" sinis Edo.
Rendy tercengir, dia tahu boss nya masih marah kepada dirinya.
"Aku dengar kantor anak cabang di satukan dengan kantor pusat, apa itu atas perintah mu?"
Edo mengulum senyum, itu memang atas perintah mu. Bahkan itu adalah siasatnya agar dia bisa sering bertemu dengan Lea.
"Eh sebentar, jika Lea menjadi perancang sistem pemasaran, dan boss memindahkan kantor anak cabang ke pusat. Itu artinya kalian akan..."
"Dasar Lola, kenapa kamu harus menjadi asisten ku sih. bodoh!" Edo mendengus kesal, lalu meninggalkan Rendy sendiri di ruangan tamu apartemen nya.
Keesokan pagi nya.
"Ken! ayo cepat! mami bisa terlambat ni kalo kamu belum siap!!" teriak Lea dari bawah. Dia sibuk merapikan blouse lengan panjang yang dia pakai.
Hari ini mereka semua terlambat bangun, entah karena terlalu capek, makanya terlambat bangun. Atau memang mereka yang terlalu nyenyak tidur.
Ken menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, dia berjalan cepat kearah Mina.
"Nek, dasi nya belom" ujar Ken memberikan pada Mina.
__ADS_1
Wanita tua itu pun paham, ini sudah menjadi kebiasaan Ken meminta neneknya untuk memakaikan dasinya.
"Nah sudah, ayo sarapan "
"Iya"
Lea maupun Ken makan dengan lahap, tidak ada yang bicara, mereka fokus dengan makanan masing masing.
"Aku sudah mi, ayo"
"Mami juga" Sahut Lea meneguk habis susu putih yang telah di siapkan oleh Mina.
"Ayo!"
"Bi, Lea berangkat yah"
"Nek Ken sekolah dulu"
Mereka Salim pada Mina secara bergantian, kemudian berjalan cepat keluar rumah.
"Hati hati, jangan ngebut" teria Mina memperingati.
"Iya!!" Sahut Lea.
Ken masuk ke dalam mobil, dia memeriksa tas nya, apa semua nya sudah lengkap atau masih ada yang tertinggal.
Sedangkan Lea, dia sibuk memanaskan mobil.
"Apa sudah lengkap?" tanya Lea memastikan.
"Sudah mi"
"Ok, gas!!"
Lea langsung memacu mobilnya membelah jalan raya. Pergi mengantar Ken ke sekolahnya.
Setelah mengantar Ken, Lea langsung memacu mobil nya menuju ke kantor cabang. Mereka harus berkumpul di sana terlebih dulu sebelum mereka benar benar bergabung dengan kantor pusat.
Tepat pukul 08.00, Lea tiba di kantor cabang. Semua orang telah berkumpul membentuk barisan.
Bug
Lea melempar tas nya ke atas meja, dan berlari masuk ke dalam barisan agar tidak kena marah.
"Lea!"
Yah. kena lagi deh. Dengan pasrah Lea maju ke depan, berdiri di hadapan Reno.
"Kamu telat lagi?"
"maaf boss, aku kejebak macet" jawab Lea tercengir.
"Macet macet, kalo kamu berangkat jam 8 ,tentu kamu terjebak macet. Coba kamu berangkat lebih awal" omel Reno.
"Ya maaf boss!"
Anton, dan ketiga teman nya hanya menutup muka, malu dengan sikap Lea yang selalu telat datang.
Jika tidak terlambat, maka bukan Lea namanya. Beruntung kinerjanya sangat bagus, Reno tidak bisa memecatnya.
Jika tidak, tamat lah riwayat nya.Sudah sejak awal Lea di campakkan di pinggir jalan.
__ADS_1