Gadis Cupu CEO Tampan

Gadis Cupu CEO Tampan
Bab 44


__ADS_3

12 Tahun Kemudian


"Mami...."


Seorang anak laki-laki berusia 12 tahun berlari memasuki rumah nya sambil memanggil mami nya.


Kendra AnFar, yah dia adalah putra semata wayangnya Lea Antariana.


"Mami, lihat. Nilai ujian Ken bagus semua"


"Benarkah?" Lea mengambil beberapa kertas hasil ujian putranya. Matanya berbinar, sangat bangga dengan prestasi yang putranya raih.


Ken merupakan anak yang cerdas, selain itu dia juga tampan persis seperti ayahnya.


Ken telah tumbuh menjadi anak laki laki yang tampan. Menyayangi mami nya melebihi dirinya sendiri.


"Wah anak mami pinter banget, nilainya A+ semua"


"Iya dong, aku kan anak mami" sahut Ken bangga.


Lea langsung memeluk putranya, harta yang paling berharga yang dia miliki.


"Terimakasih sayang, kamu sudah menjadi anak yang baik"


"Untuk mami" Ken membalas pelukan hangat yang selalu memberikan rasa aman kepadanya.


"Eh ada apa ini, kok seru banget."


Lea tersenyum, melepaskan pelukan putranya.


"Liat bi, cucu bibi mendapatkan nilai sempurna"


"Benar kah?"


"Iya dong nek, lihat ni"


Kendra memberikan hasil ujiannya pada nenek nya.


"Wah, benar yah. Cucu nenek pinter banget"


"Ada apa ini"


"Kakek!!!"


Ken bersorak gembira, di berhamburan memeluk paman Lea.


"Lihat kek, nilai aku sempurna. Kakek harus kasih hadiah ni!"


"Sini kakek lihat, benarkah cucu tersayang Ki mendapatkan nilai sempurna??"


"Bener dong, Ken yang paling tampan tidak akan pernah bohong!"


Lea tertawa melihat tingkah lucu anak nya pada paman dan bibi nya.


Jauh di lubuk hati Lea, di merasa sangat bersyukur telah bertemu dengan bibinya 12 tahun yang lalu. Seandainya dia tidak bertemu dengan mereka. Mungkin Lea akan memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Kini semua nya telah berlalu, Lea sudah memulai hidup baru bersama keluarga nya.


Dia punya bibi dan paman, kemudian dia juga memiliki seorang penyemangat dan buah hatinya paling berharga.


Apakah Lea sudah melupakan Edo?


Jawaban nya tidak. Yah, tentu saja ibu satu anak ini tidak akan pernah bisa melupakan pria yang menjadi cinta pertama nya.


Pria yang sudah dia cintai sejak ia kecil. Namun, pria itu juga yang menyakiti hatinya dan juga hidupnya.


Kini, entah bagaimana kabar pria itu. Apakah dia sudah menikah dengan Diva, atau dia menikah dengan wanita lain, Lea tidak pernah peduli. Sedikit pun dia tidak pernah mencoba mencari tahu soal pria itu.

__ADS_1


Malam harinya, Lea masuk ke kamar putranya. Dia berniat ingin memanggil Ken untuk makan malam.


Akan tetapi, saat Lea masuk ke kamar putranya. Dia melihat Ken sedang duduk sambil menatap langit di balkon kamar.


"Tuhan, aku tahu nasib ku tidak seindah nasib teman teman ku. Tapi aku sangat merasa bahagia memiliki maki yang hebat seperti mami ku"


"Tapi... Akan lebih bersyukur lagi jika aku juga memiliki papi.


Tidak, aku tidak mengeluh kepadamu tuhan. Aku hanya ingin tahu saja bagaimana rasanya memiliki papi."


"Aku tahu, jika aku bertanya sama mami, mami pasti sedih. Entah apa permasalahan nya dengan papi aku tidak akan menyalahkan mereka. Aku hanya..."


Ken tidak melanjutkan kata katanya lagi, tangisnya sudah menguasai dirinya.


Lea yang mendengar semuanya ikut merasakan kesedihan yang saat ini putranya rasakan. Baru kali ini dia melihat Ken begitu sedih.


"Maafin mami Ken, mami tidak bisa menjadi mami yang baik untuk Ken" lirih Lea dalam hati.


"Eh mami"


Lea terkejut, dia langsung memalingkan wajah nya dan menghapus air matanya. Lea tidak mau Ken melihatnya menangis.


Setelah menghapus air matanya, Lea tersenyum manis dan melangkah mendekati putranya.


"Sayang, kamu di sini ternyata. Mami dari tadi nyariin kamu loh"


"Eh benarkah? maaf mami. Ken keasikan melihat bintang " jawab Ken berbohong. Dia juga sudah menghapus air matanya, meskipun Lea masih bisa melihat sisa air mata di sudut mata Ken.


"Ada apa mami mencari Ken?"


"Sekarang waktunya makan malam Ken, karena itulah mami mencari mu"


"Oh iya mi, ayo. Ken juga sudah makan" jawab Ken tersenyum.


Lea membalas senyum manis putranya. Meskipun ia tahu sebenarnya senyum itu palsu.


"Maafin mami yah Ken" lirih Lea dalam hati.


Mereka tiba di ruang makan, di sana sudah ada paman dan bibi Lea. Mina dan Adey.


"Hei jagoan, kenapa lama banget turun nya?"


"Sorry Kakek, tadi Ken keenakan liatin Bintang" jawab Ken berbohong.


Lea hanya tersenyum menanggapi pembicaraan putranya dan paman Adey. Dia mengambilkan makanan untuk putranya.


"Ini sayang makan lah yang banyak, biar cepat gede dan bisa mencapai cita-cita"


"Terimakasih mami"


"Sama sama sayang"


"Kamu juga makan Lea, jangan liatin doang" seru Mina, dia memberikan piring pada Lea.


"Iya bi,Lea makan kok" balas Lea. sebenarnya dia tidak lapar, melihat kesedihan Ken tadi, membuat Lea merasa tidak selera makan.


Namun, agar tidak membuat Ken sedih. Lea tetap mengambil nasi dan makan sedikit.


Mereka makan dengan lahap, Ken bercerita banyak hal kepada mami dan kakek neneknya. Mengenai teman temannya, guru nya, hal lucu yang dia alami. Semuanya deh,Ken selalu menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada keluarga nya. kecuali, soal kerinduannya terhadap kasih sayang seorang ayah yang tidak pernah dia rasakan.


Setelah makan, waktu menunjukkan pukul 7 malam.


Ken duduk di sofa depan tv, dia sedang menonton serial kartun kesukaan nya.


Adey melewati ruangan keluarga, dia berjalan tanpa melihat Ken yang sedang menonton tv.


"Kakek mau kemana?"

__ADS_1


Adey berhenti, menoleh pada Ken yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.


"Kakek mau keluar sebentar, mau beli sesuatu"


"Ken boleh ikut gak?"


"Kakek hanya sebentar Ken"


"Tapi Ken mau ikut, sudah lama sejak ujian di mulai Ken tidak diajak keluar." lirih Ken pura pura sedih.


Hati Adey pun tidak tega, dia akhirnya mengiyakan untuk membawa Ken pergi bersamanya.


"Baiklah, Ken boleh ikut. Tapi, pamit sama mami dulu yah"


"Oke kakek ku yang paling tampan. Tunggu sebentar yah, Ken pamit sama mami dulu"


"Iya, kakek tunggu di mobil" balas Adey.


Ken pun berlari cepat menaiki anak tangga menuju ke kamar maminya.


Ceklek.


"Mami"


Lea terkejut, dia sedang duduk di tepi ranjang nya sambil menangis. Mendengar panggilan Ken membuat dirinya langsung memalingkan wajah.


Sesaat Lea tidak mau menoleh pada putranya, hingga air matanya terhapus bersih. Barulah Lea menatap wajah imut sang putra.


"Kenapa? mami nangis? Ken ada buat salah yah?"


"Eh kok bilang gitu. Mami gak nangis sayang, mami hanya mengantuk aja. Seharian kerja membuat mami lelah"


"Benarkah?" Lea mengangguk, dia juga mengukir senyum di bibirnya agar putranya percaya.


"Oke baik lah, Ken percaya. Mami lain kali jangan terlalu di paksa yah kerja nya. "


"Iya sayang "


"Oh iya lupa, Ken ke sini mau pamit sama mami"


Dahi Lea mengerut. "Pamit kemana?"


"Ken mau ikut kakek keluar, dia mau beli sesuatu, terus Ken mau ikut karena bosen di rumah"


"Oh baik lah, kamu boleh ikut. Tapi, jangan nakal yah?"


"Siap mami!!"


Ken pun merasa sangat bahagia, dia memeluk maminya. Lalu kemudian, dia berlari girang keluar dari kamar Lea menuju ke halaman rumah.


"Sudah di beri ijin?"


"Sudah"


"Let's go!!!" sorak Ken dan Adey bersamaan. Sudah lama mereka tidak pergi berdua begini.


Lea merupakan ibu yang tegas, dia benar benar membatasi Ken ketika bocah itu akan ujian.


Selama seminggu ini, Ken tidak boleh pergi keluar untuk bermain, tidak boleh main hp dan tidak boleh menonton terlalu lama.


Bukan memaksa Ken untuk belajar terus menerus bukan. Tapi, Lea meminta putranya selama ujian ini. Ken istirahat yang cukup, Ken juga harus belajar Sesuai waktu nya.


Lea melakukan semua ini bukan agar putranya mendapatkan nilai bagus bukan. Mungkin bisa dibilang itu iya juga. namun bukan itu pokok utamanya.


Untuk mengerjakan ujian. memerlukan proses yang sedikit terpaksa. Energi yang di butuhkan oleh tubuh anak pasti sangat besar. Apalagi otak anak bekerja dengan tidak teraturnya menjawab pertanyaan.


Jadi, Lea harus memastikan putranya istirahat dengan cukup dan di selingi oleh pembelajaran.

__ADS_1


__ADS_2