
Lea melepaskan dekapan tangan Tia di mulutnya, merapikan penampilan nya yang sedikit berantakan karena di tarik paksa oleh Tia tadi.
Anton mendekat, memegang bahu Lea.
"Lea apa yang terjadi, kenapa kamu berdebat dengan boss besar?"
"Iya Lea, dia itu boss besar kita. Hari ini adalah hari pertama kita bekerja. Jangan sampai kita semua di pecat" sahut yang lain.
Lea menatap semua rekan kerja nya, dia baru sadar dengan apa yang telah dia lakukan. Hampir saja dia membuat semua orang mencurigainya.
"Mereka kan tidak tahu jika aku kenal dengan boss besar itu" batin Lea menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, tadi aku hanya terbawa emosi melihat boss besar mengintip kita" jawab Lea menjelaskan.
"Sudah tidak apa apa, kita kembali bekerja saja. Hari ini, adalah awal yang baik bai kita" seru Anton.
"Benar, mati bersemangat!" Sahut Tia dan di soraki oleh yang lain.
Lea tersenyum tipis, ketika Anton menepuk bahu nya untuk menyemangati dirinya.
Mereka pun kembali bekerja. Tak lama setelah perdebatan itu, mba Oba yang Lea temu tadi lun datang membawa kopi.
"Kopi datang"
Semua karyawan bersorak gembira, mereka yang sudah merasa lelah, menjadi lebih bertenaga setelah meminum kopi.
Mba ob tersenyum, di merasa lantai 25 adalah surga nya perusahaan ini. Terlihat jelas ada ikatan persaudaraan di masing masing pegawai.
"Terimakasih ya mba" ujar Lea.
mba ob pun mengangguk, dia cepat cepat pergi dari sana. Dia tidak mau di lihat oleh pegawai lain, bahwa dirinya sedang menangis.
"Astaga, mereka benar benar baik, menghargai setiap karyawan, baik bawahan ataupun atasan. Aku tidak menyangka masih ada sekelompok orang seperti mereka" ucap wanita ob itu sambil menghapus air matanya.
"Maksud kamu pegawai lantai 25?"
mba ob terkejut, di segera berbalik melihat siapa yang datang.
"Tuan Rendy?"
"Jangan panggil aku begitu, aku ini jauh lebih muda dari kamu mba, panggil aku Rendy saja" Portes Rendy.
"Tidak, aku tidak bisa melakukan hal itu jika berada di dalam kantor!" tolak mba ob yang dikenal dengan panggilan Lala.
Rendy menghembuskan nafas pasrah, dia tidak bisa memaksa wanita ini. Terserah saja lah, toh sama saja.
"Apa yang sedang mba bicarakan tadi? dan ini kenapa? ada air mata di pipi mba?"
Lala segera menghapus air matanya. Kemudian menggeleng kuat, "Aku hanya menangis haru"
"Menangis haru? wah." Rendy bertepuk tangan.
__ADS_1
"Apa yang telah membuat mba Lala terharu? apa mba Lala naik jabatan? dapat tunjangan?" ucap Rendy bergurau.
Mba Lala menatap nya geram, dia sedang serius tapi pria muda di depan nya ini malah bercanda.
Dengan kesal, mba Lala menarik kursi, memberi instruksi agar Rendy duduk. Sedangkan dirinya bersandar pada meja kompor.
"Tadi, ada seorang pegawai datang ke sini. Dia sangat cantik dan berwibawa. Dia datang meminta kopi untuk rekan rekan kerjanya."
"Lalu, apa yang membuat mba Lala terharu?", sela Rendy.
"Ais... Kau ini, dengarkan aku dulu. Jangan di sela begitu!"
"UPS.." gumam Rendy menutup mulutnya.
Lala pun tersenyum, dia kembali melanjutkan ceritanya.
"Dia sangat sopan, menghargai ku seperti menghargai teman kerjanya. Tidak seperti pegawai lain yang selalu berkata seenaknya pada ku"
Mba Lala menjedah ucapannya, menghapus air mata yang ingin mengalir dari sudut matanya.
Rendy sampai terkejut, wanita di depan nya ini benar-benar terharu. Apalagi melihat air mata yang keluar secara alami.
"Aku senang melihatnya, terus ketika aku mengantar kopi keruangan mereka. Aku merasa sangat di hargai oleh mereka semua, baru kali ini aku merasa adanya ikatan persaudaraan di dalam diri mereka semua!" sambung Lala.
Rendy mengerutkan keningnya, ruangan mana yang memiliki ikatan persaudaraan di kantor ini. setahu Rendy, semua orang di sini merasa bersaing semua.
"Mba Lala, mereka ada di lantai mana?"
Rendy terdiam, lantai 25 adalah lantai pegawai anak cabang yang di pindahkan ke kantor pusat ini. Di sana terdapat Lea yang menjadi pimpinan tim.
"Tidak heran mba Lala, di dalam tim itu, ada seorang bidadari yang selalu memancarkan aurah persahabatan" ujar Rendy tersenyum.
12 tahun yang lalu, Rendy masih ingat dengan kejadian di apartemen. Di mana seorang wanita ditindas karena ketidak mampuannya mencari uang. Suami dan ibu mertuanya memperlakukan nya dengan sangat buruk.
Saat mereka bertengkar di depan apartemen, Lea datang tanpa di panggil dan membela wanita itu tanpa di minta.
Mulai dari situ, Rendy merasa kagum dengan Lea dan merasa sangat sedih ketika tahu Edo dan Lea berpisah. Menurut Rendy, mereka adalah perpaduan malaikat yang berwujud dalam dua versi.
"Kamu tahu wanita itu?" tanya mba Lala menatap Rendy intens.
"Ya mba Lala, namanya Lea. dan semua rekan nya itu adalah pegawai kantor anak cabang yang di mutasi ke kantor pusat kota ini"
mba Lala terkejut, setahunya kantor anak cabang merupakan kantor yang terbilang tidak ada Maslaah, bahkan mereka menjadi penunjang kantor pusat yang sempat hampir kacau.
"Kenapa bisa di mutasi? apa ada Maslaah?"
Rendy menggeleng pelan, dia tidak bisa menceritakan pada mba Lala soal masala ini.
"Tidak ada Maslaah, hanya saja boss besar ingin menggabungkan mereka semua" jelas Rendy.
Sudah cukup lama Rendy mengobrol dengan mba Lala. Akhirnya dia pamit kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Mba Lala menatap kepergian Rendy, dia merasa beruntung bisa bertemu dan berhubungan baik dengan Rendy.
Hal ini juga menjadi permasalah bagi pegawai lantai 26. Mereka berpikir dirinya berusaha menggoda Rendi dan juga Edo.
Apalagi Edo yang merupakan boss besar, meminta Lala membuatkan kopi khusus untuk nya. Boss Edo juga memberikan tunjangan yang sangat besar untuk mba Lala.
"Hanya ob, tapi sok dekat dengan boss"
"Dasar tidak tahu malu"
"Dasar wanita penggoda!"
Beberapa kalimat yang sudah menjadi makanan sehari hari bagi telinga Lala, tapi dia terus merasa kuat dan bertahan. Jika Edo di perusahaan ini, maka dia akan di hargai. Jika tidak, maka Lala akan di hina dan di beri pekerjaan yang berat.
Wanita yang sudah berumur 38 tahun itu, merasa beruntung bertemu dengan Lea yang merupakan wanita sopan dan baik hati.
Jika Edo pergi nanti, Lala merasa ada yang akan menghargai nya. Yaitu Lea dan rekan kerja nya.
Waktu terus berlalu, kini tiba waktunya untuk pulang.
Lea sibuk membereskan peralatan kerjanya yang sempat berantakan, kemudian sebelum keluar dari ruangan, Lea memeriksa semua aliran listrik dan juga jendela ruangan, apakah sudah tertutup atau belum.
Di antara semua rekan kerjanya, Lea selalu saja pulang yang paling terakhir. Bukan ingin mencari muka atau memberikan kesan image yang bagus. Tapi, memang itu adalah kebiasaan Lea, dia harus menyelesaikan semua pekerjaan nya terlebih dahulu, baru setelah itu dia pulang.
"Loh, mba Lala belum pulang?"
lea terkejut, dia melihat mba Lala sedang mengepel.
"Eh mba Lea. Kok mba Lea belum pulang?" ucap Lala balik bertanya.
Lala meletakkan kain pel nya, lalu kemudian di menghampiri Lea.
"Mba Lala kebiasaan yah. Menjawab pertanyaan bedengan pertanyaan" gerutu Lea, membuat mba Lala terkekeh pelan.
"Kalo saya mah, emang harus pulang terakhir mba. Kan saya petugas kebersihan. Sebelum pulang, saya harus memastikan semuanya bersih"
"Wah, aku juga begitu mba. Aku harus memastikan semua nya aman. Baru deh aku pulang."
Mba Lala tersenyum, dia membenarkan apa yang Rendy katakan tadi siang.
Suasana kekeluargaan bersumber dari wanita istimewa ini.
"Ya sudah mba, aku duluan yah. Mau jemput anak soal nya"
"Eh" mba Lala terkejut. Dia berpikir Lea belum menikah. Ternyata sudah memiliki seorang anak.
Saat mba Lala ingin mengajukan pertanyaan, Lea sudah lebih dulu masuk ke dalam lift dan melambaikan tangan pada wanita itu.
"Eh.. Baru juga mau tanya udah menikah betapa tahun, punya anak berapa, dan siapa suaminya eh!" Lala menepuk bibirnya sendiri. Jiwa ke kepoan nya mulai tak terkendali.
"Sadar Lala, jangan terlalu kepo dengan orang lain!" peringat nya pada dirinya sendiri.
__ADS_1