Gadis Desa Bikin Candu

Gadis Desa Bikin Candu
Bab 44


__ADS_3

" Clara yg melaporkan kalian Jo,bahkan dia punya rekaman Kamu dan Yolan saat membuang Clara dulu untuk menjadi bukti,Mama heran? Darimana dia mendapatkan bukti rekaman itu ?"


Jovan teringat Biantara " Pasti ulah Bian anak Jasmine dan Adrian ma?"


" Biantara cucu Wijaya jo " tanya Ariana memastikan


Jovanka mengangguk


" Ada hubungan apa mereka,kok si Bian mau-maunya bantuin Clara "


" Jovan nggak tahu pasti ma,Bian bilang Clara kekasihnya "


" APAAA !!! Mama nggak salah dengar jo?


Padahal banyak sekali yg bilang Bian sifatnya sedingin es,mana mungkin dia jatuh cinta,ngelirik wanita saja nggak mau ?"


Jovan menggeleng pelan


Di bogor


Sarti merenung di kamar sambil menidurkan Viona


" Ibu kenapa ?" tanya Deni berbaring di samping sang adik


Deni bingung Ibu sarti menangis,akhir-akhir ini Ibu banyak berubah


Tidak seceria dulu waktu masih ada Clara


Darma pun yg kemarin sudah berubah sekarang kembali suka berjudi,Sarti kebingungan mencari pinjaman sana-sini untuk membeli kebutuhan sehari-hari,terkadang ia menahan lapar seharian?


Anak sulungnya tak pernah memberi kabar semenjak ke jakarta


" Apa Clara sudah bahagia sama orang tua kandungnya sampai melupakan ibu disini ?" Gumam Sarti di sela isakannya


Deni jadi ikut sedih,bocah kecil itu juga kangen sang kakak


" Mungkin kak Clara belum sempat kabarin Ibu,kita kan nggak ada handphone bu ?"


Benar juga kata Deni,mau ngabarin ke nomor siapa,dia saja handphone tak punya?


" Ibu bingung Den? Ibu nggak punya uang untuk makan besok,uang ibu di ambil semua sama bapak ?"


" Ibu sabar ya,besok Deni bantu Ibu cari uang?


Kan besok hari minggu ?" Ucap Deni yg terbiasa menggantikan sang kakak mencari uang dengan menjadi kuli panggul di pasar


Sarti terharu,masih ada anaknya yg mau membantu mencari uang meskipun Deni masih kecil


Ke esokan paginya


Deni menaiki sepeda melewati rumah milik Wijaya


" Hey nak,?" sapa kakek Wijaya yg sedang meminum teh di halaman rumah


" Iya Tuan ?" jawab Deni berhenti


Wijaya terkekeh,anak kecil saja memanggilnya Tuan


" Panggil kakek saja ? "


Deni mengangguk " Ada apa kakek memanggil saya ?"


Wijaya menghela nafas " Mau kemana pagi-pagi begini ?" tanya Wijaya


" Mau ke pasar kek,jadi kuli panggul ? Kasihan ibu nggak ada yg bantuin cari uang sejak kak Clara ke jakarta " jawab Deni polos


Wijaya terenyuh,Anak sekecil Deni menggantikan sang kakak bekerja banting tulang ? Banyak anak di usia Deni yg menghabiskan hari liburnya bermain dengan temannya,bermain ponsel dan berkumpul bersama teman-temannya.


Lalu Deni,lagi-lagi anak yg dijadikan mesin uang sedari kecil oleh kedua orang tuanya


Sebenarnya bisa saja Sarti yg bekerja berjualan di pasar sambil momong Viona,toh anak itu tidak rewel?

__ADS_1


Sepertinya Sarti terlalu pemalas,Bapak sama Ibu sama saja.


Kehadiran Viona si kecil di jadikan alasan untuk tidak bekerja,dan hanya mengandalkan anak-anaknya


Wijaya mencari pekerjaan yg ringan untuk Deni,biar anak itu tidak mengangkat barang berat di pasar


Ia melihat halaman yg sudah di penuhi rumput


" Kakek punya kerjaan buat kamu,kamu bisa kan bersihin rumput di halaman rumah kakek,daripada jadi kuli panggul? " ucap Wijaya menemukan pekerjaan yg tepat untuk di lakukan Deni,sekedar mencabuti rumput tak apalah? Kasihan anak itu.


" Wahhh ? Beneran kek... Kalau bersihin rumput mah Deni bisa ?" jawab Deni senang tidak perlu jauh-jauh ke pasar


" Iya,kamu ke belakang panggil teh Mumun?


Nanti biar dia yg cariin alatnya ?"


Deni mengangguk dan memarkirkan sepeda kemudian mencari teh Mumun


" Teh mumun ?.. " panggil Deni


Mumun baru saja mencuci pakaian mendengar namanya di panggil


Mumun bingung kenapa bisa ada Deni di rumah kakek Wijaya


" Loh Den,kamu disini ?"


" Iya teh,kakek Wijaya nyuruh aku bersihin halaman depan,katanya daripada aku jadi kuli panggul di pasar?" jawab Deni polos


Mumun tersenyum,memang benar Tuan Wijaya mempunyai hati yg mulia?


Suka menolong orang yg kesusahan,tidak seperti juragan Ghani,ngakunya orang kaya suka memeras orang tidak mampu.


Ya memang si Tuan Wijaya lebih kaya segala-galanya?


**


Hari ini Clara datang ke kediaman Adtmaja


Mulai sekarang Clara akan tinggal disana dan berhenti menjadi pelayan di rumah Celline


Celline bingung " Kamu mau kemana,kok bawa tas segala ? "



" Hari ini saya pindah ke rumah yg seharusnya saya tempati ?" ucap Clara senang



" Secepat itu.... " tanya Celline sudah tahu kemana Clara tinggal



Clara mengangguk,ia di temani Bian dan pak Handoko pengacara keluarga Biantara



Clara berpamitan pada Celline dan ke empat pelayan di sana



Tin Tin .. !!


Suara klakson mobil Bian


Clara bergegas keluar


" Sudah siap " tanya Bian


Clara mengangguk kemudian menaiki mobil Bian,di belakang sudah ada pak Handoko yg datang di jemput oleh Bian


" Terimakasih sudah membantu saya pak ?" Ucap Clara pada pak Handoko

__ADS_1



" Sama-sama Nona,itu tugas saya sebagai pengacara" jawab Pak Handoko tersenyum



" Kita mampir sebentar ?"



" Kemana ? " tanya Bian



" Ke butik,nggak mungkin penampilan aku kaya gini kan ?" balas Clara berniat merubah penampilan agar terlihat lebih pantas menjadi satu-satunya pewaris keluarga Adtmaja


Biantara tersenyum menyetujui niat Clara yg mau merubah penampilanya


Di butik


Clara memilih dress selutut berwarna maroon,kulitnya yg seputih susu sangat pantas memakai dress itu,ditambah lagi polesan make up dan rambutnya di urai yg menambah aura kecantikan Clara


Bian terpana menatap Clara yg baru keluar dengan penampilan barunya


Clara sangat cantik,baru kali ini Bian melihat wanita secantik Clara


**


Mobil Bian memasuki pekarangan kediaman Adtmaja


para penjaga dan pelayan bingung melihat mobil asing masuk kedalam rumah.


Clara turun dari mobil dan berjalan dengan anggun memasuki rumah orang tuanya yg sudah SAH menjadi miliknya


Berkat bantuan Bian dan pak Handoko akhirnya hak waris Daniel jatuh ke tangan Clara


Para pelayan memandang kagum wanita yg baru saja turun,mereka bingung siapa wanita itu



" Ekhemmmm " Clara berdehem " Perkenalkan saya Clara chaerunnisa cucu kandung dari Tuan Vintcen,mulai sekarang sayalah Tuan rumah di rumah ini,jadi saya minta kalian layani saya dengan baik ?" ucap Clara memperkenalkan diri



" Baik nona ?" balas pelayan itu membungkuk


Awalnya mereka kagum pertama kali melihat Clara, namun setelah tahu ia adalah cucu Tuan Vintcen, mereka kurang suka,tapi ada juga yg menyambut Clara dengan baik


Dia adalah kepala pelayan yg sudah berumur empat puluh tahunan



Clara tersenyum,dari pandangan Clara hanya kepala pelayan yg terlihat tulus menyambut kedatangannya


Berbeda dengan pelayan lain yg masih muda,wajahnya kelihatan sekali tidak suka


Clara cuek saja,toh yg membayar mereka kedepannya adalah dirinya,bukan Vintcen maupun Daniel


" Tega banget ya dia,sudah bikin orang tuanya di penjara ? Sekarang enak-enakan tinggal disini,berlagak nyonya lagi?" bisik pelayan pada temannya yg masih terdengar Clara



Clara geram,padahal orang tuanya dulu begitu tega membuangnya



" Yg tidak suka sama saya boleh angkat kaki dari sini !! Asal kalian tahu ? Yg lebih berhak tinggal disini adalah saya !! Cucu kandung keluarga Adtmaja,bukan Daniel si anak pungut dari pasangan haram itu !!" ucap Clara berbalik menatap tajam pelayan itu



Sedangkan pelayan yg membicarakan Clara kalang kabut,wajahnya pucat tidak menyangka ucapannya sampai di telinga Clara

__ADS_1



...Bersambung ...


__ADS_2