
POV Clara
Aku meminum teh pagi hari di balkon kamar,sambil menikmati udara pagi yg sejuk.
Tiba-tiba aku kepikiran sesuatu.
Hampir satu bulan pernikahan aku dengan mas Biantara,satu bulan juga aku nggak pernah diajak ke rumahnya untuk sekedar bersilaturahmi.
Aku heran,kenapa mas Bian nggak pernah mengajakku kesana meskipun hanya sebentar.
Mas Bian selalu pulang sendiri tanpa aku,itupun paling lama dua jam disana.
Padahal aku ingin tahu keadaan rumahnya,bukan aku penasaran rumahnya besar atau tidak.
Aku penasaran orang-orang disana menyambutku dengan baik atau malah sebaliknya,mas Bian belum pernah mempertemukan aku dengan mama Jasmine semenjak kami menikah
Mama Jasmine menyukaiku atau tidak aku nggak tahu,di acara lamaran dan ijab Qabul kemarin di Bogor dia tidak hadir.
Papa Adrian bilang kalau mama Jasmine belum balik lagi dari kampung merawat ibunya yg sakit-sakitan
Awalnya aku nggak curiga sedikitpun,tapi lama kelamaan aku merasa papa Adrian dan mas Bian menyembunyikan sesuatu dariku
Kenapa lama sekali mama Jasmine di kampung,harusnya sebagai orang tua dia menyempatkan diri untuk datang ke acara pernikahan anaknya walau sebentar.
Kalau pun tidak bisa saja kan,dia menelfon mas Bian di acara kemarin sekedar mengucapkan selamat atau mendo'akan pernikahan kami.
" Jangan-jangan mas Bian menyembunyikan pernikahan kami dari mama Jasmine,apa mama Jasmine tidak menyukai aku sama mas Bian.
Tapi rasanya nggak mungkin,pertama bertemu mama Jasmine di kantor mas Bian waktu itu,dia menyambutku ramah dan berkali-kali memuji kecantikanku,bahkan terang-terangan mengagumi aku ?" Batinku dalam hati bertanya-tanya
Aku nggak mau menyalahkan mas Bian dulu sebelum tahu yg sebenarnya.
Kalau mas Bian menyembunyikan pernikahan kami,betapa jahatnya dia telah menipu aku dan ibu.
Mas Bian datang memelukku dari belakang " Nggak dingin pagi-pagi di luar sayang ?" bisiknya di telingaku
Aku merinding,bisikan mas Bian seolah-olah membangunkan hasrat.
Aku berbalik menatap manik mata mas Biantara dan menanyakan tentang mama Jasmine.
Adakah kebohongan di matanya.
" Mas ?" panggilku
" Apa sayang ?" balasnya lembut menatapku dengan senyum manisnya
" Kenapa kamu nggak pernah ngajak aku ke rumah,terus kenapa kamu nggak pernah mempertemukan aku sama mama Jasmine " tanyaku
Mas Bian terkesiap,sedetik kemudian dia mengalihkan pandangan dan duduk di dekatku
Raut wajah mas Bian berubah muram,seperti ada beban berat yg dipikulnya.
" Kenapa diam mas ?"
Pandangan mas Bian kosong menatap lurus ke depan tanpa menjawab pertanyaanku
Apa aku salah bertanya,ataukah mas Bian benar-benar menyembunyikan sesuatu dari aku
" Nanti kamu juga tahu kok,bukan aku menentang mama ?
tapi ini yg terbaik untuk kita,kamu tahu sayang ?
Rumah tangga mama dan papa sedang tidak baik-baik saja,aku nggak mungkin asal membeberkan masalah mereka?
Maafkan aku sayang,aku belum bisa cerita sama kamu " balasnya menunduk lesu
Aku diam.
__ADS_1
Di saat rumah tangga mertuaku dalam masalah,papa Adrian dan kakek Wijaya membuat pesta besar-besaran tanpa adanya mama Jasmine
Aku bertanya-tanya dalam hati,mama Jasmine kah yg membuat masalah?
Aku nggak mau menebak-nebak sesuatu yg belum aku ketahui kenyataannya karena bisa jadi fitnah nantinya,lebih baik aku diam saja.
Aku memaklumi alasan mas Bian dan tidak mau bertanya lagi,terlihat sekali mas Bian sedih saat aku bertanya tentang mama Jasmine.
Masalah rumah tangga mertuaku biarlah jadi urusan mereka,aku sebagai menantu baru tidak mau ikut campur.
Biarlah pernikahan aku dan mas Bian berjalan apa adanya.
" Maafkan aku kalau pertanyaanku membuat kamu sedih mas ?" ucapku merasa bersalah pada mas Biantara
" Iya nggak apa-apa sayang ?" balas mas Bian mengelus kepalaku lembut
Aku senang sikap mas Bian yg selalu perhatian dan penuh kasih sayang seperti ibu Yolanda.
Dulu aku merasakan kurang kasih sayang,tapi setelah menemukan ibu dan lelaki yg aku cintai aku bahagia.
Sekarang aku tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian lagi.
Aku memang masih suka bermanja-manja pada ibu meskipun sudah menikah.
Mas Bian sepertinya memaklumi.
Aku dan mas Bian beranjak untuk membersihkan diri bersiap ke kantor masing-masing
Aku turun duluan menyiapkan sarapan sama ibu Yolanda dan ibu Sarti
Seperti biasa sikap ibu Sarti cuek tanpa banyak bicara.
" Bu,nanti aku minta bekal saja untuk makan siang ya ?
Hari ini jadwalku padat,malas makan siang di luar " ucapku pada ibu Yolanda
Aku dan ibu Yolanda saling lirik
Ibu Yolanda mengangguk menyuruhku menerima saja untuk menghargainya
" Terimakasih bu ?" ucapku
Ibu Sarti tersenyum " Sama-sama nak,tadi ibu sudah bungkusin ayam kecap kesukaan kamu juga ?"
Aku mengangguk,gelagat ibu Sarti aneh?
Dia sok baik menyiapkan aku bekal tanpa di minta.
Sepertinya dia mau meminta sesuatu dariku,entahlah ?
Sampai aku selesai sarapan bersama mas Bian,dia masih diam.
Mas Bian pamit berangkat duluan karena ada meeting pagi.
Barulah ibu Sarti berani mendekat
Perasaanku jadi tidak enak berdekatan dengan ibu Sarti
" Ara ?" panggilnya
" Kenapa Bu ?"
" Nanti siang ada rapat wali murid di sekolahan Deni,ibu di minta datang untuk iuran acara di sekolahan Deni " ucapnya
Aku mengerti,apa lagi kalau bukan uang yg dia minta
Aku merogoh tas mengambil uang satu juta dan memberikan pada ibu Sarti
__ADS_1
Ibu Sarti menghitung uang itu " Mana cukup segini Ara ?
iuran di sekolah Deni saja dua juta,terus untuk ongkos ibu bagaimana "
Cih,alasan saja ?
palingan dia mau menghabiskan uang itu untuk berfoya-foya.
Pake alasan untuk sekolah Deni segala?
" Nih ?" aku menambahkan dua juta lagi
Total tiga juta yg aku kasihkan pada ibu Sarti
Ibu Sarti tersenyum sumringah dan pergi tanpa mengucapkan terimakasih
" Dasar pemeras !" batinku geram
Dari arah dapur ibu Yolanda datang membawa kotak bekal " Sayang,kamu makan saja ini ya ?
ini masakan ibu,punya ibu Sarti buang saja.
Tadi ibu menemukan ini,ibu takut kamu kenapa-kenapa ?" ibu Yolanda menunjukan obat pencahar
" Sialan,ibu Sarti mau meracuni aku rupanya ?
sudah di kasih hati,minta jantung ! " batinku menggerutu dalam hati
" Terimakasih bu?" aku mengambil kotak bekal dari ibu Yolanda dan membuang kotak bekal dari ibu Sarti
Setelah itu aku berpamitan pada ibu Yolanda untuk berangkat kerja.
Ibu Yolanda melambaikan tangan saat mobilku melaju.
Aku tersenyum,ibu Yolanda masih sempat mengantarku ke depan di tengah kesibukannya
\*\*
Di kantor
Aku di sambut berkas-berkas yg menumpuk di meja,Sintia nyengir kuda
Ini pasti ulahnya,kemarin aku menyuruhnya untuk lembur membantu menyelesaikan pekerjaan, tapi sepertinya dia pulang setelah aku pulang kemarin
" Kenapa setengahnya nggak kamu kerjain sin,bukankah kemarin saya menyuruh kamu lembur " tanyaku
" Maaf nona,kemarin ibu saya penyakitnya kambuh ?
Mau ke rumah sakit hujan deras jadi menunggu saya pulang.
Sekali lagi saya minta maaf nona,kalau nona Clara mau potong gaji saya tidak apa-apa.
Saya mengaku salah dan pantas mendapatkan potongan dari nona Clara " balasnya
Aku menghela nafas panjang,tidak pantas memarahi Sintia.
Kalaupun aku jadi Sintia,aku juga pulang mementingkan keadaan ibu ketimbang pekerjaan
" Iya nggak apa-apa sin,ibu kamu nggak terapi saja biar cepat sembuh ?" ucapku pada Sintia
Aku tahu ibu Sintia terkena penyakit stroke sejak lama.
Karena kendala biaya Sintia merawat ibunya di rumah.
** Bersambung ...
__ADS_1