
Kondisi Clara saat ini sedang kritis,luka tusukan pisau sangat dalam.
Ibu Yolanda menangis histeris di sebelah ranjang Clara
Hanya Biantara saja yang mencoba tegar menguatkan ibu mertuanya, meskipun hatinya sakit melihat sang istri terbaring lemah di ranjang
" Ini semua karena Sarti biadab itu!! Awas nanti, saya tak akan membiarkan dia berkeliaran sesuka hati setelah melukai Clara.
Bian,, Laporkan dia ke polisi,ibu mau, Sarti mendapat hukuman yang setimpal " Titah Ibu Yolanda pada Biantara
" Tentu Bu,, semua bukti sudah aku dapatkan, tinggal selangkah lagi, ibu Sarti mendekam di balik jeruji besi " Balas Biantara
Ibu Sarti meninggalkan rumah Clara setelah hampir membunuhnya, dan meninggalkan Viona bersama Deni disana
Saat itu Ibu Sarti di landa ketakutan, dia tak mau nyawanya terancam, akhirnya memilih kabur dengan membawa beberapa perhiasan serta uang milik Clara
Berbekal harta itu,ibu Sarti berniat pulang kampung mengajak Darma kabur bersamanya ke luar kota
Ibu Sarti pulang ke kampung halaman, dia berjalan menuju rumahnya
Dia pangling melihat rumahnya berubah drastis, dari gubuk reyot menjadi rumah gedongan, sangat sayang kalau di tinggal kabur tanpa di jual
Ada dua mobil mewah terparkir di halaman rumah, Ibu Sarti berniat menjual semua harta itu
Dia yakin semua yang di miliki Darma berasal dari uang kirimannya setiap minggu
" Kang,, buka pintunya, kang Darma!! " Teriak Ibu Sarti menggedor pintu
Di dalam rumah Darma terbangun dari tidurnya mendengar suara Sarti memanggil namanya
Darma bergegas bangun, mengintip dari balik jendela
sosok Sarti berdiri di depan pintu, dia terlihat gelisah mondar-mandir disana
Krek
Darma membuka pintu, Sarti langsung menghambur ke pelukan sang suami
Sudah lama dia tidak berjumpa dengan suaminya
" Kamu sendirian Sarti? " tanya Darma celingukan mencari sosok ke dua anaknya yang tidak bersama Sarti
Sarti terdiam, dia enggan menceritakan masalah yang menimpa dirinya
" Jawab akang atuh Ti?? " tanya Darma mengguncangkan bahu Sarti
" A-nu kang,,, Deni sama Viona aku tinggal di jakarta " balas Sarti gugup
Darma mengerutkan kening
" Maksudnya apa Ti? " tanyanya belum mengerti
" Sebenarnya??? " Sarti menggantungkan ucapannya
Dia menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskan pelan
" Aku kabur dari rumah Clara kang,, aku nggak sengaja hampir membunuhnya,,
Aku takut mereka melapor pada polisi kang, saat itu aku ketakutan, terpaksa meninggalkan rumah Clara tanpa mengajak anak kita "
" APA!! " Mata Darma mendelik sempurna
Bagaimana bisa Sarti meninggalkan anaknya bersama Clara
Sarti menunduk takut-takut, dia tidak berani mendongak menatap sang suami
" Ma-maaf kang " ucap Sarti takut-takut
__ADS_1
" Lalu, mengapa kamu kabur kesini?
polisi bisa menemukanmu Ti? " ujar Darma tidak habis pikir
Berapa bodohnya Sarti
" La akang pake nanya, akang tau tidak? Biantara suami Clara punya bukti untuk menjerat kita kang,,
Bukankah ini waktu yang tepat untuk kita kabur meninggalkan kota ini,, "
Darma terkejut mendengar pengakuan Sarti " Lalu gimana dengan rumah ini Ti,, rumah, kendaraan? "
" Kita jual sama juragan Ghani kang,, berapa pun harganya, daripada kita tinggalkan begitu saja, kan sayang?? "
Darma mengiyakan ucapan Sarti " Baiklah,, sebentar aku cari surat-suratnya,, "
Sarti menganggukan kepala " Iya "
Di kamar Darma mencari surat rumah, tanah beserta mobil
Dia lalu membereskan beberapa baju di masukan ke dalam koper
Setelah semua beres, Darma dan Sarti menuju rumah juragan Ghani
Ucup yang sedang berjaga melihat kedatangan Sarti dan Darma
" Tumben orang kaya baru datang kesini? " sindir Ucup
Darma tidak memperdulikan ucapan Ucup
dia bergegas masuk mencari juragan Ghani melewati Ucup
" Eh dasar songong ! Seenaknya nyelonong masuk " Ucup menyusul Darma
" Juragan! juragan!! " teriak Darma mencari juragan Ghani
" Kurang ajar! siapa yang teriak-teriak di rumah saya! "
Darma berlari mendekat, nafasnya tersenggal-senggal
" Maaf juragan,, " Darma mengeluarkan semua surat tanah, rumah dan mobil, meletakan di meja
" Apa itu Darma? " tanya juragan Ghani agak terkejut
" Ini juragan.. saya mau jual semua ini,, Berapapun harganya saya butuh secepatnya?? " ujar Darma sudah pasrah hartanya di jual
" A-apa? Saya nggak salah dengar Darma?
Bukankah kamu kaya sekarang,, Atau sudah bangkrut "
" Oh ayolah, juragan??
Saya sedang tidak bercanda,, Berapapun uangnya saya mau? "
Juragan Ghani melihat raut wajah Darma memelas, sepertinya Darma tidak main-main
Dia pun membaca surat-surat itu, memberikan harga yang pas
" Baiklah,, Saya beli dengan harga 300 juta "
" Yang benar saja juragan,, tambahin sedikit lagi lah,, ? " Darma menawar
" 350 juta,, lebih dari itu saya tidak mau? " Ucap juragan Ghani menegaskan
__ADS_1
Darma mengangguk lesu, terpaksa dia menjual rugi
" Ya sudah,, saya mau? "
Juragan Ghani tersenyum senang, membeli rumah, tanah beserta mobil dengan harga murah
Dia berasa untung berkali-kali lipat
Juragan Ghani memberikan sebuah cek total 350 juta pada Darma
Sarti dan Darma berniat kabur ke kalimantan, kebetulan disana ada salah satu saudara Darma tinggal disana, bertahun-tahun tidak pulang
\*\*\*
Di jakarta
Biantara sudah melaporkan Sarti dan sang suami ke polisi
Dia sedikit lega, setidaknya polisi akan segera menemukan dua penjahat itu
Dia tak akan mengampuni semua perbuatan ke duanya atas musibah yang terjadi pada Clara
Membawa kabur beberapa uang dan perhiasan Clara, dia tidak Terima itu
" Gimana Bi,, sudah beres? " tanya Yolanda setelah Biantara kembali ke rumah sakit
" Sudah Bu,, ibu tenang saja, polisi akan menemukan ibu Sarti? " Balas Biantara menenangkan ibu mertuanya
" Baguslah Bi,, ibu mau, secepatnya Sarti di tangkap "
Biantara mengangguk
dia mendekati ranjang Clara, sang istri terbaring lemah tidak sadarkan diri
Biantara mengajak Clara bicara, supaya Clara segera meresponnya dan segera sadar dari koma
Yolanda terenyuh melihat ketulusan Biantara, meskipun Clara sedang koma
Biantara tidak putus asa terus memberi rangsangan agar Clara segera sadar
Biantara menceritakan awal pertemuan mereka, sesekali tertawa mengingat kekonyolan Clara waktu itu
Betapa bodohnya Biantara di bodohi gadis desa seperti Clara
Dari belakang yolanda mengelus punggung menantunya
Berharap do'a sang menantu terkabulkan
Yolanda menatap Clara, penderitaan selalu datang padanya
Dia sudah berharap rumah tangga sang anak bahagia, kenyataannya malah sebaliknya.
Dari awal Yolanda ragu, Clara mengajak Sarti tinggal bersama
Sebagai seorang ibu, Yolanda merasakan sesuatu buruk akan terjadi
Dan benar saja,nyawa Clara terancam karena Sarti
" Kali ini, Ibu nggak akan membiarkan kamu celaka lagi sayang?? Ibu berjanji,untuk memberikan hukuman yang setimpal untuk ibu angkatmu " Batin Yolanda dalam hati
Air mata Yolanda terus menetes,seharusnya dia saja yang terbaring koma, bukan Clara
Dia merasa sudah banyak membuat Clara menderita, dari bayi hingga dewasa
***
__ADS_1
bersambung...