
Kini Auliya sedang berada di dalam kelas ujiannya, dengan bulpoin di tangan nya di ketukan di atas meja, dan dengan tatapan kosong Auliya menatap papan tulis di depan nya.
Kelas saat ini sangat sepi, karna Auliya berangkat lebih awal, namun gimana dengan Syifa? Syifa tadi saat berangkat sama Auliya ke sekolah tetapi Syifa di panggil oleh ustadzah zaenab, entah kenapa.
Auliya masih terus saja memandang papan tulis itu, dan memikirkan sesuatu di otaknya, omongan syifa semalam lah yang terus melintang di benak pikiran nya.
Hanya karena sebuah ucapan yang dapat di artikan tidak ada apa-apa nya, tetapi bagi diri Auliya, itu susah untuk tidak memikirkan nya, sesampainya Auliya tadi malam tak bisa tidur hanya saja memikirkan seorang laki-laki yang jelas-jelas bukan mahrom nya.
"Apa iya kamu suka sama aku Haikal?" Batin Auliya dan terus saja menatap papan yang ada di depan. "Tetapi seperti nya tidak mungkin, aku terlalu berharap untuk itu" lanjut Auliya dan menghela napas kasar dan membuyarkan lamunannya.
Tokkk tokkk tokk! "Assalamualaikum" Auliya yang mendengar ada yang mengucapkan salam di depan pintu, "waalaikumsalam" balas Auliya dan melihat siapa yang baru datang.
"Ngelamunin apaan sih sampai segitunya?" Tanya Syifa dan duduk di bangku sebelah Auliya. "Heum.. enggak kok, siapa juga yang ngelamun" balas Auliya menutupi kebohongan nya.
"Heum... Kirain ngelamunin apaan" ucap Syifa, "oh iya, tadi kamu di panggil sama ustadzah zaenab kenapa? Ada masalah?" Tanya Auliya.
"Oh iya, aku sampai lupa memberitahukan berita gembira ini sama kamu," Syifa pun melentangkan senyumnya di setiap sudut bibirnya. "Berita gembira?" Kaget Auliya dan di balas anggukan oleh Syifa.
"Berita gembira apa?" Lanjut Auliya dan mengikuti senyum Syifa, "berita nya adalah......-" ucap Syifa sambil menggantungkan ucapan nya. "Selesai ujian kita di liburkan dan kita bisa pulang" lanjut Syifa, Auliya yang mendengar itu bukanya ikut bahagia malah raut wajah sedih yang terlintang di wajahnya.
Syifa yang melihat itu mengernyit heran, "kamu kenapa? Kok muka nya nggak seneng gitu?" Tanya Syifa, "aku sih seneng, tapi aku nggak mau pisah sama kamu syif" ucap Auliya lirih.
"Ouh... Gapapa dong ya, besok kalo kita di Jakarta, aku bakal sering-sering main ke rumah kamu kok, sama papa dan mama aku" ucap Syifa dan berhasil mengejutkan hati Auliya yang sedih.
"Beneran kamu syif?" Ucap Auliya yang kini juga merasa bahagia di hati nya. Syifa pun mengangguk cepat, Auliya yang melihat itu langsung mengambil tangan Syifa dan di tariknya kedalam pelukannya.
Syifa pun membalas pelukan auliya, dan tak lama kemudian Syifa pun perlahan melonggarkan pelukannya dan melepaskan nya.
"Astaghfirullahalazim, aku lupa, aku kan piket kelas" ucap Syifa dan perlahan menepuk kepalanya. Syifa beranjak dari duduk nya dan mengambil sapu dan sekrop, dan mulai menyapu dari bagian belakang kelas nya.
Auliya yang melihat Syifa piket sendirian, Auliya merasa kasian dengan Syifa, Auliya beranjak dari duduknya dan mengambil alat yang bernama sapu dan membantu Syifa menyapu kelasnya.
Dan akhirnya mereka menghentikan aktivitas piket mereka karena sudah selesai dan pergi duduk di bangku mereka masing-masing.
Syifa melihat ke arah Auliya yang masih sama seperti ia lihat seperti tadi ia masuk kelas, Auliya masih saja melamun dengan menatap papan kosong di depannya.
"Liya? Kamu kenapa?" Tanya Syifa. "Enggak, aku gapapa" balas Auliya gugup. "Kalo kamu ada masalah ngomong saja, insyaallah selagi aku bisa membantu, pasti akan ku bantu" ucap Syifa menenangkan Auliya.
"Enggak kok Syifa ku yang cantik, aku gapapa, percaya deh" balas Auliya sambil tersenyum ramah. "heum yaudah deh, tapi kalo ada apa-apa bilang ya" ucap Syifa serius, "siap boss.!" Balas Aulia sambil tangan posisi hormat.
**********
Kini Auliya dan Syifa sedang berjalan menuju kamar Nya karena sekolah mereka sudah bubar, Syifa dan Auliya pergi ke kamarnya untuk menyiapkan diri mereka untuk menunaikan shalat Dzuhur berjamaah.
Ketika Auliya dan Syifa sampai di depan kamarnya, mereka tiba-tiba kaget melihat kamarnya yang sudah terbuka lebar.
"Heum... Syif apa kamu lupa buat ngunci kamar kita?" Tanya Auliya heran. "Enggak kok, aku kunci tadi, dan ini kuncinya aku bawa" balas Syifa sambil mengeluarkan sebuah kunci kamarnya dari dalam tas ransel miliknya.
"Lalu, kalo bukan kamu terus....?" Ucap Auliya menatap Syifa dan langsung masuk ke dalam kamar. Dan begitu Auliya masuk ke dalam kamarnya, mata Auliya langsung tersorot kepada seorang wanita yang umurnya setara dengan dirinya sedang mengaji.
"Dhiva...?" Kaget Auliya, Syifa yang di luar mendengar itu langsung masuk ke dalam dan berdiri di samping Auliya dan menatap ke arah Dhiva yang sedang mengaji.
Dhiva mengakhiri ngaji nya dan melihat ke arah Auliya dan Syifa, "Auliya... Syifa..?" Ucap Dhiva dan merentangkan kedua tangannya agar Auliya dan Syifa memeluk dirinya.
__ADS_1
Auliya dan Syifa yang melihat itu, berjalan perlahan ke arah Dhiva dan memeluknya. "Kapan kamu pulang?" Tanya Syifa di tengah pelukan mereka. "Tadi jam 10" jawab Dhiva.
Lalu Auliya dan Syifa melepaskan pelukan Dhiva dan menatap nya, "lalu dimana om fajar sama Tante Maya?" Tanya Auliya. "Ayah sama bunda udah pulang barusan" balas Dhiva dengan senyum nya.
Kini Dhiva benar-benar berubah, bukan Dhiva yang jahat melainkan Dhiva yang baik hati, bukan Dhiva yang jutek dan melainkan Dhiva yang amat ramah dan murah senyum, itu semua membuat hati kecil Auliya merasa senang sekali melihat perubahan Dhiva kepadanya.
"Heummm.... Kamu udah makan siang?" Tanya Syifa khawatir. "Iya sudah, tadi pas mau balik kesini, mampir dulu ke restoran buat beli makan" balas Dhiva. "oh iya, aku bawain ini buat kalian" lanjut Dhiva sambil memberikan sebuah kantong kresek hitam kepada Auliya dan Syifa.
Auliya dan Syifa pun mengambil nya dan membukanya. "Wahhh...." Ucap Auliya dan Syifa bersamaan. "Cobalah, mungkin itu cocok buat kalian" ucap Dhiva bahagia.
Auliya dan Syifa mencoba jilbab yang di kasih oleh Dhiva, warna silver yang cantik dan cocok buat kulit mereka, Dhiva tadi pas pulang dari rumah sakit mampir dulu ke pasar yang searah dengan nya dan sengaja membelikan jilbab yang sama agar bisa kembaran gitu.
"Wahh kalian keliatan tambah cantik deh kalo pakek jilbab itu" ujar dhiva. "Hehe, makasih Dhiva" ucap Auliya dan Syifa berbarengan. "Sama-sama" balas Dhiva.
"Oh iya, kamu beliin kita doang? Kamu nya mana?" Tanya Auliya. "Ada kok, ini, sama seperti kalian" balas Dhiva sambil menunjuk kan jilbab miliknya yang baru ia beli tadi. "Wahh... Pakek dong dhiv, biar sama kek kita" ucap Auliya semangat.
Dhiva pun mengenakan jilbab nya, "wahh, tambah cantik" ujar Auliya dan Syifa. "Bisa ajah deh kalian" balas Dhiva tersipu malu.
Auliya dan Syifa yang melihat reaksi Dhiva pun terkekeh. Dan tak terasa kemudian.
"Allahuakbar"
"Allahuakbar"
Suara adzan dhuhur sudah berkumandang, auliya, Syifa dan Dhiva pun mengambil air wudhu dan berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.
Selesai mereka melaksanakan shalat dhuhur berjamaah, mereka kembali ke kamarnya untuk makan siang. "Eh dhiv emangnya tangan kamu udah enakan?" Tanya Syifa sambil memperhatikan tangan kanan Dhiva yang di perban.
"Udah kok" balas Dhiva dan nggak luput dari senyumnya. "Ohh kalo masih terasa sakitnya bilang ke aku ya, biar aku yang nyuapin kamu" ucap Syifa khawatir.
Selesai mereka makan siang dan seperti biasa santriwan atau santriwati di tegaskan untuk mencuci piring makan nya sendiri. Namun tidak dengan Dhiva, Auliya meminta kepada Dhiva agar dirinya yang mencucinya, meskipun Dhiva sempat menolaknya tetapi Auliya tetap ingin mencucikan nya.
Selesai mencuci piring, Auliya, Syifa dan Dhiva memilih untuk melanjutkan hafalan nya. Dan tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah hafal. Mereka memilih untuk tidur siang.
"Heum.... Nanti kita berangkat ngaji nya barengan yak?" Tanya Auliya. "Pastinya dong ya" balas Syifa. "Kalo kamu gimana dhiv?" Tanya Auliya. "Aku sih....-" ucap Dhiva menggantungkan ucapan nya. "Bisa dong" lanjut Dhiva dan Auliya pun merasa sangat bahagia.
Setelah itu mereka pergi ke arah ranjang kasur miliknya dan merebahkan tubuhnya yang sangat lelah.
🍃🍃🍃🍃🍃
Waktu sudah tak terasa, kini waktu menunjukan pukul 18.40 untuk wilayah Surabaya, auliya, Syifa dan Dhiva pergi ke masjid untuk menunaikan shalat isya berjamaah.
Ketika Auliya, Syifa dan Dhiva mau melangkah masuk ke dalam masjid, mata Auliya langsung tersorot kepada seorang laki-laki yang sedang ngobrol dengan ustadz Efendi di depan pintu.
Langkah Auliya terhenti dan melihat seseorang itu, entah mengapa hati Auliya merasa sangat merindukan seorang itu jika tidak bertemu sehari saja.
Auliya pikir dengan melihatinya rindu yang ia pendam akan pupus, namun tidak dengan Syifa dan Dhiva, mereka sudah masuk kedalam terlebih dahulu.
Auliya tak menghiraukan mereka, Auliya masih tetap saja menatap Haikal, dari gerakan nya dan pembicaraan nya. Haikal yang merasa ada yang menglihatinya, Haikal melirik sekilas ke arah Auliya dan memberikan senyum simpul kepada Auliya.
Auliya yang melihat Haikal senyum kepadanya hati Auliya kini benar-benar tak bisa terkontrol detak jantung nya, Auliya merasa gelagapan dan lari masuk ke dalam masjid menyusul syifa dan Dhiva.
Haikal di tengah pembicaraan nya melirik sekilas ke arah Auliya yang masuk ke dalam masjid dengan keadaan pipi yang memerah, dan bikin makin imut untuk Auliya, itu bagi Haikal.
__ADS_1
Selesai menunaikan shalat isya berjamaah, auliya, Syifa dan Dhiva kembali ke kamarnya. Untuk belajar karena besok masih ujian.
Ketika di tengah perjalanan mereka ke kamar, tiba-tiba Auliya merasa mules dengan perutnya. "Ehh... Bentar-bentar" ucap Auliya sambil memegangi perutnya. Syifa dan Dhiva pun merasa sangat khawatir dengan keadaan Auliya yang tiba-tiba merasa kesakitan.
"Kenapa kamu Liya?" Tanya Dhiva. "Kamu kenapa? Perut kamu kenapa?" Tanya Syifa. "eng-gak kok, cuma mules doang, bentar ya aku mau ke kamar kecil, kalian duluan ajah" ucap Auliya. "Beneran gapapa?" Tanya Dhiva dan di balas anggukan cepat oleh Auliya. Setelah itu Auliya lari secepat mungkin ke arah kamar kecil.
Ketika Auliya selesai dan keluar dari kamar kecil dan melihat seorang laki-laki yang ia temui tadi di masjid dari arah masjid.
Auliya yang melihat itu merasa malu dan menundukkan kepalanya dan lari dari tempat itu, Haikal yang melihat Auliya yang menjauhi dirinya pun memanggil nya.
"Auliya...?" Panggil Haikal. Seketika langkah Auliya terhenti dan menoleh ke arah sumber suara itu, Haikal yang melihat langkah Auliya terhenti pun menghampiri Auliya.
Auliya yang melihat haikal mendekat ke arah nya, semakin membuat hati Auliya berdecak kencang. "Heum... Liya?" Panggil Haikal lagi dan posisi nya sekarang sudah di depan Auliya, Auliya tak berani menatap Haikal dan terus saja menduduk.
"Liya..?" Panggil Haikal lagi karena tak mendapatkan respon dari Auliya. Auliya yang mengingat Haikal tadi tak mengucapkan salam, Auliya mencoba mengingatkan nya. "Assalamualaikum" ucap Auliya.
Haikal yang mendengar itu merasa malu, karena kelalaiannya. Haikal pun terkekeh dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum" ucap Haikal. "Waalaikumsalam" balas Auliya.
"Ada apa?" Tanya Auliya to the point. "Gapapa, cuma mau liat kamu ajah" ucap Haikal dan semakin membuat hati Auliya detak jantung nya tidak bisa terkontrol lagi.
Auliya masih tetap dengan posisinya yang sedang menunduk dan ingin melanjutkan langkahnya tetapi tangan Auliya terlebih di cekal oleh Haikal.
Auliya yang merasa ada yang menggegam tangan nya, Auliya melihat ke arah Haikal, namun Haikal terlebih dulu melepaskan cekakan nya. "Maaf" ucap haikal. Namun tetap saja tak mendapatkan respon dari Auliya.
"Haikal...? Auliya...?" Teriak seorang wanita dari seberang mereka, Haikal dan Auliya pun langsung menoleh ke arah sumber suara tersebut, betapa kagetnya mereka? Yang memanggil namanya adalah ustadzah zaenab.
"Ustadzah" ucap Auliya dan Haikal bersamaan. Ustadzah zaenab pun menghampiri mereka dan menatap Haikal dan Auliya yang sedari tadi menunduk secara bergantian.
"Ngapain kalian berduaan disini?" Ucap ustadzah zaenab tegas. "Ng-gak ngapa ngapain ustadzah" balas Auliya. "Terus? Kalo kamu Haikal. Ngapain disini?" Tanya ustadzah zaenab. "Alasan saya sama seperti Auliya ustadzah" ucap Haikal gugup karena ketahuan oleh ustadzah zaenab.
"Kalian berdua ustadzah hukum, karena sudah berani melanggar peraturan pesantren" ucap ustadzah zaenab. Dan spontan membuat Auliya dan Haikal kaget.
"Ta-tapi ustadzah" ucap Auliya. "Nggak ada tapi tapi an" ucap ustadzah zaenab sedikit menaikan suaranya. "Besok kalian ujian kan?" Tanya ustadzah zaenab. "Iy-a ustadzah" balas Auliya dan Haikal kompak. "Besok kalian jangan pergi ke kelas, tapi ke ruangan ustadzah" ucap ustadzah zaenab.
Haikal dan Auliya tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menurut saja, mereka tak tau hukuman apa yang akan mereka dapat besok.
"Baik ustadzah" balas Auliya dan Haikal berbarengan. "Kalo gitu, kalian pergi ke kamar kalian, dan belajar" ucap ustadzah zaenab.
"Baik ustadzah, assalamualaikum" ucap Auliya dan pergi meninggalkan haikal dan ustadzah zaenab.
Auliya sampai di kamarnya dan melihat Syifa dan Dhiva sedang belajar, Auliya pun mengucap salam. "Assalamualaikum" ucap Auliya dengan raut wajah sedih. "Waalaikumsalam" balas Syifa dan Dhiva.
Syifa yang bingung dengan raut wajah Auliya yang nampak sedih. "Kamu darimana saja Liya? Kok lama" tanya Dhiva. "Kamu kenapa kok sedih gitu?" Tanya Syifa.
"Nggak kok gapapa, yaudah yuk kita belajar" ucap Auliya mengalihkan pembicaraan. "Okee.. yuk sini" ajak Dhiva. Auliya pun melepaskan mukenahnya dan mulai belajar bersama Syifa dan Dhiva.
Selesai mereka belajar, Auliya,Syifa dan Dhiva pergi ranjang kasurnya dan merebahkan tubuhnya. "Liya? Kamu beneran nggak ada apa-apa?" Tanya syifa, karena Syifa merasa heran dengan keadaan Auliya.
"Beneran kok gapapa" balas Auliya. "Oh iya, besok kamu sama Dhiva pergi ke sekolah duluan ajah ya, aku besok nyusul soalnya ada urusan" lanjut Auliya dan di balas acungan jempol oleh Syifa dan Dhiva.
Auliya memang sengaja tak memberitahu kan masalah nya dengan ustadzah zaenab karena besok dia akan di hukum bersama haikal, jika Auliya memberitahukan masalahnya takut Dhiva akan benci lagi kepadanya. Auliya lakukan ini semua juga demi kebaikan Dhiva.
Auliya menatap langit-langit nya dan memikirkan hukuman apa yang di berikan ustadzah zaenab kepadanya dan tak di sadari Auliya pun terlelap dalam tidur.
__ADS_1
Bersambung.......