
"Jangan kurangajar," peringatan Karin. Ricko hanya tersenyum menanggapinya.
"Maaf," ucap Ricko dengan santai seperti biasa pria itu memang paling suka membuat Karin marah. "Bagaimana kabar ayahmu? Sampaikan salamku padanya," lanjut Ricko, ia sudah bertemu ayahnya Karin saat mengantar Karin pulang waktu pulang dari bandung bersama Raksa.
"Tidak mau, bilang saja sendiri," ketus Karin, tak henti memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Jadi boleh aku menyampaikan salam ku sendiri pada ayahmu," pertanyaan Ricko yang tidak langsung mendapat jawaban dari Karin.
"Terserah," jawab Karin kemudian.
"Mau makan kembang gula?" setelah terjadi keheningan cukup lama, Ricko melihat di tepi jalan di depan ada pedangang kembang gula. "Tunggu sebentar," walou tidak mendapat jawaban dari Karin, pria itu langsung memarkirkan mobilnya, lanjut keluar mobilnya.
Tidak berapa lama Ricko kembali dengan sebungkus besar kembang gula, "Makan lah," titah Ricko, mengasongkam kembang gula itu pada karin.
Karin menelan salipanya senderi, membayangkan rasa manis kembang gula di tangan ny, "Makan saja, jangan malu-malu,"
Karin mencebik dengan ucapan Ricko barusan, "Siapa yang malu-malu," Lanjut Karin membuka bungkus kembang gula itu lalu menganbil satu cubitan besar memasukan kedalam mulut nya.
"Kamu tidak makan?" tanya Karin sembari memakan lahap kembang gulanya.
"Tidak usah, sepertinya kamu tidak rela berbagi," jawab Ricko. "Kamu tau.. kalou kamu sedang tidak marah-marah, kamu seperti kembang gula itu."
"Maksudnya?"
"Sangat manis," ucapan Ricko sungguh membuat Karin terpaku, waloupun setiap tingkah laku pria itu selalu menyebalkan di mata Karin, tapi kadang selalu ada perhatian atou ucapan yang menyentuh Karin.
"Ini makan lah," Karin mengasongkan kembang gulanya pada Ricko.
"Aku sedang nyetir gimana mau makan?"
"Modus. Buka mulutmu," Karin menyuapi satu cubitan besar kembang gula pada Ricko, waloupun terkesan kasar dan terpaksa, tapi Ricko cukup senang akan hal itu.
Mobil Ricko pun sampat di kantor sahabatnya, tempat Karin bekerja, "Selamat siang mas Ricko," sapa security pada Ricko yang terlihat tersenyum menyapa dari jendela yang terbuka. Ricko menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Pulang jam berapa?" Tanya Ricko sebelum Karin keluar dari mobilnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya jawab saja,"
"Jam 4," jawab Karin sambil keluar dari mobil Ricko.
"Oke, aku jemput jam 4, " ucap Ricko sebelum pergi.
Karin tak sempat melayangkan penolakan nya pada Ricko, pria itu sudah pergi menjalankan mobilnya pergi. Karin menggeleng kesal tapi pada akhirnya gadis itu seditkit tersenyum, saat mengingat ucapan Ricko tadi kalou dia semanis kembang gula kalou tidak marah-marah.
Namun gadis itu mengeleng cepat, seakan berusaha menyadarkan dirinya, "Bisa-bisanya aku memikirkan hal tidak penting yang dia ucapkan, bisa saja itu trik nya untuk mengerjaiku." gumamnya sembari berjalan ke dalam gedung kantornya.
Pikiran Karin sungguh di buat tidak fokus bekerja, sosok Ricko selalu menyelinap di pikiran nya yang pada akhirnya gadis itu tersenyum sendiri. Karin mengerjap-ngerjapkan matanya diiringi gelengan kepala. "Pria menyebalkan itu kenapa terus hadir di pikiran ku?"
.
.
.
****
Siang dan malam silih berganti, tak terasa sudah satu minggu Niana tingal bersama kake dan tantenya. Gadis itu lebih menghabiskan waktunya untuk memasak, selama di rumah kakenya ia memanfaatkannya untuk melakukan hobi barunya itu. Mengandalkan tutorial memasak dari internet, membuat gadis itu kian mencoba membuat menu baru. Niana juga sesekali pergi ke boutique milih tantennya.
Seperti hari ini gadis itu ikut sibuk membatu tantenya menyiapkan sebuah gaun pengantin yang selesai di desain oleh tantenya itu, sebuah gaun cantik yang kini terpajang di sebuah manekin. Niana tak henti melebarkan senyum nya, membayangkan dirinya sendiri yang memakai gaun itu kelak.
"Tante tolong buatkan aku gaun yang cantik seperti ini untuk ku nanti," tante Hanna tertegun, kemudian melihat keponakan nya mempeehatikan raut wajah Niana yang terlihat penuh harapan.
"Kamu mau menikah?"
"Iya nanti kalou aku menikah," matanya berbinar dengan senyum yang memperlihakan jajran gigi putihnya.
"Itu pasti, tante akan buatkan gaun yang paling indah buat keponakan tante tersayang ini," jawab tante Hanna. "Tapi nanti nya, nikmati dulu masa mudamu. Lagi pula tante belum siap kalu sejarang, akan di panggil nene nanti oleh anak-anak mu."
__ADS_1
"Iya tante, Niana juga masih jauh untuk berpikir ke situ."
"Kamu mau memboca salas satu gaun tante?" tante Hanna tampak berpikir kemudian.. "Sepertinya kamu cocok untuk jadi model katalog terbaru tante."
Niana mengangguk cepat, "Aku mau mencoba, tapi aku tidak mau jadi model."
Tante Hanna membawakan sebuah gaun yang paling exlusive, belum pernah ada yang memakai model itu, ia menyimpan gaun itu untuk clien spesialnya nanti. Dan Niana pasti sangat cocok mengenakan nya.
Niana menutup mulut nya kagum melihat karya tantenya yang sangat indah untuk ia kenakan. Niana melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, bertanya-tanya apakah dia cocok atou tidak mengenakan gaun itu.
Tante Hanna yang melihat karyanya yang di kenakan oleh keponakan nya itu, tampak terpukou mulutnya menganga. "Keponakan tante cantik sekali. Langsung kita pemotretan!"
Niana sebenarnya sangat risih untuk mengabadikan gambarnya yang saat ini memakai gaun pengantin, tapi akhirnya Niana setuju karena tante Hanna hanya mengambil poto Niana untuk hanta mengabadikan momen itu saja, tidak untuk menjadikan Niana model katalognya.
Beberapa poto dengan anggel sempurna telah terambil oleh photo grafer profesional boutique tante Hana. Niana menyunggingkan sentumnya melihat hasil poto.
"Sayang gak ada pasangan nya," tante Hana yang melihat Niana tak henti tersenyum melihat deretan poto dirinya.
"Ada ko tante, tapi dia masih berjuang untuk kelak kita bisa bersama," jawab Niana tersenyum simpul yang semakin memperindah guratan wajah nya.
"Kamu sangat beruntung," bisik tante Hanna ikut tersenyum.
Niana mengirimkan beberapa poto dirinya yang memakai gaun pengantin pada Raksa, tak lupa dengan sebuah pesan yang ia ketik, "Aku baru saja mencoba gaun pengantin nya tante Hana, bagai mana menurut mu apa aku cantik? Apa ini cocok?"
Benda pipih yang tengah di genggam Niana itu yang kini menjadi perantara komunikasi nya dengan Raksa, Gadis itu senantiasa mengatakan apapun yang sedang ia lakukan pada pria yang juga selalu dengan senantiasa menyempatkan diri menghubungi maupun membalas pesan Niana.
Hubungan jarak jauh selama seminggu, semakin memupuk rasa rindu satu sama lain di antara keduanya.
"Sangat cantik sayang, tapi sayang tidak cocok." Niana terkejut mendapat jawaban dari Raksa, wajahnya beruvah kecewa.
"Kenapa?" Tanya nya singkat.
"Karena tidak ada aku yang jadi pasangan mu," Niana kembali menyunggingkan senyum nya, gadis itu sungguh bisa dengan mudah dari kecewa atou sedih di debuat tersenyum atou tertawa oleh Raksa. "Aku masih banyak pekerjaan, nanti aku hubungi lagi. Hati-hati nanti pulang dari boutique."
Mau tidak mau Niana memang harus mengerti dengan kesibukan Raksa. Yang kadang-kadang raksa menghilang begitu saja tidak lanjut membalas chat nya, atou bahkan menghahiri telpon saat ia belum selesai melepas rindu pada pria itu, namun pada akhirnya Raksa selalu meminta maaf.
__ADS_1
Sebenarnya Niana juga sadar kalou dia selalu menggangu Raksa, tak kenal waktu menghubungi pria itu. Seharunya dia bisa lebih bersabar karna saat Raksa sedang tidak sibuk, pria itu pasti menyempatkan waktu untuk menghubunginya, tapi Niana sangat tidak bisa. Kejolak rasa rindu selalu membuatnya terlebih dulu menghubungi Raksa, waloupun hanya sekedar ingin mendengar suarnya, mengetahui kabarnya itu sudah sangat cukup membuat gadis itu nyaman menjalani hubungan jarak jauh.