Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 27


__ADS_3

Langit malam sudah mulai di penuhi kerlap-kerlip bintang yang bertaburan, juga sinar rembulan yang sedikit menampakan cahanya nya. Raksa duduk memangku komputer lipatnya di bangku halaman bekakang rumahnya, mengecek pekerjaan nya dan pesan yang masuk lewat website dan email.


Keberhasilan Raksa sebagai agent properti yang terpercaya, membuatnya sudah lebih di kenal banyak orang. Rekomendasi-rekomendari dari klien ke klien lain membuat nama semakin di kenal. Keberhasilan dan kesibukan nya kini yang tidak bisa di lakukan sendiri, Raksa berniat mendirikan kantor dan merekrut karyawan.


"Kamu tadi tidak masuk kampus Kak?" Tanya Safira ibunya Aksa, menghampiri putra sulungnya itu dengan membawakan satu gekas susu hangat yang menapkan uap yang mengalun.


"Masuk ko bu cuma tadi telat, tadi ada klien yang minta di temani melihat beberapa unit." jawab Raksa, meneguk susu hangat yang sydah di bawakan ibunya setelah mengalihkan sebentar pekerjaan yang ada di laptopnya yang ia taruh dulu di sampingnya.


"Ibu ikut senang dan mendukung dengan pekerjaan mu yang sekarang, tapi ibu tidak mau kuliah kamu terabaikan. Beasiswa kamu bisa saja di cabut." Ucap seorang ibu yang menampakan kehawatiran nya.


"Ibu tidak usah hawatir ya, itu tidak akan terjadi." Jawab Raksa, menepis kehawatiran ibunya. "Aku akan membeli sebuah ruko untuk ku jadika kantor, setelah kantorku beroperasi, pekerjan ku tidak akan terlalu sibuk, yan waloupun uangku hanya baru cukup untuk membeli rukonya saja. harganya sangat mahal bu karna lokasinya juga bagus untuk tempat usaha."


"Kalo kamu mau, ibu bisa bantu." Tawar Safira. "Kamu pasti butuh tambahan dana untuk mendirikan kantor kamu."


"Jangan, uang ibu simpan untuk kebutuhan lain." Raksa memgang tangan ibunya, menghimpitnya dengan kedua tangan nya, menandakan agar ibunya tidak menghawatirkan nya.


"Ibu hanya bisa mendukung dan mendoakan mu." Raksa tersenyum dengan ucapan wanita yang selalu menjadi pacuan semangatnya.


****


Pikiran Bonanza, semakin di buat menerka-nerka akan hubungan Raksa dengan wanita yang di temuinya di kafe kemarin. Pikiranya semakin di buat berkecamuk akan rasa kesal dan kecewa. Gadis itu sedang terduduk di bangku taman kampus di temani pikiran nya yang berlalirian tentang Raksa.


"Tipenya Raksa yang hight class yang modis dewasa. Aduh za, sadar dong hilangin Rakssa dari pikiran mu." grutu Bonanza untuk dirinya sendiri, dengan menepuk-nepuk dahinya sendiri yang seakan untuk membuatnya sadar.


Bonanza mengangkat pandangan nya, tatkala melihat Hary dan Ricko yang juga nongkrong di area taman kampus bersama beberapa teman lainya. Pikirnya saat ini hanya Hary dan Ricko yang bisa menjawab kepenasaran nya, dan juga bisa menggali lebih informasi tentang Raksa.


Bonanza segera beranjak dari duduknya mengejar dua pria yang terlihat akan meninggalkan taman, "Heii kalian." panggil Bonanza dengan mempercepat langkah kakinya, dua pria yang dia panggil pun menoleh dan terlihat sudah berbalik badan.


"Kenapa?" Tanya Harry.


"Temenin aku ke kantin yu! aku trantir." Ajakan Bonanza yang membuat dua pria itu terheran-heran.

__ADS_1


"Tumben nona galak ngajak ke kantin, mau tarktir pula." Cetus Ricko


"Udah deh jangan banyak omong, yukk!" Bonanza berjalan mendahului Ricko dan Harry, Ricko dan Harry terdiam sejenak setelah saling melihat satu sama lain yang akhirnya mereka berdua pun mengikuti langkah bonanza.


"Pesan sepuasnya." ucap Bonanza pada Harry dan Ricko yang sudah duduk satu meja dengan nya.


"Aku ganti sebutan nona galak jadi nona baik buat mu." Ricko lalu memesan makanan.


"Beneran gratis kan gak ada apa-apa." timpal Harry yang lalu ikut menesan makanan juga.


"Udah pesen-pesen aja, makan-makan aja." Seru bonanza.


"Tumben kalian cuma cerdua? biasanya kan bertiga, trio kecebong." pertanyaan Bonanza yang secara tidak langsung menanyakan keberadaan Raksa.


"Si Raksa lagi sibuk sama pekerjaan nya dan sekarang dia lagi sibuk cari tempat buat bikin kantornya." jawab Ricko akan pertanyaan Bobanza.


"Kirain sibuk sama pacarnya." Bonanza


"Jadi Raksa sudah punya gadis impian?" batin Bonanza


"Aku kira yang kemarin di kafe itu pacarnya."


"Mungkin dia cuman klien nya." jawab Harry.


"Tunggu-tunggu." Hary menghentikan mengunyah makanan nya, beralih melihat Bonanza dengan seksama yang kemudian menelan makanan di mulutnya seketika. "Kayanya kita sedang di introgasi." beralih melihar Ricko.


"Jangan mikir aneh-aneh kalian." Bonanza sedikit salah tingkah dengan Harry dan Ricko secara bersamaan melihatnya penuh terkaan.


"Hahaaa." tawa Harry dan Ricko cesara bersamaan. "Ada tanda-tanda benci jadi Cinta." Lanjut ucap mereka tatkala Bonanza sudah semakin mempeelihatkan kebenaran kalou dia memang mempertanyakan Raksa.


"Kalian mikir apa juga." elak Bonanza.

__ADS_1


"Udah lah keliatan banget Za." tangkas Ricko.


"Eh... emang kenapa Raksa harus bekerja?" tanya Bonanza lagi.


"Dari SMA dia sudah bekerja paruh waktu, dia memang sudah membiayai kebutuhannya dan sekolahnya dari dulu sendiri." Jelas Harry.


Bonanza semakin merasa kagum pada pria yang sedang dia bicarakan, waloupun pikirnya saat ini, tidak lah mungkin untuk memiliki seorang pria yang memang sudah mempunyai tambatan Hati.


"Beda sama aku yang apa-apa minta orang tua." Ucap Ricko.


"Bener sih, Bokap juga suka banding-bandingin aku juga sama si Raksa yang masih muda sudah mau terjun ke dunia property." timpal Harry.


"Kita samperin si Raksa yu," Ajak Ricko, dan mendapat persetujuan dari Harry. "Kamu ikut Za?"


"Ehh..."


"Udah ayooo! nanti aku bantu comblangin kalian." kata Ricko, yang membuat Bonanza semakin mengeluarkan rona mera di pipinya karna malu.


"Dimana dia?" Tanya Ricko pada harry saat harry sudah mengakhiri panggilan teleponnya dengan Raksa,


"Dia ada di ruko barunnya." jawab Harry yang di balas anggukan oleh Bonanza dan Ricko yang menandakan merekan harus menyusulnya kesana.


Sebuah Ruko berlantai dua yang tidak terlalu besar dengan ruangan yang masih kosong belum terisi oleh barang apapun, menjadi pilihan Raksa mendirikan kantornya. Raksa turun dari lantai dua saat sudah mengetahui mobil Harry terpakir di depan rukonya.


"Ada apa rame-rame kesini?" masih berjalan di tangga saat mendapati tiga teman nya sudah berada di dalam ruko dan bergumam kalo mereka tidak salah masuk ruko saat sudah melihat Raksa, karna mereka melihat motor Raksa dati terparkir di depan jadi langsung masuk.


"Gakk ada kursi apa, Buat duduk?" Tanya Ricko yang kebingungan untuk mendaratkan tubuhnya dimana.


"Namanya juga baru beli, belum sempat di isi," jawab Raksa, "kita ngobrol di atas, di atas ada tiker."


"Langsung beli nih nggak nyewa?" Tanya harry menggeleng kagum, bukan karna rukonya tapi karna Raksa bisa membeli ruko tersebut dengan usahanya sendiri. Harry mengedarkan pandangannya ke sekeliling mengikuti Raksa menaiki tangga menuju lantai dua. "Hebat kamu."

__ADS_1


"Ya tapi baru ruko aja, buat ngisi dalemnya uangnya udah abis." Jawab Raksa saat sudah sampai di lantai dua. mereka berempat mendaratkan tubuh mereka di atas tikar di sana.


__ADS_2