
"Niana!" panggil seseorang yang tak asing di telinga gadis itu. ia sontak berdiri lalu berbalik melihat sumbumer suara.
Raksa yang kini berdiri berhadapan dengan nya, "Aksa," ia bergetar menyebut suara itu. Begitupun Raksa yang tidak menyangkan tanpa di duga bisa bertemu dengan Niana di sana.
"Apa kamu perna berpikirik kenapa takdir selalu dengan mudah mempertemukan kita?" tanya Raksa pada gadis yang masih tampak kaget di depan nya.
"Mungkin ini hanya kebetulan!" jawab Niana dengan nada acuh.
"Tapi aku lebih percaya pada takdir, dari pada kebetulan," Raksa tersenyum menanggapi nya.
"Lalu sekarang, apa yang kamu harapkan?"
"Masih sama, Hanya masih harus lebih berjuang untuk untuk menggapai mu, mimpiku!" jelas Raksa, menatap lekat gados cantik di hadapan nya.
"Berjuang untuk ku, atou untuk ayahku?"
Raksa sedikit tersenyum, "Mungkin perjuangan ku salah!"
"Tidak salah! Tapi hanya terlambat," ucap Niana, "Sepertinya tidak baik terlalu lama bertamu di rumah orang!" Niana lajut pergi menuju kamarnya.
Raksa masih terdiam, "Apa ini penolakan!" ucapan Raksa membuat langkah Niana yang sudah menjauh dari Raksa ikut terhenti.
"Apa aku harus kalah sebelum perjuangan ku selesai. Maafkan atas kebodohan ku, tapi aku akan tetap berusaha untuk meraih mu.. Mimpiku!" jelas Raksa yakin dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
Niana kemudian benar-benar pergi menuju kamarnya, bohong kalou gadis itu tidak akan menangis saat ini. Sedangkan Raksa kembali menuju ruang tamu, ia hanya beralasan pergi ke toilet untuk mecari Niana.
"Jadi villa nak Ricko tidak jauh dari sini?" terdengar perbincangan Ricko dan tuan rumah. "Iya pak, saya sering kesino wakru saya kecil," jawab Ricko.
"Udah dari toilet nya? gak nyasar kan?" tanya Karin penuh maksud.
"Sepertinya kita harus segera pamit!" ucap Raksa, yang hendak pamit pada kake Niana, "Terimakasih banya pak untuk semuanya!"
"Jadi kalian menginap di villa nak Ricko!" tanya kake Niana.
"Iya, sepertinya kami butuh sedikit refresing," jawab Ricko.
__ADS_1
"Hehh, terus aku bagaimana? apa aku harus ikut kalian menginap di villa?" protes Karin, yang di lupakan oleh Raksa kalou ia membawa seorang gadis yang tidak baik membawanya menginap bersama. "Kita pulang saja!"
"Memang nya kenapa? gak akan ada yang macem-macem sama kamu, setan penghuni villa juga bakalan takut!" ucapan Ricko yang langsung mendapatkan tinju dari Karin di lengan nya, membuan Ricko sontak memekik kesakitan.
"Nak Karin menginap di sini saja, sama cucu saya di sini!" usul kake Niana.
Karin sontak mengangguk, karna ia juga merindukan Niana, banyak hal yang ingin dia bicarakan terutama masalah Raksa, "Mau mau pak, saya mau menginap disini," ucao Karin semangat
"Bagus kalou begitu!" jawab kake Niana
"Eh, cucu pabak namanya Niana kan?" ucap Karin.
"Iya, perasaan saya tadi belum memperkenalkan cucu saya!" kake Niana bingung.
"Dia sahabat saya di jakarta, saya sudah lama tidak beryemu dengan nya karena sebelum nya dia di Amerika," jelas Karin
"Oh, begitu. Kenapa tidak bilang dari tadi!"
"Karena saya kaget takut salah. Saya pikir Niana masih di Amerika," jelas Karin lagi.
"Iya, dan Raksa ini---" ucapan Karin yang tertahan, karena mendapat protes dari Raksa. Karin yang akan mengatakan hubungan Raksa dan Niana yang mempunyai ikatan perasaan spesial di antara mereka tidak jadi.
"Kalou begitu kami pamit pak, sepertinya kami butuh istirahat." uacapan Raksa memang benar, ia sangat terlihat lelah. Semalaman kurang tidur dan pagi-pagi sudah harus berangkan ke bandung.
"Iya kita harus istirahat, karena nanti sore aku ingin berjalan-jalan. Bandung kan banyak cewek cantiknya!" timpa Ricko juga yang ucapan nya iya tekan kan pada Karin.
Raksa pergi dari rumah kake nya Niana dengan menarik nafas lega, ia merasa yang kuasa begitu baik padanya. Hanya melihat Niana saja itu sudah sangat cukup, seakan gadis itu yang membuat jantungnya tetap berdetak. Terlebih Karin yang menginap do rumah kake Niana membuat Raksa punya alasan untuk bisa datang lagi ke rumah itu. Atou untuk menghubungi Karin menanyakan Niana, akan lebih mudah.
Sementara gadis cantik yang barusaja mengeluarkan beberapa tetes cairan bening dari matanya, bergegas segera menghapus bekas air mata yang masih basah dipipinya karena mendengar sang kake memanggilnya. Niana berharap Raksa sudah pergi saat ia keluar nanti.
Dan sesuai harapan nya Raksa memang sudah pergi, tapi entah kenapa ia seperti menyesali ketidak beradaan Raksa di sana yang hanya meninggalkan Karin.
"Niana, ini Karin dia akan menginap di sini karna kake tidak mungkin membiarkan seorang gadis menginap bersama pria yang bukan mahrom nya!" tutur Kake Niana, "Bukanya Karin ini teman kamu di jakarta?"
"Iya kake," Niana tersenyum kemudian menghampiri Karin memeluknya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu kenapa tiba-tiba aja di sini? aku kira kamu sudah pergi Amerika?" tanya Karin tanpa jeda, "Atou jangan-jangan kamu gak jadi waktu itu kembalu ke Amerika?"
"Udah nanti aku jelasi ya! ayo ke kamar," ucap Niama lanjut pada kakenya, "Ke Niana pamit ajak Karin ke kamar ya!"
***
Karin sudah berada di kamar Niana, gadis itu sungguh masih belum percaya bisa bertemu dengan Niana di sana, "Ana, apa berita pertunangan mu itu sungguhan?" langsung tanya Karin.
Niana menggeleng, ia tak ingin membahas hal itu saat ini dengan Karin. "Enggak, udah jangan bahas yang aneh-aneh. Ceriata yang lain, kamu sekarang udah nggak kerja di Royale cake & bakery?" Niana mengalihkan.
"Udah deh jangan ngalihin pembicaraan,"
"Tapi aku gak mau bahas hal itu! tolong jangan bahas apapun tentang bosmu," tegas Niana.
"Gak bisa, aku bisa-bisa jerawaran kalou nahan-nagan uneg-uneg di kepalaku ini," Karin menepuk-nepuk kepalanya, seakan memang sudah penuh denga apa yang ingin dia ucapka dan pertanyakan pada Niana.
"Ya udah tapi kalou gak bisa jawab aku gal aksn jawan," cebik Niana. Yang selanjutnya obrolan mereka memang sudah seperti tanya jawab ujian lisan.
"Kamu bener udah tunangan?" tanya Karin.
"Enggak!" jawan Niana.
"Kamu cinta sama Raksa," tanta Karin.
"Pass, pertanyaan yang lain!" elak Niana.
"Aku bingung, sebenarnya hubungan kalian seperti apa sekarang?" malah Karin yang seperti jadi frustasi melihat hubungan kedua sahabatnya itu.
"Aku sudah punya pacar di Amerika!" ucap Niana membut Karin kaget membuka mulutnya lebar, "Aku dan Aksa gak mungkin bisa bersama!"
"Tapi kamu cinta sama pacar kamu?" tanya Karin pelan, yang di jawab dengan gelenga kepala oleh Niana.
"Kamu cintanya sama Raksa kan?" tanya karin lagi memastikan.
Niana mengangguk, "Iya, san semua ini salah dia, aku menerima perasaan pria lain itu karena dia. Dia Bodoh!" Niana menangis di pelukan Karin. Karin menggeleng, kenapa sangat sulit untuk mereka menyatukan perasaan nya?.
__ADS_1