
Niana duduk di atas kursi santai di perpustakaan rumah nya dengan memangku sebuah buku motivasi yang belum ia baca. Dulu Niana paling sering menghabiskan waktu di perpustakaan itu sudah sekian banyak buku dari ribuan buku di sana sudah di luar kepalanya.
Tempat itu seolah bisa menenangkan pikiran nya saat ini, kursi santai yag ia duduki menghandap jendela kaca besar yang langsung tertuju pada taman di halaman rumahnya, terlihat tanaman dan bunga-bunga indah, kolam ikan koi, dan air mancur di sana.
"Nona ada tuan Daffin ingin bertemu dengan anda," lapor pak Danu.
Niana bergeming, ia sangat tak ingin menerima tamu saat ini terlebih tak ingin beranjak dari tempat duduknya. "Suruh dia menemuiku di sini pak Dan," jawab Niana tanpa menoleh.
Yang kemudian Niana mendengar langkah kaki semakin mendekat dari arah belakang nya, "koleksi bukumu hebat sekali, aku lupa kalou gadis ku ini sangat suka membaca."
"Aku bukan gadis mu," sergah Niana, tanpa menoleh pada pria yang sudah ikut duduk di samping nya du kursi yang berbeda.
"Tapi suatu saat kamu akan jadi miliku nona," senyum percaya diri Daffin, "Maaf aku baru menemuimu, aku sangat sibuk akhir-akhir ini."
Niana hanya bergeming, tidak menanggapi ucapan Daffin, mulai membuka halaman buku yang dia pegang.
"Niana aku ingin mengajakmu ke kantor baruku!"
"Aku sedang tidak ingin kemana-mana, aku hanya ingin membaca buku hari ini." jawab Niana masih tak acuh, tetap mebaca buku di tangan nya.
"Baiklah kalou begitu seharian ini aku akan menemanimu membaca buku," ucap Daffin yang kemudian beranjak memilih-milih buku untuk dia baca.
Daffin duduk tiduran di sofa yang terletak di samping Niana, sembari membaca comik yang dia pilih. Sesekali terdengar gelak tawa dari peria itu, mebuat Niana kembali bergeming namun tak menghiroukan nya.
__ADS_1
Gelak tawa lagi-lagi kembali terdengar, Niana menghela nafas lalu menutup bukunya, lanjut menoleh pada pria yang sedang kegirangan membaca komik di samping nya, "Bisa pelankan suaramu?"
"Oh maaf, buku ini sangat lucu," ucap nya.
Niana menaruh buku yang tadi dia baca di meja dekat nya. "Aku mengganggumu? maaf kan aku, aku akan lebih memelankan suaraku." ucap Daffin.
"Aku sudah selesai,"
"Kalou begitu ayo jalan-jalan!" ajak Daffin lagi.
"Aku tidak mau, kaka sebaiknya pulang!" jawab Niana masih dengan wajah tanpa semangat.
"Mood mu jelek sekaki. Ayo aku akan menghiburmu hari ini," Daffin beranjak meraih tangan Niana.
"Aku tidak bisa," tolak Niana lagi.
Daffin mengalihkan pandangan nya sembarang, semakin menatap gadis di hadapan nya seakan membut nya getir. "Kamu sangat memperdulihan perasaan nya, aku sungguh iri. Maafkan aku, aku belum bisa mengalah untuknya. Orang bilang, cinta itu harus bisa merelakan. Tapi aku tidak bisa merelakan mu, sungguh membuat ku hancur."
Daffin berdiri, setelah sesaat terdiam pria berparas tampan dengan wajah blastetan indo-amerika itu pergi meninggalkan Niana.
"Maafkan aku." Mata Niana nanar menatap kepergian Daffin, ia sangat merasa bersalah karna merasa telah mencampakan pria baik itu. Perasaan Daffin sangat besar untuk nya, tapi Niana sungguh tidak bisa membalasnya. "Aku akan lebih bahagia jika kak Daffin menganggapku sebagai adik."
***
__ADS_1
Daffin melangkah memasuki kantornya dengan bertekuk muka. Kecewa, lagi-lagi dia kecewa dengan perasaan nya sendiri. Tatapan nya tajam tak seperti biasanya, membuat orang-orang yang melihat nya di buat ngeri sendiri, tapi tak menghilangkan rasa hormat mereka tetap menyapa bos mereka walou tak mendapat jawaban.
Saat sudah memasuki lift untuk naik ke lantai dua dimana ruangan nya terletak. Saat pintu lift akan naik, sebuah kaki masuk di anata sela pitu lift, Bonanza yang kemudian masuk setelah berhasil menahan pintu lift dengan kakinya itu. "Siang pak," sapa Bonanza pada bos nya yang sudah terlebih dulu di sana.
Daffin hanya terdiam, sedikit kesal juga dengan gadis itu yang menurutnya tidak sopan, saat karyawan lain tidak berani satu lift dengan nya.
"Kenapa wajah bapak? seperti cucian yang baru di angkat dari jemuran, kusut." celetuk Bonanza yang membuat pria di samping nya mendengus kesal memalingkan wajahnya, bukan Bonanza namanya kalau tidak menyebakan.
"Aroma kopi yang kita teguk akan merileskan pikiran kita yanv kusut," Bonanza sembari meneguk cap kopi yang dia bawa sembari fokus pada layar ponsel dari tangan sebelah nya lagi. Daffin diam-diam mencuri pandang dari sudut matanya, tiba-tiba pria itu menelan salivanya sendiri, meihat Bonanza tampak menikmati cup kopinya.
"Berikan padaku!" seru Daffin. Ucapan Bonanza seakan merasuki pikiran nya, yang dia pikir mungkin dian membutuhkan segelas kopi untuk menenangkan nya. Sementara gadis di samping nya hanya melihatnya dengan dahi yang bergelombang, apa yang bosnya minta berikan padanya?.
"Berikan kopimu!" tegas Daffin.
Bonanza membulatkan mulutnya membentuk hurup O beralih melihat cup yang di angkatnya. "Bapak mau kopi?"
Daffin menjulurkan tangan nya untuk mengambil cup kopi dari tangan Bonanza, "Et, tapi ini punyaku." Bonanza menepiskan cup kopinya, sambil tersenyum lebar seolah meledek bosnya.
"Hey yang sopan aku bosmu," tegas Daffin kesa.
"Aku tau tapi ini kopi kesukaan ku, racikan nya sangat pas sesuai seleraku. Emhh ini enak sekali," Bonanza kembali menyeruput kopinya. "Bapak kan bisa suruh ob buatkan, atou kalou ingin yang sama dengan ku, bapak bisa minta OB belikan."
Pintu lift kemudian terbuka, Bonanza melenggang keluar terlebih dahulu, Daffin hanya mendengus kesal kemabali, menyebalkan sekali melihat gadis itu.
__ADS_1
Sudah hampir tiga puluh menit Daffin duduk di kursi depan meja kerjanya, pekerjaan di hadapan nya belum sedikitpun dia sentuh. Pikiran nya seakan buntu, dan berlarian kesana kemari. Memikirkan Niana yang ajakan nya? Ya, waloupun ia sudah tau Niana akan bersikap seperti itu tapi Daffin selalu berusaha merasa baik dengan terus mendekati gadis itu.
Daffin mengingat kembali pertemuan nya dengan Niana, yang kini Daffin mulai menyesali kenapa dia harus di pertemukan dengan Niana. Dulu dia sempat menolak saat di pinta ayahnya untuk mendekati Niana. Ayahnya sangat berharap bisa berbesan dengan sahabatnya yaitu ayah Niana, hingga memimta Daffin menemui Niana dan mendekatinya, Namun tanpa di sangka hanya setelah melihat Niana saja sudah muncul ketertarikan pada gadis itu, yang sebelum nya iatak mudah tertarip pada seorang wanita. Dia pikir mendekati gadis itu akan mudah, mengingat orang tua mereka yang bersahabat, namun nyatanya perasaan nya hanya bertepuk sebelah tangan.