
Belum jauh dari komplek perumahan elit itu, Raksa berpapasan dengan mobil Daffin yang kemudia berhenti. Setelah membunyikan klakson mengisyaratkan Raksa untuk berhenti. "Kamu mencari Niana?" tanya Daffin setelah keluar dari mobilnya.
Tanpa di sangka Niana kemudian keluar dari mobil Daffin. Raksa kaget segera menghampiri gadisnya itu, melihat kondisi Niana terlihat kacau, sedikit berantakan dan tampak habis menangis. Tubuh Raksa seakan tersunut hawa panas, matanya menapakan kemarahan dengan sigap ia mencekal kerah baju Daffin, "Kau yang membawa Niana pergi!" teriak Raksa penuh amarah. Kemudian melayangkan bogem mentah pada Daffin. Hingga membuatnya tersungkur.
Tidak puas hanya satu pukulan saja, Raksa kembali mencengkram Daffin. "Apa yang kau lakukan!"
Niana berusaha mererai amarah Raksa namun Raksa tak menggubrisnya, Raksa sudah sudah terlanjur melayangkan pukulan pukulan nya pada Daffin. "Stop Aksa, hentikan!" Niana memegang erat lengan Raksa untuk menghentikan hataman nya.
"Dia yang menolong ku, tolong hentikan!" Raksa menyadarkan pikiran nya, dengan ucapan Niana barusan dia sadar sudah termakan emosi duluan.
"Apa maksud mu?" tanya Raksa sendu.
"Kak Daffin yang menolongku," ucap Niana dengan nada serak masih terisak dalam tangis nya.
Tatapan Raksa seketika melemah melihat Niana, kedua tangan nya dengan repleks meraih wajah Niana. "Apa yang terjadi?"
Hatinya pilu melihat Niana menangis seperti itu, dengan cepan ia memeluk erat Niana. "Maafkan aku, maafkan aku!" ucap Raksa serasa tercekat dengan nada lirih. Dia sungguh mersa tidak berguna, tidak bisa melindungi gadis impian nya itu.
****
Flash Back On..
Setelah mengambil buku dari perpustakaan rumahnya, Niana kembali kemarnya sembari membawa beberapa buku untuk membacanya di kamar. Tidak lupa Niana menyuruh pelayan membawakan cemilan dan buah utuk di kamarnya.
Selesai membaca buku, suatu kebetulan gadis itu mendapat pesan dari Raksa. Raksa memberitahunya kalou ia akan ke rumah Niana nanti malam. Namun di balik rasa senang nya hati Niana kembali merasa hawatir lebih tepatnya ia merasa takut takut kehilangan Raksa. Takut Raksa dan keluarganya akan membencinya suatu saat, takut perasaan Raksa akan berubah padanya.
Dengan rasa hawatir nya yang berlebihan tentu saja mood gadis itu kembali memburuk, tidak bersemangat. "Sepertinya aku harus berendam," gumamnya lalu menaruh buku yang tadi dia baca di atas meja dekat tempat tidurnya.
Suara dering ponsel nya terdengar, menghentikan niatnya untuk pergi ke kamar mandi. Ternyata panggilan dari Karin, tidak menunggu lama Niana langsung menggeser icon hijou di layar ponselnya. Obrolan dengan Karin pun beralangsung.
^^^Karin.^^^
^^^"Kenapa suaramu tidak bersemangat sekali, apa aku mengganggukmu?"^^^
"Tidak, aku memang sedang ada pikiran nyang membuat moodku tidak baik pagi ini." Niana
^^^Karin.^^^
^^^'Masalah dengan si rakew lagi?"^^^
"Iya, eh tidak ini masalahku sendiri." jawab Niana
__ADS_1
^^^"Kalian ada apa lagi?"^^^
"Nanti malam dia akan kerumahku tapi aku malah hingung!"
^^^Karin.^^^
^^^"Oh jadi kalian mau nge-date ceritanya, bingung kenapa? bingu pilih baju yang cocok atou makeup yang kaya giman buat nanti malem?"^^^
"Bukam itu! Aku hanya takut akan membuat nya kecewa, membenciku suatu saat. Aku merasa bersalah padanya, aku tidak siap malam ini bertemu dengan ny."
^^^Karin^^^
^^^"Kenapa dia harus membencimu? Apa apasan nya?"^^^
"Aku punya kesalah berat padanya di masalalu.. aku taku dia akan tau dan membeciku," Niana.
^^^"Kesalahan di masa lalu? Kesalahan apa?"^^^
^^^Karin tampak bingung, memikirkan kesalah apa yang Niana maksud^^^
"Aku tidak bis menceritakan nya."
^^^"Sepertinya kamu butuh sesuatu yang bisa membuat pikiran mu tenang." saran Karin.^^^
^^^"Coklat dan eskrim.. gimana kita kalou kita ketemu sekarang, kita jalan berdua."^^^
"Seperti ya itu ide yang bagus.. aku sangat mumet tetus di tumah. Kalou begitu aku akan bilang dulu oada Maya."
^^^"Gak usah lah ajak pengawal mu yang kaku itu.. kita berdua saja."^^^
"Tapi aku setidaknua aku harus minta ijin dulu pada Maya dan pak Dan.. aku tidak bisa pergi seenaknya akan tetjadi masalah besar."
^^^"Ya ampun tuan putri.. ribet sekali aturan hidupmu."^^^
"Iya aku iri padamu.. bebas kemanapun sendirin.."
^^^"Kalou begitu ayo lakukan!"^^^
"Ya aku akan mencoba minta ijin dulu."
^^^"Tidak usah.. pergi diam diam, aku akan menjemputmu. Dan jangan mandi atou ganti pakaian agar orang rumahmu tidak curiga,"^^^
__ADS_1
"Itu tidak mungkin Karin, masalahnya penjagaan rumahku sangat ketat."
^^^"Kalou begitu kamu harus berpikir cerdas agar tidak di kerahui mereka." ucapan Karin vak propokadi uyang langsung di setujui Niana, tanpa berpikr dampak ayang akan terkadi.^^^
^^^"Aku akan menunggu di gerbang pitu masuk perumahan mu."^^^
Jujur Niana sangat ragu untuk melakukan nya, tapi apa salahnya jika hanya kali ini saja ia ingin bersenang-senang, seperti anak muda pada umumnya. Sesuai rencana Karin Niana mulai beraksi. Niana tidak membawa ponsel dengan nomor yang biasa di pakainya, gadis itu membuka laci kemudian mengambil ponsel lain miliknya dengan nomor berbeda yang orang lain tidak ada yang tau, tentu saja nomor kontak orang-orang yang di kenal nya juga sudah ada di sana.
Niana pergi ke balkon kamar kemudian dari sana Niana melempar sebuah tas selempang kecil yang sudah berisi dompet dan ponselny. Agar membuat curiga orang di rumahnya ia keluar membawa tas.
Niana pun keluar kamarnya dengan bersikap biasa, gadis itu bahkan pura-pura hanya untuk mengambil minum dan duduk di meja makan meminum air putih yang ia bawa. Yang seperti biasa ada Maya yang menunggunya. Niana memikirkan segala cara agar bisa terhindar dari Maya.
"Maya aku bisa minta tolong?" tanya Niana.
"Tentu saja nona!"
"Bisa tolong belikan aku pembalut," ucap Niana setengah berbisik. "Stok punyaku sudah abis, bisa tolong belikan. Tapi jangan menuruh orang lain, aku malu!" pinta Niana pada pengawal pribadi wanitanya itu.
"Baiklah Nona."
"Maya sepertinya kamu harus membelinya ke supermarket!" pinta Niana lagi. "Ku sedang ingin strawbery korea kalau di minimarkeat nggak ada, bisa tolong sekalian belikan?"
"Baiklah Nona." dengam segera Niana bergegas melanjutkan aksinya.
Setelah aman Niana kemudian bergegas pergi, tapi sebelumnya ia mecari nomor kontak security perumahan nya, dan security yang berjaga di gerbang keluar perumahan, menuliskan nya di telapak tangan nya. Niana kemudian bergegas keluar untuk terlebih dahulu mencari tas yang dia lempar tadi.
Setelah mendapatkan tasnya, Niana segera mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor yang tercatar di tangan nya. Sebelum nya Niana menggunakan saputangan untuk membungkus spiker ponselnya agar suaranya tersamar.
"Hallo, saya petugas kebersihan yang bekerja di perumahan p******h. Saya tadi melihat dua orang mencurigakan memasuki rumah keluarga tuan Wijaya, mereka memakai masker dan memanjat dinding samping. Tapi sepertinya penghuni rumah tidak ada yang menyadarinya, para penjaga yang berjaga di gerbang depan pun santai saja tetap berjaga."
Niana tersenyum, kemudian ia bersembunyi di balik tanaman-tanaman besar dekat kolam berenang menunggu situasi aman untuknya pergi. Tidak berapa lama setelah security datang orang-orang terlihat panik, Terdengar suara langkah kaki yang memasuki rumah dan berkeliling ke menyusuri samping dan belakang rumah. Otomatis membuat keaadaan gerbang depan tidak ada yang bejaga, saat yang tepat untuk Niana pergi. Niana dengan memakai masker wajah berlari cepat keluar.
Karin sudah menunggunya di depan gerbang pintu masuk perumahan dengan sepeda motornya, yerlihat sudah mengacungkan jempol ke arah Niana yang sedang berlari ke arahnya.
"Ayo Karin," suara Niana panik menepuk bahu Karin cepat.
"Iya ini pake dulu," Karin mengasongkan sebuah kantong yang berisi jaket topi dan kacamata hitam untuk Niana pakai.
Niana berteriak senang diatas motor yang di bonceng oleh Karin, "Aku gak nyangka bakal senekat ini. Kamu gila Karin!"
Karin hanya tersenyum, tetap pokus mengendarai sepeda motornya yang membelah jalanan.
__ADS_1
Flash Back... Lanjut Bab selanjutnya👉👉👉