
Alea dan Alia pun menghapus air mata mereaka bergantian, dengan senyuman terlontar pada kakak berganti pada ibunya.
Ibu Safira tersenyum kecil, sebenarnya mengingat kepergian sang suami tercinta membuanya tak kalah sedih. Tapi kali ini ia tak ingin terlalu berlarut-larur, mengingat kebahagiaan lain Raksa dan kedua putrinya yang sangat semangat akan merayakan hari ulang tahun Niana.
Tok.. tokkk.. Semuanya teralihkan dengan sebuah ketukan pintu yang tersengar, ibu Safira beranjak untuk membukanya.
"Siapa bu?" tanya Raksa, ikut menghampiri ibunya ke depan pintu, sembari ia akan langsung berangkat ke bandung. Ibu safira hanya tersenyum, kemudian menunjuk seseorang di depan pintu dengan dagunya.
Raksa seketika terhenyak kaget, melihat sosok gadis cantik yang ia lihat sudah berdiri di hadapan nya dengan ajudan pribadinya Maya di belakang. Niatnya untuk memjemput Niana, tapi gadis impian nya itu sudah berada tepat di hadapan nya.
"Surprise!" seru Niana. Raksa memicingkan alisnya dengan dahi yang berkerut menghampiri Niana.
"Kenapa gak bilang-bilang mau pulang? Ini aku baru mau jemput?" protes Raksa.
"Aku tau kamu sangat sibuk,"
*
Raksa dan Niana sudah duduk berdua di bangku taman belakang, rasa rindu yang terpupuk semakin membuatnya tumbuh kian besar, setelah melihat satu sama lain sudah cukup membuat rindu itu hilang.
"Aku rindu rumah ini!" Niama tersenyum mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, yang tidak berubah dari sejak pertama ia menginjakan kaki di sana.
"Dan aku rindu padamu!" Niana teralih melihat Raksa yang sudah menyunggikan senyum nya untuknya. Gadis itu tertegun dengan pandangan nya yang terpedar.
Niana dengan segera membalikan wajah Raksa dengan tangan nya, mengalihkan tatapan yang semakin merasuk. "jangan liat aku kaya gitu, malu." Bantahnya.
__ADS_1
"Hari ini sengaja kamu cuti buat ke bandung?"
"Iya tapi tidak cuma hari ini, dua hari kedepan aku juga cuti," jawab Raksa, menyilangkan tangan ke bahu kursi taman.
"Kenapa?" tanya Niana heran.
"Besok hari yang tidak bisa aku dan keluargaku lewatkan bersama," jawab Raksa beralih melihat Niana kembali. "Dan lusa adalah hari yang juga tidak bisa aku dan keluargaku lewatkan juga, hari ulang tahun mu."
Niana terhenyak, kaget, bingung semuanya menyeruak jadi satu. Sebenarnya ia tinggal di bandung salah satunya ia ingin menghindar dari Raksa di hari ulang tahunya. Kedatangan nya ke jakarta tadinya akan ia rahasiakan, tapi mendengar Raksa akan ke bandung, Niana bingung harus mencari alasan apa. Tak ada pilihan lain akhirnya Niana datang ke rumah Raksa.
"Aku besok tidak bisa bertemu dengan mu. Sampai bertemu lusa di hari ulang tahun ku," Niana masih menyembunyikan kalou hari ulang tahun sebenarnya tepat besok tanggal 23.
Entah kenapa ia belum siap untuk merayakan nya bersama keluarga Raksa. Membayangkan mereka akan bahagia menyambut dan merayakan hari lahirnya, ia justru sebaliknya, kesedihan yang akan muncul di dalam dirinya. Niana sungguh takut akan hal itu. Setidaknya lusa di tanggal 24, berharap ia bisa mengendakikan perasaan nya.
"Kenapa, apa kamu ada acara?" tanya Raksa.
"Padahal aku ingin mengajakmu, aku ingin mengenaklan mu pada seseorang yang penting dalam hidupku," raut wajah kecewa Raksa. "Bisakah besoBisakah besok kamu membatalkan acaramu. Aku akan minta ijin langsung pada ayahmu." Raksa nampak memohon, pria itu sunggu berharap Niama bisa ikut bersamanya.
"Maaf kan aku Aksa, justru aku ada cara keluarga dengan ayahku yang sangat penting."
"Baiklah, lain kali saja. Aku akan mengenalkan mu padanya," Niana mengangguk, walou ia sebenarnya tak tega dengan raut wajah Raksa yang kecewa.
"Aku berjanji kapanpun aku bisa, asal tidak besok."
****
__ADS_1
Keesokan harinya Raksa besama ibu dan kedua adiknya sudah mengenakan pakaian duka cita mereka, hendak pergi ke pemakaman. Alea dan Alia juga sengaja cuti sekolah dua hari, hari ini dan besok. Walou sudah di tegur Raksa tak perlu sampai ijin sekolah, tapi mereka malah kekeh dengan alasan mencontoh Abangnya yang juga cuti untuk hari yang sama.
Sesampainya di depan sebuah makam yang bernisan dengan tertulis sebuah nama Tama Ardi Darma. Doa-doa mereka panjatkan untuk sang ayah, tetesan airmata ikut membasahi makam seiring dengan air yang di siram kan dan bunga yang di taburkan.
*
Di sisi lain, Niana yang juga tengah berada di samping peristirahatan terakhir mendiang ibu tercintanya. Hari ini yang juga tepat hari ulang tahunya, yang setiap tahun hanya ingin ia rayakan di sana, bersama ibu tercintanta. Walou yang di jadapan nya kini hanyalah tempat sebuah raga sang ibu yang terkubur tanah.
"Ibu maafkan aku," permohonan maaf yang selalu terlontar dari mulut Niana setiap tahunya. Airmata yang kian menetes menasahi permukaan makam, dengan tanngan nya yang mengelus, memeluk nisan yang bertuliskan nama ibunya.
"Ibu apa ibu ingat dengan anak laki-laki penolongku yang dulu kita temui di Wahana bermain? Dia sekarang sudah tumbuh jadi pria yang kuar biasa." Niana berusaha menyinggingkan senyum nya, tapi kilasan balik kembali terlihat ia kembali mengingat traumanya. kecelakaan tragis yang merengut ibunya, detik-detik menakutkan itu terlihat kembali dalam ingatan nya.
Maya yang sedari tadi mengawasi Niana dari jauh, sungguh tak kuasa melihat Niana seperti itu. Pemandangan yang ikut menyayat hatinya setiap tahunnya.
"Cukup Nona, ayo kita pulang!" Maya mencoba membujuk Niana, gadis itu memang mengalami depresi akan trauma kecelakaanya. "Nona tolong biarkan ibu anda beristirahat dengan tenang. Beliou sudah bahagia disana, Nona jangan membuat istirahatnya terganggu."
"Seseorang yang sudah meninggal, bila di ratapi berlebihan oleh pihak keluarganya, itu hanya akan membuanya juga tersakiti Nona." jelas Maya, Niana akhirnya mengangkat kepalanya.
"Aku mau pulang," ucapnya lemah.
Maya berusaha mengangkat Niana dari dudunya, memapah Niana pergi meninggalkan pemakaman. Nisna berusaga mengeringkan pipinya yang masih basah denfan tisu.
"Kake dan tante anda juga sudah sampai di rumah Nona, seharusnya kita menunggu mereka untuk bersama-sama berziarah," ucao Maya yang tak di jawab oleh Niana, gadis itu memang selalu ingin berziarah si hari kepergian ibunya itu sendiri.
Selangkah demi selangkah Niana dan Maya melewati jajaran makam di sana. "Aku bisa sendiri, aku baik-baik saha." Niana menepis tangan Maya yang berusaha memapahnya.
__ADS_1
Tanpa di sangka langkah Niana tertahan, ia tersentak melihat sebuah keluaga yang mengenakan pakaian serba hitam, tengan berkumpul di suatu makam.
"Kak Niana," Alia menyebut nama Niana, saat ia melihat Niana tengah berdiri di belakang mereka, sontak semua orang ikut melihat ke belakang, melihat Niana yang hanya terpaku diam di tempat ya berdiri.