Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 72


__ADS_3

"Sepertinya kamu harus memberi Raksa semangat lagi," ucap ayah Aga yang di pertanyakan oleh Niana maksudnya apa "Perusahaan Daffin sudag lebih unggul dari Raksa," Kalimat yang membuat Niana kaget.


"Jangan bilang ayah sudah benar-benar membyat Daffin dan Aksa berlomba siapa yang lebih sukses membangun bisnis mereka?" Niana menggeleng aget dan tak terima. "Dan aku yang akan jadi imbalan nya?"


"Ayah sudah pernah bilang kan sebelum nya," Kali ini ayah Aga beralih melihat putrinya yang sedang melayangkan tatapan porotes padanya.


"Lakukan apa yang ayah mau!"


"Ayah hanya melindungi mu," ucap Aga.


"Biarkan saja Daffin menang!" kali ini ayah Aga yang tersentak dengan ucapan putrinya.


"Kenapa seperti itu? Ayah tetap yakin Raksa yang akan menang."


"Ucapan ayah terdengar sangat mendukung Raksa, kalou aya hanya ingin mengujinya. Apa sampai harus malakukan hal ini?" tanya Niana, dengan perlahan memasukan ujung garou yang sudah ada potongan roti yang menancap di sana ke dalam mulutnya. "Aku dan Raksa akan sulit betsatu nantinya, jadi mungkin lebih baik dia kalah saja."


Ayah Aga hanya memperhatikan putrinya tanpa bertanya kenapa Niana berpikir seperti itu.

__ADS_1


"Ayah tau, orang yang dulu menyelamatkan ku dalam kecelakaan, yang ikut jadi korban tewas ledakan mobil itu?" Ayah Aga masih bergeming, membiarkan Niana melanjutkan ucapan nya. "Dia adalah ayahnya Aksa."


"Ayah tau." Niana langsung menoleh pada ayahnya.


"Sejak kapan?" tanyanya heran. "Kenapa ayah tidak bilang padaku?"


"Ayah tau itu sydah lama."


"Lalu kenapa ayah tidak pernah memberi tahuku? Dan kenapa ayah tidak pernah menemui keluarganya untuk sekedar berterimakasih." pertanyaan Niana beruntun.


"Benarkah seperti itu? tapi ibu Safira berkata lain," heran Niana percaya tidak percaya.


"Entahlah, mungkin saat itu mereka mereka saat masih dengan keadaan sangat berduka. Ayah sempat dengar, ibunya Raksa jiwanya sempat terguncang," jelas Aga.


"Ibu Raksa sangat marah pada ayah, apalagi padaku yang menjadi penyebak kematian suami nya." ucap Niana sendu. Aga sungguh tak tega melihat putrinya kembali seperti itu, terelenggu dengan perasaan bersalahnya. Apa lagi saat ini setelah ia mengetahui ayah Raksa juga meninggal dalam kecelakaan setelah menyelamatkan nya, menambah rasa bersalahnya.


"Ayah aku ingin kembali ke Amerika,"

__ADS_1


"Ayah tidak setuju, di sana sama saja kamu menghampiri bahaya." kalimat ayah Aga kembali membuat Niana tak mengerti. "Dulu ayah salah mwnyuruhmu kuliah si sana."


"Bahaya apa maksud ayah?" tanya Niana tak mengerti.


"Kamu tidak akan mengerti, ayah tidak bisa membiarkan mu kembali ke sana," ucap Aga yang membuat dahi Niana berkerut, tapi dia tidak ambil pusing dengan kata bahaya itu. "Sebaiknya jangan menghindar dari masalahmu, jangan terus merasa betsalah, di agama kita sudah sangat mengatakan kalou kematian seseorang adalah takdir."


"Iya takdir. Tapi orang meninggal karena terbunuh, dan yang membunuh pun harus di penjara. Karena ada yang salah dan tida bukan? mereka tidak menggunakan alasan takdir utuk pembunuh agar tetap bebas, dan keluarga yang di bunuh pun sama, mereka tidak akan melepaskan pembunuhnya, hanya karena takdir keluarga mereka sudah harus meninggal." pandangan Niana menajam melihat ayahnya, yang kemudian ia melanjutkan kembali ucapan nya. "Dan aku sama saja membunuh dua orang secara tidak langsung. Karna itu salahku, aku yang salah, tetap aku yang salah ayah." diakhiri ucapan Niana yag bwrteriak.


"Cukuo sayang, itu sangat berbeda. Kamu tidak membunuh, kamu tidak betsalah." ayah Aga beranja dri duduknya lanjut memeluk putri semata wayang nya.


"Aku takut ayah, aku takut keluarga Aksa akan membenciku setelah mereka tau aku penyebah kematian ayahny Aksa, yang sudh menukar yawanya sengan ku." tangis Niana peca tah tetahan.


"Cukul sayang itu bukan salahmu, semua itu kecelakaan. Dan kamu tidak perna ingin hal itu terjadi bukan?" ayah Aga berusaha menenangkab putrinya.


"Aku hanya takut ayah,"


"Tidak akan mereka pasti memaafkan mu,*

__ADS_1


__ADS_2