
Sebelum membaca BAB ini, mohon kembali baca lagi BAB sebebelum nya, BAB 63. Karena 98% cerita di BAB sebelum nya aku ubah, ceritanya sebelum nya kurang srek, karena kemarin terlalu maksain up banyak jadi kurang bagus...
Karin tengah mempersiapkan proposal pengajuan kerja sama untuk prusahaan Sun Media Corporations, yang hari ini ia akan berangkat bersama Raksa menuju prusahaan itu. Mengingat prusahaan ternama itu yang sedang mencari parter untuk kerja sama, Raksa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Banyak keuntungan yang bisa dia dapatkan bekerja sama dengan prusahaan iklan ternama tersebut, salah satunya rekomendasi produk, meningkatnya nilai jual dan keuntungan lain nya. Satu minggu ini Raksa sudah mempersiapakn semuanya dengan sangat matang saat ini. Ia bersama Karin sudah berada satu mobil menuju prusaahan tujuan mereka.
"Kita pasti dapat kerja sama ini," semangat percaya diri Karin, Raksa ikut tersenyum dengan semangat gadis itu.
"Tentu saja."
"Satu minggu ini kita lebih sibuk dari biasanya, gak ada Bonanza tenyata membuat kita cukup kewalah juga. Aku baru sadar setelah anak itu pergi, ternyata kita sangat membutuhkan nya. Awalnya aku yang sangat tidak suka padanya." ucap Karin.
"Kenapa?"
"Kamu tidak sadar dia menyukaimu, aku hanya takut kamu kepincut berpaling dari Niana."
"Jangan bicara tidak-tidak, kita akan segera menemukan gantinya." jawab Raksa.
*
Raksa dan Karin memasuki ruangan utama kantor yang mereka datangi. Mereka di sambut dengan baik, Raksa sengera mempresentasikan pengajuan kerja samanya, seiring dengan proposal nya yang di priksa oleh owner prusahaan tersebut.
"Ini proposal yang sama dengan sebelum nya sudah anda kirim?" tanya nya pada Raksa.
"Iya, hanya saja kami sedikit menambahkan tujuan keuntungan yang bisa di raih bekerja sama dengan prusahaan kami."
"Semuanya sangan bagus, dan sangat mudah aku pahami tujuan dan keuntungan nya sangat real," ucapan CEO tersebut membuat Raksa tetsenyum, dia harap pujian itu berakhir baik. "Tapi sayang nya, prusahaan kami sudah menemukan prusahaan yang lebih cocok untuk kerja sama ini cocok. Visi dan misinya dengan prushan kami."
Wajah Raksa masam, ia sangat kecewa bagaiman ia bisa sepercaya diri tadi sebelum nya, "Prusahaan mana yang anda pilih?"
"Nah itu dia mereka datang," kaget. Wajah Raksa tidak bisa menyembunyikan nya, Melihat Rifal nya yang tengah di hadapan nya sekarang, lebih kagetnya ia bersama mantan managernya.
"Apa kabar pak Raksa," sapa Daffin.
__ADS_1
"Baik," jawab Raksa, menerima jabat tangan nya. "Kalou begitu saya pamit."
Raksa di susul Karin meninggalkan ruangan tersebut dengan cepat, perasaan marah kali ini menyeruap dalam dirinya. Daffin bisa mendapat kerja sama itu, sedangkan ia tidak. "Udah Rak, masih banyak prusahaan lain," bujuk Karin.
Raksa dan Karin sudah menekan tombol lipt untum turun ke lantai bestmen menuju tempat mobil mereka terparkir.
"Raksa tunggu," teriakan terdengar menahan mereka. Bonanza yang berlari, menghampiri Karin dan Raksa. "Maafkan aku," dengan nafas tersegal.
"Untuk apa?" tanya Raksa.
"Sudah lah kamu sekarang sudah jadi penghianat," celetuk Karin.
"Apa maksudmu?" Bonanza tidak terima.
"Aku tidak bermaksud menyaingimu, aku tidak tau kamu ikut mengajukan kerja sama dengan prusahaan ini," ucap Bonanza. "Maafkan aku Raksa."
"Tidak usah minta maaf bukan salahmu, mungkin memang prushaan kalian lebih pantas," jawab Raksa. "Jadi sekarang kamu bekerja untuk prusahaan Daffin?"
"Baiklah, bekerjalah dengan baik. Semoga kamu betah." Raksa melanjutkan langkahnya masuk kedalam lipt, pintu lipt kemudian tetutup dan membawanya turun.
"Bisa-bisanya dia bekerja dengan prusahaan yang mengalahkan pengajuan kerja sama kita," kesal Karin.
"Jangan bicara seperti itu, dia tidak bermaksud menyaingi kita. Wajar saja kalou prusahaan mereka yang menang, Bonanza memang sangat bisa di andalkan." ucap Raksa, sejujurnya ia sangat kehilangan Bonanza tapi kembali lagi ia harus menerima keputusan nya dengan baik.
"Iya baiklah aku akui dia memang hebat, pintar mandiri, dan sangat pekerja keras," ucap Karin, "Selama ini aku bersikap kurang baik padanya, setelah dia resine aku malah merasa kehilangan."
"Ucapan mu tadi juga keterlaluan padanya, mengatainya penghianat. Padahal kamu tidak tau alasan nya resine," jelas Raksa pada Karin, membuat gadid itu merasa bersalah pada Bonanza.
"Iya aku menyesal, nanti akan aku teraktir dia minum kopi sebagai permintaan maaf."
****
Mobil Raksa menepi di tepi jalan, Raksa nampak sedang menghubungi seseorang, "Rick bisa tolong jemput Karin?" ucapan Raksa jelas membuat mata karin membulat sempurna melihatnya.
__ADS_1
"Aku tunggu," setelah mengatakan lokasi keberadaan mereka Raksa mengakhiru panggilan telpon nya.
"Apa maksudmu menyuru cowo astral itu menjemputku?" protes Ricko.
"Aku ada urusan penting, aku tidak bisa mengantarmu," ucap Raksa.
"Lagi pula aku bisa kembali ke kantor sendiri Rakew," kesal Karin. Namun apa daya, Ricko sudah akan menuju kesana atas permintaan Raksa.
"Sudahlah, apa kami tidak bisa berdamai dengan nya? Dia pria yang baik Karton," pinta Raksa, yang langsung di jawab Enggak oleh Karin.
Tidak samoai 20 menit menunggu Mobil Ricko sudah terparkir di depan mobil Raksa, "Ayo turun," pinta Raksa, dengan kesal karin membuka seatbelt nya lalu keluar membanting pintu keras. Sementara di depan Ricko juga sudah keluar dari mobilnya menyambut Karin yang menghampirinya.
"Aku titip Karin," seru Raksa, pintanya pada sahabatnya itu dari dalam mobilnya tanpa keluar, hanya sedikit menampakan kepalanya dari jendela. Raksa lanjut melajukan mobilnya pergi.
Wajah karin sangat tertekuk kesal, dengan segera ia masuk kedalam mobil pria yang menurutnya paling menyebalkan. Hening selama beberapa menit berlalu di dalam mobil Ricko, sampai skhirnya Ricko menyalakan musik di mobilnya sebagai pemecah keheningan.
"Berisik, ganti lagunya," ucap Karin tanpa mengalihkan pandanganya ke luar jendela. Ricko mau tidak mau menggantinya dengan sebuah lagu romanti, terlihat Karin menikmati lagunya.
"Mau aku antar kemana?" tanya Ricko.
"Ke kantor," cetus Karin.
"Selama ini aku salah menilai Bonanza," ucapan Ricko membuat karin menengok ke arah nya, mempertanyakan yang terucap dari mulut Ricko barusan, "Ternyata ada yang lebih galak dari Bonanza, seharusnya julukan nona galal itu lebih tepat untul mu."
"Kamu bicara apa?" protes Karin dengan hendak melayangkan pukulan di bahu Rocki. Namin sebelah tang Ricko menangkis tangan Bonanza yang akan memukulnya, ia tidak menggenggam nya erat tidak membuarkan nya terlepas walou sekuat apapun Karin menarinya.
"Lepaskan tanganku cowo astral," teriak karin. Namun Ricko tak memdengarnya.
"Diam kalou kamu tidak mau kita celaka," ucap Ricko tegas, Karin pun merileksan tangan nya membiarkan Ricko memegang nya. "Lepaskan, aku tidak akan memukulmu lagi," pintanya melembut.
"Diam lah, bukankan ini nyaman?" ucap Ricko tanpa mengalihkan pandangan nya dari jalanan di depan, dengan sebelah tangan mengendalikan kemudi.
Karin terdiam menatap tangan nya yang di genggam erat oleh Ricko, jantungnya seakan memompa lebih cepat membuat nya berdetak tak karuan. Satu tarikan lagi, akhirnya genggaman riko terlepas.
__ADS_1