Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 22


__ADS_3

Raksa sedang duduk di atas tempat tidurnya, membuka komputer lipat nya hendak memeriksa tugas-tugas kuliah. Lalu mencari informasi iklan perumahan dan apartemen karna Raksa berniat mencoba menjadi agent properti.


Setelah beberapa lama matannya kembali sendu menatap layar laptop. Melihat potonya bersama Niana dan kedua adiknya saat makan eskrim setelah kelulusan kedua adiknya tempo lalu.


"Maafkan Aku.. Aku harap kamu tidak akan melupakan mu, walou aku sudah sangat menyakitimu." Raksa menutup kembali laptonya, seakan tak sanggu berlama-lama memandangi poto gadis cantik di layar lsptop tersebut.


****


Setelah pulang kampus, Raksa ikut pulang bersama Harry ke rumahnya, karna Raksa ingin bertemu dengan ayahnya Harry. Sesampainya di rumah sahabatnya, Raksa bertemu dengan orang yang ingin ia minta tolong bisa bekerja sama dengan nya itu. Hartono ayahnya Harry seorang pengusaha sukses di bidang properti. Raksa langsung menyampaikan niatnya.


"Wah, saya sangat suka dengan anak muda seperti kamu." tanggapan pak Hartanto ayah nya Harry, setelah mendengar penuturan Raksa "Masih muda sudah mau memulai usaha, Harry kamu harus banyak belajar dari Raksa."


"Enggak pa, Harry mau fokus kuliah belum mau mikirin susah-susah nyari duit kaya si Raksa." Jawab Harry kemudian meninggalkan Raksa dan papanya yang sedang berbincang di ruang tengah.


"Anak itu," Gumam Hartanto melihat putranya "Baiklah Raksa, besok kamu bisa bertemu bawahan om di kantor cabang, dia akan membeberikan mu referensi hunian dan apartemen, yang langsung bisa kamu promosikan, kamu bisa mendapatkan komisi yang lumayan untuk setiap penjualan unit yang berhasil." Tutur Harry pada Raksa


"Terimakasih banyak om, trimakasih banyak om sudah mau nembantu saya." Raksa begitu senang dengan kerja sama yang sudah di setujui ayahnya Harry "Saya akan berusaha keras, waloupun saya masih belajar dan belum punya pengalaman."


"Kamu hebat Raksa, semangat mu untuk berhasil itu luar biasa. Om yakin kamu pasti akan sukses."


"Terimakasih om."


****


Esok Hari Raksa memulai sepak terjangnya di dunia bisnis properti. Setelah menjalin kerja sama dengan prusahaan ayahnya Harry, yang sangat memudahkan awal usahanya. Raksa sudah memasang beberapa iklan di blog dan media sosia yang khusus di buat untuk mempromosikan hunian, apartemen, maupun tanah.


Berawal dari Broker, Makelar, atou bahasa kerennya Agent Properti. Dengan keyakinan nya bisa menjadi awal untuk kesuksesan nya di masa depan. Terbukti baru awal promosinya dengan kepiawan dan semangatnya nya mempromosikan, menawarkan, mampu memikat hati para pembeli. Dalam waku yang singkat beberapa Unit hunian dan apartemen terjual.


"Saya cocok, kita langsung deal." Kata seorang klien langsung menjabat tangan pria muda yang tak lain adalah Raksa. tertarik membeli Rumah yang sedang Raksa tawarkan.


"Saya akan persiapkan semua surat-suratnya." Ucap Raksa mantap saat masih menjabat tangan klien nya.


Raksa keluar dari Rumah yang baru saja di tunjukan pada klien atou pembeli yang juga sedang berada di samping nya keluar dari rumah yang sudah mantap untuknya beli. "Berapa usia mu?" tanya Klien nya.

__ADS_1


"19 hahun pak." Jawab Raksa.


"Ternyata kamu lebih muda dari dugaan ku. masih kuliah?" Perbincangan kecil mengiri langkah kaki mereka keluar dari sebuah rumsh megah yang baru saja mereka lihat detailnya.


"Iya pak saya kuliah di Universitas PJ Mandiri." jawab Raksa yang mendapat respon kekaguman dari klien nya.


"Hebat sekali. Anak muda seperti mu yang sudah mau bekerja keras mulai usaha mu sendiri." Ucap kagum klien Raksa. "Kamu sudah punya pacar?"


"Belum pak, tidak ada waktu untuk pacaran." jawab Raksa, jujur tidak jujur, dia memang tidak punya pacar tapi bukan tidak punya waktu untuk pacaran, melainkan gadis yang dia ingin kan belum bisa dia dapatkan saat ini.


"Saya bekerja keras seperti ini juga untuk seseorang yang saya harapkan bisa lebih jadi pacar saya kelak."


"Andai saya punya anak gadis, sudah saya jodohkan dengan mu." Perbincangan yang iringi tawa ringan dari mereka berdua.


****


Selesai kelas, seperti biasa Raksa pulang menggunakan sepeda motor kesanyangan nya, menyusuri jalanan hendak menuju suatu tempat yang sudah lama tak ia kunjungi, Royale Cake & Bakery toko kue dan roti milik ibunya yang sekaligus juga tempat yang banyak memberikan kenangan berarti untuknya.


"Mogok lagi." gerurunya pelan, turun dari motornya memeriksa bagian-bagian sepeda motor yang kemungkinan menjadi penyebab motornya tidak bisa di nyalakan.


Sebuah mobil berhenti tak jauh tepat di samping Raksa, terlihat kaca mobil belakang yang hendak terbuka.


"Tuan so baik hati kenapa, motornya mogok?" Ledek Bonanza,  yang terlihat dari dalam mobil itu.


Raksa tak menghiroukan ucapan gadis itu tetap berusaha menghidupkan motornya.


"Kasian gak ada yang bantuin, dahh." Lanjut Bobanza, kemudian kembali menutup kaca mobilnya, mobil yang di naikinya pun berlalu meninggalkan Raksa disana.


Karena tidak membawa kunci-kunci dan suku cadang, waloupun sudah mengerti kenapa motornya mati tetap tidak bisa di nyalakan kembali. Akhinya Raksa mendorong nya sampai ke bengkel yang jaraknya kurang lebih 100 meter dari sana. Lumayan melelahkan untuk mendorong motor di tengah terik panas matahari.


Raksa duduk menunggu motor nya di perbaiki. "Iya yang penting sesuai keinginan anak dan istri saya, berapapun saya bayar kalo sekiranya cocok. Saya tidak cukup punya banyak waktu, saya harus segera membawa keluarga saya pindah secepatnya."  Terdengar jelas suara seorang pria paruh baya di samping Raksa, yang sama duduk menunggu Mobilnya di servis.


"Mobilnya mogok juga ya pak?" Tanya Raksa basa basi.

__ADS_1


"Iya, ban mobil saya pecah tadi, untuk dekat dengan bengkel ini." Jawab pria paruh baya tetsebut, tidak mengalihkan perhatian dari ponselnya.


"Mohon maaf pak, tadi saya dengar kalo tidak salah tangkap. Apa bapak sedang butuh rumah?" Tanya Raksa kembali.


"Iya, Saya butuh rumah sekitaran lokasi xxxx dan harus segera pindah, saya bingung belum menemukan yang sesuai keinginan istri saya." Jawab Pria itu.


"Kalo begitu, apa bisa saya bantu. Kebetulan saya punya banyak rekomendasi hunian di lokasi xxxx." Ucap Raksa, memanfaatkan peluang awal untuknya itu.


"Serius kamu?" Tanya Pria paruh baya itu tampak ragu.


"Tentu saja saya serius, kebetulan saya adalah agent properti. Bapak bisa sangat percaya pada saya."


"Baiklah.. apa kamu bisa menujukan salah satu hunia mu?" Pria itu tampai mulai percaya.


"Tentu, sekarang juga bisa pak." Jawab Raksa dengan mantap.


"Kalo begitu mari naik mobil saya, kebetulan sudah selesai."


"Baik mari pak."


Raksa memasuki Area perumahan lokasi xxx, setelah mendengar kriteria tipe rumah yang di inginkan dari calon pembeli Raksa memilih perumahan xxxx.


"Bagai mana pak, ini sudah sesuai dengan kriteria keluarga bapak yang tadi bapak ceritakan," Tutur Raksa. "lokasinya juga sangat strategis. Dan untuk harga kebetulan kita sekarang sedang ada promo. Bagai mana menutut bapak dengan yang ini, besar, modern clasic dan sangat homy. Semoga istri dan anak bapak suka."


"Iya, istri dan anak saya pasti sangat suka. Bisa saya menempatinya secepatnya."


"Tentu pak, akan saya urus semuanya."


"Iya, terimakasih banyak untuk bantuan nya. Kamu anak muda yang hebat sebagai Broker." pujian terloltar lagi untuk Raksa "Nanti kamu juga dapat komisi dari saya."


"Trimakasih pak, trimakasih banyak sudah percaya kepada saya."


Raksa telah berhasil dengan beberapa penjualan nya, rasa senang dan tak percaya tak terkira meliputi nya. Masih tidak percaya, beberapa orang meragukan nya yang menurut mere hanya bocah ingusan, tapi nyatanya siapapun bisa asalakan sungguh-sunggu dab mau berusaha.

__ADS_1


__ADS_2