
Karna banyaknya pengunjung dan semakin memenuhi area out door, Raksa dan Niana menjadi tontonan dan membuat baper semua orang. Setelah tersadar, yang awalnya mereka mengabaikan orang-orang di sana, akhirnya Niana malu sendiri membuat Niana tertunduk dengan wajah merah seakan sudah seperti kepiting rebus saking malu, sementara Raksa sebaliknya, ia cuek tidak perduli.
Namun karena Niana sudah merasa tidak nyaman, Raksa menarik Niana, membawanya menjauh. Setelah melaksanaka ibadah sholay magrib, di mushola yang tersedia di restoran. Mereka menemukan tempat yang nyaman tidak jauh dari sana, Bukan area bagian dari restoran tadi, melainkan sebuah tempat yang terdapat saung-saung dan para pedagang kecil yang menjajakan makanan di sana.
"Kamu sangat manis, kalou wajahmu merah." ucap Raksa.
"Bilang saja udah kaya udang rebus!" cebik Niana.
"Ia tapi sangat cantik!" puji Raksa, membuat Niana tersipu malu pipinya semakin merona merah.
"Tolong jangan gombal Aksa!" Niana mencebik berusaha memalingkan perasaan nya.
"Tapi aku jujur!" jawab tegas singkat Raksa.
"Kamu kedingianan?" tanya Raksa saat mereka sedang duduk di salah satu saung, memperhatikan Niana yang ia rasa suasana dataran tinggi di sana memang semakin dingin, Karna hari juga sudah berganti malam.
"Apa kita pulang saja?" tanya Raksa lagi, namu Niana menggeleng.
"Sebentar lagi, aku suka disini!" jawab Niana, yang merasa tidak ingin beranjak dari sana, pemandangan yang jauh lebih indah terlihat dari sana, restoran yang tadi mereka kunjungi pun terlihat sangat indah dengan lampu-lampu yang menghiasinya. Suasana seperti ini sangat jarang ia jumpai terlebih bersama pria yang selalu ada di hatinya saat ini.
"Kalou begitu bagaimana kalou kita bergabung dengan mereka!" tanya Raksa, melirik anak-anak muda lain yang sedang nongkrong tidak jauh dari sana, yang terdapat api unggun yang mereka nyalakan.
*
Niana dan Raksa sudah ikut bergabung dengan para muda-mudi pencinta alam yang sedang nongkrong dekat mereka tadi, suara gitar dan nyanyian-nyanyian yang terdengar menambah hangat suasana malam itu.
Raksa berkali-kali melirik Niana dengan tersenyum untuk gadis cantik yang tengah duduk di samping nya yang sedang menikmati hangatnya api unggun dengan lantunan gitar dan nyanyian merdu dekat mereka.
"Ini kak, masih hangat!" seorang pembuda memberikan dua jagung bakar kepada Raksa.
"Terimakasih, kami jadi merepotkan!" ucap Raksa.
__ADS_1
"Engga santai aja! kita seneng ko ada pasangan muda yang sangat serasi ini ikut gabung!" ucap salah seorang gadis yang ada di sana.
"Seru banget ya, nongkrong-nongkrong di tempat kaya gini!" balas Raksa.
"Iya, kita lebih suka di sini dari pada ke klub atou tempat-tempat rame. Lebih menenangkan pikiran dan memnghangatkan hati, iya nggak!" sahut anak muda di sana. Mereka tergolong seperti sebuah kmunitas kecil anak-anak muda pencinta alam.
Raksa dan Niana ikut hanyut dalam keseruan dengan para pemuda pencinata alam itu, tawa dan keseruan ikut bersama mereaka.
Tidak terasa mereka sudah lumayan lama di sana, Raksa dan Niana dibuat lupa kalou mereka pergi tidak hanya berdua malam itu. Mereka melupakan Karin dan Ricko.
Setelah mereka teringat dengan dua sosok manusia yang tidak pernah akur itu, Raksa melihat ponselnya menujukan waktu sudah pukul 17:21, dan terdapat benerapa miss call dari Karin. Akhirnya Raksa dan Niana menghakiri keseruan bersama orang-orang baru yang mereka temui terlebih dulu. Kembali ke restoran tadi.
"Karin dan Ricko pasti mencari kita!" ucap Niana sedikit panik, berjalan mendahuli Raksa.
"Biar saja, paling hanya karin yang mencari kita!" jawab santai Raksa, "Mereka akan sangat mengerti, justru mereka pasti senang sudah kita tinggal berdua!"
"Gak mungkin Aksa, aku justru mikirin Karin dia pasti sangat bt, di tinggal sama temen kamu yang nyebelin. Mereka kan gak pernah akur." Raksa hanya tersenyum, ikut melangkah lebih cepat, dengan meraih menggengang tangan Niana, membuat mereka berjalan beriringan berpepengangan tangan. Dengan sebuah senyuman has Raksa yang tersungging untuk Niana, Niana membalas tersenyum kecil yang kemudian memalingkan wajahnya, pipinya kembali memerah.
Pipiku pasti merah lagi sekarang! batin Niana yang berusaha memalingkan wajahnya, namun Raksa tersenyum usil menanggapinya.
"Haha..." Raksa hanya tertawa menanggapinya, "Aku kan sudah bilang, kamu semakin cantik kalou pipimu sedang merah seperti itu!" ucap Raksa dengan menghentikan langkahnya, berbalik melihat Niana, yang juga memraih bahu Niana untuk ia hadapkan kepadanya.
"Kamu gadis yang paling cantik dimataku, aku tidak berbong." Raksa menatap serius gadis cantik di hadapan nya. Jantung Niana berdegup semakin cepat, ia menonggakan kepalanya ikut yang membuat sepasang maata mereka bertemu.
Cup.. sebuah ciuman mendara di kening Niana, ia seakan tersental kaget, sebuan kecupan yang lama dan dalam Niana mulai memejamkan matanya, merasakan sebuah perasaan cinta dari seorang Raksa yang begitu dalam padanya.
"Ayo! hari sudah malam, nanti kake mu marah!" Raksa kembali meraih tangan Niana, menuntun membawanya.
Karin yang menyambut kedatangan Raksa dan Niana dengan wajah tertekuk, sementara Ricko sebaliknya terlihat santai dan biasa saja.
__ADS_1
"Kalou mau pergi kenapa gak bilang!" cerca Karin, "Di telpon gak di angkat-angkat, abis ngapain aja kalian?"
"Ngapain apa, kita habis dari bukit itu gabung nongkrong sama anak-anak pencinta alam yang kemah di sana!" balas Niana.
"Ya setidaknya bilang dulu!"Karin masih dengan nada marah, Niana langsung meminta maaf namun tetap di abaikan oleh Karin.
"Udah kita pesen makanan dulu, dari tadi kita belum makan!" sergah Raksa.
"Emang siapa yang udah makan! kita udah kelaperan nungguin kalian!" timpal Ricko, waloupun sebenarnya ia sangat senang sudah dengan puas mengoda Karin, membuat nya jengkel kepayang.
Setelah selesai makan, mereka berempat pun langsung pulang. Kini Ricko yang menyetir dengan Karin dudul di depan, sementara Raksa dan Niana duduk di belakang.
Niana memfokuskan pandangan nya melihat ke luar jendela, seperti biasa ia memalingkan wajahnya nya dari sepasang mata yang terus mencari celah untuk bisa menyisuri wajah Niana dengan penglihatan nya. Sebuah bunyi pesan masuk mengalihkan Niana, Niana tidak bisa menyembunyikan senyuman nya meligat pesan masuk dari Raksa.
"Silahkan saja terus menyembunyikan wajah cantik mu dariku, tapi suatu saat aku akan bisa memandangunya sepuasku, aku pastikan itu!" Niana tidak membalas pesan Raksa, ia mematikan posselnya dan berusaha bersikap acuh. Namun sebuah notif pesan masuk kembali terdengan di ponselnya, sudah ia duga itu dari Raksa.
"Kalou senyum jangan di tahan-tahan. Sayang nanggung liatnya!" Niana benar-benat tidak bisa menahan senyuman nya sekarang, akhirnya ia mengetik keyboar di layar ponselnya untuk membalas pesan Raksa.
"Terimakasih!" balasan Niana.
Sebuah Notifikasi pesan masuk kembali terdengar. "Untuk apa, dream girl?"
Senyuman Niana benar-benar tersungging lebar, "Karna sudah membuatku tersenyum!" balas Niana, yang tidak lama kembali mendapat balasan.
"Sudah tujuan hidupku, selalu membuatmu tersenyum!" balasan Raksa, Niana sangat bahagia membaca pesan terakhir Raksa, ia menoleh pada pria yang sudah tersenyu manis padanya, niana membalasnya senyumannya sungguh-sungguh.
"Coba saja hanya kita berdua!" pesan Raksa kembali.
"Kenapa memangnya?" tanya Niana.
"Aku ingin memelukmu!" balasan Raksa, kalin ini Niana benar-benar di buat malu pipinya kembali memerah.
__ADS_1
"Dari mana kamu dapat nomor ku?" Niana sudah kehabisan kata untuk membalas.
"Tentu saja dari sekertarisku yang paling baik. Jangan mengalihkan tofik." balas Raksa, Niana tidak membalas lagi pesan Raksa kali ini. Niana melirik pria di samping nya denga sebuan senyuman yang ia perlihatkan, tidak di pungkiri sungguh Niana sangat bahagia malam ini.