
Niana dan Karin tengah menikmati desserts eskrim, sembari menunggu kedatangan Daffin. Niana menatap Karin, gadis di deoan nya ini sunggu menghiburnya seharian ini, makan eskrim di temani teman yang menyenangkan sungguh bisa membuatnya sedikit melupakan ketakutan akan penyesalan kesalahan nya di masalalu, membuatnya tidak terlalu memikirkan ketakuatan akan Raksa dan keluarnya akan membecinya kala mengetahui kesalahan nya di masa lalu itu.
"Karin! andai aku mengenal mu dari dulu," ucap Niana dengan menatap Karin. "Mungkin aku tidak akan kesepian."
Karin terhenyak dengan kalimat terakhir Niana, membuatnya mengerti dilema gadis itu, ternyata terlahir sebagai seorang anak konglomerat tidak seindah bak cerita yang dia dengar. Karin seketika berhenti memasukan eskrim kembali kedalam mulutnya tersenyum ke rah Niana. "Sekarang kamu tidak akan kesepian lagi! aku akan selalu ada untuk mu kapan mu kamu butuh."
Niana tersentuh dengan ucapan Karin bagai manapun baru kalin ini ia memiliki seorang sahabat. Kehidupan nya selama ini tentu saja membuatnya sulit untuk bergaul. Adapun benerapa anak yang dia kenal, anak dari rekan bisnis ayahnya, tentu saja berbeda, sangat sulit memiliki teman yang baik dan tulus.
Hari sudah mulai cindong ke arah barat, Niana melihat jam tangan nya, sudah terlalu lama dia meninggalkan rumah, jika terlalu lama lagi itu akan menjadi masalah besar. Namun gadis itu memilih menunggu sebebtar lagi sampai Daffin datang.
"Aku ke toilet sebentar ya!" pamit Karin yang di anggukan oleh Niana.
Sudah lebih dari 15 menit Karin belum juga kembali, takut ada apa-apa dengan teman nya itu Niana hendak menyusulnya. Belum sempat beranjak dari duduknya ada seorang pria betopi berpakaian serba hitam, kacamata hitam dan memakai masker menghampirinya dan duduk di hadapan nya. Awalnya Niana kira itu Daffin namun setelah melihat tatapan nya yang menyeramkan jelas itu bukan Daffin yang memiliki tatapan lembut nan indah bak dewa yunani.
Tidak lama pria itu menyodorkan ponsel nya, tentu saja seketika membuat Niana tersentak kagen menutup mulut nya. "Jika ingin teman mu selamat ikuti aku, dan jangan berteriak," pria itu memperlihatkan poto karin yang tergeletak tak sadarkan diri, mau tidak mau Niana mengikuti kemana pria itu berjalan.
Rasa takut menyelimuti sekujur tubuh Niana, matatanya mulai menganak sungai sampai menetes, suaranya mulai lirih terdengar. "Dimana Karin? kalian apakan sahabatku?"
"Diam jangan menangis, kau bisa membuat orang curiga. jika ingin teman mu selamat diam lah," Niana hanya bisa diam, setelah berjalan cukup jauh dari kafe tadi, pria misterius yang membawanya sampai di sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan yang sepi. "Masuk!" ucapnya dingin, di dalam mobil sudah ada dua orang lain yang sama memiliki tatapan menyeramkan.
"Dimana Karin?" teriak Niana.
"Dia masih baik-baik saja, dia berada di mobil yang lain!" ucap pria tadi, yang duduk di samping nya dengan seorang pria yang berpostur tinggi besar di samping lain nya.
Niana mengusap pipinya yang basah. Niana mengingat Daffin, mungkin saja pria itu sudah sampai di kafe tadi, dan GPS nya masih terhubung dengan pria itu, Daffin yang menjadi satu-satunya harapan Niana saat ini. Secara kebetulan ponselnya terasa bergetar, Niana yakin itu panggilan dari Daffin, mengingat hanya pria itu yang di hubungi dari no baru nya, Niana secara perlahan membuka klip tasnya dan memasukan tangan nya ke dalam tas dengan cepat Niana menekan tombol volume yang otomatis membuat panggilan di ponselnya terangkat.
"Kaliam mau membawaku kemana?" Niana sengaja berkata dengan keras, "Kalin ingin menculik ku? Kalian membawaku ke jalan **** Apa tujuan kaliam?"
"Diam jangan banyak tanya, nanti kamu akan tau setelah bertemu dengan bos kami!" bentak seorang di dalam mobil itu.
"Rasa takut Niana sulit untuk di gambarkan saat ini, terlebih perasaan hawatirnya terhadap karin, melihat foto Karin yang tergeletak tak sadarkan diri, ia sungguh takut mereka membuat Karin terluka!" air mata Niana tanpa di minta semakin menetes keluar, ia tak sampai kepikiran akan mendapat hal seperti ini karena telah meninggalkan rumah. Yang sebelum nya Niana hanya berpikir hanya akan membuat panik semua orang saja.
Niana di bawa ke sebuah gudang tua di daerah yang sungguh tidak ia kenali, tampak sepi dan kumuh. Niana di ikat di sebuah kursi dalam sebuah ruangan yang sedikit kedap pencahayaan, gadis itu berharap tidak ada hal lebih buruk lagi yang menimpanya dan Karin. Suara langkah kaki semakin mendekat, membuat Niana menatap tajam ke arahnya, seorang pria yang mendekatinya menjongkokan badan nya ajar tatapan mereka sejajar. Waloupun pencahayaan ruangan itu tidak terlalu baik tapi wajah pria itu bisa terlihat dengan jelas begitupun tatapan yang jelas tajam, menusuk dan dingin.
"Akhirnya kita punya kesempatan bertemu Noana muda, setelah aku hanya mendengar beberapa penggal ceritamu." pria itu terlihat masih muda, mungkin empat tahun lebih tua dari Niana.
"Siapa kamu? Apa tujuan mu membawaku kesini? Apa kamu ingin uang?"
"Uang?" suara tawa has orang jahat terdengar menakutkan, "Uang memang penting tapi ada yang lebih penting!" dengan suara tercekat Niana mempertanyakan maksud pria itu. "Balas dendam!" lanjutnnya terdengar mencekam, seakan siap menerkam gadis itu kapan pun.
"Diman Karin?"
"Dia akan baik-baik saja, tenang saja dia bukan tujuan ku. Aku tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah!" ucapnya.
Tubuh Niana gemetar dan suara nya seakan sudah tersendat sendat kala berucap, karena rasa takutnya yang mendera hebat saat ini. Lebih dari merasa terancam dari perlakuan kasar dan kata-kata kasar pria itu. Tangisnya kini sulit untuk ia hentikan.
Suara keributan di luar, mengalihkan perhatian pria itu kemudia ia pergi mengecek keadaan disana dari balik pintu. Pria itu kembali menghampiri Niana kembali, kemudian menjabret kasar tas Niana. Terlihat jelas ponsel yang masih terhibung dengan sebuah panggilan, seketika ia membanting kasar benda pipih itu dengan keras ke lantai. Niana tersentak kaget repleks memalingkan wajahnya bersembunyi.
__ADS_1
Pria itu kembali mendekati Niana, berlutut didepan nya kemudian mengangkat kasar wajah Niana dengan mencengkram nya, "Hari ini mungkin aku akan membiarkan mu lolos, tapi aku akan menunggu lagi waktu dan kesempatan yang tepat. Bersiaplah!"
Suara bantingan pintu yang baru saja di tendang seseorang, terlihat samar Daffin di sana mulai menenuhi pandangan Niana. Daffin dengan tanggap tidak datang hanya sendiri, pria itu menghubungi orang-orang nya untuk membantunya, karena sadar ia tidak bisa gegabah untuk menyelamatkan Niana. Dengan penun amarah pria itu mendekat. "Beraninya kau!"
Langkah Daffin terhenti tatkala pria yang menculik Niana menjentikan pisou lipat dan ngerahkan nya si leher Niana, "Siapa dia? Pacar mu?" pria gila itu tesenyum menyeringai dengan aura pembunuh yang mengiasi wajahnya, seakan tak segan untuk menancapakan pisou itu di leher Niana.
Langkah Daffin terkunci, tidak barani memajukan langkahnya sedikit pun. "Tolong jangan sakiti dia?" Daffin seraya memohon.
"Lepaskan orang-orang ku?" Daffin dengan segera berteriak, menyuruh orang-orang nya di luar untuk melepaska penjahat-penjahat yang sudah berhasil di bekuk. Tanpa berdaya keaadan berbalik.
"Ikat dia!" seru pria gila yang tengah mencekal Niana, dengan segera oranya mengikat tangan Daffin ke belakang. "Sepertinya aku hanya akan bermain-main saja hari ini." tawa gilanya pecah memenuhi seisi ruangan itu.
"Nona sebelum kau ku bebaskan, bagaimana kalau aku buat kenang-kenangan dulu untuk mu, seperti tanda di wajahmu yang tidak bisa di hilangkan," pria itu memainkan pisou di wajah Niana. Niana janya terlejam takut, sementara Daffin segeram apapun dia tidak bisa berbuat apa-apa. "Tapi bagaimana kalau gegar otak saja, cedra otak lebih dari itu lebih bagus seoerti menyebabkan lumpuh."
"Jangan berani-berani kau menyakitinya sedikitpun!" terak Daffin sekeras yang dia bisa, namun pria gila itu hanya semakin tertawa senang, sembari sudah berhanti senjata sebuah tongkat kayu panjang nan keras ia main kan di tangan nya, siap kapan pin ia pukulkan.
Tongat kayu itu sudah di ayunkan nya ke arah Niana. Niana hanya yertunduk memejamkan matanya. Brukk.... Sebuah guncangan terasa di atasnya, pukulan untuknya ternyata di halang oleh Daffin, yang dia lihat kini senyuman pria itu yang menumpu di atasnya.
"Manis sekali!" ucap pria penculik Niana. "Kalian masih beruntung hari ini, bersiaplah nona kita kata akan bertemu lagi!"
Mata Niana semakin membeliak, dengan mengeluarkan derayan air yang semakin deras, mengapa Daffin harus berkorban sebesar itu untuknya? Daffin amburuk terjatuh, tangan keduanya yang terikat jelas membuat gerak mereka terbatas. Begitupun Niana hanya menangis dan berteriak kencang tatkala Daffin tidak sadarkan diri.
Orang-orang yang Daffin bawa, yang terbekuk balik tidak berkutik sudah bisa melepaskan ikatan mereka, dengan segera mereka menghampiri Niana dan Daffin. Daffin kini sudah terbaring di pangkuan Niana, Niana tertunduk menangis di atas dagi Daffin, hawatir terjadi apa-apa dengan nya, hingga sebuah elusan lembut tetasa di kepalanya, Niana mengangkat wajahnya dan melihat Daffin sudah membuka matanya.
"Aku baik-baik saja!" ucap pria itu tersenyum lembut. "Beuntung yanh kena pukul punggungku bukan kepalaku."
"Aku terlalu kuat untuk mati hanya kena pukulan seperti itu. Jangan menangis lagi, kita pulang!" Daffin mengangkat tubuhnya dengan bantuan Niana, waloupun terasa sakit di bagian punggung nya, tapi bukan saat nya untuk mengeluhkan itu.
"Karin, aku belum menemukan nya!"
Orang-orang Daffin menggeledah setip ruangan hedung tua itu namun tidak ada seorang pun yang mereka temukan. Setelah Niana menceritakan awalnya ia di culik, Daffin bisa menangka satu hal, Karin adalah pengawai Raksa dan pasti dengan Bonanza.
*
Di sisi lain, Karin tersadar dengan melihat beberapa orang sudah berkerumun di sekitar nya. "Kak sudah bangun? kakak tidur apa pingsan? Kalou mau tidur jangan di sini, kafe nya sudah tutup." ucap orang-orang yang ternyata pegawai kafe.
Saat ini kepala Karin terasa pusing, ia bingung kenapa bisa terbangun di musola kafe, sebelum nya yang dia ingat ada seseorang yang membekap mulutnya dengan sesuatu setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. "Kepala saya pusing!"
Pelayan kafe lalu membawa Karin duduk di bangku kafe dengan memberinya minum, selama berjam-jam karin tidak dasarkan diri di musola, ia terbaring disana dengan berbantal sajadah berselimit mukena, seakan dibuat untuk orang mengira ia setelah solat dan hanya tertidur di sana, dengan tasnya juga di simpan di samping nya.
"Mbak lihat teman ku bisa tolong carikan? Tadi aku datang dengan dia." tanya Karin masih memegangi kepalanya yang terasa masih keleyengan.
"Yang mana kak, sudah tidak ada orang lagi!"
Karin mengambil ponsel di tasnya, "Mbak bisa hubungi temen ku namanya Niana!" Karin meminta tolong pegaeai kafe menghubungi Niana, saking pusing oandangan nya tidak terasa fokus.
"Nggak aktif kak!" Karin pun ingan kalou ponsel Niana dengan nomor itu, tidak Niana bawa, kalau begitu apa mungkin Niana juga belum pulang lalu kemana dia?
__ADS_1
"Kak mau saya antar pulang?" tanya seorang pelayan karena merasa kasihan padanya.
"Aku bawa motor ko."
"Kakou begitu kaka tunggu dulu saja sampai tidak pusing lagi! Saya kebetulan nginep disini malan ini." Kari. mengulas senyum lalu mengucapkan terimakasih pada dua pelayan wanita yang tersisa di sana.
Karin menunggu beberapa lama, menunggu kepalanya tidak terlalu pusing untuk bisa mengendarai motornya pulang. Setelah menunggu cukup lama dering ponselnya terdengar, Jarin langsung menggeser icon hijou di sana dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Karin kamu dimana?" Dari suaranya sudah sangat Karin kenal siapa, Bonanza, yang di pinta Daffin untuk menghubungi gadis itu.
"Kenapa?" Karin malah bertanya.
"Aku akan menjemputmu!" mendengar Bonanza akan menjemputnya, mata Karin membeliak senang.
Karin sudah berada di dalam mobil Bonanza, motornya dititipkan di kafe tadi. Gadis itu masih merasa pusing dan lemas, "Kenapa kamu mau menjemputku? tumben sekali."
"Karuskah kita berdebat, sudah bilang terimakasih saja cukup!" jawab Bonanza, "Bosku yang menyuruhku menghubungimu dan menjemputmu?"
"Kenapa bisa?" Karin tak mengerti bahkan ia tidak mengenal bos dari teman nya itu.
"Mana aku tau!".
"Kepalaku pusing sekali," setelahnya terdengar suara dengkuran kecil yang tak lain Karin sudah terlelap.
Bonanza menggeleng kepala tapi gadis itu juga merasa kasihan oad Karin, "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Flashback Of..
.
.
.
Hello...
Double kill eh double episode maksudnya, jadi biar nggak tanggung bacanya.. Bagi yang selalu membaca cerita ini sampai habis tolong bantu share like dan komen ya🙏 dukungan kalian sangan berharga😊
Cinta? Satu kata yang sering kita dengar
Orang bilang cinta itu pengorbanan, karena siapa yang mencintai pasti rela mempertaruhkan sesuatu atau apapun untuk yang di cintainya.
Tapi ada juga yang bilang cinta itu seperti eskrim. mampu membuat seorang meleleh dengan ungkapan dan bukti cinta yang terungkap untuk nya
Atau cinta itu layaknnya sebuah lagu, tidak hapal lirik nya namun orang akan tetap tersenyum dan menyanyikan nya.
Ah, cinta itu nano-nano, Asam manis asin pahit ada di dalam nya banyak orang yang bertahan dengan setiap pergantian rasa yang sudah di lalui itu, kadang sehabis rasa pahit berganti dengan rasa manis. Namun ada juga yang tak sanggup dan menyerah, tergantung seberapa besar rasa pahit di terakhir.
Ataukah cinta itu layaknya bintang yang berpedar indah di atas sana, hanya mampu menikmati keindahan nya tanpa sanggupun menggampainya, namun seandainya bisa kita gapai akan kan bintang itu tetap bersinar? Tetap bisa tersenyum untuk nya dari jauh , asal ia tetap bersinar itu lebih baik.
__ADS_1