
Niana menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil belakang, pandangannya mengedar pada sembarang arah ke luar jendela mobilnya.
"Maya, antar aku ke restoran xxx." Perintah Niana pada asisten sekaligus pengawal pribadinya, yang sedang berada di balik kemudi mengendalikan laju mobil yang di tumpanginya.
"Aku sangat malas sekali harus menemuinya," Gerutu Niana, di iringi hembusan kasar nafasnya. "Tapi ini terpasa sekali, tidak ada pilihan lain."
Mobil yang di naiki Niana berhenti tepat di parkiran sebuah testoran bernuansa modern clasik. Niana berjalan masuk kedalam, langkahnya di temani kerlap kerlip lampu yang menghiasi interior testoran.
Mata Niana langsung tertuju pada seorang pria yang tengah duduk di salah satu meja, tanpa pikirpanjang Niana melangkahkan kakinya mendekat menuju meja yang di duduki seorang pria yang tengah menyambut kedatangan nya dengan sebuah senyuman khasnya.
"Aku tidak punya banyak waktu?" Niana langsung to the poin pada tujuanya. "Harus ku bayar berapa?"
"Aku sangat bisa menduga uang mu memang banyak, tapi aku sangat tidak menginginkan uangmu." Jawab pria di hadapan Niana dengan sebuah senyuman yang masih menyeringai di salah satu sudut bibirnya. "bukan kah tadi aku bilang kalo ingin buku itu makan malam dulu dengan ku?"
"Baiklah." Jawab Niana pasrah.
"Siapa nama mu Nona?" Tanya pria di hadapan Niana.
__ADS_1
"Maaf tapi tadi anda bilang hanya makan malam kan? tidak menyebutkan harus memberitahukan nama?"
"Baiklah, namaku Daffin. Mau pesan apa Nona?" Tanya Daffin, seorang pria berparas tampan dan bergaya cool itu.
"Apa saja, jangan panggil aku Nona." Jawab Niana dengan nada malas dan terpaksa, memang dia sangat terpaksa untuk makam malam bersama pria asing yang baru dia temui di hadapan nya.
Sebuah menu yang terhidang di atas piring saji yang baru saja mendarat di atas meja, dengan bau dan aroma yang sangat menggugah, sangangat tercium melalui indra penciuman Niana hingga tersalur ke perut nya yang langsung berbunyi, karna memang Niana belum makam dari siang ini.
"Ini menu terenak di sini, semoga kamu suka." Ucap Daffin yang masih di acuhkan gadis di depanya, yang langsung menikmati makananya tanpa menjawab.
"Enak?" Tanya Daffin di sela-sela suapan Niana.
Niana seakan tersadar, dan sedikit menghentikan aktifitas makan nya.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" Tanya Niana tak suka.
"Tapi Tersenyum lah sepuasmu, aku sangat lapar bukan karna aku menikmati makan malam dengan mu." Ucap Niana. "Lagi pula aku lebih suka makan nasi." gumam Niana dengan melanjutkan makan nya.
__ADS_1
"Aku sudah selesai." Niana sembari membersihkan mulutnya dengan serbet. "Mana buku ku?" Tanyanya dengan menjulurkan sebelah tanganyanya meminta.
Tidak berapa lama Daffin mengasongkan buku di atas telapak tangan Niana.
"Terimakasih." Jawab Niana dengan sebuah senyuman lebar singkat, lalu mengangkat tubuhnya dan kemudian berlalu meninggalkan Daffin.
Sepasang mata berwarna perak milik Daffin tertuju pada punggung gadis yang berjalan semakin menjauh darinya sampai gadis itu benar-benar hilang dari sepasang mata hitam berwarna perak itu.
****
Daffin Miller, seorang pria berusia 22 tahun yang merupakan kaka kelas Niana, yang hanya tinggal menuntaskan masa kuliahnya sebentar lagi.
Daffin yang merupakan senior Niana, semenjak kedatangan mahasiswi baru asal indonesia yakni Niana, yang mampu menarik perhatian pria berparas tampan berwajah blasteran itu.
Seorang gadis mahasiswa baru Hxxxd business school, Niana Rainara Wijaya. Gadis berparas cantik nan menawan itu mampu menarik perhatian mahasiswa lain yang sebagian besar kaum adam, salah satunya Daffin Miller. Pertama kali meliat Niana bahkan dari jarak yang lumayan jauh tapi entah kenapa gadis yang bahkan belum ia kenal samasekali mampu menarik perhatianya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, ya, mungkin itu yang sedang di rasakan oleh Daffin
Daffin sendiri sangat pofuler di Kampus, terutama di kalangan ciwi-cuwi. Wajahnya yang rupawan, pintar dan juga putra dari salah satu orang terpandang di kota yang ia tinggali saai ini, sebagai nilai daya tariknya.
__ADS_1