Gadis Impian

Gadis Impian
BAB 43


__ADS_3

Niana masih menangis di pelukan Karin, ia berusaha tidak mengeluarkan suara karena tidak ingin menarik perhatian siapapun yang ada di rumah itu.


"Kalian ini terbilang masih masih sangat muda, tapi kisah kalian ini rumit nya melebihi orang yamg sudah berumah tangga!" Karin menggeleng tidak mengerti.


"Aku juga gak mau seperti ini, tapi yang bodoh itu temen kamu." Niana sudah melepaskan dorinya dari pelukan sahabatnya, mengeringkan pipinya yang basah dengan punggung tangan nya.


Karin segera beranjak dari tempar tidur mengambil tisu yang ada di atas meja samping tempat tidur mengasingkan nya pada Niana, "Iya, iya dia memang bodoh. Dari dulu aku tau itu!"


"Coba saja kalou dulu dia jujur tentang perasaan nya, kalou saja dia bilang kilou dia menyusulku ke rumah waktu itu." kesal Niana, setidaknya semua keluh kesahnya bisa ia keluarkan pada Karin, membuatnya sedikit lebih baik.


"Dia memang bodoh, tapi dia bodoh hanya saat menghadapi mu, kamu yang membuat Raksa yang pintar itu jadi bodo," jelas Karin, Niana terdiam mencerna semua perkataan Karin. "Dia sangat menghargai ayahmu Ana, yang terpenting baginya restu dari ayahmu. Kamu tau kalou bukan karna mu, dia tidak akan susah payah membangun prusahaan nya sendiri."


"Ucapan mu membuat ku semakin merasa bersalah, karena aku sudah menerima prasaan Daffin," ucap Niana kembali menyandarkan kepalanya di bahu Karin. "Aku tidak ingin menyakitinya, dia pria baik."


"Jadi kamu lebih ingin mentakiti pria yang kamu cintai?" tanya Karin.


Niana menggeleng, "Aku hanya bingung dengan kesalahan ku!"


"Jadi sekarang siapa yang bodoh, mau menerima orang yang jelas-jelas tidak kamu suka?" Niana menganggkat kepalanya mendengar ucapan Karin, ia memang merasa jadi wanita paling bodoh.


"Kamu bilang Daffin pria baik kan? dia pasti mengerti perasaan mu, dia pasti lebih ingin kamu bahagia," Niana terdiam."Sudah lah, bagai mana kaou kita jalan-jalan?" usul Karin.


"Aku sedang ingin di rumah saja, aku disini ingin menenangkan pikiran ku." jawab Niana lemas.


"Ya justru itu, setidaknya kita mecari udara segar," ajak Karin semangat.


"Besok saja!" jawab Malas Niana.


"Aku ingin sekali pergi ke tempat wisata di kota Lembang, bagai mana kalou kita besok liburan ke sana?"


"Iya, iya.. Aku mau masak, laper!" Niana beranjak dari Ranjangnya.


"Emang kamu bisa masak?" tanya Karin meragukan.

__ADS_1


"Bisa lah, masak mie," jawab Niana bangga.


****


Sore hari Raksa dan Ricko kembali ke rumah Niana. Mereka berniat mengjak Karin dan Niana jalan-jalan. Lebih tepatnya banyak hal yang ingin Raksa bicarakan pada Niana, hingga ia membujuk Ricko yang hanya ingin bersantai di villa nya.


"Selamat sore pak!" sapa Ricko, mengagetkan kake Niana yang sedang memindahkan sangkar-sangkar burungnya ke dalam tempat penyimpanan burung di samping rumahnya.


"Ngagetin kamu!" sentak kake Niana mengelus dadanya.


Raksa segera menghampiri Ricko, "Maafin teman saya Pak, Saya bantu!" Raksa mengambil sangkar burung dari gantungan di luar, ikut memindahkan nya ke ruangan nya. Yang di susul Ricko juga ikut membantu.


"Saya mau jemput Karin, mau ajak dia jalan-jalan mumpung di kota bandung, kalou boleh saya mau ajak Niana juga pak?" ucapan Raksa yang terakhir membuat kake Niana memicingkan matanya melihat Raksa, "Supaya Karin ada teman nya!" jelas Raksa cepat.


"Ya sudah ayo masuk dulu," Raksa dan Ricko mengikuti langkah kaki kake Niana masuk ke dalam rumahnya. "Saya panggilkan mereka dulu!"


Tidak berapa lama Karin pun menghampiri Raksa dan Ricko, "Jadi mau jalan-jalan!"


"Iya, Niana mana?" Raksa melihat ke belakang Karin, berharap Niana bisa ikut.


Raksa dengan melongo menatap ke hadiran Gadis impian nya. Niana tampak sangat cantik, walou hanya memakai blouse santai blaster dengan celana jeans dan ranbit terkuncir ekor kuda dengan riasan makeup tipis membuat penampilan nya sempurna.


"Cucu kake cantik sekali!" puji kakenya Niana, "Jadi Kake di tinggal sediri di rumah!" wajah Niana berubah tak tega mendengar kakenya.


"Bapak juga bisa ikut!" ajak Raksa,


"Tidak usah, kake sudah tua di rumah saja!" tolak kake Niana, "Kake titip cucu kake dan Karin, awas kalou ada apa-apa! jangan pulang malam-malam,"


"Pasti kek, saya akan menjaga cucu kake dengan dengan segenap jiwa raga saya!" ucap Raksa sunggu-sungguh, tidak mengalihkan pandangan nya dari Niana, seolah gadis itu adalah pusat dunia nya.


"Niana gak lama-lama ko ke!" pamit Nina mengecup tangan kake nya, "Niana cuman nemenin Karin!"


Raksa ikut mengecup tangan kake Niana di susul Karin dan Ricko, "Bapak mau oleh-oleh apa?" lanjut tanya Raksa.

__ADS_1


"Jangan panggil bapak, panggil kake saja. Kalian kan teman cucu kake," jawab kake Niana, "Kake mau martabak keju saja!"


"Kake kan gak boleh makan yang manis-manis," bantah Niana.


"Ya kalo begitu martabak telor saja!"


"Siap Kake!" ucap Raksa semangat, Niana tersenyum melihat sikap Raksa.


****


Mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Niana duduk di depan tepat di samping Raksa, semua itu tentu saja atas ke cerdikan Karin. "Kita mau kemana?" tanya Raksa.


"Gimana kalou ke alun-alun, duduk-duduk santai di sana!" usul Karin.


"Di sana terlalu ramai!" bantah Raksa, Karin mengangguk mengerti.


"Iya kurung seru cuman duduk-duduk d atas rumput!" bantah Ricko juga.


"Ya maaf, aku kan cuma belum pernah ke sana!" bela Karin.


Sebuah restoran yang sangat artistik yang menyuguhkan keindahan alam sekitarnya menjadi pilihan mereka. Banguna bergaya rustic ala farmhouse Erofa langsung menyambut kedatangan mereka.


"Keren banget tempatnya!" seru Karin, saat mereka sudah mendapat tempat duduk di area indoor, fanorama kota bandung menjadi nilai plus yang di tawarkan di siang hari yang bisa di lihat dari jendela kaca besar restoran.


Niana sedari tadi hanya terdiam, gadis itu sungguh merasa gugup saat ini, terlebih Raksa yang tak henti mengalihkan perhatian darinya. "Ana gimana kalou kita keliling-keliling, dari sana pemandangan nya pasti sangat bagus," ajak Karin menarik tangan Niana menuju area outdoor Restoran.


***


Niana dan Karin sudah berada di area outdoor, sejuk suasana pegunungan dengan pemandangan yang sangat asri. "Malam hari pasti akan, lebih indah," ucap Niana sembari merasakan udara sejuk di sekitarnya.


"Tebtu saja! dan kita akan di sin sampai malam," suara seorang pria yang mengagetkan Niana, tak lain itu adalan suara Raksa. Niana sontak berbalik.


"Karin mana?" Niana mencari-cari keberadaan Karin mengedarkan pandangan nya ke seluruh area.

__ADS_1


"Karin bukanya tadi dengan mu!" elak Raksa, ia sebenarnya mengetahui kalou Karin pergi diam-diam dari sana, agar Raksa bisa menemuinya.


__ADS_2