
Daffin masih berdecak kesal, ternyata ia sangat salah meremehkan seorang Raksa. Setelah mencari tau semua tentang Raksa, bagai mana ia memimpin prusahaan nya dengan sangat smart.
"Aku juga bisa sepertimu," decak kesal nya, Daffin sudah duduk sendiri di coffe shop itu, setelah orang kepercayaan ia suruh pergi. Persaingan ini benar-benar membuatnya sangat berambisi, demi mendapatkan Niana? Ya, tapi ia lebi tak ingin kalah.
Daffin hanya menatap cangkir caffe latte di depan nya, tampak serius dengan apa yang di pikiran nya. Pandangan nya sangat menusuk, seakan menatap sesuatu yang salah seperti melihat sesuatu yang sangat dia benci.
Daffin berdiri dari duduknya, meninggalkan secangkir coffe latte yang masih tersisa sebagian penuh, yang baru sedikit ia minum. Namun niatnya untuk meninggalkan coffe shop itu terhenti, melihat seorang gadis yang termenung duduk sendiri di sebuah meja yang hendak ia akan lewati.
Tapi ia tak perduli dan tak ingin perduli lagi dengan gadis itu. Daffin lanjut berajak pergi melewati meja tersebut menuju parkiran, namun sebelum ia akan membuka pintu mobil nya ia sedikit teringat sebuah logo prusahaan yang terdapat di map yang gadis tadi letakan di atas meja, membuat Daffin sedikit bertanya tentang gadis itu.
"Tolong cari tau apa hubungan gadis yang bernama Bonanza dengan prusahaan RD Depelopment?" titah Daffin, menelpon orang suruhan nya yang sebelum nya ia tugaskan untuk memata-matai Raksa mencari tau tentang nya.
Tidak berapa lama Daffin mendapat balasan sebuah chat laporan dari orang suruhan nya, yang dengan cepat bisa memberikan informasi yang Daffin ingin kan, mengirimkan semua informasi tentang Bonanza. Bonanza adalah Manager di prusahaan itu dan ia sangat berperan penting dalam perkembangan prusahaan RD Depelopment, dari awal prusahaan itu berdiri kinerja nya sangat bisa di perhitungkan.
Sebuah senyuman tertarik dari salah satu sudut bibir Daffin, etah apa yang ia pikirkan tapi pria itu tidak melanjutkan niatnya untuk pergi, ia malah kembali masuk kedalam coffe shop itu.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Daffin pada Bonanza yang masih dengan wajahnya yang tampak murung, tidak fokus dengan apapun yang ada di sekitarnya, duduk dengan menopang sagu.
"Pergilah, cari tempat Lain," jawab Bonanza, tanpa melihat orangnya, masih duduk dengan menopang dagu sembari memainkan cangkir kopi yang ia ikuti bentuk bulat permukaan nya nya dengan jarinya.
Daffin tidak memperdulikan penolakan Bonanza, ia langsung menjatuhkan tubuhnya duduk kursi kosong di depan Bonanza. Bonanza menghembuskan nafas tidak suka, "Sudah ku bilang cari temp--" perkataan Bonanza terputus, setelah ia melihat sosok pria yang kini sudah tersenyum di depan nya.
Mulut nya menganga karna kaget, ia sangat tidak menyangka bisa bertemu tiba-tiba dengan Daffin. Setelah waktu itu Daffin menolong nya dari kecelakaan dan mengantarkan nya pulang, kala itu Bonanza langsung mengganti nomornya setelah Daffin meminta kartu namanya.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu? tenang saja, aku tidak akan menagih uang dua milyarku saat ini," ucap Daffin lanjut memesan kopi untuk nya. "Aku hanya ingin menikmati secangkir kopi bersamamu."
"Tapi aku sudah selesai, aku harus segera kembali ke kantor." Bonanza segera merapikan map yang dia bawa lanjut akan beranjak pergi.
"Kalou begitu bayar dua milyar itu sekarang!" seru Daffin.
"Apa?"
"Duduk, atou aku minta uang itu sekarang juga." ucapan Daffin jelas sangat tidak bisa di bantah oleh Bonanza. "Dan ini juga bukan jam makan siang, sama saja kalou kamu kembali ke kantor sekarang, itu akan jadi masalah."
"Bos ku sangat baik, tidak akan ada masalah. Aku akan menemani mu sebentar lagi," ucapan sopan halus Bonanza yang terkesan di paksakan, raut kekesalan nya sangat jelas terlihat.
"Kamu pasti sangat betah bekerja di prusahaan dengan bos yang sangat baik seperti itu?" pertanyaan Daffin seakan mengandung maksud, Daffin menemukan sesuatu yang aneh. Bonanza bisa di coffe shop pada saat jam kantor, jabatanya senagai manager jelas sangat tidak bisa di benarkan berada di luar kantor di jam-jam tersebut.
"Emh.. Bagus lah,"
Bagus apanya, dasar gila kenapa kita bisa bertemu di sini? batin Bonanza.
"Mau pesan kue? capucino akan cocok bersama cake yang manis," tawar Daffin.
"Tidak terimakasih," jawab Bonanza lembut masih terkesan terpaksa.
"Mau pindah bekerja di prusahaan ku, aku akan mendirikan prusahaan baru?" tawar Daffin, "Aku akan membayarmu 3x lipat dari prusahaan mu sebelum nya."
__ADS_1
"Terimakasih untuk kebaikan anda, tapi aku sudah nyaman dengan pekerjaan saya sekarang?" tolak halus Bonanza.
"Aku serius? bukan nya kamu sudah tau siapa aku, apapun yang kamu minta asal mau bekerja dengan ku," tawar Daffin kekeh.
"Maaf sepertinya aku tidak tertarik,"
"Kalou kamu menolak bayar uang dua milyar itu sekarang," ancam Daffin.
Emosi Bonanza tak bisa tertahan lagi, sebenarnya apa yang di ingin kan pria ini? "Heh, apa kamu tidak tau bahasa manusia? aku tidak mau, aku menolak tawaran mu." ucap Bonanza dengan emosi.
"Apa bayaran 3xlipat itu masih kurang? kalou begitu bagaimana kalou 5x lipat, 10x lipat? dan hutang 2 milyar itu lupakan saja," mendengar nya Bonanza lebih selutut emosi.
"Aku tau kamu bisa membayarku bahkan 50xlipat, tapi maaf aku tidak tertarik karena aku bekerja di prusaan yang sekarang bukan karena uang," uacap kesal Bonanza.
"Lalu karena apa?"
"Karena aku mencintai bosku, aku berharap dia bisa melihat perjuangan ku untuk nya," teriak Bonanza, mata Bonanza berkaca-kaca mengucapkan nya. Gadis itu sungguh terpancing mengucapkan semua itu, terlebih sebelum nya dia berada di coffe shop itu merenung memikirkan Raksa, sakitnya perasaan yang tidak terbalaskan.
"Dan uang dua milyar itu akan segera ku transfer. Berikan no rekening mu?" Bonanza mengasongkan ponsel nya pada Daffin, meminta pria itu memasukan nomor ponsel dan no rekening nya di sana.
"Tapi aku berubah pikiran, uang ku sudah sangat banyak," ucap Daffin, menatap Bonanza lekat. "Aku meminta imbalan yang lain. Orang bilang cinta tidak harus selalu saling memiliki, mudah sekali orang bisa berkata seperti itu. Pada nyatanya tidak memiliki seseorang yang kita cintai itu sangat menyakitkan."
"Kamu bilang kamu ingin bos mu melihat semua perjuangan mu?" tanya Daffin, yang masih belum di mengerti maksudnya oleh Bonanza. "Dia tidak akan melihat usahamu, selama kamu masih bekerja bersama nya, tapi sebaliknya dia akan menyadari semua usahamu saat kamu sudah tidak di samping nya. Aku hanya memberimu pilihan, hubungi aku jika kamu berubah pikiran." Daffin menaruh kartu nama nya di atas meja kemudian lanjut beranjak pergi, meninggalkan Bonanza.
__ADS_1
Bonanza kini sudah meneteskan air matanya, sejauh apapun ia berusaha untuk setidak nya Raksa bisa melihatnya dari sisi lain, arti dari semua usaha yang ia lakukan untuk nya. Bonanza mengambil kartu nama di depan nya, Apa aku harus ambil tawaran nya?.